Darah dan logam. Itu adalah hal terakhir yang diingat Kael sebelum dunianya berubah menjadi kabut merah.
Teriakan prajurit menggema di udara, bercampur dengan deru ledakan dan dentingan senjata yang beradu. Tubuh-tubuh berserakan di tanah berlumpur, beberapa masih bergerak, sebagian besar tidak. Bau daging terbakar menusuk hidung, membuat udara semakin berat.
Kael berdiri di tengah semua itu, tubuhnya bersimbah darah—bukan hanya miliknya, tetapi milik siapa pun yang cukup bodoh untuk mendekatinya. Napasnya kasar, dadanya naik turun cepat, dan di matanya yang membara, hanya ada kehancuran.
Ia tahu apa yang sedang terjadi.
Ia sedang terputus.
Sentinel yang kehilangan Guide mereka tidak bisa dikendalikan. Mereka berubah menjadi mesin pembunuh tanpa tujuan, tak lagi mengenali teman atau lawan. Hanya ada naluri membantai yang menguasai otak mereka, hingga tubuh mereka akhirnya menyerah—atau mereka dihentikan secara paksa.
Tetapi Kael Draven bukan Sentinel biasa.
Ia adalah Hantu Perang.
Dan ketika ia kehilangan kendali, tidak ada yang bisa menghentikannya.
—
Di kejauhan, komandan pasukan Aliansi menatap pemandangan mengerikan itu dengan wajah pucat.
"Kita harus mundur!" seru seorang perwira. "Kael Draven telah kehilangan kontrol! Dia akan membunuh kita semua!"
"Tidak... Tidak mungkin..." Komandan itu bergumam, matanya tak bisa lepas dari sosok pria yang tengah mengamuk di tengah-tengah pasukan mereka.
Kael bergerak seperti badai maut, setiap ayunan pedangnya menciptakan kehancuran. Prajurit yang mencoba melawannya terpotong dalam satu tebasan. Bahkan mereka yang memakai armor berat tak mampu menahan serangannya.
Seharusnya Sentinel yang kehilangan Guide akan melemah seiring waktu. Tetapi Kael tidak.
Ia semakin kuat.
"Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang..." seseorang berbisik, suaranya penuh keputusasaan.
Dan di saat itu, semua orang menyadari satu hal:
Mereka tidak lagi bertarung melawan musuh.
Mereka bertarung melawan monster.
—
Dunia Kael telah menyusut menjadi sensasi yang paling dasar—panasnya darah di kulitnya, dentuman jantung di dadanya, dan dorongan tak tertahankan untuk terus bergerak, terus menghancurkan.
Ia tidak lagi bisa membedakan suara. Semua terdengar seperti dengungan kabur di telinganya.
Namun di tengah hiruk-pikuk itu, sesuatu terjadi.
Sebuah suara menembus kegelapan.
"Kael."
Seketika, segalanya berhenti.
Ia tidak tahu kenapa. Suara itu tidak keras, tidak penuh perintah, tetapi efeknya seolah menghantam langsung ke dalam otaknya.
Kakinya gemetar, dan untuk pertama kalinya sejak ia kehilangan kontrol, Kael merasakan sesuatu selain kemarahan.
Kesadaran.
Matanya yang merah darah bergetar, napasnya tersendat. Perlahan, ia berbalik.
Di tengah kehancuran, di antara tumpukan mayat dan tanah yang hancur, seorang wanita berdiri.
Rambut peraknya berantakan, wajahnya kotor oleh debu dan darah, tetapi tatapannya tetap tajam. Ia mengenakan seragam yang sudah robek di beberapa bagian, tetapi tidak ada lambang atau insignia yang menunjukkan dia berasal dari faksi mana pun.
Dan anehnya, ia tidak terlihat takut.
Siapa dia?
Bagaimana ia bisa menghentikannya hanya dengan satu kata?
Mulut Kael terbuka, tetapi suara tidak keluar. Otaknya yang masih dipenuhi kabut merah mencoba mencari jawaban, tetapi hanya ada satu hal yang ia tahu pasti:
Wanita ini tidak seharusnya ada di sini.
—
Eira Callis merasakan udara dingin menusuk kulitnya, tetapi pikirannya tetap fokus.
Ini buruk.
Ia seharusnya tidak menarik perhatian. Ia seharusnya tetap dalam bayang-bayang, jauh dari semua ini.
