Dinar menjadi seorang artis bukan tanpa alasan. Ketika ia pindah ke kota, ia sering kesepian. Ibunya setiap hari pergi bekerja, sedangkan orang-orang di lingkungannya hidup dengan kesibukan masing-masing. Hanya sebuah televisi yang bisa menghiburnya.
"Wuaah...hebat! besar sekali...udah kayak layar tancap aja!" Dinar heboh sendiri melihat ukuran televisi yang ada di kamarnya. Orang tuanya yang di kampung tidak memiliki televisi, hanya orang-orang kaya saja yang punya.
Sejak saat itu, Dinar menghabiskan waktu luangnya untuk menonton televisi. Ia senang sekali menyaksikan acara yang mengupas kehidupan artis.
"Suatu saat nanti aku juga pingin jadi artis! kayaknya enak hidup jadi artis, mereka sibuk kerja tapi sesuai hobi, terus mereka gak akan kesepian, banyak yang mengidolakan" Dinar membayangkan suatu saat ketika ia jadi artis.
Dinar menatap layar televisi, benda yang menciptakan mimpi yang telah ia capai sekarang.
Entah kenapa walau sudah disibukkan dengan pekerjaan, fikiran tentang Fiko masih saja sempat hinggap di benaknya.
"Huaaa...huaaa...Fiko...bunda...ayah...hua...hua..." Dinar menangis seperti anak kecil minta dibelikan es krim, ia meluapkan semua rasa rindunya. Ia sudah tak tahan lagi menyembunyikan rasa itu selama delapan belas tahun.
Ibu Dinar memang jarang sekali berada di rumah. Ia selalu sibuk dengan urusan butiknya yang kini membuka cabang baru lagi di luar kota.
"Apa aku nekat saja ya...? aku kan bukan anak kecil lagi! tapi bagaimana jika mama tau, beliau pasti sangat kecewa! huhh..." Dinar terduduk lemas.
Dinar memang mempunyai sifat yang unik tak seperti anak-anak lain seumurnya. Sifat itu tidak terlalu nampak saat ia kecil, namun ketika dewasa, sifat itu sangat nampak sekali. Ia terkadang tidak bisa mengontrol sifat kekanakannya, ia ceroboh, manja, cengeng, namun pemberani. Ia juga tidak terlalu pintar di bidang akademis, karena itu ia memilih dunia hiburan untuk menghasilkan uang.
Dinar bergegas keluar dari kamarnya, ia berjalan mengendap-endap tak ingin para pelayannya tahu. Ketika melewati sebuah lemari, sikunya menyentuh sebuah hiasan keramik di atasnya, dan menyebabkan barang itu terjatuh hingga menimbulkan bunyi.
"Ahhh...sial!" ucap Dinar lalu menutup mulutnya.
"Siapa itu?" seru seorang pelayan rumahnya.
Dinar segera berlari dan mencari tempat untuk bersembunyi setelah mendengar suara langkah pelayannya mendekat.
"Nona...?" panggil pelayannya itu. Dinar tertangkap basah sebelum sampai di persembunyian.
"Nona mau kemana?" tanya pelayannya.
"Aku? aku...aku cuma mau cari angin segar, ga sengaja tadi kesenggol!" jelas Dinar dengan sedikit ketus. Ia lalu meninggalkan pelayannya yang membersihkan pecahan hiasan berbahan keramik yang ia jatuhkan.
"Yes..." Dinar berhasil keluar dari rumahnya tanpa pengawasan dari asistennya. "Houh...akhirnya..." Dinar masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya.
"Mau diantar kemana nona?" Dinar terkejut tiba-tiba ada yang duduk dan bertanya di kursi kemudi.
"Ahhh...sial!" gumamnya lirih. Ia terjebak, yang ia masuki ternyata mobil khusus tim managementnya dan sudah ada supir di kursi kemudi.
"Aku mau nyegerin pikiran Jay, tolong bawa aku tanpa yang lain ya...ya...! please!" Dara merengek kepada supirnya yang bernama Jaya.
Jaya mengeluarkan ponselnya, menghubungi manager Dara dan memberitahukan kemauan Dara.
"Ah...kalian!" Dara keluar dari mobil dan membanting pintunya. Ia kesal kepada supir dan managernya yang selalu membatasi ruang geraknya.
Dinar kembali duduk di depan jendela di kamarnya. Ia marah dan kesal, ia merasa seperti penjara.
