Biasanya, ketika dia kehilangan kendali, tidak ada yang bisa menghentikannya selain kematian. Namun, entah bagaimana, wanita di hadapannya telah melakukannya hanya dengan satu kata.
Satu kata.
Dan Kael merasa seperti ada rantai tak terlihat yang menariknya kembali ke dalam tubuhnya sendiri.
Dia menatap wanita itu. Mata kelabu yang tajam, rambut perak yang acak-acakan oleh debu dan darah, tubuh ramping yang meskipun terlihat lelah, tetap berdiri dengan tenang di hadapannya.
Dia seharusnya takut. Semua orang takut padanya.
Tetapi wanita ini tidak.
Kenapa?
Kael menggeram rendah, tangannya masih menggenggam pergelangan wanita itu.
"Siapa kau?"
Nada suaranya kasar, lebih seperti raungan binatang daripada ucapan manusia. Wanita itu tidak bergeming.
"Eira Callis," katanya akhirnya. Suaranya tidak gemetar, tidak ragu, seolah dia tidak peduli dengan cengkeraman Kael di lengannya.
Nama itu terdengar samar di benak Kael.
Seperti sesuatu yang pernah ia dengar di masa lalu, tetapi tidak cukup kuat untuk diingat.
Namun, itu bukan satu-satunya pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
"Kau Guide?"
Ekspresi Eira tetap netral. "Itu tidak penting."
Kael menyipitkan mata. "Itu penting bagiku."
Eira menghela napas. "Aku bisa menjadi Guide, tetapi aku bukan Guide-mu."
"Kalau begitu kenapa aku masih hidup?" Kael bertanya, nada suaranya semakin keras.
Karena itu hal yang mustahil.
Seorang Sentinel tanpa Guide pada akhirnya akan mati, baik karena kehilangan kendali atau karena orang lain menganggap mereka sebagai ancaman yang harus dieliminasi.
Tetapi Eira hanya menatapnya tanpa memberikan jawaban yang memuaskan.
"Aku juga ingin tahu," katanya akhirnya.
Itu bukan jawaban yang ingin Kael dengar.
Tapi sebelum dia bisa mendesaknya lebih jauh, suara dentuman keras menggema dari kejauhan.
Dan kemudian, tembakan.
Mereka datang.
Eira langsung berbalik. "Orang-orang yang ingin membunuhmu," katanya singkat.
Kael mengertakkan gigi. Itu bukan hal baru baginya.
Namun kali ini, tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Dia bisa bertarung, tapi tidak dalam kondisi terbaiknya.
Matanya beralih ke Eira.
Wanita itu seharusnya lari. Seharusnya dia meninggalkannya di sini.
Tapi Eira tidak bergerak.
Mata mereka bertemu sesaat, dan sesuatu yang aneh terjadi.
Kael merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bukan rasa takut, bukan kemarahan, tetapi sebuah ketertarikan yang berbahaya.
Kemudian, tanpa peringatan, Eira menarik tangannya dari genggaman Kael dan berlari ke arah reruntuhan.
"Bisa jalan atau tidak?" serunya tanpa menoleh.
Kael menggeram. Wanita ini...
Dia benar-benar tidak bisa memahaminya.
Namun, dengan sisa tenaga yang ada, dia memaksa tubuhnya untuk bergerak dan mengikuti Eira.
—
Mereka bergerak di antara reruntuhan, menghindari puing-puing yang berserakan. Kael bisa mendengar langkah-langkah mendekat dari belakang—tentara yang dikirim untuk menangkap atau membunuhnya.
Eira bergerak dengan cepat dan efisien, seperti seseorang yang terbiasa melarikan diri.
Kael mengikutinya dalam diam, pikirannya masih sibuk mencerna situasi.
Siapa Eira sebenarnya?
Kenapa dia tidak lari darinya seperti orang lain?
Dan yang paling penting...
Kenapa dia bisa mengendalikannya?
Mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan setengah runtuh. Eira berhenti dan menempelkan punggungnya ke dinding, mengintip ke luar.
"Mereka semakin dekat," gumamnya.
Kael menarik napas dalam-dalam. Kekuatannya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi ia tidak bisa duduk diam.