Namun entah bagaimana, kata-katanya barusan telah menghentikan makhluk yang tidak bisa dihentikan.
Dan sekarang, Hantu Perang menatapnya.
Mata merah itu penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan—bukan kemarahan, bukan kegilaan, tetapi keterkejutan. Seolah ia baru pertama kali menyadari keberadaan orang lain di dunia ini.
Eira menggigit bibirnya.
Jika ia tetap diam, pasukan lain akan segera menangkapnya. Jika ia lari, pria itu mungkin akan mengejarnya.
Pilihan mana pun buruk.
Tetapi sebelum ia bisa mengambil keputusan, Kael bergerak.
Dalam sekejap, ia sudah tepat di hadapannya.
Terlalu cepat.
Eira nyaris tidak bisa bereaksi saat tangan besar itu melingkari tenggorokannya, mendorongnya ke dinding reruntuhan terdekat.
Dingin.
Cengkraman itu tidak sepenuhnya kuat, tetapi cukup untuk membuatnya sulit bernapas. Mata Kael menatapnya tajam, seolah berusaha memahami sesuatu.
"Kau siapa?" suaranya rendah dan berbahaya.
Eira tahu ia tidak bisa berbohong. Sentinel memiliki insting luar biasa terhadap kebohongan, terutama mereka yang berada di ambang kehilangan kendali.
Namun, mengatakan yang sebenarnya juga bukan pilihan terbaik.
Jadi ia hanya menjawab dengan satu kalimat sederhana:
"Seseorang yang tidak ingin ada di sini."
Kael tidak bergerak. Napasnya masih berat, tetapi genggamannya sedikit mengendur.
Lalu, tiba-tiba ia terhuyung.
Eira langsung sadar.
Dampaknya mulai terasa.
Saat seorang Sentinel kehilangan kendali, tubuh mereka melampaui batas normal, memaksa setiap sel bekerja di luar kemampuan mereka. Begitu efeknya menghilang, rasa sakitnya akan datang seperti gelombang besar.
Dan Kael Draven sudah melewati batas lebih lama dari Sentinel mana pun yang pernah ia dengar.
Ia akan runtuh.
Eira seharusnya pergi. Ia seharusnya memanfaatkan kesempatan ini untuk menghilang sebelum pasukan datang.
Tetapi yang ia lakukan malah sebaliknya.
Tangannya terangkat, hampir tanpa sadar, dan menyentuh lengan pria itu.
Seketika, reaksi tak terduga terjadi.
Tubuh Kael menegang, seolah sesuatu di dalam dirinya mengenali sentuhan itu. Napasnya terhenti sesaat, lalu ia menatap Eira dengan ekspresi penuh kebingungan.
"Apa yang kau lakukan padaku?" suaranya serak.
Eira menggigit bibirnya.
Ia ingin tahu jawaban yang sama.
Namun sebelum ia bisa berkata apa pun, suara lain muncul di kejauhan.
"Awas!"
Eira refleks menunduk tepat saat tembakan menghantam udara di atasnya.
Mereka datang.
Ia harus pergi.
Tetapi ketika ia mencoba melangkah mundur, tangannya ditangkap oleh sesuatu yang kuat.
Kael.
Pria itu masih menahannya, matanya yang merah mulai meredup menjadi warna aslinya—hitam pekat. Namun ekspresinya tetap gelap.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja," katanya.
Nada suaranya bukan ancaman, tetapi janji.
Dan Eira tahu, sejak saat itu, ia telah masuk ke dalam dunia yang seharusnya ia hindari.
—
Rasa sakit datang seperti ombak pasang.
Kael tersentak, tubuhnya kehilangan keseimbangan sesaat. Kakinya yang biasanya kokoh terasa seperti batu yang terhuyung di atas tanah yang goyah. Dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdetak seolah mencoba menghancurkan tulang rusuknya dari dalam.
Dia tahu ini akan terjadi.
Setiap Sentinel yang kehilangan kendali pasti mengalami dampak ini begitu efeknya mereda. Biasanya, mereka akan jatuh tak sadarkan diri atau lebih buruk—mati karena tubuh mereka tidak bisa menanggung beban yang begitu besar.
Tetapi Kael Draven bukan Sentinel biasa.
Dengan mengerahkan seluruh tekadnya, dia menggertakkan gigi dan tetap berdiri, meskipun seluruh tubuhnya bergetar karena kelelahan.
Tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini.