MEGGIE
“Ayah, bagaimana hasil gambarku? Bagus bukan?” aku menunjukan hasil karyaku yang mendapat nilai tertinggi di kelas.
“Wah, anak Ayah hebat,” ucap Ayah sambil memperhatikan karya yang aku tunjukkan.
“Aku juga masuk peringkat tiga di kelasku semester ini.”
“Sungguh? Coba Ayah lihat rapormu, sayang,” senyum ayah kian mengembang sambil melihat semua nilaiku yang cukup memuaskan.
“Ayah bangga padamu, kau ternyata mampu memberikan yang terbaik.”
Aku begitu bahagia mendengar semua kata-kata positif yang ayah utarakan. Senyumku tak pernah pudar melihat ayah yang terus tersenyum atas hasil belajarku. Aku menjadi semakin percaya diri atas kualitas diriku. Namun, tiba-tiba senyumku hilang tak tersisa. Aku pun kehilangan percaya diriku yang begitu susah payah aku bangun.
“Itu tidak cukup Meggie. Kakakmu lebih unggul, dia bahkan mampu menempati posisi teratas semester ini. Harusnya kamu bisa seperti Willy. Ingat! Tingkatkan lagi belajarnya. Tidak usah bermain dengan temanmu yang tidak jelas,” jelas ibu yang baru saja duduk bergabung di ruang keluarga.
“Iya, Bu,”
Ingatan delapan tahun yang lalu itu selalu terukir nyata dalam pikiranku. Rasanya aku ingin melupakan segala hal yang membuat hatiku terluka. Aku tahu makna dari ucapan itu hanya ingin aku berusaha lebih keras lagi, tapi tidak sampai harus dibandingkan. Karena jelas kami berbeda.
Aku hanya seorang gadis biasa yang memiliki impian dan juga harapan. Aku baru lulus dari Sekolah Menengah Atas dua bulan yang lalu dan sekarang aku sedang berusaha mencari pekerjaan sambil menikmati keindahan ibu kota yang padat penduduk ini.
Aku berusia delapan belas tahun empat bulan yang lalu. Perkenalkan, namaku Meggie Scottler. Aku adalah remaja yang kurang beruntung. Aku selalu ingin menikmati masa remajaku dan menjadikannya kisah yang bisa kukenang di masa aku bukan remaja lagi. Namun sayang, masa remajaku tidaklah seperti remaja kebanyakan. Terkadang aku iri pada mereka yang beruntung memiliki apa yang tidak aku miliki.
Aku terlahir di keluarga yang cukup berada. Aku memang tidak perlu memikirkan tentang finansial, tapi aku ingin merasakan kasih sayang yang adil. Memikirkan tentang itu semua membuatku cukup sesak dan ingin menangis saat ini juga. Rasanya hatiku seperti dihujami batu sampai tenggorokan ini terasa sakit.
Aku merapikan kembali rambut panjang bergelombangku yang sengaja hari ini aku ikat seperti ekor kuda. Lalu, merapikan kemeja dan rok selututku agar tidak berantakan. Tidak lupa dengan sepatu hak tinggi berukuran lima sentimeter agar semua terlihat sempurna.
Hari ini, aku berkesempatan untuk menghadiri wawancara kerja lagi setelah beberapa surat lamaranku tidak diterima oleh beberapa perusahaan dan beberapa bidang. Aku memasuki salah satu bank swasta yang sedang membuka lowongan di bagian teller. Aku sudah membaca sebelumnya semua persyaratan yang diajukan mereka untuk pelamar kerja. Aku pun di persilahkan masuk oleh satpam setempat untuk menemui bagian personalia.
