MEGGIE
Sampai detik ini, aku masih berusaha memejamkan mata. Namun, hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan yang mungkin bisa mengganggu kesehatan. Sejak kecil, aku selalu kesulitan untuk tertidur di malam hari, meski malam hampir berganti menjadi pagi.
Otakku tidak bisa diajak berkompromi hanya untuk sekedar beristirahat. Dia terus saja bekerja memikirkan segala hal yang membuat rasa kantukku takut menghampiri. Padahal aku sangat mengerti jika dia sudah terlalu lelah setelah menghadapi hari yang cukup penat.
Aku mengecek ponsel sejenak, berharap ada hal yang menarik untuk dilihat. Namun, aku tidak menemukan hal yang membuatku tertawa atau bahkan membuat rasa kantuk datang. Hingga aku memutuskan untuk menyimpan kembali ponsel di sisi tubuhku. Terkadang di saat terjaga seperti ini, aku merasa frustrasi karena memiliki ingatan yang cukup tajam untuk merekam segala peristiwa yang telah terjadi, lalu terngiang dikala aku seorang diri dalam sepi, seperti malam ini.
Semua yang terjadi padaku tidak ada yang tahu. Secara tidak langsung aku memiliki trauma tersendiri dengan masa lalu. Masa di mana untuk kali pertama aku menyadari semua bebanku hanya milikku dan tidak ada yang ingin membantu meringankan, menyemangati, atau hanya sekedar mendengarkan keluh kesah.
Dulu, ayah dan ibu begitu sibuk dengan urusan tanpa tahu ada aku yang membutuhkan mereka di masa pertumbuhan. Kakak laki-lakiku tidak pernah peduli walau aku terluka. Bahkan terkadang dialah yang membuat lukaku tidak pernah mengering.
Tahun berganti dan keadaan semakin sulit dimengerti. Ibu semakin jauh dariku, hati kak Willy semakin sulit luluh untukku. Hanya ayah yang mulai menatap dan mengerti aku. Bahkan kerap kali Ayah menyempatkan waktu hanya untuk sekedar memastikan keadaan, lalu memelukku dengan kasih sayang yang selama itu aku rindukan.
Momen yang jarang aku dapatkan.
Semua ingatan itu tidak pernah hilang. Aku hanya ingin menggenggam sesuatu yang bisa kugenggam tanpa ingin kulepaskan. Sungguh, kesunyian ini membuatku sesak. Aku hanya menginginkan sesuatu yang bisa meringankan beban hati.
Aku percaya jika Tuhan menciptakan hati yang kuat untukku. Namun, izinkan hati ini untuk dicintai saat semua orang tak menginginkannya.
Aku mengusap pipi sejenak, menghapus jejak air mata yang tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk mata. Aku pun memutuskan untuk turun dari ranjang mengambil tablet dan stylus pen yang sebelumnya aku letakkan di meja kerja. Lalu, kembali naik ke atas ranjang dan mengatur bantal senyaman mungkin untuk kujadikan sebagai sandaran.
Fokusku mulai terarah dengan tangan yang terus memainkan stylus pen di layar tablet. Meliukkannya sesuka hati, membuat garis tidak beraturan. Aku terus melakukannya hingga membentuk beberapa mahkota bunga yang cantik, dan terus membuatnya hingga menjadi beberapa bunga. Warna merah merekah pun ku terapkan pada mahkota bunga, agar terlihat segar dan memanjakan mata.
Tidak lupa dengan kelopak, daun, dan juga tangkai yang melengkapi bunga tersebut agar gambar yang aku buat terlihat sungguhan. Coklat gelap pada tangkai mempertegas bentuk bunga yang tercipta. Kuaplikasikan beberapa warna hijau hingga menghasilkan gradasi yang membuat gambar bunga ini semakin nyata. Berkarya di saat sepi seperti ini adalah sebuah keuntungan. Semua indera hanya tertuju pada satu tujuan tanpa perlu menghiraukan sekitar. Sampai mawar merahku tercipta dan terasa hidup dalam satu kali tatapan.
Ku harap mawar merah ini hadir dan tak pernah layu.
