Pertarungan berlangsung sengit.
Kael seperti bayangan yang bergerak cepat di antara musuh-musuhnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Setiap pukulan, tendangan, dan tembakan dilakukan dengan presisi mematikan.
Eira tidak kalah gesit. Dengan pisaunya, dia menyerang titik-titik vital musuh, memastikan mereka tidak bisa bangkit lagi.
Kieran, meskipun lebih banyak bertahan, tetap memberikan dukungan dengan menembak dari jarak jauh.
Satu per satu musuh tumbang.
Hingga akhirnya, hanya keheningan yang tersisa.
Kael berdiri di tengah mayat-mayat itu, napasnya berat.
Eira berjalan mendekat. "Kita harus pergi sebelum lebih banyak yang datang."
Kael menatapnya. "Kau yakin masih ingin membawaku?"
Eira menatap balik tanpa ragu. "Aku butuhmu, Kael. Dan aku tahu kau juga butuh jawaban."
Kael mendengus.
Dia benci mengakuinya, tapi wanita itu benar.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia melangkah maju.
Ke arah Eira.
Ke arah jawaban yang selama ini dia cari.
Ke arah kebenaran yang mungkin akan menghancurkannya.
—
Mereka terus bergerak melewati lorong-lorong bawah tanah yang semakin gelap dan lembap. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar, berpadu dengan napas yang masih sedikit terengah setelah pertempuran sebelumnya.
Eira berjalan di depan, Kael di belakangnya, sementara Kieran tetap di tengah, sesekali melirik perangkat di pergelangan tangannya.
"Kita hampir sampai ke pintu keluar," gumam Kieran. "Tapi kalau mereka sudah mengepung area ini, kita akan—"
BIP!
Perangkat di pergelangan tangannya berbunyi nyaring.
Kieran mengumpat pelan. "Mereka sudah lebih dekat dari yang kuduga."
Kael mengetatkan cengkeraman di senjatanya. "Seberapa dekat?"
Kieran menekan beberapa tombol, lalu wajahnya mengeras. "Sangat dekat. Kita tidak bisa keluar dari pintu utama tanpa bertemu mereka."
Eira menghentikan langkahnya. "Berapa banyak?"
Kieran menatap layar. "Minimal sepuluh orang. Mereka bersenjata lengkap."
Kael menghela napas dalam. "Aku bisa menghabisi mereka."
Eira menoleh padanya dengan ekspresi datar. "Kau tidak akan bisa melawan sepuluh orang sendirian tanpa menarik lebih banyak perhatian."
Kael mendengus. "Aku bisa mencoba."
"Tidak ada yang perlu dicoba," potong Eira. "Kita harus cari jalan lain."
Kieran menekan sesuatu di perangkatnya. "Tunggu. Ada satu jalur darurat yang mungkin bisa kita gunakan."
Eira menoleh padanya. "Di mana?"
Kieran menggeser layar dan menunjuk pada peta holografis yang muncul. "Lorong ini tersambung dengan sistem pembuangan lama. Jika kita bisa membuka gerbangnya, kita bisa keluar tanpa terdeteksi."
Eira mengangguk. "Baik. Ayo cepat."
—
Mereka berlari melewati lorong gelap, menuju titik yang ditunjukkan Kieran.
Saat mereka sampai di ujung jalan, yang mereka temukan hanyalah dinding baja besar dengan panel kontrol tua di sisinya.
Eira segera mendekat dan mulai memeriksa panel itu. "Kieran, bantu aku membukanya."
Kael berjaga di belakang mereka, telinganya tajam menangkap setiap suara yang mencurigakan.
"Berapa lama?" tanyanya.
"Jika sistemnya masih berfungsi, hanya beberapa menit," jawab Kieran.
"Kita tidak punya beberapa menit," balas Kael dingin.
Seolah memperkuat ucapannya, suara langkah kaki mulai terdengar di kejauhan.
Eira mengetuk panel kontrol dengan kasar. "Kieran."
"Aku tahu, aku tahu!" Kieran mengetik lebih cepat. "Sebentar lagi…"
Kael bisa merasakan bahunya menegang.
Langkah kaki itu semakin dekat.
"Sudah!" Kieran menekan tombol terakhir.
Pintu baja itu bergemuruh sebelum terbuka perlahan.
Tanpa menunggu, mereka bertiga segera masuk ke dalam dan menutupnya kembali.
—
Lorong di dalamnya sempit dan dipenuhi pipa-pipa tua. Bau logam dan lembap menyeruak ke udara.