Aku merasa gugup, bahkan sangat gugup sekarang. Aku takut mendapatkan penolakan lagi seperti sebelumnya dan aku terkejut ternyata bukan hanya aku yang melamar di sini, ada beberapa orang dan itu lebih dari sepuluh orang. Perasaanku semakin kacau, tapi aku berusaha menutupinya sebaik mungkin dengan meyakinkan diri. Aku harus tetap percaya diri seperti sebelumnya, walau sebenarnya aku malah semakin gugup ditambah aku tidak mengenal satu pun orang di sini.
“Ayo semangat, Meggie! Kau bisa!”
Aku menepuk dadaku pelan untuk menyemangati diri, agar tetap optimis dan membuang jauh-jauh pikiran negatif yang beberapa kali menguasai pikiran. Aku pun mengatur napas agar mendapatkan kelegaan dalam d**a, bahkan jantung ini berdebar-debar seperti sedang jatuh cinta.
Aku memilih duduk di salah satu kursi kosong untuk menunggu giliran. Mendapat pekerjaan itu sulit. Apalagi jika ingin mendapatkan pekerjaan sesuai passion. Hanya orang-orang beruntung yang bisa mendapatkan hal tersebut.
“Terima kasih karena bersedia datang untuk kami wawancarai. Kami akan menghubungimu dengan segera jika masuk dalam kualifikasi yang telah kami tentukan,” ucapnya.
“Kalau boleh saya tahu, berapa lama saya harus menunggu kabarnya?” tanyaku.
“Mungkin sekitar satu minggu,” ucapnya.
Mendengar hal itu, senyumku yang awalnya merekah kini sedikit memudar. Aku cukup familiar dengan kalimat itu. Namun, aku berusaha tetap ramah dibalik senyum yang mengembang penuh kekecawaan.
Aku cukup sadar diri dengan penolakan hari ini, karena mungkin secara kualitas aku memang masih jauh di bawah standar dibandingkan kandidat yang lain yang mungkin lebih kompeten dan juga meyakinkan. Aku menyimpulkan seperti itu karena ini bukanlah kali pertama aku mendengar kalimat itu.
Belajar dari sebelumnya, itu hanya kalimat halus yang bermakna penolakan. Sayangnya, akan ada orang yang berharap penuh pada kalimat itu. Padahal itu adalah kalimat penutup, bukan kalimat bersambung.
Aku berusaha untuk baik-baik saja, meski mulai terbiasa, tapi hatiku tetap sakit seperti sebelumnya. Kesempatanku untuk mendapatkan pekerjaan masih terbentang luas. Tenang saja, aku tidak akan menyerah untuk mencari lagi dan lagi sampai menemukan pekerjaan yang cocok untukku.
Hidup tidak selalu tentang apa yang kita inginkan, tapi tentang apa yang kita butuhkan. Tuhan akan memberi jalan sampai kita mendapatkannya.
Sebenarnya aku sudah memiliki pekerjaan sebelumnya, sebagai design freelancer sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Aku memulai pekerjaanku itu ketika aku berada di kelas dua belas. Belum lama aku menggeluti pekerjaanku itu. Penghasilannya juga cukup untuk mengisi tabungan karena kebutuhanku masih di tanggung ayah sampai sekarang.
Aku bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk belajar sambil mendapatkan uang dan itu sangatlah menyenangkan, karena segala sesuatu yang menyangkut tentang gambar, aku suka. Bahkan aku bercita-cita ingin menjadi designer suatu hari nanti. Namun, ada alasan lain yang mengharuskan aku mencari pekerjaan tambahan di luar rumah.
Aku mengecek ponsel untuk melihat beberapa daftar wawancara kerja untuk hari ini. Aku berusaha menguatkan hatiku kembali setelah dia patah, lagi. Aku harus tetap tersenyum seolah tadi bukanlah apa-apa. Aku mendatangi sebuah toko swalayan karena mereka sedang membuka lowongan pekerjaan sebagai kasir.