"Tinggal di sini bukan pilihan," katanya.
Eira meliriknya sekilas, lalu menghela napas. "Aku tahu."
Tanpa membuang waktu, dia merogoh sesuatu dari dalam jaketnya—sebuah perangkat kecil berbentuk bulat dengan layar holografik.
Kael menyipitkan mata. "Itu apa?"
Eira menekan tombol di perangkat itu dan tampilan holografik muncul. "Peta jalur bawah tanah," katanya. "Kalau kita bisa sampai ke titik ini, kita bisa keluar dari wilayah ini tanpa terdeteksi."
Kael menatapnya tajam.
"Kau sudah merencanakan ini?"
Eira tidak menjawab.
Kael mendecak. Wanita ini semakin mencurigakan.
Namun sebelum dia bisa mendesaknya lebih jauh, suara langkah kaki semakin dekat.
Eira menoleh. "Kita tidak punya waktu."
Dia bergerak lebih dulu, dan meskipun insting Kael menuntutnya untuk tetap waspada, dia memilih mengikuti.
—
Lorong bawah tanah itu gelap dan sempit. Bau tanah lembap memenuhi udara, dan suara langkah kaki mereka bergema samar di dinding batu.
Eira berjalan di depan, menyalakan lampu kecil di pergelangan tangannya untuk menerangi jalan.
Kael mengikutinya dalam diam, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan.
Dia tidak suka berada dalam situasi di mana dia tidak memiliki kendali penuh.
Namun kali ini, dia tidak punya pilihan.
Setelah beberapa menit berjalan, Eira akhirnya berhenti.
"Kita aman untuk sementara," katanya.
Kael menyandarkan punggungnya ke dinding, berusaha menenangkan napasnya.
Dia menatap Eira dalam diam, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Eira balas menatapnya, lalu tiba-tiba bertanya, "Kau mau membunuhku?"
Kael mengangkat alis. "Kalau aku ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya sejak tadi."
Eira tidak terlihat puas dengan jawaban itu. "Kau masih bisa berubah pikiran."
Kael mendengus. "Itu juga berlaku untukmu."
Hening sejenak.
Kemudian, Eira tersenyum kecil—senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Kita akan lihat nanti," katanya pelan.
Kael tidak tahu kenapa, tetapi kata-kata itu terdengar lebih seperti ancaman daripada candaan.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada dirinya sendiri.
—
Lorong bawah tanah yang mereka lalui semakin sempit dan gelap. Hanya cahaya kecil dari perangkat di tangan Eira yang menerangi jalan, menciptakan bayangan panjang di dinding batu yang kasar.
Kael berjalan di belakangnya, pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
Dia tidak suka ini.
Biasanya, dia adalah orang yang mengendalikan situasi. Tapi kali ini?
Dia mengikuti seorang wanita yang entah bagaimana telah menghentikannya tanpa alasan yang jelas.
Dan itu mengganggunya.
Siapa sebenarnya Eira Callis?
Kael menatap punggungnya. Gerakannya gesit dan efisien, seolah dia sudah terbiasa melintasi jalur sempit seperti ini. Tidak seperti seseorang yang kebetulan tersesat di tengah medan perang.
Tidak.
Wanita ini tahu sesuatu.
Lorong bawah tanah yang mereka lalui semakin sempit dan gelap. Hanya cahaya kecil dari perangkat di tangan Eira yang menerangi jalan, menciptakan bayangan panjang di dinding batu yang kasar.
Kael berjalan di belakangnya, pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
Dia tidak suka ini.
Biasanya, dia adalah orang yang mengendalikan situasi. Tapi kali ini?
Dia mengikuti seorang wanita yang entah bagaimana telah menghentikannya tanpa alasan yang jelas.
Dan itu mengganggunya.
Siapa sebenarnya Eira Callis?
Kael menatap punggungnya. Gerakannya gesit dan efisien, seolah dia sudah terbiasa melintasi jalur sempit seperti ini. Tidak seperti seseorang yang kebetulan tersesat di tengah medan perang.
Tidak.
Wanita ini tahu sesuatu.