Fiko dan Allea masih berkeliling kota mencari seorang Dinar. Berbagai tempat mereka datangi, dari tempat hiburan, tempat wisata, perbelanjaan, semua tempat dari yang sepi hingga ramai, dari yang dekat hingga jauh. Namun pencariannya belum membuahkan hasil.
Kini Fiko berada di sebuah kota dengan keramaiannya. Fiko dan Allea memutuskan untuk melakukan pencarian secara terpisah. Mereka menjadwalkan bertemu di suatu tempat dalam waktu tertentu.
Fiko sudah terbiasa dengan hiruk pikuk di kehidupan manusia. Ia membaur dengan manusia, ia fikir dengan begitu ia dapat menemukan Dinar.
Fiko tengah berjalan menyusuri jalan yang ramai dengan pejalan kaki dan pengguna sepeda. Hari itu adalah hari minggu dimana menjadi hari libur nasional.
Fiko melihat manusia berjenis kelamin wanita, tengah berlari kecil dari arah berlawanan dengannya. Ia bingung melihat manusia itu.
"Oh...manusia ini kenapa?" Fiko bingung karena msnusia itu mengenakan pakaian olah raga namun bagian kepala dan wajah tertutup rapat, hanya bagian mata saja yang terlihat.
Wanita itu juga menatap Fiko, ia heran terhadap tatapan Fiko. Fiko terlihat seperti orang bodoh namun tampan bukan main.
Fiko menatap wanita itu sampai bayangannya menghilang. Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Dan kali ini ia bertemu dengan seorang pria yang terus menatapnya. Fiko bingung dengan tatapan itu.
"Apa dia seorang seorang hantu?" gumam pria itu. Pria itu mengikuti arah perginya Fiko.
Fiko sadar jika ia tengah diikuti seseorang. Fiko menghentikan langkahnya. Ia merasakan gerakan langkah orang itu. Setelah merasa dekat, Fiko membalikan tubuhnya secara tiba-tiba.
"Siapa kamu?" tanya Fiko.
Pria itu tertawa dan berkata "Ternyata benar kamu adalah seorang hantu!" kata pria itu. Pria itu lalu mengeluarkan jurusnya untuk melemahkan Fiko. Pria itu bertujuan menangkap Fiko.
"Hey...apa maumu?" Fiko berusaha menghindar dan tanpa lawanan. Namun pria itu terus menyerang. Akhirnya, mau tak mau Fiko melawan untuk membela diri. Setelah bertarung beherapa saat, Fiko menyadari bahwa pria itu bukan manusia biasa. Fiko memilih melarikan diri. Ia kemudian menghilang.
Fiko muncul di sebuah halaman rumah yang sangat besar. Ia tak tahu dimana itu. Fiko melihat di sekeliling ia berdiri.
Fiko berjalan sembarang arah, mengenali dan ingin keluar dari tempat asing itu.
"Dimana ini?" ucap Fiko dengan kebingungan. "Rumah manusia di kota memang luar biasa!" Fiko nampak heran dengan bangunan rumah yang begitu besar dan megah.
*****
Sementara itu Dara baru saja pulang dari joging. Ia berlari keliling taman kota yang tak jauh dari rumahnya. Dara berjalan menuju dapur, ia ingin meneguk segelas air putih yang ia tuang dari tempat air minum di atas meja makan.
Ketika meneguk air itu, mata Dara melihat sosok pria asing di halaman bagian belakang rumahnya. Dara hampir tersedak karena penampakan itu, pria tampan yang wajahnya bersinar. Dara mengusap bekas air di bibirnya yang tumpah karena hampir tersedak. Ia lalu mendekat ke arah jendela kaca dapurnya. Ia memperhatikan pria itu dari dalam.
"Siapa dia? Jangan bilang dia orang jahat ya! Ketampanannya tidak patut dimasukan dalam golongan orang jahat" gumam Dara.
Dara berjalan ke arah pintu, ia membuka pintu dan keluar untuk menemui pria itu. Di dalam hati Dara ada rasa takut karena dia pria asing, namun ia juga penasaran. Ketampanan wajah pria itu menarik magnet dalam tubuh Dara untuk mendekat.