Aku pun bertanya pada salah satu satpam yang sedang berjaga untuk menunjukan tempat personalia mereka. Aku pun mengikuti satpam tersebut. Sampai aku bertemu dengan seseorang berperawakan tinggi, wibawa dan tegas, atau mungkin bisa dikategorikan menyeramkan. Melihat auranya saja kakiku mendadak lemas. Tatapan matanya membuatku merasa terintimidasi. Aku ingin segera melarikan diri dari tempat ini. Nyaliku hilang dalam sekejap. Lebih mengerikannya lagi hatiku patah sekali lagi dalam sehari. Namun, aku bingung perasaan apa yang harus aku ekspresikan antara rasa kecewa atau rasa lega.
Huh, perjuanganmu Meggie, kamu sungguh luar biasa.
Aku segera pergi dari tempat itu meski cuaca hari ini cukup terik. Aku melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kiriku. Sekarang menunjukan pukul satu siang lebih sepuluh menit, pantas saja dahiku sampai mengernyit karena sorot matahari yang menyilaukan mata.
Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah taman kota, sambil membeli air mineral untuk melepas dahaga yang membuat tenggorokanku kering kerontang. Aku memilih duduk di bawah salah satu pohon rindang. Aku suka angin sepoi-sepoi yang menerpa daun-daun, itu sangat menyejukan walau keadaan sedang terik seperti sekarang. Aku sengaja memilih taman ini karena jarak yang nanti akan aku tempuh tidak terlalu jauh dari sini. Aku juga sengaja tidak membawa kendaraan pribadi. Aku hanya sedang ingin menikmati hidup sebagai wanita biasa yang mandiri. Aku ingin merasakan pengalaman baru dan semoga aku bisa menjadi wanita karir nantinya.
Setelah cukup untuk beristirahat, aku melanjutkan lagi perjalanan, tersisa satu lagi tempat yang harus aku kunjungi untuk melakukan wawancara kerja. Kulangkahkan kakiku dengan pasti menuju tempat itu. Aku pun merapikan pakaianku kembali dan mengecek riasan wajahku agar tetap segar dan enak dipandang. Aku berusaha mengumpulkan aura positif dalam diri, menaruh segala harapan dan do’a agar aku bisa mendapat pekerjaan itu.
Aku sudah sampai di salah satu kantor penerbitan di Jakarta yang merupakan tujuan terakhirku hari ini. Aku begitu berharap bisa diterima di sini karena satu dan hal lainnya yang mengharuskan aku mendapatkan pekerjaan ini. Aku mulai memasuki gedung tiga lantai, lalu menghampiri meja penerima tamu terlebih dahulu dan mereka mempersilahkanku untuk menaiki salah satu lift menuju ruangan personalia.
“Meggie Scottler?” ucap seseorang di belakangku saat aku sudah sampai di depan ruangan personalia.
Aku pun memutar tubuhku dan menatap seorang laki-laki dengan senyum ramah dan juga manis.
“Iya, saya Meggie Scottler, Pak,” aku menganggukkan kepala sopan sambil membalas senyumannya.
“Mari masuk!” ucapnya sambil mempersilahkanku setelah dirinya lebih dulu masuk sambil membukakan pintu lalu menutupnya kembali.
“Halo! Perkenalkan saya Wira yang akan mewawancaraimu pada siang ini,” pak Wira mengulurkan tangan ke hadapanku untuk berjabat tangan dan aku pun membalas jabatan tangannya, “Silahkan duduk!”
Kami pun sama-sama duduk dengan posisi saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas. Pak Wira cukup banyak mengajukan pertanyaan, tapi tidak terlalu formal. Pembicaraan ini lebih santai dibanding saat wawancara kerja sebelumnya. Aura pak Wira tidak membuatku merasa canggung walau aku belum tahu apakah akan diterima bekerja di sini atau tidak.
Aku baru menyadari bahwa aku satu-satunya yang melamar di sini karena aku tidak melihat seorang pun yang sedang menunggu giliran. Cukup lama kami saling bernegosiasi. Namun, pada keputusan akhir tetap aku tidak diterima. Harapanku menguap kembali mengawang-awang dan rasanya semakin sulit untuk aku gapai.