Sekarang sudah menunjukan pukul tiga pagi. Aku hanya menaruh tablet di samping tubuhku, tanpa berniat mengembalikannya ke tempat semula. Aku hanya tidak ingin rasa kantuk ini hilang lagi setelah susah payah aku undang untuk membuatku terlelap, meski ini sudah cukup terlambat untuk istirahat. Akhirnya, aku bisa mulai memejamkan mata tanpa diusik oleh segala pikiran yang tidak perlu.
***
Sehari terlewati, dua hari terlewati dan aku masih sibuk mencari pekerjaan dari puluhan lowongan yang menawarkan. Tidak ada satu pun yang cocok untukku atau sekedar panggilan wawancara lagi pun tidak ada. Aku hanya terus mengasah kemampuan menggambarku saat mulai lelah dalam pencarian lowongan pekerjaan. Proyek gambar yang kemarin sudah aku serahkan pada pemiliknya. Untung saja pelangganku puas dengan hasilnya walau pembuatannya memakan waktu yang cukup lama sampai berhari-hari hingga akhirnya selesai.
Hari ini rumah tampak sepi mengingat ini bukanlah hari libur. Ayah dan ibu pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, dan sepertinya kak Willy pun pergi bekerja seperti biasanya. Aku tidak mempermasalahkan tentang kesendirian seperti ini, yang entah sejak kapan aku mulai merasa nyaman hidup sendiri di dalam rumah yang sepi.
Karena keadaan dan kebiasaan, aku mulai berpikir untuk memiliki rumah sendiri. Mungkin saja jika suatu waktu tabunganku sudah cukup banyak, aku ingin membeli rumah untuk ku tinggali. Hidup menjadi wanita mandiri yang memiliki karir cemerlang. Namun, sayangnya itu semua belum bisa terwujud untuk saat ini. Aku masih harus berusaha untuk mewujudkannya suatu hari nanti.
Semoga!
Ini sudah siang dan perutku mulai lapar. Di rumah ini tidak ada asisten rumah tangga. Hanya waktu tertentu ibu akan memanggil seseorang untuk membantu keperluan dapur dan membersihkan rumah secara detail.
Aku pun pergi ke dapur untuk memasak sesuatu agar bisa memanjakan perut. Saat aku tengah sibuk dengan peralatan dapur, tidak sengaja aku melihat bayangan seseorang di balik punggungku yang terpantul dari cahaya matahari yang menembus jendela dapur. Aku membalikan tubuh untuk melihat siapa yang tiba-tiba datang tanpa suara.
“Kamu terlihat sibuk sampai tidak menyambutku datang,” ucapnya tepat di depan wajahku.
Napasku tercekat seketika, mendapati kak Willy tepat di hadapanku. Aku berusaha mengembalikan kesadaranku lagi secepat mungkin, “Astaga!”
Seketika kak Willy menatapku dengan wajah sok polosnya, “Kenapa?”
“Tidak bisakah Kakak datang dengan suara? Aku terkejut!” protesku.
“Kamu yang terlalu sibuk dengan semua itu,” kak Willy melirik bahan-bahan makanan yang berada di belakangku.
Aku hanya berdecak melihat tingkah menyebalkannya. Namun, seperti biasa, kak Willy hanya bersikap acuh yang membuatku kesal.
“Kakak tidak pergi bekerja?” tanyaku.
“Apa aku harus melapor padamu jika aku akan pergi bekerja atau tidak?” ketus kak Willy sambil berjalan menjauhiku.
Aku hanya bisa mengembuskan napas lelah, lalu berusaha untuk bersikap tidak peduli, “Terserah!”
Aku pun memutar tubuhku kembali dan lebih memilih melanjutkan memasak makanan daripada harus meladeni tingkah menyebalkan kak Willy. Tenagaku sudah terkuras lebih karena rasa lapar dan aku hanya ingin segera makan sekarang. Namun, aku mendengar kursi meja makan berderit, yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri.
“Kamu masak apa?” tanya kak Willy.
“Tidak tahu,” jawabku dengan ketus.
Aku mendengar kak Willy berdecak. Siapa suruh siang hari dalam keadaan lapar, dia malah bertingkah menyebalkan.
“Aku lapar, buatkan untukku juga,” ucap kak Willy yang terdengar seperti perintah.
