MEGGIE
Setelah berjam-jam di depan layar laptop, akhirnya aku mendapat tawaran kerja di sebuah kafe. Usahaku tidak sia-sia kali ini, walau leher sudah terasa sangat pegal dan mata pun sampai berair dibuatnya. Aku mematikan laptop dan beranjak dari meja kerja. Sungguh, tulang punggungku rasanya mau patah. Mungkin nanti aku harus menambah waktu olah raga agar tubuhku tetap fit.
Aku menghampiri lemari untuk mengecek baju yang akan aku kenakan besok. Aku harus memastikan pakaianku rapi, tidak boleh mengecewakan, karena hari wawancara kerja adalah hari yang sangat penting. Aku menjatuhkan pilihan pada kemeja berwarna maroon dan rok pensil selutut berwarna hitam. Aku juga menyiapkan sepatu berwarna krim dengan hak setinggi tiga sentimeter.
Apa pun pekerjaannya, aku harus tampil dengan sempurna.
Ponselku tiba-tiba berdering yang membuat perhatianku teralihkan. Aku pun beralih dari lemari, lalu menghampiri ranjang. Aku meraih ponsel itu, lalu dilihatlah siapa yang menelepon. Tertera nama ayah di layar sebagai pemanggil. Aku pun tak banyak berpikir lagi, langsung menekan tombol hijau dan panggilan tersambung.
“Halo Ayah!” sapaku lebih dulu.
“Halo, sayang! Kamu belum tidur?” tanya ayah dari seberang telepon.
“Belum Ayah, aku rasa ini masih pukul delapan. Masih terlalu dini untuk segera tertidur,” aku mengambil posisi senyaman mungkin saat aku mulai duduk di sisi ranjang.
“Kamu sudah terlalu biasa tidur larut. Jangan terlalu sering kalau memang tidak ada sesuatu yang harus segera diselesaikan saat itu juga,” ayah mulai menasehatiku lagi karena kenakalanku.
“Iya, Ayah. Aku mendengarkanmu,” aku hanya bisa tersenyum tipis mendapat perhatian kecil dari ayah.
“Oh iya, apa Kakakmu sudah pulang?” tanya ayah.
Hatiku tiba-tiba tercubit saat mendengarnya. Padahal tidak ada yang salah dengan pertanyaan ayah.
“Aku tidak tahu, hanya saja tadi siang Kak Willy pulang, tapi aku tidak mengeceknya lagi. Mungkin saja Kakak sekarang sedang di kamarnya, atau bahkan sudah tertidur,” aku hanya asal bicara, tapi sebagian aku berkata jujur.
“Emh, tumben sekali Willy sudah tidur di jam segini, biasanya dia selalu tidur malam bahkan pagi karena pekerjaan.”
“Entahlah, Ayah. Mungkin saja aku salah karena sedari tadi aku belum keluar kamar,” aku pun mengoreksi lagi ucapanku.
“Ah, begitu. Ya sudah nanti lihat Kakakmu ada di rumah atau tidak. Jika memang dia belum pulang telepon segera dan katakan padanya untuk pulang cepat,” ucap ayah.
“Iya Ayah, akan aku lakukan nanti,” jawabku.
“Kalau ada apa-apa telepon Ayah yah. Jangan sampai tidak, ingat itu!” ayah memang selalu seperti itu sekarang jika meninggalkanku untuk perjalanan bisnis.
“Iya, Ayah. Aku mengerti.”
“Yah, jangan terlalu mengkhawatirkan Meggie, dia akan baik-baik saja. Di sana juga ada Willy,” aku mendengar suara ibu yang berbicara pada ayah di seberang telepon.
“Tapikan Meggie anak perempuan kita. Ayah hanya khawatir kalau sampai terjadi sesuatu padanya,” ucap ayah.
Aku hanya diam mendengar percakapan mereka. Apalagi saat ibu berdecak karena perkataan ayah. Hatiku terasa sedih seketika. Namun, ayah tidak boleh tahu jika hatiku tidak baik-baik saja sekarang.
“Ibu benar, Ayah jangan khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja. Ayah istirahat ya, bersenang-senanglah bersama Ibu di sana jangan hanya mengurusi pekerjaan saja,” aku mencoba mencairkan lagi suasana yang sedikit tidak nyaman.
“Kamu ini,” ucap ayah.
