Orang ini bukan orang biasa.
Pria itu melirik Kael sebentar sebelum menutup pintu di belakang mereka.
"Lama tidak bertemu, Callis," katanya, suaranya dalam dan penuh kehati-hatian.
Eira mengangguk. "Aku tidak punya banyak waktu, Kieran."
Kael menyipitkan mata.
Kieran.
Nama itu terdengar samar di benaknya, tetapi dia tidak punya cukup informasi untuk mengingatnya dengan jelas.
Kieran melipat tangannya. "Kau membawa tamu yang menarik."
Kael hanya menatapnya dingin.
Eira menghela napas. "Dia bagian dari rencanaku sekarang."
Kael mengangkat alis. "Oh? Aku tidak ingat menyetujui itu."
Eira tidak menanggapinya.
Sebaliknya, dia berbalik ke Kieran. "Kau masih punya akses ke jaringan informasi bawah tanah?"
Kieran menatapnya tajam sebelum mengangguk. "Tergantung apa yang kau cari."
Eira mengambil sesuatu dari dalam jaketnya—sebuah chip data kecil—dan menyerahkannya pada Kieran.
"Aku butuh semua yang kau bisa dapatkan tentang ini."
Kieran mengambil chip itu dengan ekspresi penasaran sebelum memasukkannya ke dalam perangkat pemindai di mejanya.
Kael berdiri di samping, mengamati mereka dalam diam.
Dia tidak suka ini.
Dia tidak suka merasa seperti orang luar dalam situasi yang tidak dia pahami.
Dan dia sangat tidak suka merasa seperti seseorang yang sedang dimanfaatkan.
Tapi untuk saat ini, dia akan menunggu.
Karena meskipun dia belum tahu apa yang terjadi di sini, satu hal yang pasti—
Eira Callis menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang dia tunjukkan.
Dan Kael akan mencari tahu semuanya.
—
Ruangan bawah tanah itu terasa semakin sempit seiring berjalannya waktu. Suara dengungan perangkat pemindai memenuhi udara, menciptakan ketegangan yang semakin nyata di antara mereka bertiga.
Kael berdiri dengan tangan terlipat di d**a, matanya mengamati setiap gerakan Kieran yang fokus meneliti data dari chip yang Eira berikan.
Di sisi lain, Eira tetap diam. Wajahnya tetap netral, tetapi Kael cukup tajam untuk menyadari bagaimana jari-jarinya mengetuk perlahan di pahanya—tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras.
Akhirnya, layar di depan Kieran berbunyi, menandakan bahwa pemindaian telah selesai.
Kieran mengangkat alis. "Menarik," gumamnya.
Kael melirik layar, tetapi sebelum dia sempat membaca isinya, Kieran sudah menutup sebagian data dengan cepat.
Eira memperhatikan itu dan menyipitkan mata. "Apa yang kau sembunyikan?"
Kieran menatapnya tajam sebelum menghela napas. "Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan ini, tapi ini bukan informasi biasa, Callis. Jika saja seseorang tahu bahwa kau memiliki ini…"
Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi maknanya jelas.
Eira tetap tenang. "Aku tahu risikonya."
Kael merasa ketidaksabarannya memuncak. "Lantas, apa yang ada di dalamnya?"
Kieran menatapnya sekilas, lalu kembali ke layar. "Sebagian besar adalah data tentang proyek eksperimen Sentinel-G. Tapi ada sesuatu yang lebih besar."
Kael menegang.
Proyek Sentinel-G.
Itu adalah sesuatu yang hanya beredar dalam desas-desus di antara para Sentinel di medan perang.
Percobaan untuk menciptakan Sentinel yang lebih kuat—atau lebih tepatnya, lebih terkendali.
Kael menggeretakkan giginya.
"Apa yang lebih besar?" tanya Eira, suaranya lebih tenang dari yang seharusnya.
Kieran mengetik sesuatu di layar, lalu tampilan berubah menjadi daftar nama.
Nama-nama yang membuat mata Kael menyipit tajam.
Salah satunya adalah namanya sendiri.
Darahnya mendidih.
"Apa ini?" suaranya rendah, tetapi penuh bahaya.
Kieran menoleh padanya, lalu kembali ke layar. "Ini daftar Sentinel yang menjadi subjek dalam proyek itu. Sebagian besar di antara mereka sudah mati. Sebagian lagi menghilang."