"Permisi...anda siapa?" sapa Dara kepada pria itu. Pria itupun sontak menoleh ke arah Dara. Pria itu tampak terkejut dan bingung.
"Anda siapa ya...?" tanya Dara lagi.
"Aku...?" ucap pria itu. 'Kenapa wanita ini bisa melihat ku?' ucap pria itu dalam hati.
Ya...pria itu adalah Fiko yang melarikan diri dari serangan pria di jalanan taman kota tadi.
"Iya anda!" jawab Dara.
"Aku...aku. Kamu siapa?" Fiko bertanya balik, ia heran kenapa semakin banyak manusia yang bisa melihatnya.
"Aku Dara pemilik rumah ini!" Dara tentu tidak keberatan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Mereka berjabat tangan, mata Dara terus tertuju ke wajah pria itu. Ketampanan pria itu sungguh menghipnotis Dara, terlebih saat berjabat tangan dan tangannya di genggam oleh Fiko. Dara tidak menyadari bahwa pria itu adalah Fiko. Ia hanya merasa seperti tak asing saat bertemu pria itu.
"Nama anda siapa?" Dara mengulangi pertanyaannya karena pria itu belum juga nenyebutkan namanya.
"Aku Fiko" jawab pria itu.
"Fiko? nama yang bagus, aku suka namanya!" ucap Dara. "Kamu kenapa sampai ke sini? ada perlu apa ke rumahku? maaf ya aku bicaranya santai, aku pikir kita seumuran" ucap Dara selanjutnya.
"Aku juga tak tau!" jawab Fiko singkat.
Setelah agak lama menatap dan memperhatikan Fiko, Dara menyadari bahwa ia pernah melihat Fiko. "Tunggu...tunggu...tunggu, kamu pria yang tadi ada di taman kan?" tanya Dara.
"Iya, aku tadi ada di taman" jawab Fiko.
"Betul kan! tadi aku melihatmu!" terang Dinar.
Mereka berkenalan dan berbincang mengenal satu sama lain. Dara pun lupa dengan pertanyaannya kenapa pria itu ada di halaman belakang rumahnya.
Pelayan rumah Dara memperhatikan Dara dari dalam rumah.
"Non Dara kok ngomong sendiri ya...!" gumam seorang wanita seumuran Dara yang bekerja sebagai pelayan di rumah Dara. Pelayan itu keluar pintu dan mendekati Dara.
"Non..." sapa pelayan itu dari belakang tubuh Dara.
Dara terkejut, ia sontak membalikkan badan. "Isa..." Dara kesal karena dibuat terkejut oleh pelayannya itu.
"Maaf non...tapi non ngobrol sama siapa?" tanya pelayan itu sambil celingukkan ke kanan dan kiri.
"Sama dia" Dara menunjuk ke samping kanannya dengan telapak tangan terbuka. "Dia tampan kan? jangan naksir ya...!" bisik Dara selanjutnya.
Isa si pelayan itu bertambah bingung karena tak melihat siapapun di samping Dara. Isa merasa aneh dan bulu kuduknya berdiri.
"Non...ga ada siapa-siapa non! jangan bikin takut ya...!" ucap Isa.
"Mungkin kamu ga bisa liat, soalnya nanti kalo liat kamu naksir lagi!" canda Dara.
"Tapi emang bener gak ada siapa-siapa non...!" ucap Isa lagi.
Dara menoleh ke samping, dan iapun terkejut, ternyata Fiko sudah tidak ada di sampingnya. "Hah...Fiko? kemana perginya Fiko?" Dara mencari di sekelilingnya. "Ini pasti gara-gara kami Isa, Fiko menghilang! kemana dia? ini salah kamu Isa. ucap Dara menuduh pelayannya telah mengacaukan pendekatannya.
Dara kesal, ia berjalan menuju pintu rumah, meninggalkan pelayannya berdiri di situ.
"Ihiii..." Isa merinding ketakutan, iapun segera menyusul Dara masuk ke dalam rumah.
Fiko memperhatikan tingkah kedua manusia majikan dan pelayan itu dari jauh. Ia merasakan ada sesuatu di dalam pertemuannya dengan Dara.
"Dara bukan manusia biasa, aku bisa merasakan energinya!" ucap Fiko.