Aku mendengar ayah terkekeh di balik telepon.
Syukurlah!
“Ya sudah kalau begitu, jaga diri baik-baik. Pokoknya kalau ada apa-apa hubungi Ayah! Ayah dan Ibu akan segera pulang,” ucap ayah.
“Iya Ayah, salam buat Ibu, selamat malam!” ucapku.
“Selamat malam, sayang!” ucap ayah.
Telepon pun berakhir. Aku menggenggam ponselku sambil tersenyum getir. Ayah hanya perlu tahu bahwa aku selalu baik-baik saja. Aku tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit lagi hanya karena keluh kesahku yang tak berarti. Biarlah bebanku tetap menjadi tanggung jawabku. Waktu akan membuatku terbiasa dengan segala beban yang sudah, sedang, dan akan aku hadapi nantinya.
Kau luar biasa, Meggie!
Malam ini aku sedang tidak ingin melakukan apa pun termasuk hal yang selalu aku lakukan, yaitu menggambar. Aku hanya menjadi tidak sabar menunggu hari esok. Rasanya menyenangkan akhirnya bisa beraktivitas lagi di luar rumah, meski aku mulai nyaman berdiam diri di dalam kamar. Aku hanya berharap, aku bisa mendapatkan teman kerja yang baik.
Aku memilih duduk di dekat jendela yang sengaja aku buka agar aku bisa merasakan embusan angin malam. Rasanya begitu dingin menggelitik sampai tubuhku sedikit menggigil. Merasakan angin malam dari lantai atas, entah kenapa rasanya sedikit berbeda. Maka dari itu aku menyukainya. Tidak terasa ini sudah terlalu larut. Aku menghabiskan lebih dari dua jam hanya sekedar memandangi langit yang kebetulan sedang cerah walau tanpa bintang yang menghiasinya.
Bahkan aku pun baru sadar jika rumah ini terlalu sepi. Aku tidak mendengar ada aktivitas lain di luar kamarku. Aku rasa kak Willy memang tidak ada di rumah, karena dia tidak memberikan tanda-tanda keberadaannya di rumah ini selain aku. Sekedar teriakannya pun tidak ada. Aku memang tidak langsung mengecek setelah melakukan telepon dengan ayah.
Karena penasaran, aku pun keluar dari kamar untuk mengecek seisi rumah ini dan ternyata tidak ada siapa-siapa. Tidak ada kehidupan selain aku. Mungkin aku terlalu fokus pada kegiatanku sampai tidak menyadari kepergian kak Willy yang entah sejak kapan.
Aku memilih kembali ke kamarku setelah memastikan pintu dan jendela sudah terkunci dengan benar. Aku melirik sejenak jam yang menempel di dinding, sudah hampir tengah malam ternyata. Mungkin malam ini aku akan sendirian di sini, mengingat kak Willy tidak pernah pulang ke rumah selarut ini. Tidak apa, aku anggap aku sedang melatih diri agar mampu bertahan hidup saat aku sudah memutuskan untuk pindah rumah nantinya.
Aku mulai berjalan menaiki tangga. Namun, langkahku terhenti. Jantungku berdetak terlalu cepat. Keringat dingin mulai terasa, bahkan tanganku sudah basah.
Brak! Brak! Brak!
Suara pintu depan yang begitu keras seperti dihantam sesuatu yang berat. Suaranya terus berulang dan itu membuatku ngeri mendengarnya. Kakiku sudah lemas memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Aku segera naik ke atas dengan susah payah. Aku cukup takut mengecek siapa yang ada di depan rumah, yang dengan beraninya dia datang di jam malam saat aku tengah sendirian. Aku mengecek ponsel untuk memastikan jika kak Willy yang datang. Namun, tidak ada notifikasi satu pun darinya.
“Aku harus menelepon Ayah atau Kak Willy?”
Aku menimbang-nimbang keputusanku. Ayah pasti sedang istirahat di jam segini dan kak Willy, aku tidak tahu dia sedang apa. Aku takut malah membuatnya marah.
Astaga, aku harus apa?
Suara gedoran itu terus terdengar bahkan semakin keras, seolah dia ingin menghancurkan pintu itu tanpa ampun. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon kak Willy. Aku tidak peduli jika dia marah padaku. Dia sudah terbiasa marah padaku setiap hari.
