Black menyipitkan matanya melihat arah kedatangan Kepala Pelayan yang terkesan angkuh. Empat tahun terakhir tak bertemu tapi sekalinya bertemu, tingkahnya seperti hendak memulai peperangan. Kerutan di wajah tidak bisa di sembunyikan.
"Ada apa?"
"Katakan padaku, apakah benar Santanael keguguran anaknya? bagaimana bisa berita sepenting ini, aku tak tahu?"
"Kamu-- menyalahkan aku?"
"Kamu sebagai kakeknya seharusnya memberitahukan hal ini padaku."
"Kamu ayahnya."
bum!
"Kamu-- " teriak marah Black melihat meja kesayangannya di lukai dengan mudah. Kepala Pelayan menghirup udara untuk menekan perasaan tidak senangnya.
"Aku bukan ayahnya."
"Apa katamu?"
"Sang ibu memberitahu aku sebelum meninggal. Aku rasa kamu tahu jelas tentang ini."
Sindirannya membuat kerutan dalam pada dahi Black, "Hubungan manusia hidup dan mati tidak bisa di bicarakan."
bum!!
Suara dentuman kasar kedua kali di lampiaskan pada meja kayu jati ribuan tahun di depannya. Black mendengus kesal, meja kesayangannya berlubang.
"Kamu menyembunyikan dariku," sembur Kepala Pelayan terkejut, sorot matanya penuh tuduhan.
"Kamu menikah dan melupakannya. Bukankah itu yang kamu inginkan? mengapa kamu mulai protes?"
"Aku tidak protes. Aku hanya bingung, mengapa aku tidak mengetahui sama sekali?"
"Apakah istrimu tidak memberitahu kalau Santanael mengalami hal ini?"
"Aku-- ,tidak! Dia tidak memberitahu."
Leher Black mendadak terasa kaku, mengusap sejenak untuk melepas ketegangan.
"Kamu menikah bahagia depan banyak orang, wajar jika dia tidak ingin merepotkan."
"Merepotkan? kamu kakeknya, apakah tidak juga membantunya?"
"Ini...." Black menghela nafas seperti ada beban yang menggantung di hati, Kepala Pelayan bisa melihatnya jelas.
"Apakah dia diam saja?"
"Siapa? Santanael? anak ini selalu bersikap baik, mungkin berfikir jika ini pernikahannya maka orang lain tidak perlu ikut campur."
Mendengar itu, Kepala Pelayan terdiam. Ia sangat mengerti betul siapa Santanael sesungguhnya hingga berani menikahi Gospar seenaknya.
"Lupakanlah."
"Tidak bisa!"
"Jangan bodoh, cucuku sudah hidup bahagia dengan pilihannya. Datang untuk berikan hormat kepada orang tua sudah meninggal adalah keharusan, apalagi yang kamu inginkan."
Kepala Pelayan sembrono mengambil gelas kosong di atas meja lainnya. Deretan minuman keras menarik pandangan untuk di pindahkan ke dalam gelasnya.
"Apakah arwah anak ini berada di sini?"
"Untuk apa kamu ingin tahu?" tanya Black menghentikan gerakannya yang hendak melanjutkan pekerjaannya. Ia menatap penuh perkiraan dalam benaknya.
"Aku hanya ingin tahu."
"Lupakan!"
"Black, aku hanya ingin tahu."
"Tidak!"
Satu gelas penuh bergulir masuk ke dalam perut Kepala Pelayan, "Aku-- hanya ingin menebus kesalahanku karena tidak memperhatikan Santanael selama ini."
"Apakah hanya itu?"
Kepala Pelayan berjalan arah jendela besar yang bertiup angin malam. Black memperhatikan gerak geriknya dengan pertimbangan benar atau salah.
"Aku ingin minta maaf pada arwah anak itu karena tidak sempat lahir. Aku-- ingin bertanya kepada Santanael, mengapa ia tidak meminta tolong padaku atau padamu?"
"Begitu banyak pertanyaan dan keinginan. Aku bukan dokter jiwa yang bisa menjadi tempat curahan hatimu."
Ada banyak kisah dan keluhan yang ingin di katakan pada masa lalu. Mata setengah tertutup mengingat masa-masa manis yang berusaha di lupakan.
"Aku melukai hatinya."
"Untuk apa kamu bicarakan ini. Aku sudah katakan, aku bukan dokter ahli jiwa."
"Tapi kamu malaikat pencabut nyawa."
"Lalu?"
"Aku-- hanya ingin tahu saja."
"Tidak! hidup mati termasuk rahasia alam dan Langit, kamu ingin memutarkan fakta menarik untuk di rubah. Jangan lakukan itu."
