MEGGIE
“Hebat sekali kamu sekarang. Apa kamu sudah merasa sangat dewasa sampai pulang malam seperti ini?”
Seketika napasku tercekat mendengar teguran ibu yang menggema ke seluruh penjuru ruangan saat aku menutup kembali pintu rumah. Aku sudah membayangkan bagaimana semua ini akan terjadi atas kesalahanku.
“Keluyuran sepanjang hari hingga malam. Apa kamu sekarang sudah merasa bebas? Sikapmu semakin buruk setelah lulus sekolah, Meggie.”
Aku sudah tidak asing dengan semua kata-kata itu. Kata-kata yang begitu menusuk tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Semua sudah menjadi hal biasa, tapi hatiku masih tetap merasakan hal yang sama, sakit. Tidak lama, aku mendengar suara langkah kaki ibu mendekat ke arahku, yang masih berdiri mematung di tempat.
“Maaf, Bu, tapi tadi aku sudah meminta izin saat Kakak masih berada di rumah, aku pikir Kak Willy pasti bilang pada Ibu atau Ayah kalau aku pergi keluar dan akan pulang sore,” jujurku.
“Kakakmu tidak ada bilang apa pun pada Ibu dan ini sudah malam bukan sore, Meggie. Tidak usah banyak alasan hanya untuk pembenaran, kalau salah ya salah. Ibu laporkan kamu sama Ayah, sebentar lagi Ayahmu pulang,” ucap ibu dengan nada yang semakin meninggi.
“Iya, Bu, maaf, aku memang salah, tapi aku tidak bohong soal itu,” suaraku sedikit tercekat karena menahan rasa sesak agar air mata ini jangan sampai menetes.
“Sudah tidak usah banyak alasan, masuk kamar!” teriak ibu.
Aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Aku hanya mengangguk lalu meninggalkan ibu yang masih berdiri di tempatnya. Seperti biasa, aku yang selalu salah atau mungkin aku memang seharusnya tidak percaya pada kakakku. Semuanya selalu berakhir seperti ini.
Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran ibu. Sorot matanya selalu berbeda ketika menatapku. Terkadang aku iri pada mereka yang selalu dimanja oleh ibunya. Diperhatikan seolah anaknya itu sangat berharga. Hatiku hancur di setiap harinya melihat kasih sayang yang selalu timpang antara aku dengan kakak laki-lakiku. Aku selalu terlihat cacat di matanya. Kakakku selalu terlihat sempurna seolah tanpa celah. Sempat aku berpikir kenapa aku harus dilahirkan untuk melihat dunia jika aku tidak diinginkan seperti ini.
Sabar, Meggie. Kamu kuat!
Aku mengepalkan kedua tanganku, berharap itu cukup membuat aku tetap berdiri kokoh meski hariku sudah buruk. Aku pun pergi ke kamar yang berada di lantai dua. Di sini hanya ada dua ruangan, yaitu kamarku dan kamar kakak laki-lakiku. Aku melihat sejenak pintu kamar di seberang kamarku yang tertutup itu, sebelum aku memasuki kamarku sendiri.
Sepertinya Kak Willy lembur lagi. Baguslah!
Kak Willy bekerja di salah satu kantor teman Ayah. Nama lengkapnya Willy Scottler. Dia satu-satunya kakak yang aku miliki. Namun, sepertinya dia ingin menjadi satu-satunya anak di keluarga ini. Entahlah, aku tidak tahu apa yang menjadi motivasi hidupnya bertingkah seperti itu. Setelah dia lulus, ayah yang membantunya agar segera bekerja, dan kini dia tengah menempati posisi teratas di bagian keuangan perusahaan.
Ya, dia memang cerdas sejak dulu.
Aku mengembuskan napas dengan kasar setelah menutup pintu kamar. Rasanya aku butuh kelegaan yang lebih untuk rongga dadaku yang semakin hari semakin terasa sesak. Tidak membuang waktu, aku pun segera membersihkan tubuh yang terasa lengket karena seharian terkena debu dan tersengat cahaya matahari. Aku juga harus menyiapkan mental atas huru-hara yang akan terjadi nanti.