"Ahaa..." Dinar mendapatkan ide untuk keluar dari rumah itu. Segera ia ambil tirai yang ada di lemari ruang belakang, di sambungnya tirai-tira itu, dan "wuss..." ujung tirai dilemparkan keluar jendela dan ujung satunya diikat di pagar lantai atas di kamarnya. Dinar nekat turun menggunakan ikatan tirai itu.
"Aaaw..." tubuh Dinar terpelanting dan jatuh, ujung tirai yang diikatnya di pagar terlepas.
Dinar menutup mata rapat, ia takut membayangkan tubuhnya membentur tanah ataupun benda-benda yang ada di bawah.
"Ha....!" Dinar masih menutup mata, namun ia terkejut saat tubuhnya sudah mendarat tapi tak terasa ada benturan apapun. Dinar lalu membuka matanya perlahan, memeriksa yang terjadi padanya.
"Ha...." sontak Dinar berdiri. Ia mendapati tubuhnya mendarat di tangan seorang pria bertubuh tinggi kekar dan berkulit kecokelatan.
"Kamu gak papa?" tanya pria itu.
"Oh iya, aku gak papa!" jawab Dinar. "Siapa kamu?" tanya Dinar selanjutnya.
"Oh iya kenalin, aku Dirga" pria itu mengulurkan tangan kepada Dinar.
"Aku Din...eh Dara" Dinar lupa bahwa namanya yang sekarang adalah Dara. "Kamu ada perlu apa ke sini?" tanya Dara lagi.
"Maaf, tadi aku kebetulan lewat dan liat kamu bergelantungan, aku khawatir kamu jatuh" jelas Dirga.
Dara dan Dirga berbincang membahas perkenalan mereka. Dirga yang memang sedang berjalan-jalan santai, melihat sekeliling lingkungan barunya. Ia baru saja pindah ke daerah itu.
Dirga adalah seorang pelukis, usianya sedikit lebih tua dari Dara. Kepribadiannya juga baik, walaupun perpaduan tubuh atletis, kulit cokelat, dan rambut gondrong sedikit mengganggu mata Dara.
'Ah...penampilannya gini amat sih, padahal dia asyik' ucap Dara dalam hati. Dara memang selektif dalam bergaul, bukan hanya sifat dan karakternya, ia bahkan menilai penampilan.
Usai perkenalan itu, pria yang bernama Dirga telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dara. Ia sering mengunjungi Dara, bahkan di sela-sela waktu Dara, mereka jalan-jalan bersama.
"Hai..." Dirga melambaikan tangan kepada Dara saat selesai pembuatan video klip untuk salah satu lagunya.
"Ah...dia lagi" gumam Dara. Dara tak enak hati menolak ajakan Dirga untuk jalan bersama. Senyum paksaan pun mengembang di bibir Dara.
"Dara sepertinya kurang suka aku jemput" gumam Dirga. Dirga menyadari tingkah Dara. Mereka jalan bersama meski sedikit canggung.
*****
Fiko dan Allea terus berkeliling mencari sosok Dinar.
"Fiko, sebenarnya siapa sih yang kamu cari?" tanya Allea yang sampai sejauh ini masih belum mengetahui siapa yang menjadi tujuan Fiko.
"Fiko" tangan Allea menghentikan langkah Fiko. "Sampai kapan kita akan seperti ini, ceritakan siapa yang kamu cari!" kini ucapan Allea bernada serius. "Percayalah aku akan membantumu, aku gak tega melihat kamu seperti ini, berjalan tanpa tujuan mencari sesuatu yang hanya kamu yang tau, dan sampai titik mana kamu harus berhenti kamu pun gak tau!" Allea berusaha menyadarkan Fiko tentang apa yang telah dilakukan.
"Allea, apa kamu masih suka sama aku?" tanya Fiko dengan nada yang sama seriusnya.
"Tentu, maka dari itu aku gak mau melihat kamu seperti ini" jawab Allea.
"Aku mencari cinta pertamaku!" perkataan Fiko ini membuat Allea terkejut, namun Allea justru menyambutnya dengan tawa.
"Ha ha ha...cinta pertama?" Allea tertawa lagi. " Teman aja kamu ga punya, kenapa sekarang cinta pertama" Allea berucap sambil tertawa, walaupun di dalam hati ia takut perkataan Fiko itu benar.