"Aku--"
"Pergilah ke rumah sakit jiwa."
"Untuk apa?"
"Untuk mengobati jiwamu yang sakit."
"Black, aku-- "
Kepala Pelayan menoleh ke arah Black yang mulai menyibukkan dirinya. Berkali-kali memintanya pergi ke rumah sakit jiwa, ada apakah di sana? apakah..., Ia tidak ingin membuang waktu lagi. Gelas di letakan, Kepala Pelayan berjalan pergi.
Kata cinta menjadi bias ketika di pengaruhi logika dan keinginan berlapis.
Kepala Pelayan memandang rumah sakit jiwa di depannya. Rumah sakit anggrek di kota S, ia tidak tahu mengapa memilih rumah sakit ini.
Langkahnya ringan melintasi lorong.
Kepala Pelayan terpaku melihat Santanael berada di tempat ini. Posisinya terlindungi dari pandangan mata manusia.
"San, cobalah beristirahat di sini satu dua hari jika kamu tidak merasa lebih baik, kita bisa pulang."
"Al, terima kasih sudah menolongku."
"Untuk apa berterima kasih, kita teman."
"Kamu benar tapi aku benar-benar tidak enak hati padamu."
"Gadis bodoh." Tangan Alvian Kato mendarat di dahi Santanael untuk menyentil tapi Santanael bergerak mengelak.
"Hei, kamu mulai berani, huh?"
"Hehehe mana ada."
"Itu buktinya."
"Tidak ada."
Keputusan mendadak di buat Alvian Kato begitu Santanael sadar. Ia tidak bisa menunda lagi mengingat peringatan dokter yang merawat Santanael selama tiga tahun terakhir.
"Maaf, aku terpaksa membawamu kemari tanpa persetujuan darimu."
"Tidak apa-apa."
"San, aku takut kesehatanmu memburuk."
"Jangan khawatir, aku tidak akan mati mudah."
"San!!"
"Aku tahu...aku tahu, aku tidak akan mengatakan kematian dengan mudah."
Alvian Kato menggeleng kepalanya, satu tangan mendarat di atas kepala Santanael dengan penuh kasih sayang. Santanael tersenyum ke arahnya.
Kepala Pelayan bersandar memandang keduanya bercakap tanpa menyadari ada yang menguping. Hatinya mendidih.
Alvian Kato berdiri dari bangku taman rumah sakit, Santanael menatapnya bingung.
"Aku harus pulang."
"Mengapa?"
"Ada banyak kerjaan."
"Kamu datang besok?"
"Ya."
"San, jaga dirimu baik-baik di sini. Aku akan datang dua hari lagi untuk menjemput."
"Besok?"
"Tidak, dua hari."
"Kamu-- pulang ke kota W?"
"Ya, aku tidak bisa membawamu ke kota W. Kesehatanmu lebih penting, jangan terlalu khawatir. Ada dokter Bram di sini."
"Aku tahu."
"Aku pergi."
Santanael diam membisu arah Alvian Kato pergi tanpa mengatakan apapun lagi sementara, Kepala Pelayan bergerak mendekati dengan hati-hati. Jangan lupakan, Kepala Pelayan merupakan makhluk abadi dari neraka.
Ada yang perlu dikatakan namun, ada yang tidak membutuhkan sebuah kata demi ketenangan batin.
"Santanael..." bisiknya halus seperti angin yang berhembus tetapi, Santanael terlihat tidak mendengar apapun.
Santanael diam mirip patung. Tenggelam dalam dunianya sendiri, Kepala Pelayan merasa terganggu dengan ini.
"Mengapa kamu tidak mengatakan apapun padaku seperti dulu kamu suka bercerita?" tanyanya penuh harap ada jawaban dari mulut mungilnya.
Tak tahan, Kepala Pelayan memeluk Santanael hati-hati. Walau tak terlihat oleh mata tetapi bisa di rasakan dengan benar.
Badan Santanael tersentak, Kepala Pelayan menghela nafas sangat pelan agar tidak mengejutkan.
Sorot matanya terlihat bingung, Santanael merasa kehangatan yang dulu pernah di rasakan. Ia mulai mencari-cari di sekitar tapi tidak ada seorangpun di sini. Mengapa ia bisa merasakan seseorang memeluk dirinya?
Ini salah pikir Santanael cepat beranjak dari duduknya, berjalan cepat tinggalkan taman bagai di kejar seseorang. Kepala Pelayan diam memperhatikan.
'Lari...lari lah, jangan biarkan aku menangkap dirimu, Santanael' bisik pelan Kepala Pelayan dalam hatinya.