Tok tok tok
“Meggie!” teriak seorang perempuan di balik pintu, siapa lagi jika bukan ibu.
“Iya, Bu,” ucapku sedikit teriak karena aku masih berganti pakaian di kamar mandi.
“Turun! Ayah sudah pulang dan ingin bicara padamu,” terdengar begitu ketus.
Dengan tenang aku menjawab, “Baik, Bu, aku segera turun.”
Aku mendengar langkah kaki kian samar hingga tidak terdengar lagi. Aku mengembuskan napasku pelan, sekali lagi. Berusaha untuk tetap tenang agar emosiku tidak terpancing saat nanti aku akan dihakimi.
Aku harap Ayah lebih percaya padaku dan bisa memaafkanku!
Aku melihat ayah dengan pakaiannya yang masih lengkap tengah duduk di salah satu sofa ruang keluarga saat aku menuruni tangga. Aku rasa ayah tiba beberapa saat yang lalu. Wajahnya pun terlihat sangat lelah setelah seharian beliau bekerja demi keluarga kami. Aku tidak tega melihat wajah lusuh ayah karena lelah dan juga usia yang sudah tidak muda lagi.
Saat aku hampir sampai di dasar tangga, mataku mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah, dan aku tidak melihat batang hidung kakak laki-laki menyebalkan itu di rumah ini.
Kuharap dia sangat terlambat sampai rumah. Aku sudah bisa bayangkan, jika dia pasti akan sangat mengacau dan berusaha semakin memojokkanku nanti.
Aku pun melanjutkan langkah yang sempat terhenti saat menuruni anak tangga. Lalu, menghampiri ayah dan ibu yang sedang duduk berdampingan di sofa. Aku berusaha terlihat baik-baik saja dan bersikap sesantai mungkin.
“Ayah…” panggilku lirih.
Ayah pun mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Kemari, sayang!” ucap ayah yang terdengar begitu lembut di telingaku.
Aku menatap wajah ayah yang begitu teduh dengan senyum yang penuh kasih sayang seolah tidak akan terjadi apa-apa. Tidak terjadi kesalahan. Aku mendekat, lalu mengambil duduk di sofa yang lain, tapi ayah memintaku untuk duduk di sisinya yang lain.
“Ayah mendengar dari Ibu kamu telat pulang hari ini dan tidak mengabari siapa pun. Memangnya anak Ayah habis dari mana?” ucap ayah sambil membelai puncak kepalaku.
Tiba-tiba ibu menyela pembicaraan sebelum aku sempat menjawab, “Ayah ini bagaimana, Bukannya ditegur agar Meggie jera. Anak ini semakin dewasa semakin seenaknya. Jangan memanjakan Meggie, Yah!”
Aku tahu, mungkin ibu ingin ayah pun marah padaku, atau bahkan sampai meneriakiku. Namun, ayah selalu bersikap baik bahkan ayah selalu sabar menghadapi kenakalan yang aku lakukan. Ayah tidak pernah sekalipun marah padaku. Aku begitu menyayanginya. Setidaknya aku tidak merasa hidup sendiri di rumah ini.
“Bu, cukup! Ayah belum mendengarkan apa pun dari Meggie,” ucap ayah lembut.
“Tapi Ayah, Meggie jelas salah dengan sikapnya,” ucap ibu yang masih tidak terima dengan sikap ayah.
Di tengah perdebatan, tiba-tiba suara pintu utama terdengar. Ada seseorang yang baru saja datang.
“Ada apa ini? Ramai sekali. Apa bocah ini membuat keributan lagi?” suara ini terdengar sangat menyebalkan, sungguh.
Aku mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Anak kesayangan ibu sudah sampai rumah ternyata.
Hah, sepertinya semua harapanku harus pupus jika sudah seperti ini.
