Semenjak pertemuannya dengan Dara, Fiko selalu mengunjungi rumah Dara. Ia merasa ada sesuatu dalam diri Dara. Dara bukan manusia biasa, ia bisa melihat sosok hantu seperti Fiko. Fiko yakin Dara bisa mempertemukannya dengan Dinar.
Di pagi buta itu, Fiko mencoba masuk ke rumah Dara, mencari tau tentang siapa Dara. Fiko berdiri di dekat tangga menuju lantai atas rumah Dara. Ia memperhatikan di sekelilingnya, tampak beberapa pelayan sedang sibuk. Sebagian dari mereka membersihkan ruangan dan sebagian lagi sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
Fiko memandangi ke atas tangga yang ada di dekatnya. "Apa mungkin kamar Dara ada di atas sana ya...?" gumam Fiko. Ia masih kagum dengan kemegahan rumah Dara. "Di kampung gak ada rumah seperti ini! wuaah..." ucap Fiko sambil menapaki anak tangga satu per satu.
Sesampainya di lantai atas, Fiko bingung, terdapat banyak ruangan di lantai itu.
"Kamar Dara yang mana ya...?" ucap Fiko.
Sementara itu, Dara masih terlelap di atas tempat tidurnya. Semenjak ia tinggal di rumah itu dan sang ibu selalu melarangnya untuk berkunjung ke kampungnya, Dara memang terkesan memberontak. Ia tak pernah lagi menjadi anak yang manis, rajin dan penurut. Ia melakukan selalu berbuat semaunya.
Fiko mendekati pintu satu persatu, ia bisa tahu hanya dengan melihatnya dari luar. "Hah...Dara..." ucap Fiko sambil menggelengkan kepala saat menemukan kamar Dara dan melihatnya masih tertidur pulas di atas tempat tidur.
Fiko ingin masuk ke kamar Dara, namun langkahnya terhenti karena ia teringat bahwa Dara bisa melihatnya. Ia takut jika Dara berperasangka buruk terhadapnya. Fiko memilih menunggu Dara di luar kamar dan memperhatikannya dari jauh.
Tubuh Dara menggeliat, mata enggan terbuka, tubuh masih ingin bermanja dengan bantal dan gulingnya di atas tempat tidur. Namun alarm yang ia pasang terus berbunyi, seakan tak mengijinkan ia untuk menawar waktu agar lebih lama lagi berada di tempat tidur. Dara terpaksa bangun, ada jadwal kegiatan yang menantinya hari ini. Dengan mata yang masih terpejam dan hanya sesekali terbuka, ia berjalan menuju kamar mandinya. Dara ingin membersihkan diri, kemudian bersiap pergi berkerja.
Fiko masih menanti Dara keluar dari kamarnya. Ia berjalan kesana kemari tak sabar ingin melihat Dara.
Pintu kamar Dara terbuka, Fiko bergegas melihatnya. Tampak Dara masih dengan rambut yang berantakan dan kimono yang membalut tubuhnya.
"Hah...Dara?" Fiko terkejut dengan penampilan Dara. Sungguh berbeda dengan kesan pertama saat mereka bertemu.
Penampilan berantakan Dara juga salah satu bentuk protesnya kepada ibunya. Ia tak mau hidup dikekang seperti ini. Dulu ia pikir dengan menjadi seorang selebriti, akan membuatnya lebih mudah bertemu Fiko dan hari-harinya tidak akan terasa sepi. Namun ternyata itu semakin membuatnya seperti tahanan, karena selalu ada pengawal kemanapun ia pergi.
Dara berjalan hendak menuruni tangga, Fiko segera bersembunyi, ia tak ingin Dara melihatnya berada di dalam rumah tanpa diketahui.
"Isa..." teriak Dara memanggil pelayannya. Dara duduk di ruang tengah, menunggu datangnya Isa untuk melayaninya.
"Iya Non..." Isa berlari ke arah Dara.
Melihat penampilan Dara seperti itu, Isapun tahu bahwa ia harus merapikannya.
"Mari non" Isa mempersilakan Dara ke ruangan tempat khusus berhias dan dimana baju dan aksesori Dara tersimpan.