Hari ini sungguh sangat melelahkan. Bahkan lebih melelahkan dari hari sebelumnya. Sudah cukup usahaku hari ini dengan hasil yang sama, yaitu gagal. Rasanya aku ingin menyerah saja, tapi mengingat kembali alasan yang membuatku harus bekerja di luar rumah, itu cukup membuatku ingin sekali lagi berjuang sampai aku benar-benar bisa bekerja di luar rumah. Apa pun pekerjaannya, aku bisa belajar lebih dulu.
Sekarang sudah hampir sore. Aku memutuskan untuk mengunjungi sebuah kafe sekitar sini. Perutku sudah lapar dan aku butuh sesuatu untuk melampiaskan rasa pening yang sudah menyerang sejak tadi. Aroma kopi menyapa indera penciumanku saat aku baru membuka pintu kafe tersebut. Aku memilih duduk di salah satu kursi kosong di sudut kafe ini. Posisi tempat yang aku pilih ini cukup nyaman untukku yang datang seorang diri saat orang lain datang bersama seseorang. Setidaknya aku mengurangi risiko di tatap orang lain karena terlihat menyedihkan yang di dukung dengan wajah lelah tak terbantah.
Aku memilih memesan kopi latte dengan tambahan rasa vanila dan kue coklat yang mampu mengembalikan suasana hati yang sudah terkoyak sejak pagi. Ya, aku adalah pecinta vanila dan coklat, dan semua makanan dan minumanku harus ada varian mereka salah satunya. Aku suka dengan menu yang ada di kafe ini karena pernah berkunjung beberapa kali. Jangan tanya bersama siapa, karena aku adalah gadis menyedihkan yang tidak memiliki kekasih. Dekorasi kafe ini cukup sederhana, tapi itu membuat seorang pengunjung sepertiku nyaman untuk berlama-lama menikmati kesendirian. Aku tidak menyadari sudah berapa lama aku berdiam di kafe ini.
“Astaga!” ini sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Bahkan aku sampai lupa untuk pulang ke rumah, dan lebih parahnya aku belum memberitahu orang rumah kalau aku akan pulang terlambat.
Oh, bagaimana ini? Semoga saja aku tidak kena omel Ayah dan Ibu.
Aku langsung menuju kasir untuk membayar semua pesananku. Aku terlalu buru-buru sampai tidak memperhatikan sekitar. Aku pun menyenggol lengan seseorang yang berjalan berlawanan denganku saat aku melangkah keluar dari kafe itu.
“Ah, maaf, aku tidak sengaja,” aku sungguh menyesal karena menambah masalah atas sikap gegabahku yang seharusnya tidak aku lakukan.
“Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena aku juga tidak memperhatikan jalan, apa kamu tidak apa-apa?” ucapnya ramah.
“Aku baik-baik saja, sekali lagi aku minta maaf,” ucapku menyesal.
“Iya, tenanglah! Aku baik-baik saja,” ucapnya.
“Maaf ya, aku sedang buru-buru. Kalau begitu aku permisi!” aku langsung meninggalkannya tanpa menunggu jawaban.
Samar-samar aku mendengar dia berkata sesuatu, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku sudah sangat terlambat sekarang. Otakku tidak bisa bekerja untuk merespon hal-hal sekitar, dan hanya memikirkan bagaimana caranya aku bisa pulang dengan cepat agar tidak dimarahi orang rumah.
Aku sudah sangat lelah hari ini dan rasanya hatiku tidak cukup kuat untuk menyimak kemarahan yang akan aku dapatkan nanti. Aku tahu, aku salah. Aku hanya berharap semoga Tuhan sedang berbaik hati untuk mengabulkan keinginanku.
Semoga saja!