Angin menerpa wajah dingin Kepala Pelayan, hatinya bergejolak mengikuti langkah kaki yang berlari.
"Tidak... tidak mungkin itu... dia" Suara gumaman Santanael di malam hari nyata terdengar di telinga Kepala Pelayan. Ia tidak menyukai ini, beranjak mengikuti.
bum!
Pintu kamar tertutup.
Santanael bersandar membelakangi, wajahnya pucat pasi. Badannya gemetaran membuat lemas kaki. Tidak ingin mendengar apapun, Santanael menutup telinganya.
"Mengapa?" tanya Kepala Pelayan sesampainya depan pintu kamar Santanael yang tertutup.
Tidak ada suara dari dalam.
"Apakah kamu akan mendiamkan ayah, Santanael?"
Angin memukul pelan di dinding kamar berikan pendapat namun, Santanael kuat memutuskan tidak mendengar apapun.
"Santanael!"
Terdengar suara gumaman lirih dari dalam, "Tolong pergilah."
"Santanael, aku tahu kamu menyadari ayah ada di sini."
Wujud asli Kepala Pelayan muncul, auranya dingin seperti udara malam yang memasuki kamar Santanael melalui celah bawah pintu.
"Tidak mendengar, tidak melihat maka aku akan baik-baik saja," kata Santanael dari dalam kamar.
Walau lirih, Kepala Pelayan dapat mendengar jelas. Ini membuat hatinya bertambah dongkol. Apa salahnya melihat dan menyapa dirinya.
"Kamu tahu ayah bisa masuk dengan mudah ke dalam, Santanael..."
Lagi-lagi tidak ada suara.
"Santanael, ayah ingin bertanya padamu?"
Angin berhembus kencang menyusup dari celah-celah, Santanael bergerak menutup matanya.
Sosok Kepala Pelayan berdiri tegak di hadapannya, wajahnya mengeras melihat tingkah laku Santanael. Iapun mulai berjongkok, "San..." panggilnya pelan.
"Tidak mendengar, tidak melihat maka aku akan baik-baik saja," gumam Santanael yang perlahan mulai di sadari Kepala Pelayan.
"Apa yang terjadi sesungguhnya denganmu? katakan San...mengapa kamu tidak mencari ayah?"
Pertanyaan tanpa hasil jawaban, Santanael bertambah keras menyuarakan pemikirannya seperti matra untuk mengusirnya.
Kecemasan Kepala Pelayan bertambah, iapun mengulurkan tangan untuk menarik masuk Santanael ke dalam pelukannya.
"Hangat..."
Badan Kepala Pelayan kaku seketika mendengar itu, terlebih di lihat olehnya Santanael perlahan-lahan jatuh tertidur tanpa hitungan detik.
Hati mendongkol melihat ini tapi Kepala Pelayan memaksakan dirinya mengendong Santanael ke arah tempat tidur, "Tidurlah putri tidur," bisiknya lembut sebelum memutuskan pergi.
Kamar kembali hening.
Keheningan yang bisa menelan keinginan seseorang. Sejak malam kehilangan bayinya, Santanael sulit tidur. Ia terus ketakutan dan berjaga. Namun, satu menit tadi merupakan hal berharga untuknya bisa tidur.
Perlahan-lahan mata Santanael membuka, "Mengapa kamu datang?" tanyanya lirih dengan air mata di sudut. Ingatannya berputar dimana masa indah bersamanya mempermainkan hatinya yang tertutup kabut.
Suara-suara di dinding mulai memperdengarkan suaranya walau lirih. Santanael berpura-pura tertidur, ia ingin mendengar dalam sepi.
Tiga bayangan hitam berada depan kamar Santanael. Salah satunya berwajah marah dan penuh aura kematian.
"Jodoh, maut dan kehidupan baru merupakan rahasia alam. Mengapa semua orang suka sekali melanggarnya?"
"Tuan Balck?"
"Pergi cari Alvian! aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut."
"Tapi tuan...anda mempunyai perjanjian dengan Sang ibu."
"Perjanjian hanya untuk orang hidup kecuali dia mengorbankan jiwanya untuk orang mati tapi sayangnya tidak."
"Ini...."
"Batas waktunya sudah habis. Kita tidak bisa menghalau pergi takdir tapi nasib kita yang tentukan."
Dua bayangan berpandangan sejenak lalu menghela nafas secara bersamaan, "Kami kerjakan!" kemudian pergi tinggalkan Black sendiri.
tok...tok...
Santanael terkejut mendengar suara ketukan pelan, Black mengetuk sekali lagi.
"Hei bocah, aku tahu kamu tidak tidur."
"Kakek?"
Santanael turun dari tempat tidurnya, bergegas membuka pintu kamar. Black berdiri angkuh di hadapannya, Santanael bergerak memeluknya erat.
"Sampai kapan kamu bersembunyi?"
"Kakek, aku sudah berjanji."
"Kamu tahu waktunya habis untuk ibumu."
"Aku tahu."
"Kamu tahu dan kamu masih di sini?"
"Kakek?"
"Kejarlah cintamu, nak."
"Kakek, dia..."
"Dia bukan pria yang kamu kenal lagi, nak."
