"Tidakkk! Saya mohon jangan bunuh saya... Saya mohon." ujar perempuan yang sudah menangis sejadi-jadinya.
"Hahahahahahahaha." tawa melengking memenuhi kamar tersebut.
"Saya mohon tolong jangan bunuh saya." lirih perempuan itu dengan tenaga yang sudah tinggal sedikit.
"Hihihihihihihihihi." lagi-lagi suara tawa memenuhi kamar itu.
Lalu sebuah tangan bergerak kearah leher perempuan itu dan mencekiknya. Leher itu bagaikan sebuah bola kecil yang mudah diremuk oleh tangan itu. Perempuan yang dicekik pun terlihat sudah kehabisan nafas. Mungkin malaikat kematian sudah menunggunya.
"Sa-ya-mo-hon." ujar perempuan itu terbata-bata karena kehabisan nafas.
Tangan yang mencekik leher perempuan kini sudah tak mencekik perempuan itu, namun dengan sisa-sisa tenaganya perempuan itu merangkak kearah dimana sang suami terbaring tak bernyawa. Dia memeluk sang suami dan menghembuskan nafas terakhir di pelukan suaminya.
"Hahahahahahaha hihihihihihihi." suara tawa itu memenuhi kamar dan lenyap dengan sendirinya.
❌❌❌
"Telah ditemukan dua mayat di sebuah kamar Villa Burley Detuxe. Diduga mayat tersebut adalah pasangan suami istri yang akan berbulan madu di Villa Burley Detuxe. Kondisi mayat tersebut mati dengan saling berpelukan tanpa busana." suara reporter yang sedang menyampaikan berita terkini.
"Gila tuh mayat, udah mati masih romantis aja." komentar Kevin setelah menonton berita tadi.
"Kok aneh sih, mau bulan madu eh malah meninggal. Sayang banget padahal detik-detik belah duren baru mau dimulai." sambung Jason sambil terkekeh.
"Dasar m***m lo." balas Sinta.
"Gue mesumin baru tau lo." ujar Jason. Sinta yang tersinggung dengan kata-kata Jason akhirnya melayangkan sebuah pukulan keras. Walau rasanya masih belum cukup.
"Gila! Lo cewek apa cowok sih, pukulan lo udah kayak kuli bangunan." ujar Jason sambil mengelus-ngelus lengan yang menjadi sasaran pukulan dari Sinta.
"Gue bukan kuli bangunan tapi gue-" omongan Sinta terpotong karena teriakan melengking seseorang.
"Hellooo semuaaa!!!" teriak orang itu bernama Celsie.
"Woy orang utan! Lo gak bisa apa gak usah teriak-teriak kayak tarzan gitu." ujar Jason sambil melempar bantal sofa kearah Celsie namun tak tepat sasaran.
"Wleee gak kena" balas Celsie dengan menjulurkan lidahnya kearah Jason.
"Mau ngapain Cel?" tanya Sinta melihat Celsie yang tampaknya bersemangat.
"Gue ada sesuatu buat kalian." balas Celsie sambil memegang sesuatu yang ada di belakang punggungnya.
"Sesuatu apaan? Cepetan gue mau liat." ujar Jason tak sabaran dengan tampak bak anak kecil yang ingin dibelikan permen.
"Okey-okey. Kalian tutup mata di hitungan ketiga kalian buka mata oke." ujar Celsie lalu semuanya tutup mata mengikuti perintah Celsie.
Sambil menyeringai seram ia mulai membuka kotak yang tadi sengaja disembunyikan di balik punggungnya.
"Satu, dua, tig-"
"Woy gue punya rencana buat liburan kita nanti." ujar seseorang yang baru dateng dan langsung mendaratkan pantatnya di sofa. Emang sadar pengacau.
"Kalian kenapa? Kok pada tutup mata segala?" tanya Justin orang yang baru datang tadi.
"Ish lo apaan sih Jus, gue kan mau kasih sesuatu sama mereka." ujar Celsie sambil memajukan bibirnya.
"Sok imut lo. Emangnya sesuatu apaan sih? Coba gue buka," ujar Justin lalu membuka kotak itu dan-
"Aaaaaaaa!!! Tikus matiiii!!!" teriak Justin lalu melempar kotak itu sembarangan dan-
"Aaaaaaa!!! s****n LO CELSIE!!! Udah tau gue takut sama tikus malah lo takutin." teriak Jason dengan mengumpat Celsie.
"s****n lo Cel untung gue gak jantungan" umpat Kevin pada Celsie.
"Ide lo berlian banget Cel" puji Sinta.
Dari semua u*****n, teriakan, maupun pujian hanya dibalas Celsie dengan tawa yang kencang.
"Mampus lo semua." desis Celsie sambil tersenyum bahagia.
Sepertinya kebahagian Celsie cukup sederhana. Membuat para sahabat sengsara sudah cukup membuatnya bahagia. Bahkan sangat bahagia.