“Kenapa tidak makan siang di luar saja? Biasanya seperti itu,” ucapku.
“Kenapa hari ini kamu bertingkah menyebalkan?” nada bicara kak Willy pun meninggi.
“Kakak juga seperti itu bahkan setiap hari,” keluhku.
Brak!
Aku terperanjat mendengar gebrakan meja yang begitu keras. Jantungku berdegup begitu kencang. Kakiku mendadak lemas tak bertenaga. Seketika aku panik. Pisau yang kugunakan untuk memotong bahan masakan langsung terlepas begitu saja dari tangan. Rasa menyesal pun mulai hinggap karena sudah bersikap seperti tadi.
Meggie! Bisa-bisanya kau tidak mengontrol diri.
Jujur saja, saat ini aku takut dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Rasanya aku ingin menangis sekarang. Aku takut kak Willy bersikap kasar lagi padaku saat aku mendengar suara deritan kursi bergeser. Aku langsung bersiap dan membalikan tubuhku untuk menghadapnya. Namun, kak Willy hanya menatapku dengan tajam dari tempatnya. Rahangnya terlihat mengeras. Aku baru menyadari kalau sorot matanya tidak seperti malam itu.
Aku hanya diam di tempatku. Tidak bergerak bahkan bersuara. Aku hanya menunggu sikap apa yang akan kak Willy tunjukan padaku. Aku hanya terlalu takut untuk membuat kesalahan lagi dan memperkeruh suasana. Namun, kak Willy hanya berlalu meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata pun.
“Kakak!” panggilku.
Kak Willy tetap berlalu tak mendengarkanku. Aku pun segera menyelesaikan masakan yang sempat tertunda beberapa saat. Setelah semuanya selesai, aku memutuskan mencari keberadaan kak Willy dan ternyata dia sedang di kamarnya. Dengan ragu, aku pun mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
“Kak, apa Kakak di dalam?” panggilku.
Kamarnya hening. Sekali lagi aku memanggilnya.
“Kakak!”
Masih tidak ada jawaban.
Aku pun memberanikan diri untuk memutar gagang pintu itu dan ternyata tidak di kunci. Aku melihat kak Willy duduk termenung. Aku hanya berdiri di dekat pintu yang terbuka setengahnya sampai kak Willy menyadari keberadaanku.
“Untuk apa kamu kemari?” teriaknya.
“Bukannya tadi Kakak bilang lapar?” ucapku dengan lirih.
“Aku sudah tidak lapar, pergi sana!” teriak kak Willy lagi.
“Tapi Kak, aku membuatnya banyak,” aku masih berusaha membujuknya.
“Aku tidak peduli!”
Nyaliku semakin menciut saat ditatap dengan tajam seperti itu. Bahkan rasa sesalku pun semakin menjadi karena aku tahu menahan rasa lapar itu tidaklah enak.
“Kak, aku minta maaf soal tadi!” ucapku.
Meski kak Willy menyebalkan, dia tetap kakakku. Kakak satu-satunya yang aku miliki. Aku harus tetap menghormati dan juga menyayanginya. Aku tidak berkata apa pun lagi. Aku meninggalkan kamar itu dengan perasaan tidak karuan dan memutuskan kembali ke dapur. Rasa laparku tiba-tiba hilang. Melihat hasil masakanku saja sudah tidak berselera.
Aku mengambil piring dan memasukan makanan ke dalamnya. Aku memasak telur balado dan itu makanan kesukaan kak Willy yang selalu dimasak oleh ibu. Aku membawa piring itu ke kamar kak Willy beserta air minumnya. Aku mencoba mengetuk pintu kamar kak Willy lagi, tapi kali ini aku tidak menunggu jawaban. Aku langsung membuka pintu kamarnya dan dia langsung menyambutku dengan tatapan tajam dan juga suara yang cukup memekakkan telinga.
“Mau apa lagi kamu?” teriaknya.
“Kakak belum makan kan?” aku tetap masuk sambil membawa piring itu ke hadapannya.
“Apa pedulimu?”
“Aku peduli karena Kakak itu kakakku.”
“Tidak usah pura-pura!”
“Terserah! Aku hanya membawakan ini untuk Kakak, di makan ya!”
