Kael mencengkram gagang pisau di pinggangnya. "Kita tidak sendiri."
Eira mengangguk, matanya menyipit. "Mereka sudah menunggu kita."
Seketika, sesuatu yang dingin merayapi tulang belakang Kael.
Ini jebakan.
—
Mereka mundur beberapa langkah ke area yang lebih gelap, menempel ke dinding untuk menghindari perhatian.
Kael mengawasi Eira yang tampaknya sudah menyusun rencana dalam pikirannya.
"Waktu kita terbatas," bisik Eira. "Mereka kemungkinan besar pasukan khusus. Jika mereka tahu kita ada di sini, mereka tidak akan membuang waktu."
Kael mengepalkan tangan. Dia benci berada dalam posisi defensif seperti ini.
"Berapa orang?"
Eira menutup matanya sejenak, seakan mencoba merasakan sesuatu. "Lima. Mungkin enam."
Kael menyeringai tipis. "Itu bukan masalah."
Eira memutar bola matanya. "Kalau kau dalam kondisi normal, mungkin."
Kael menggeram. Wanita ini memang benar, tapi dia tidak akan mengakuinya.
"Kau punya rencana?"
Eira mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya—sebuah bola kecil berwarna hitam.
"Ledakan suara," katanya singkat. "Bukan untuk membunuh, tapi cukup untuk memberi kita celah untuk kabur."
Kael mendengus. "Aku lebih suka opsi membunuh mereka."
Eira meliriknya tajam. "Kalau kita membunuh mereka sekarang, kita hanya akan menarik lebih banyak orang. Itu bodoh."
Kael mendecak, tapi tidak membantah.
Eira melempar bola itu ke depan, dan dalam hitungan detik—
BOOM!
Gelombang suara memekakkan telinga memenuhi lorong, membuat Kael merasakan dengungan tajam di kepalanya.
Tapi itu tidak mengganggunya sebanyak itu.
Sementara pasukan yang menunggu mereka tersentak karena ledakan suara, Eira langsung menarik lengan Kael.
"Jalan sekarang!"
Kael berlari bersamanya, meskipun dorongan untuk membunuh musuh-musuhnya masih berdenyut di benaknya.
Namun, dia bisa melihat logika dalam rencana Eira.
Sekarang bukan waktunya bertarung.
Mereka harus bertahan dulu.
—
Setelah beberapa menit berlari, mereka akhirnya tiba di sebuah persimpangan besar di bawah tanah.
Eira berhenti dan memeriksa peta holografiknya lagi, sementara Kael mengawasi punggungnya.
"Ke mana sekarang?"
Eira menggigit bibirnya, lalu menunjuk ke arah kiri. "Ada jalan keluar di sana. Tapi..."
Kael menatapnya tajam. "Tapi apa?"
Eira menutup peta dan memasukkannya kembali ke jaketnya.
"Ada seseorang yang harus kutemui."
Kael mengerutkan kening. "Siapa?"
Eira menatapnya sejenak, lalu berbalik. "Kalau kau ingin keluar dari sini, ikut aku."
Dan dengan itu, dia mulai berjalan lagi.
Kael menatap punggungnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengikutinya.
Dia masih belum tahu siapa wanita ini sebenarnya.
Tetapi satu hal yang pasti—
Dia lebih dari sekadar Guide yang kebetulan muncul di hadapannya.
—
Lorong bawah tanah semakin terasa sempit dan menyesakkan. Bau tanah lembap dan logam berkarat memenuhi udara, bercampur dengan sisa asap dari ledakan suara yang Eira gunakan untuk mengalihkan perhatian pasukan pengejar.
Kael berjalan setengah langkah di belakangnya, matanya tajam mengawasi setiap sudut lorong. Otot-ototnya masih menegang, refleksnya siap menghadapi serangan mendadak.
Tapi yang paling mengganggunya bukanlah bahaya yang mengintai mereka.
Melainkan wanita di depannya.
Eira Callis.
Kael sudah lama berhenti percaya pada kebetulan. Dunia ini terlalu kejam untuk membiarkan sesuatu terjadi begitu saja.
Dan seorang wanita yang entah bagaimana bisa menghentikan Hantu Perang hanya dengan satu kata?
Itu bukan kebetulan.
Kael ingin jawaban, tetapi dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mendesak.
