Mereka bergerak ke ruangan tersembunyi yang lebih aman, jauh dari kemungkinan ditemukan oleh pasukan musuh.
Eira dan Kael berjaga, sementara Kieran menyalakan perangkatnya dan menyambungkan chip data itu.
Tampilan holografis segera muncul di hadapan mereka, memperlihatkan dokumen rahasia dengan label PROYEK SENTINEL-G: SUBJEK EKSPERIMEN.
Kieran mengklik salah satu file.
Sebuah video diputar.
—
[REKAMAN LABORATORIUM – 5 TAHUN LALU]
Gambar pertama yang terlihat adalah ruang laboratorium dengan tabung besar berisi cairan kehijauan.
Di dalam tabung itu—ada seseorang.
Tubuhnya dipenuhi kabel, wajahnya tidak terlihat jelas.
Tapi Eira merasakan dadanya mencengkeram kuat saat mendengar suara seorang ilmuwan berbicara di latar belakang.
"Subjek ini menunjukkan tingkat kompatibilitas 98%. Tidak ada Sentinel lain yang pernah mencapai angka ini sebelumnya."
"Proyek ini akhirnya berhasil."
Gambar berpindah ke file lain.
NAMA SUBJEK: KAEL DRAVEN.
Eira menahan napas.
Kael tidak bergerak.
Mereka melanjutkan ke rekaman berikutnya.
[REKAMAN UJI COBA]
Kael—versi yang lebih muda—terlihat dalam ruangan putih.
Dia berdiri diam, napasnya tidak beraturan.
Lalu, suara seseorang terdengar.
"Aktifkan Mode Perang."
Saat itu juga, tubuh Kael menegang.
Matanya berubah—pupilnya mengecil, napasnya berubah kasar, dan otot-ototnya menegang seolah ada sesuatu yang dipaksakan untuk bangkit dalam dirinya.
Lalu dia mulai bergerak.
Dan membunuh semua orang di dalam ruangan itu.
—
Eira menutup mulutnya.
Video terus berjalan, memperlihatkan bagaimana Kael menjadi senjata yang sempurna.
Bagaimana mereka menghancurkan pikirannya, membentuknya menjadi mesin pembunuh.
Bagaimana mereka menghapus semua perasaan dan identitasnya.
Kael Draven bukan dilahirkan—dia diciptakan.
—
Video terhenti.
Tidak ada yang berbicara.
Eira menatap Kael, tetapi pria itu hanya diam.
Ekspresinya kosong.
Terlalu kosong.
"Eira," bisik Kieran.
Dia mengerti maksudnya.
Kael bisa saja kehilangan kendali sekarang.
Eira bergerak perlahan, mendekati Kael dengan hati-hati.
Dia meletakkan tangannya di bahu pria itu.
"Kael…"
Kael menundukkan kepalanya, napasnya berat.
"Aku bukan manusia," katanya akhirnya, suaranya terdengar hampir mati.
Eira menggenggam bahunya lebih erat. "Jangan bicara seperti itu."
Kael mendongak, matanya penuh kegelapan. "Aku adalah senjata mereka."
"Tidak," kata Eira, lebih tegas. "Kau bukan milik mereka."
Kael menatapnya lama.
Eira tahu, ini adalah momen krusial.
Jika dia tidak menariknya kembali sekarang, Kael bisa saja benar-benar jatuh ke dalam kehancuran dirinya.
Dan jika itu terjadi…
Mereka semua akan mati.
—
Di kejauhan, suara langkah kaki terdengar lagi.
Dante menegang. "Kita ditemukan."
Eira mengumpat pelan.
Mereka belum bisa menyelesaikan pembicaraan ini.
Tetapi satu hal jelas—Kael bukan lagi orang yang sama seperti beberapa menit yang lalu.
Dan itu bisa menjadi bahaya yang lebih besar daripada musuh yang mengejar mereka.
—
Lorong bawah tanah itu mulai bergetar.
Debu berjatuhan dari langit-langit, dan suara langkah kaki yang berat bergema semakin dekat.
Dante segera mencabut senjatanya. "Mereka menemukan kita."
Eira merasakan dadanya mencengkeram kuat. Belum cukup waktu untuk memproses rekaman itu—belum cukup waktu untuk berbicara dengan Kael.
Tapi sekarang?
Mereka harus bertahan hidup dulu.
—
Kael tidak bergerak.
Matanya masih menatap kosong ke layar yang kini telah mati, pikirannya pasti masih terjebak dalam rekaman masa lalunya.
Dia baru saja mengetahui kebenaran tentang dirinya. Tentang bagaimana dia diciptakan.
Dan sekarang, mereka dalam bahaya.
Eira menggenggam bahunya.