Aku pun menekan tombol panggil setelah menemukan nomor ponselnya. Aku menunggu dia mengangkat teleponnya. Sampai dering ke empat dia tidak mengangkat telepon dariku padahal ponselnya aktif.
Kamu sungguh keterlaluan, Kak.
Aku hampir menangis karena terlalu panik. Suara itu pun tidak mau diam. Aku belum pernah mengalami ini sebelumnya. Aku pun memutuskan untuk mencari sesuatu agar bisa aku gunakan sebagai pelindung diri. Namun, tidak ada yang bisa aku gunakan di sini.
Aku pun beralih ke dapur dengan sangat hati-hati. Aku mencari benda tajam yang biasa aku gunakan untuk memotong bahan makanan. Aku menggenggamnya dengan erat di tangan kanan. Perlahan tapi pasti. Aku melangkah layaknya perampok mencari mangsa. Aku mencoba mengintip melalui celah tirai jendela. Namun, aku tidak menemukan siapa pun di sana.
Suara gedoran pintu pun mulai tidak terdengar. Mungkin saja pelakunya sudah pergi. Jadi, aku memutuskan untuk memutar kunci pintu hingga terbuka. Aku cukup penasaran walau rasa takutku tak kalah dengan rasa penasaran untuk melihat siapa yang mengganggu orang lain di tengah malam seperti ini. Kutarik gagang pintu dengan sekali hentakan sambil menodongkan pisau yang sedari tadi aku genggam.
“Maksudmu apa? Kamu ingin membunuhku?” teriaknya.
Aku terkejut melihat penampilannya yang berantakan. Kak Willy sangat kacau malam ini. Bicaranya pun terdengar tidak normal.
“Hey, kenapa kamu masih mengacungkan itu padaku? Apa kamu sama kejamnya seperti dia?” teriak kak Willy lagi.
Dia? Dia siapa maksudnya?Dan, kenapa Kak Willy tidak mengangkat teleponku tadi jika memang dia yang ada di depan pintu? Ah, menyebalkan.
Aku tersadar, ternyata aku masih mengacungkan benda ini padanya. Aku menurunkannya dan menyembunyikannya di belakang tubuhku. Mata kak Willy sangat sayu. Jalannya pun sempoyongan, tidak normal seperti biasanya.
Apa Kak Willy mabuk? Aku belum pernah melihat Kak Willy memprihatinkan seperti ini.
“Minggir! Kamu menghalangi jalanku, Meggie!” kak Willy sedikit mendorong tubuhku untuk membuatku menyingkir dari jalannya.
Aku rasa dia memang benar-benar mabuk.
Aku hanya mampu menggelengkan kepala melihat Kak Willy begitu kesulitan hanya untuk sekedar berjalan. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang dia hadapi. Namun, aku akui, hari ini tingkah kak Willy sangat tidak wajar. Aku juga baru tahu jika Kak Willy suka mengkonsumsi minuman tidak waras itu.
Aku sengaja membiarkan kak Willy berjalan sendiri dengan usahanya. Beberapa kali dia tersandung kakinya sendiri dan mengumpat yang tidak perlu. Aku kembali mengunci pintu lalu pergi ke dapur untuk menyimpan pisau yang sedari tadi aku bawa.
Aku hanya ingin segera pergi ke kamarku. Aku ingin tidur lebih cepat walau sekarang sudah sangat larut untuk dibilang terlalu dini. Namun, langkahku terhenti melihat pemandangan yang sama dengan beberapa menit yang lalu. Kak Willy begitu kesulitan hanya sekedar menaiki tangga.
Astaga, kenapa dia selalu menyebalkan dalam keadaan apa pun? Bahkan dalam keadaan seperti ini pun dia tetap menyebalkan.
Aku tidak ingin peduli, jadi aku melewati kak Willy begitu saja. Namun, baru tiga tangga aku melewatinya, dia pun teriak kembali.
“Hey, kenapa kamu pergi? Kembali dan bantu aku, cepat!” perintahnya.
Aku pun berbalik, lalu menatapnya, “Aku ingin segera tidur, Kak.”
“Kamu pikir aku tidak ingin tidur. Bahkan tangga ini sekarang menyebalkan asal kamu tahu! Sejak kapan tangga ini bertambah banyak? Ini membuatku kesal. Kenapa lama sekali sampai ke kamar?” kak Willy mulai merancau tak karuan sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tangga, persis bocah laki-laki.