Jadi dia menahan diri. Untuk saat ini.
Eira melangkah dengan mantap, tapi Kael memperhatikan bagaimana matanya terus bergerak, menghitung jarak, mencari rute pelarian lain jika diperlukan.
Dia bukan orang biasa.
Kael tidak tahu apakah itu kabar baik atau buruk.
"Berapa jauh lagi?" akhirnya dia bertanya.
Eira meliriknya sekilas sebelum kembali menatap peta holografiknya. "Tidak jauh. Lima menit lagi kalau kita tidak terhalang apa pun."
Kael mendengus. "Selalu ada sesuatu yang menghalangi."
Seolah membuktikan perkataannya, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Berat dan terlatih.
Kael langsung berhenti.
Eira juga.
Mata mereka bertemu.
Tanpa sepatah kata pun, mereka berdua langsung bergerak ke sisi lorong, menempel ke dinding untuk menyembunyikan diri di balik bayangan.
Suara langkah kaki semakin dekat.
Kael merasakan detak jantungnya melambat. Nafasnya menjadi lebih terkendali, tubuhnya menyesuaikan diri dengan ritme yang selama ini menjadi nalurinya dalam berburu.
Dia melirik Eira.
Wanita itu juga menegang, meskipun ekspresinya tetap datar.
Lalu, mereka muncul.
Dua orang pria berpakaian serba hitam, senjata siap di tangan.
Kael mengenali emblem di lengan mereka.
Unit Eksekusi Khusus.
Mereka bukan sekadar tentara biasa.
Ini berarti satu hal—mereka tidak datang untuk menangkapnya.
Mereka datang untuk membunuhnya.
Mata Kael menyipit.
Baiklah. Itu membuat semuanya lebih mudah.
—
Pertarungan pecah dalam sekejap.
Kael bergerak lebih dulu. Tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya membuatnya sedikit lebih lambat dari biasanya, tetapi itu tidak berarti dia tidak bisa membunuh mereka.
Pria pertama tidak sempat bereaksi saat Kael menendang senjatanya ke samping dan menghantam dadanya dengan siku. Bunyi tulang retak terdengar, diikuti dengan teriakan pendek sebelum pria itu terhuyung ke belakang.
Pria kedua lebih cepat.
Dia langsung mengangkat senjatanya, tetapi sebelum dia sempat menarik pelatuk, Eira sudah bergerak.
Dengan satu gerakan cepat, dia menarik pisau dari sabuknya dan melemparkannya.
Srek!
Pisau itu menancap di bahu pria itu, membuatnya tersentak mundur.
Itu cukup bagi Kael untuk menghajar pria pertama ke lantai dan berbalik untuk menghadapi pria kedua.
Satu pukulan telak ke rahang.
Satu tendangan ke d**a.
Pria itu jatuh, tidak bergerak.
Kael berdiri di atas mereka, napasnya berat. Darah menetes dari kepalan tangannya.
Dia menoleh ke Eira, yang masih berdiri dengan pisau lain di tangannya, siap bertarung.
Mereka bertukar pandang sebentar sebelum akhirnya Eira menghela napas dan menyimpan pisaunya kembali.
"Kita harus pergi sebelum lebih banyak yang datang," katanya.
Kael tidak membantah.
—
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di tujuan mereka.
Itu adalah sebuah ruangan tua dengan pintu baja berkarat. Dari luar, tempat itu tampak seperti tidak pernah digunakan selama bertahun-tahun.
Eira mengetuknya tiga kali dengan pola tertentu.
Hening.
Kael meliriknya. "Kau yakin dia masih ada di sini?"
Eira tidak menjawab.
Kemudian, suara gerendel berderit terdengar dari dalam.
Pintu terbuka sedikit, dan sepasang mata tajam mengintip keluar.
Begitu melihat Eira, pemilik mata itu langsung menarik pintu lebih lebar, membiarkan mereka masuk.
Kael tidak langsung mengikuti Eira.
Dia mengamati orang itu sejenak. Seorang pria tinggi dengan rambut hitam berantakan, wajahnya tirus dengan bekas luka samar di pelipisnya.
Pakaian yang ia kenakan sederhana, tetapi mata Kael langsung menangkap tonjolan senjata di bawah jaketnya.
Orang ini bukan orang biasa.
Pria itu melirik Kael sebentar sebelum menutup pintu di belakang mereka.