Tatapan Kael beralih ke Eira. "Dari mana kau mendapatkan ini?"
Eira tidak langsung menjawab.
Kael bisa merasakan napasnya menjadi lebih berat. Dadanya sesak oleh sesuatu yang sulit ia jelaskan—kemarahan, kecurigaan, atau sesuatu yang lebih gelap.
"Eira," suaranya lebih dalam, lebih dingin. "Jawab."
Akhirnya, Eira menatapnya.
"Aku mencurinya dari pusat penelitian militer," katanya dengan datar.
Keheningan menyergap ruangan.
Kieran menghela napas panjang, sementara Kael hanya menatap wanita itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Aku tahu mereka melakukan eksperimen," lanjut Eira. "Aku tahu mereka memperlakukan Sentinel seperti objek yang bisa mereka perbaiki dan tingkatkan sesuka hati."
Kael mengepalkan tangannya.
Dia tidak butuh pengingat tentang apa yang telah mereka lakukan padanya.
Apa yang telah mereka lakukan pada Sentinel lain.
Eira melangkah lebih dekat. "Tapi aku tidak tahu kau ada dalam daftar ini."
Kael tetap diam.
Dia tidak ingin percaya padanya.
Tetapi sesuatu dalam sorot mata Eira membuatnya ragu.
"Kau tahu apa yang mereka lakukan padaku?" tanyanya akhirnya.
Eira menggeleng. "Aku baru tahu sekarang."
Kieran bersandar ke meja. "Kalau begitu, kurasa sudah jelas kenapa ada orang yang ingin membunuh kalian berdua."
Eira meliriknya tajam. "Maksudmu?"
Kieran menekan sesuatu di layar, lalu sebuah peta muncul. "Seseorang telah mengaktifkan protokol pencarian untuk Sentinel yang berada di dalam daftar ini. Itu artinya mereka sedang memburu semua Sentinel yang masih hidup—dan mereka tidak ingin ada saksi."
Kael mencengkeram tepi meja, rahangnya mengeras.
Itu berarti mereka tidak hanya memburunya karena dia kehilangan kendali di medan perang.
Mereka memburunya karena dia adalah rahasia yang tidak boleh terungkap.
Eira juga tampak tegang. "Berapa lama waktu yang kita punya sebelum mereka menemukan kita?"
Kieran mengetik sesuatu dengan cepat. "Tidak lama. Mereka sudah menyadari adanya aktivitas di jaringan bawah tanah ini. Kurasa kita punya—"
BOOM!
Ledakan tiba-tiba mengguncang ruangan, membuat dinding bergetar. Debu beterbangan dari langit-langit.
"Keterlaluan," desis Kieran. "Mereka melacak kita lebih cepat dari yang kuduga."
Eira sudah menarik pisaunya. Kael, tanpa ragu, meraih senjatanya.
Kieran memeriksa layar sekali lagi sebelum menatap mereka. "Ada jalan keluar darurat, tapi kita harus cepat."
Kael menatap Eira. "Pilih sekarang. Bertarung atau kabur?"
Eira menggenggam pisaunya lebih erat.
"Kita kabur," katanya. "Tapi kalau mereka mengejar—kita habisi mereka."
Kael tersenyum tipis. Itu jawaban yang ingin dia dengar.
—
Pengejaran dimulai.
Mereka berlari melalui lorong-lorong sempit, napas mereka berpacu dengan detak jantung yang kian cepat.
Di belakang, suara langkah kaki semakin dekat.
Kael tahu mereka tidak bisa terus berlari.
Saat mereka berbelok ke sebuah koridor yang lebih luas, Kael berhenti mendadak.
Eira juga langsung sadar apa yang akan dia lakukan.
"Jangan bilang kau akan—"
Terlambat.
Kael berbalik dan langsung menyerang.
Pasukan eksekusi yang mengejar mereka tidak menyangka serangan mendadak itu. Dalam hitungan detik, Kael sudah merobohkan dua orang.
Eira mendecak. "Dia memang selalu begini, ya?" gumamnya pada Kieran.
Kieran hanya mengangkat bahu.
"Tidak ada waktu untuk mengeluh," katanya. "Kita bantu dia atau kita mati."
Eira menghela napas. "Baiklah."
Dan dengan itu, dia ikut bertarung.
—