Tatapan tajamnya tidak lepas dari wajahku. Aku berusaha untuk tidak peduli. Akhirnya, Aku meletakan piring yang berisikan makanan dan juga air minum di atas nakas. Aku berniat meninggalkan kamar ini dengan segera, tapi langkahku terhenti saat aku akan meraih gagang pintu.
“Kamu mau ke mana?” tanya kak Willy masih terdengar tidak ramah.
“Aku mau kembali ke kamar,” jujurku.
“Bukannya kamu juga belum makan.”
“Aku bisa nanti.”
“Ambilkan piring itu kemari!” perintahnya.
Aku melihat arah telunjuk kak Willy, dan mulai kembali melangkah untuk mengambil piring itu. Sabar Meggie!
Kak Willy mengambil piring yang aku berikan padanya, “Duduk!”
“Tidak bisakah Kakak memintaku dengan nada lembut?” ucapku.
“Aku bilang duduk, apa kamu tidak dengar?” ucapnya.
Aku hanya mengangguk, lalu menuruti semua perintahnya. Kak Willy mulai menyendokkan makanan dan memasukan ke dalam mulutnya. Terus begitu sampai beberapa kali. Aku memperhatikannya diam-diam yang terlihat begitu lahap memakan masakanku.
Dalam diam, hatiku tersenyum. Setidaknya, kak Willy bisa berlaku baik padaku melalui makanan itu walau tingkahnya masih saja menyebalkan. Kak Willy menyendokkan lagi makanannya, tapi kali ini dia mengulurkannya ke depan mulutku. Aku bingung.
“Apa?” tanyaku.
“Buka mulutmu!” perintahnya.
“Ah, tidak usah, aku bisa mengambilnya nanti di bawah. Kakak makan saja.”
“Aku bilang buka mulutmu!”
Aku bingung dengan sikapnya kali ini. Aku hanya menatap sendok di depanku dengan ragu-ragu dan wajahnya bergantian. Sebenarnya Kak Willy kenapa? Apa terjadi sesuatu? Tidak biasanya.
Aku hanya diam dan terus memperhatikannya. Tiba-tiba tanganku di cekal. Aku terkejut atas perilakunya. Seketika aku panik, sampai degup jantungku pun terasa begitu jelas dalam d**a.
“Aku rasa pendengaranmu masih cukup sehat,” ucapnya dengan nada menyindir.
Aku pun membuka mulut dan memakan makanan yang di ulurkan Kak Willy.
“Bagus, kamu terlalu banyak membawanya kemari,” ucapnya tiba-tiba.
Kak Willy menyendokkan kembali makanannya dan memasukan ke dalam mulutku lalu bergantian ke dalam mulutnya. Terus seperti itu sampai makan yang tadi aku bawa habis tak tersisa.
Aku rasa, sesuatu terjadi padanya.
Aku tidak bisa mengekspresikan hal ini, karena Ini adalah momen yang terlalu langka, yang harus aku ingat selama hidupku. Tanganku pun masih di cekal oleh kak Willy. Tidak terlalu kuat, tapi aku harus tetap waspada.
Aku memcoba membuka pembicaraan terlebih dahulu setelah makan kami selesai, “Kak, aku akan membawa piringnya ke bawah, bolehkah aku pergi?”
Kak Willy tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku yang sulit aku artikan. Sepertinya aku harus belajar psikologi tentang perilaku dan emosional, setidaknya aku bisa mengerti dengan keadaan yang aku alami sekarang. Sampai aku mendengar kak Willy menghela napas yang terasa berat, lalu mulai melepaskan tanganku.
“Pergilah!” ucap kak Willy dengan lemah.
Aku hanya mengangguk lalu mengambil piring kotor itu keluar dari kamar Kak Willy. Hatiku lega seketika. Tekanan batinku akhirnya berkurang. Aku seperti terbebas dari hukuman yang sudah aku alami. Dengan segera, aku pun turun dan menyimpan piring kotor itu di tempat cuci piring. Aku melanjutkan kembali makanku di dapur. Rasa laparku kembali menyerang setelah adrenalin ini berpacu di kamar Kak Willy tadi. Aku butuh banyak tenaga, siapa tahu adrenalinku akan kembali diuji setelah ini.
Mungkin saja.