"Kita harus tetap bergerak," kata Eira, berjalan lebih dulu.
Kael mengikuti di belakangnya, tetapi ada sesuatu yang mengganggunya.
Sejak tadi, dia merasa seperti diawasi.
Bukan hanya oleh Eira dan Kieran, tapi sesuatu yang lain.
Dia melirik ke sekeliling, waspada.
Tiba-tiba, suara gemerisik terdengar dari ujung lorong.
Kael langsung mengangkat senjatanya. "Berhenti."
Eira dan Kieran menoleh.
"Ada yang di depan," bisiknya.
Eira meraih pisaunya dengan hati-hati.
Mereka semua menegang.
Dari bayangan, sesuatu bergerak.
Lalu sosok seseorang muncul.
Seorang pria berbadan tegap, dengan seragam militer yang sedikit berantakan. Wajahnya ditutupi masker, tetapi matanya yang tajam mengunci pandangan pada mereka.
Dan yang paling mengejutkan—dia memiliki tanda Sentinel di lehernya.
Sentinel lain.
Kael merasakan sesuatu dalam dirinya bergetar.
Pria itu melangkah mendekat, tetapi tetap diam.
Eira menyipitkan mata. "Kau siapa?"
Pria itu tidak langsung menjawab.
Lalu, dengan suara serak, dia berkata, "Mereka mengirimku untuk menangkap kalian."
Kael langsung menegang.
Eira juga tidak bergerak.
Tapi kemudian, pria itu melanjutkan, "Tapi aku tidak akan melakukannya."
Hening.
Kael memperhatikan dengan seksama. "Kenapa?"
Pria itu melepas maskernya, memperlihatkan wajah yang penuh bekas luka. "Karena aku tahu apa yang telah mereka lakukan pada kita."
Eira menatapnya tajam. "Kau juga bagian dari proyek itu?"
Pria itu mengangguk. "Ya. Tapi aku berhasil kabur sebelum mereka mengubahku sepenuhnya."
Kael mengepalkan tangannya.
"Apa kau punya bukti?" tanya Eira.
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—chip data lain.
Kieran langsung mendekat. "Boleh kulihat?"
Pria itu menatapnya sebentar, lalu menyerahkan chip itu.
Eira melirik Kael sebelum bertanya, "Apa yang ada di dalamnya?"
Pria itu menghela napas. "Jawaban yang kalian cari."
Kael menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa seperti berada di ambang sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa mengubah segalanya.
Atau menghancurkan mereka semua.
—
Eira menatap chip data kecil yang sekarang ada di tangan Kieran.
Benda sekecil itu mungkin menyimpan jawaban yang selama ini mereka cari—tentang proyek Sentinel-G, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Kael…
Tentang kebenaran yang bisa mengubah segalanya.
Tetapi sebelum mereka bisa membahasnya lebih jauh, ada masalah yang lebih mendesak.
Mereka masih berada di lorong bawah tanah.
Dan mereka tidak sendirian.
Sentinel asing ini—apakah dia benar-benar bisa dipercaya?
Kael masih menatap pria itu dengan tatapan penuh kewaspadaan.
"Apa yang kau tahu tentang proyek ini?" tanya Kael akhirnya, suaranya rendah dan penuh ketegangan.
Pria itu menatapnya balik, seolah menimbang-nimbang apakah dia bisa mengatakan sesuatu.
Lalu, dengan suara parau, dia berkata, "Mereka menjadikan kita senjata. Tapi kau… kau adalah senjata yang paling sempurna yang pernah mereka buat."
Hening.
Eira merasakan hawa dingin menjalar ke punggungnya.
Kael tetap diam, tapi otot-otot di rahangnya mengeras.
Sentinel itu melanjutkan, "Aku hanya percobaan gagal. Mereka menghancurkan yang seperti kami, tapi mereka mempertahankan yang seperti dirimu."
Eira melirik Kael, mencoba membaca ekspresinya.
Namun wajah pria itu tetap tanpa emosi, meskipun matanya terlihat lebih gelap dari sebelumnya.
"Siapa namamu?" akhirnya Eira bertanya.
Pria itu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Dante."
"Kapan kau kabur?"
"Tiga bulan lalu," jawab Dante singkat. "Aku menemukan dokumen yang membuktikan apa yang mereka lakukan, tapi aku tidak bisa menghancurkan proyek ini sendirian."
Kieran menatap chip data di tangannya. "Kalau begitu, kita harus melihat isinya sekarang."
—