Dara duduk di depan cermin besar. Isa mulai menata rambut Dara dan memoleskan make up tipis di wajah Dara. Dara tak suka penampilan yang berlebihan dan make up yang terlalu menor. Ia lebih suka yang terlihat natural. Begitupun Isa, sebagai pelayan sekaligus penata rias Dara, ia memang bisa diandalkan.
Dara telah selesai di make up, kini penampilannya sudah sempurna. Dara mengenakan baju atasan dengan celana jeans panjang yang senada, rambut lurus dan panjang tergerai. Pertemuan dengan seorang pencipta lagu beserta rekan-rekannya, membuat Dara tak perlu berpenampilan formal.
Fiko menunggu di depan rumah Dara, ia berdiri di dekat mobil Dara terparkir. Ketika Dara keluar dari rumah, ia melihat Fiko yang tampak menunggunya.
"Hai..." sapa Dara lalu berjalan mendekat ke arah Fiko. "Kamu di sini?" tanya Dara.
"Iya, aku kebetulan lewat sini jadi aku mampir" jelas Fiko berpura-pura.
"Oh gitu..." Dara tampak salah tingkah, wajah merahnya tidak bisa ia sembunyikan. Rasa gembira karena sepagi itu ia dikunjungi oleh Fiko meledak-ledak di hatinya.
"Non, kita sudah terlambat!" seru Isa yang selalu menempel kemanapun Dara pergi. Lagi-lagi Isa menyaksikan hal aneh, Dara berbincang sendiri. Isa merasa ada yang salah dengan bosnya itu.
"Oh ya Fiko, aku harus..." Dara enggan melanjutkan kalimatnya, sungguh disayangkan jika pertemuannya hanya sesingkat itu, ia menginginkan lebih lama lagi.
"Iya Dara gak papa, aku ngerti lain kali kita bisa bertemu lagi" ucap Fiko yang sebenarnya juga sedikit kecewa.
"Oh iya Fiko, aku...pergi dulu ya..." ucap Dara sambil tersenyum malu-malu. Dara hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Fiko, namun ia berbalik lagi. "Fiko, kita bisa tukeran nomor handphone?" tanya Dara yang lebih terkesan meminta.
"Handphone?" Fiko tidak tau apa yang dimaksud Dara.
"Iya...handphone" jawab Dara. Fiko masih bingung. "Oh gini aja, alamat kamu" ucap Dara meminta alamat rumah Fiko. Fiko mengerti yang dimaksud Dara.
"Aku yang akan datang ke rumahmu nanti malam, kamu gak perlu mencari rumahku" ucap Fiko.
"Oh...baiklah, sampai ketemu nanti malam" Dara tentu sangat bahagia. Ia berjalan meninggalkan Fiko yang masih berdiri di halaman rumahnya.
Dara melambaikan tangan kepada Fiko dari jauh sambil tersenyum lebar. Mobil Dara perlahan menghilang dari pandangan Fiko.
Walaupun sedikit kecewa, karena setelah lama ia menunggu Dara, namun ia hanya bisa bertemu Dara sangat sebentar.
******
"Non, tadi non ketemu siapa?" tanya Isa menyelidiki keanehan dari bosnya itu.
"Oh tadi? tadi itu temen Isa, kami baru kenal, tapi dia guanteng pol Sa, kalau gini terus bisa-bisa aku jatuh cinta sama dia..." ucap Dara sambil tersenyum membayangkan wajah Fiko.
Isa berfikir ada yang salah dengan kesehatan mental bosnya itu. Ia berencana membicarakan hal ini kepada Ibu Silla, ibu dari Dara, jika Dara masih mengalami hal selerti ini lagi.
Mobil Dara melaju menyusuri jalanan kota, menuju tempat dimana ia membuat janji temu dengan rekan-rekannya. Dara lebih suka pertemuan di alam terbuka dibandingkan di dalam sebuah gedung.
"Hai Dara..." seorang rekan yang sangat mengagumi Dara menyapanya. Dara membalas dengan senyuman. Walau terkesan acuh, namun rekannya tersebut tidak keberatan. Ia mengerti sepenuhnya karakter Dara.
Dara bertingkah acuh hanya kepada rekan-rekannya, jika di hadapan penggemarnya, ia akan sebisa menutupinya. Ia harus terlihat ramah di depan para penggemarnya.