Aku pikir dia tidak akan pulang karena ini sudah terlalu larut. Biasanya dia akan menginap di luar jika sudah terlalu malam dan ibu akan membelanya di depan ayah untuk memaklumi tingkah yang menurutku tidak wajar sejak dulu. Mungkin dia tahu malam ini aku akan dihakimi di sini, makanya dia menyempatkan untuk segera kembali ke rumah agar huru-hara ini semakin spektakuler.
“Kamu sudah pulang, sayang,” ibu bangkit dari duduknya dan menghampiri anak laki-laki kesayangannya.
“Ya, aku berusaha untuk pulang cepat, tapi tetap tidak bisa karena pekerjaanku terlalu banyak,” ucap kak Willy dengan melingkarkan satu tangannya yang bebas ke bahu ibu, lalu mengecup pipinya.
“Tidak apa-apa, sayang. Ibu mengerti kamu sangat sibuk, tidak seperti adikmu yang sibuknya hanya kelayapan,” ibu menyindirku terang-terangan.
“Bu!” tegur ayah.
“Apa Ayah? Memang benar, bukan?” ibu tersenyum begitu cantik, tapi aku tidak suka.
Aku berusaha bertahan dengan drama keluarga ini. Entah mengapa aku merasa keluarga kami tidak ada harmonis-harmonisnya, sampai terkadang aku membandingkan keluargaku dengan keluarga teman semasa sekolah dulu. Sangat jauh berbeda.
“Ayah, aku tidak kelayapan. Aku sudah bilang pada Kak Willy sebelum dia berangkat kalau aku akan pergi keluar dan akan pulang terlambat, karena tadi Ayah sudah berangkat duluan dan Ibu tidak ada di rumah,” jelasku pada ayah, berharap beliau percaya atas kejujuranku.
“Kamu tidak bilang apa pun pada Kakak tadi,” kak Willy sungguh pandai ber-acting.
“Tuh, apa yang Ibu bilang. Bahkan Meggie sudah berani berbohong,” ucap ibu.
Argumen kak Willy dan ibu sungguh meyakinkan. Ditambah dengan raut wajah yang begitu mendukung, itu cukup membuatku terpojok sekarang.
“Aku tidak berbohong, Ayah. Sungguh!” aku berusaha membela diri.
“Lalu, kamu pergi kemana, sayang?” tanya ayah.
“Aku tadi mencari pekerjaan,” lirihku sambil menundukkan kepala.
“Kenapa kamu tidak bilang pada Ayah? Ayah bisa bantu kamu untuk mendapat pekerjaan. Kamu ingin kerja apa? Atau kamu kuliah saja?” ucap ayah.
“Tidak, Ayah. Aku ingin mendapatkannya atas usahaku sendiri, aku tidak ingin merepotkan Ayah,” ucapku.
“Bagus, Meggie itu tidak boleh dimanja, Yah,” ucap ibu.
“Tapi Meggie anak perempuan. Bahkan Willy pun Ayah kuliahkan dan dia bisa mendapat pekerjaan dengan cepat,” ucap ayah.
“Tapi, Ayah…” ucapan ibu menggantung begitu saja.
“Sudah! Willy, pergilah ke kamar! Kamu pasti sangat lelah setelah seharian bekerja. Ajak juga Ibumu, mungkin Ibumu butuh istirahat,” ucap ayah.
“Baik, Ayah,” ucap kak Willy.
Sejenak, aku melihat raut wajah kak Willy terlihat cukup puas dengan pertunjukan malam ini, sebelum akhirnya dia berlalu meninggalkan ruang keluarga yang entah mengapa rasanya sangat sesak.
“Ayah itu selalu saja memanjakan Meggie,” nada bicara Ibu belum juga berubah. Nada kesal yang begitu kentara. Hingga ibu pun ikut berlalu, menyisakan aku dan Ayah.