"Aku-- takut, kakek."
"Ibumu sudah membusuk di dalam tanah, jiwanya masuk neraka. Apalagi yang kamu takutkan?"
"Aku-- " Santanael melepaskan pelukannya, Black berjalan ke arah dalam kamar diikuti Santanael.
"Waktumu hanya sampai bulan ke sepuluh tahun ini jika kamu tidak melakukan hal yang seharusnya kamu lakukan maka orang yang tidak berkepentingan akan datang."
"Apa maksud kakek?"
"Alvian adalah jodoh ketiga mu."
"Alvian? Kakek, dia hanya temanku."
"Kakek hanya bisa membantu sebatas ini, sisanya kamu harus berjuang."
"Aku-- benar-benar tidak mengerti, kakek."
Black memandang wajah Santanael yang kebingungan, tangan melipat di belakang badannya seperti berfikir untung dan ruginya.
Santanael menunggu.
"Kakek pergi."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Black pergi dengan anggun di temani angin malam yang dingin.
Santanael memiringkan kepalanya penuh tanda tanya, "Kakek?" panggil lembutnya penuh desakan untuk menjelaskan lebih banyak.
"Rahasia kelahiran dan kematian bergantung usaha manusia untuk memperbaiki hidupnya. Apakah sia-sia atau berharga, neraka tidak bertanggung jawab." kata Black santai melangkah.
Pintu kamar menutup pelan di hadapan Santanael. Malam bertambah larut hingga menjelang pagi. Santanael masih di tempat yang sama, memandangi pintu.
Apakah benar, takdir berusaha keras sementara nasib mengacaukan hidupnya?
Apakah kali ini, bisa mengambil miliknya yang pernah lepas?
Santanael tersenyum sinis dalam hatinya, ia jelas mengetahui betul. Permainan nasib dan takdir sering membuat luka lama bertambah. Santanael menguap lebar, iapun memutuskan tidur.
-
Satu minggu kemudian,
Santanael menatap arah Alvian yang sibuk memasak di dapur. Sejak malam itu, Santanael mengambil keputusan pergi dari rumah sakit untuk pergi ke rumah Alvian Kato.
brak!!!
Alvian Kato menyodorkan piring berisi nasi goreng dengan toping telor dadar di atasnya. Santanael mengambil sendok dengan berat hati.
"Ini sudah satu minggu sejak kamu pulang."
"em..."
"Mau sampai kapan kamu berada di rumah tanpa melakukan apapun?"
"Al..."
"Kamu memiliki pekerjaan, San. Kamu bisa di pecat jika terlalu lama dalam keadaan seperti ini."
"Aku tahu...aku tahu."
"Nona Santanael yang cantik, tinggal di rumahku tanpa melakukan apapun itu tidak menyenangkan semua pihak," sindir Alvian Kato.
"Al..."
"Apa? aku bukan keturunan kaya seperti kamu, nona Santanael."
Santanael mendengus kesal, "Aku tidak kaya!" semburnya cepat.
"Huh? tidak kaya? kamu tidak lihat surat wasiat ibumu belum di bacakan, harta ayah tirimu bisa menghidupi 9 keturunan dan lagi hasil uang perceraian kamu dan mantan suamimu berapa? apakah kamu lupa ingatan?"
"Hei!!"
"Jangan lakukan hal bodoh, Santanael."
Piring berisi nasi goreng di makan Santanael dengan perasaan kesal, Alvian Kato menuangkan kopi panas ke dalam cangkir.
"Mengapa kamu tidak tinggal di rumah sakit? kamu masih belum sembuh."
"Aku-- mendengar suara-suara aneh di sana."
"Jangan mengalihkan topik jika kamu tidak ingin bekerja besok, kamu harus kembali ke sana."
"Al, aku tidak ingin."
"Kalau begitu, besok kita pergi kerja."
"Al, mengapa kamu tidak percaya padaku?"
"Apa kamu lupa apa nama penyakit yang kamu derita?"
"Kamu menyebalkan!"
"Tapi aku satu-satunya temanmu."
Santanael menghentikan gerakan sendoknya, mata terarah dan ingatannya kembali pada peringatan Black. Jodoh ketiga? Santanael tersenyum kecut. Alvian Kato tidak melihatnya, ia menyesap kopinya dengan tenang.
"Teman??"
"Ya teman, aku peduli padamu."
"Aku-- tahu."
"Kalau kamu tahu, pilihannya hanya pergi bekerja atau kembali ke rumah sakit untuk menyembuhkan penyakitmu itu."
"Al..." nada suara Santanael yang pelan berikan efek ekstra di hati Alvian Kato, "Jangan banyak berfikir, San. Jangan..."
Santanael tertegun.
Cangkir kopi di geser, "Pikirkan! aku pergi kerja dulu," ucap Alvian Kato seraya mengusap lembut atas kepala Santanael.
Getaran kasih sayang di rasakan Santanael, ia tidak buta untuk tahu itu.
Dinding adalah saksinya.
Alvian Kato bergerak pergi, Santanael duduk tak bergeming. Apakah ada waktu untuk memutar segalanya? pikir Santanael melanjutkan makannya.