"Kael," panggilnya cepat. "Kau harus fokus. Sekarang."
Pria itu tidak menjawab.
Suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Eira mengumpat.
"Kieran!" serunya. "Berapa jalan keluar dari sini?"
Kieran mengetik cepat di perangkatnya. "Ada dua jalur. Tapi kita harus melewati ruang penyimpanan lama, dan kalau mereka sudah masuk…"
"Kita harus bertarung," potong Dante.
Eira menarik napas dalam-dalam. "Kael. Aku butuh kau bersamaku sekarang."
Akhirnya, pria itu bergerak.
Dia menoleh ke arah Eira, tetapi ekspresinya tetap gelap.
Namun, sesuatu dalam sorot matanya berubah.
Seakan… sesuatu di dalam dirinya mulai bangkit.
—
Pasukan musuh masuk.
Setidaknya ada dua puluh orang.
Mereka mengenakan seragam taktis dengan logo korps militer yang bertanggung jawab atas proyek Sentinel-G.
Dan mereka tidak datang untuk menangkap.
Mereka datang untuk membunuh.
—
Pertarungan dimulai.
Dante bergerak lebih dulu, melempar granat asap ke arah musuh untuk mengaburkan pandangan mereka.
Kieran menembakkan pistol energi ke salah satu prajurit, mengenai titik vitalnya.
Eira menggunakan belatinya, menyerang dengan cepat dan tepat.
Namun, yang paling mengerikan adalah Kael.
—
Kael bergerak seperti bayangan kematian.
Dia tidak berbicara. Tidak ada ekspresi.
Hanya pembantaian.
—
Tiga orang jatuh dalam sekejap.
Kael menghindari tembakan musuh dengan kelincahan yang tidak manusiawi, lalu meraih kepala salah satu prajurit dan menghantamkannya ke dinding.
Darah berceceran.
Dia berbalik, menembakkan senjatanya dengan presisi mengerikan.
Satu peluru.
Satu nyawa.
—
Tetapi Eira bisa melihat sesuatu yang salah.
Kael tidak menahan diri.
Bukan hanya membunuh—dia menikmati ini.
—
"Kael!" serunya, mencoba menariknya kembali.
Tetapi pria itu tidak merespons.
—
Salah satu prajurit mencoba menyerang Kael dari belakang.
Kael berbalik, dan tanpa ragu—mencabik tenggorokan orang itu dengan tangan kosong.
—
Semua orang terdiam.
Dante menegang.
Bahkan musuh yang tersisa tampak ketakutan.
Karena Kael…
Kael bukan manusia sekarang.
—
Eira tahu, jika dia tidak menghentikan ini—Kael akan terus membantai.
Bukan hanya musuh.
Tetapi siapa pun di dekatnya.
Termasuk dirinya.
—
Kael mengangkat senjatanya lagi.
Tetapi kali ini, bukan untuk menembak musuh.
Matanya kini beralih ke Eira.
Pupilnya mengecil.
Seolah-olah dia tidak mengenalnya.
Seolah-olah—Kael telah kehilangan semua kendali.
—
Eira menahan napas.
Bagaimana cara menghentikannya?
_
Kael menatap Eira.
Matanya kosong—tanpa emosi, tanpa pengenalan.
Eira bisa merasakan udara di sekelilingnya berubah.
Bukan hanya Kael yang berbahaya. Tetapi sekarang, dia adalah ancaman terbesar di ruangan ini.
—
"Kael," bisik Eira, mencoba tetap tenang.
Tangannya perlahan bergerak ke sarung belatinya.
Dia tidak ingin menyerang Kael. Tapi jika dia tidak menghentikannya sekarang…
—
Dante dan Kieran berdiri diam, tak berani bergerak.
Bukan karena mereka takut pada prajurit musuh yang tersisa.
Tapi karena mereka tahu—Kael Draven bukan sesuatu yang bisa mereka lawan.
—
Kael mengangkat pistolnya.
Eira merasakan jantungnya berdetak kencang.
Bukan karena takut.
Tetapi karena dia tahu—Kael benar-benar akan menarik pelatuknya.
—
Satu detik.
Jari Kael bergerak.
Dua detik.
Eira tahu dia hanya punya satu kesempatan.
Tiga detik.
Eira mengerahkan semua keberaniannya dan melangkah maju.
Langsung ke moncong senjata Kael.
—
"KAEL!"
Eira tidak berteriak dalam ketakutan.
Dia memerintah.
Dan suara itu—bukan suara biasa.
Bukan suara pemandu yang lembut atau memohon.
Tetapi suara seseorang yang menolak kehilangan dirinya.
Suara seseorang yang menolak kehilangan Kael.
—