“Sayang, Ayah tidak marah kalau kamu ingin mandiri, justru itu bagus. Ayah bangga sama kamu, tapi lain kali bilang sama Ayah jika kamu butuh bantuan. Dan kalau kamu mau pergi ke mana pun bilang sama Ayah agar Ayah dan Ibumu tidak khawatir,” ucap ayah.
“Iya, Ayah. Aku minta maaf, aku salah. Aku lupa mengabari tadi,” aku menundukan kepala, menyesal.
“Sudah tidak apa-apa. Oh iya, bagaimana hasilnya?” tanya ayah.
“Belum, Ayah. Hasilnya masih sama seperti sebelumnya,” suaraku kembali parau menahan segala emosi dalam hati.
Ayah merangkulku lalu mendekapku dengan erat, seolah tahu beban apa saja yang sedang aku pikul. Aku suka jika ayah mendekapku seperti ini. Aku merasa memiliki jutaan kesempatan untuk terus bangkit tanpa menghiraukan rasa lelah dan juga rasa sakit yang menyerang hati hingga pikiran. Akan selalu baik-baik saja setelah badai menerpa selama aku masih memilikinya.
“Tidak apa-apa, Ayah percaya sama kamu kalau kamu bisa melakukannya. Kamu bisa mencobanya lagi sampai kamu berhasil dan membuat Ayah yang sudah tua ini semakin bangga padamu,” ucap ayah di balik dekapannya.
“Terima kasih, Ayah,” aku pun mengeratkan pelukanku.
Senyum harapanku mulai terbit lagi. Beban dalam pikiranku seolah menghilang. Perasaanku pun menjadi ringan. Hingga hati ini kembali menghangat.
“Oh iya, bukannya kamu ingin sekolah design? Saran Ayah mending kamu kuliah saja, dan pilihlah universitas mana pun yang kamu minati,” ucap ayah.
Aku pun melerai pelukan ini lebih dulu, “Tidak, Ayah. Aku ingin merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan, contohnya merasakan bekerja di luar rumah. Aku bisa memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan dengan caraku sendiri. Aku memang ingin sekolah design, tapi aku ingin membayarnya dengan uangku.”
“Tapi Ayah ingin membayar sekolahmu. Kamu anak perempuan Ayah dan masih kewajiban Ayah,” ayah berusaha membujukku.
“Aku tahu, tapi biarkan aku berusaha dulu, Ayah. Aku ingin mandiri,” tolakku.
“Baiklah, tapi dengan syarat, izinkan ayah membantumu jika kamu sedang dalam keadaan genting. Ayah tidak ingin mengambil risiko sampai Ayah melihatmu kesusahan,” peringat ayah.
Senyumku mulai merekah kembali, “Iya, Ayah.”
“Ingat! Kamu harus jaga kesehatan, Ayah tidak mau dengar kalau putri kesayangan Ayah ini jatuh sakit karena kelelahan.”
“Siap, Ayah juga,” ucapku penuh semangat.
“Pasti! Ya sudah sana istirahat. Ayah mau bersih-bersih. Mau cium ketek Ayah dulu tidak? Wangi lho ini.”
Aku mencoba berkelit dan menampilkan senyum palsu, “Aku sudah memeluk Ayah tadi. Itu sudah cukup, terima kasih.”
“Ya sudah, sini Ayah peluk lagi,” ayah mulai merentangkan kedua tangannya.
Aku menurunkan salah satu tangan ayah, lalu tersenyum penuh arti, “Seperinya Ayah harus segera istirahat. Aku sayang Ayah!”
Aku mengecup salah satu pipi ayah dan itu membuatnya terkekeh. Ayah mengelus puncak kepalaku sejenak sebelum beliau berlalu lebih dulu meninggalkanku di sofa. Aku cukup lega melihat respons ayah seperti biasanya. Aku bersyukur memiliki Ayah seperti Ayahku.
Semoga Ayah selalu sehat dan bahagia di setiap harinya!
Setelah mengunci pintu utama, aku beralih ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan di sana sebelum kembali ke kamar. Seperti biasa, aku harus menyelesaikan gambar yang sampai malam ini belum juga rampung.