Alisku mengernyit melihat tingkah kak Willy yang sangat berbeda dari biasanya. Sikapnya yang seperti ini membuatku sedikit nyaman walau masih menyebalkan dan agak waspada. Aku seperti melihat sisi lain dari seorang Willy Scottler. Tidak ada tatapan tajam yang mengancam seperti biasanya. Meski tingkahnya malam ini efek dari mabuk.
“Kenapa kamu masih di sana? Cepat kemari!” teriak kak Willy.
Aku pun kembali turun dan menurutinya. Sebenarnya aku sedikit takut jika harus berinteraksi dengan orang mabuk. Rasanya nyawaku ini terancam. Namun, mengingat yang sedang bersamaku sekarang adalah kak Willy, mungkin tidak akan apa-apa jika aku harus membantunya sampai ke kamar.
Aku melingkarkan salah satu lengan kak Willy di bahuku. Lalu, aku merangkul pinggangnya agar bisa menahan bobot tubuhnya sebisaku. Kak Willy sangat berat untuk tubuhku yang lebih kecil darinya, ini sangat tidak seimbang.
“Kakak, kenapa seperti ini? Apa Kakak punya masalah?” pelan-pelan aku bertanya sambil membantu memapahnya.
“Kenapa kamu berisik sekali, diamlah! Apa pedulimu?” ucap kak Willy.
“Jika aku tidak peduli aku tidak akan mau membantu Kakak seperti ini. Dan satu hal lagi, yang berisik itu Kakak bukan aku,” aku berusaha membela diri.
“Ck, jadi kamu terpaksa?” kak Willy menoleh padaku seperti tidak terima dengan mata yang hampir terpejam.
“Tidak, bukan seperti itu,” aku berusaha menenangkannya.
“Sudah, pergilah! Aku bisa sendiri,” kak Willy menurunkan lengannya dari pundakku padahal kami belum sampai ke kamarnya.
“Kemari! biar aku bantu.”
Kak Willy tidak mendengarkan ucapanku. Dia tetap berusaha menaiki tangga seorang diri. Kak Willy begitu keras kepala, padahal keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak punya pilihan lain, jadi aku hanya mengikutinya dari belakang. Aku takut kak Willy terjatuh dalam keadaan setengah sadar.
Benar saja, apa yang aku takutkan pun terjadi. Sepertinya dia tersandung saat sudah sampai di atas. Aku sedikit berlari dan langsung menangkap tubuh kak Willy yang terpental ke depan. Untung saja aku mampu menahan tubuhnya walau kesulitan. Setidaknya kepalanya selamat, tidak sampai terbentur nakas yang berada di tengah antara depan kamarku dan kamar kak Willy.
“Kakak baik-baik saja?” tanyaku memastikan.
“Hm,” hanya suara deheman yang terdengar lirih dari kak Willy.
“Ayo! Biar aku bantu,” untung saja kak Willy setuju kali ini.
Aku pun memapahnya sampai ke kamar. Aku membaringkannya di ranjang lalu membuka sepatunya. Menarik selimut sampai sebatas bahu. Kak Willy berguling menghadap ke arahku yang duduk di sampingnya, dengan mulut yang masih saja merancau tak karuan. Padahal keadaannya sudah hampir tidak sadar atau bahkan sudah tidak sadar.
“Meggie,” lirihnya.
Aku mendengar kak Willy seperti menangis, tapi tidak ada air mata yang mengalir. Dia terus memanggil namaku, padahal aku masih di sampingnya. Terdengar begitu pilu. Sungguh, aku tidak tega melihatnya. Dia begitu rapuh saat ini. Kak Willy yang keras kepala, kasar dan tidak mau mengalah menghilang untuk malam ini.
“Andai saja hubungan kita baik layaknya kakak beradik pada umumnya, aku rasa kita bisa menjadi tim yang luar biasa. Kita bisa berbagi cerita apa pun tanpa ada penghalang atau keraguan, dan tidak perlu ada yang terluka seperti saat ini,” hatiku terasa sesak, bahkan air mataku tiba-tiba menetes.
“Aku menyayangimu, Kak. Selamat istirahat!”
Aku pun beranjak dari kamar kak Willy bersama harapan dan do’a.