Suasana di rumah ini sudah cukup sepi di jam sepuluh malam lebih tiga puluh menit. Saat aku sudah bersiap dengan alat tempurku, tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan seseorang yang sangat menyebalkan. Dia masuk seenaknya tanpa permisi dan itu sudah menjadi hal biasa.
Aduh, kenapa aku bisa lupa mengunci pintu lagi?
“Ada apa?” tanyaku sedikit ketus.
Dia berjalan menghampiriku yang sedang duduk di depan meja kerja. Aku pun meletakkan kembali stylus pen yang sedari tadi aku pegang, lalu menatapnya yang sudah berdiri di depanku dengan wajah tak berdosa.
“Kenapa kamu tidak terlihat senang aku berkunjung ke kamarmu?” ucap Kak Willy yang terdengar begitu santai.
“Kenapa Kakak tidak bilang yang sebenarnya pada Ayah dan Ibu tadi?” aku masih cukup kesal mengingat tingkahnya tadi saat kami sedang berkumpul.
“Aku hanya tidak ingin,” ucap kak Willy dengan acuh.
Sontak, memuat hatiku tertohok. Aku berusaha menahan diri agar tidak emosi, “Kenapa Kakak selalu bersikap seperti itu padaku?”
“Lalu, aku harus seperti apa?” tatapan matanya menyakiti hatiku.
“Tapi aku ini adikmu!” aku sengaja menekankan kalimat itu padanya.
“Aku tidak peduli!” kak Willy mulai melipat kedua tangannya di d**a.
“Lalu, kenapa sekarang Kakak di sini?” aku berusaha melawan kali ini, aku tidak ingin terlihat lemah lagi seperti dulu.
“Lancang kamu ya. Kamu usir Kakak, hah?” sarkasnya.
“Jika iya, Kakak mau apa?” entah keberanian dari mana aku bisa berkata seperti itu.
Kak Willy semakin menatapku tajam dan itu membuat nyaliku ciut seketika. Rahangnya yang tegas dengan raut wajahnya yang terlihat dingin, cukup mampu membuatku terintimidasi sekarang.
“Kamu semakin memiliki keberanian ternyata. Hebat sekali!” itu bukan kalimat pujian yang sesungguhnya.
Kak Willy mulai mencondongkan tubuhnya ke arahku. Matanya menjelajahi wajahku. Aku merinding saat dia menampilkan senyum sarkasnya. Aku terus menatapnya dalam keadaan waspada. Matanya mengunci mataku.
“Kakak mau apa?” tanyaku dengan suara sedikit gemetar.
“Apa kamu takut padaku?” lirih kak Willy.
Aku tidak menjawab. Aku hanya bisa menelan ludahku berkali-kali, dengan salah satu tangan yang mencengkram sisi kursi. Kak willy tersenyum lagi, dengan wajah kami yang begitu dekat. Aku pun mengalihkan pandangan lebih dulu.
“Aku baru sadar kamu cukup cantik,” lirihnya di telingaku.
“Kakak, jangan seperti!” aku pun berkelit karena merasakan gelenyar aneh saat napas kak Willy menyapu telinga dan leherku, “Lebih baik Kakak keluar dari kamarku, sebelum aku teriak.”
Tangan kak Willy meraih rahangku lalu mengarahkan ke depan wajahnya, “Teriaklah sesuka hatimu! Tapi asal kamu tahu, aku tidak akan pernah salah.”
Aku berusaha melepaskan cengkramannya di rahangku, “Kenapa Kakak membenciku? Apa salahku?”
“Salahmu, karena kamu lahir dan menjadi adikku. Aku tidak suka memiliki adik sepertimu,” ucap kak willy.
“Kenapa Kakak tega padaku? Apa Kakak tidak menyayangiku sedikit pun?” mataku mulai berkaca-kaca, tapi aku berusaha agar aku tidak menangis sekarang.
“Tidak! Kamu puas?” ucap kak Willy yang begitu menyakitkan.
Aku pun berhasil melepaskan tangannya dari rahangku. Bahkan aku pun berani menepis tangannya dengan kasar setelah mendengar ucapannya, walau kak Willy lebih tua tujuh tahun dariku.
“Kalau Kakak hanya ingin mencari masalah denganku, sebaiknya Kakak kembali ke kamar dan istirahat. Aku tahu, Kakak sudah sangat lelah, bukan?” ucapku yang sarkas padanya.
Aku melihat rahangnya pun mengeras kembali. Aku pun mulai menyadari dan merutuki kebodohan.
“Akh!”
Aku terkejut sekaligus merasakan sakit secara bersamaan karena Kak Willy mencengkram kuat pergelangan tanganku secara tiba-tiba. Aku tidak tahu mengapa dia selalu bersikap seperti ini padaku diam-diam. Bahkan meringis atau merintih pun seolah tidak ada arti bagiku atau pun baginya.
Bukannya aku tidak pernah bilang pada ayah dan ibu, tapi seperti yang kak Willy bilang sebelumnya, dia tidak pernah salah karena selalu mengelak dengan berbagai alasan dan pembelaan dari ibu untuknya pada ayah. Lalu, berakhir dengan aku yang terpojok sendirian dengan kesalahan yang tidak pernah aku lakukan.
“Dengar baik-baik! Jangan bertingkah di depanku! Dan simpanlah keberanianmu itu, karena apa yang kamu lakukan tidak akan ada gunanya. Satu hal lagi yang perlu kamu tahu. Kamu tidak seberharga itu di keluarga ini. Kamu hanya anak perempuan menyedihkan sampai kapan pun,” ucap kak Willy penuh dengan tekanan.
“Siapa aku sebenarnya sampai Kakak begitu membenciku?” aku menjeda ucapanku karena suaraku mulai tercekat lagi, “Aku tidak pernah melihat hubungan persaudaraan sebegini mengerikannya?”
Sangat jelas dari sorot matanya yang memancarkan ketidaksukaan. Namun, ada hal lain dari sana yang aku tidak mengerti. Aku tidak tahu mengapa kakakku sendiri bersikap seperti ini pada adiknya. Bahkan kak Willy hanya bungkam setiap kali aku mulai menyinggung hal yang sangat aku takuti. Meski aku ingin sekali tahu, tapi terkadang kebungkamannya membuatku merasa lega jika aku masih memiliki saudara sepertinya.
Rasa iri kerap kali menyapa saat aku melihat keharmonisan yang membelenggu mereka yang memiliki status kakak-beradik. Mereka selalu saling melindungi, selalu berbalas kasih sayang tiada henti, bahkan saling bermanja dan dimanja. Begitu terlihat jika saudara mereka begitu berarti dan berharga. Aku selalu memimpikan itu sejak dulu dan berharap aku juga bisa merasakannya, walau aku tidak pernah tahu kapan waktu itu akan datang.
Kak Willy menghempaskan tanganku begitu kasar seolah aku ini adalah musuhnya. Dia meninggalkanku begitu saja dengan penuh emosi yang memenuhi hatinya. Hatiku begitu sakit diperlakukan seperti ini sejak dulu.
Aku selalu bertanya pada diri, ‘siapa aku?’ Bahkan aku pernah mempertanyakan statusku di keluarga ini, saat aku mulai merasa frustrasi akan keadilan yang terasa begitu timpang. Namun, ayah selalu memelukku dan memberikan jawaban, hingga aku selalu percaya padanya yang selalu mengatakan bahwa ayah sangat menyayangiku dan aku adalah putrinya yang berharga. Meski hingga saat ini aku tidak pernah mendengar ibu mengatakan hal yang sama tentangku.
Aku berusaha menggenggam hatiku agar tidak hancur, walau air mata ini akhirnya meluruh untuk kesekian kalinya.
“Ya Tuhan…”