MEGGIE
Malam itu sudah berlalu bahkan sudah berganti hari, tapi aku begitu sulit melupakan kejadiannya. Hatiku terlalu sakit sampai air mata ini rasanya sudah mengering. Untuk menangis lagi pun terasa sulit. Lenganku masih dalam pengawasan dokter dan ini masih cukup sakit meski hanya sekedar merubah posisinya. Untung saja gambarku yang waktu itu sudah selesai dan sudah aku kirimkan pada klien, walau aku tidak mengeditnya kembali, tapi aku cukup yakin dengan hasilnya.
Aku tidak ingin bicara apa pun pada kak Willy. Bahkan aku ingin menghindar saja darinya. Biarlah dia kesal atau marah sekali pun, aku hanya ingin menenangkan diri, karena sebelumnya pun dia tidak pernah sepeduli itu padaku. Entah kenapa, pikiranku masih saja terpaku pada ucapan wanita yang mengaku kekasih kak Willy sampai aku kesulitan tidur.
Ah, sungguh menyebalkan!
Sudah berhari-hari dari kejadian itu dan aku tidak masuk kerja. Mungkin saja aku akan dikeluarkan dari pekerjaan yang baru saja aku dapatkan dengan susah payah. Bayangkan saja, karyawan baru yang masuk belum genap seminggu sudah izin. Bahkan izinku jauh lebih banyak ketimbang dengan masuk kerjanya. Sungguh, aku sangat ingin mengumpat pada seseorang.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, menampilkan kak Willy yang sekarang berjalan ke arah ranjang di mana aku sedang duduk sambil memainkan ponsel. Mengecek dari hal yang paling penting sampai yang membuat hati ini panas karena masalah dan gosip yang bertebaran dari penduduk bumi.
“Bersiaplah! Kita akan mengunjungi dokter untuk melakukan terapi kembali,” ucap kak Willy saat sampai di samping ranjangku.
Aku pikir Kak Willy pergi ke kantor. Apa dia tidak bekerja? Tapi, bajunya sangat rapi.
“Kuharap hari ini kamu tidak hanya diam saja dan terus mengabaikanku. Ayo bersiap! Aku akan menunggumu di bawah,” ucapnya lagi karena aku hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab.
Kak Willy mengelus puncak kepalaku sebelum akhirnya dia keluar dari kamar. Aku merasa heran dengan tingkahnya akhir-akhir ini. Dia masih tetap Willy Scottler yang dulu, tapi perilakunya setelah malam itu benar-benar aneh walau dia tetap seorang yang keras dan pemarah. Bahkan aku masih ingat bagaimana kak Willy mengecup keningku ketika kami di dalam mobil. Itu adalah kali pertama kami berkontak fisik tanpa menyakiti.
Aku begitu enggan turun dari ranjang. Namun, pada akhirnya aku pun beranjak dari sana menuju lemari pakaian. Aku yakin aku terlalu lama berganti pakaian karena aku mendengar pintu kamarku terbuka kembali.
“Apa sudah selesai?” tanya kak Willy sambil berjalan menghampiriku yang tengah duduk di kursi meja rias.
Aku hanya menggangguk sebagai jawabannya.
“Kalau begitu, ayo kita turun!” ajak kak Willy.
Dia berjalan lebih dulu, lalu aku mengikutinya untuk keluar dari kamar ini. Aku pikir kak Willy akan terus berlalu meninggalkanku begitu saja, tapi ternyata dia malah menunggu di ambang pintu dan membiarkanku melewatinya. Tidak lama, aku mendengar pintu itu ditutup. Kak Willy membiarkanku jalan di depannya, seolah dia tengah menjagaku dari belakang. Bahkan kini kak Willy pun membukakan pintu mobil untukku setiap kami pergi bersama. Hal yang dulu tidak pernah dilakukan oleh seorang Willy Scottler pada adiknya.
Sebenarnya ada apa dengan Kak Willy? Aku rasa dia salah makan sesuatu akhir-akhir ini.
Aku tidak banyak berkomentar padanya meski hatiku terus bertanya-tanya. Rasa bingung yang terus melanda dengan segala hal yang kak Willy lakukan untukku pun tidak kunjung berkurang. Aku hanya berpikir mungkin saja kak Willy menyesal. Namun, selama ini kak Willy tidak pernah merasa seperti itu. Pastinya, pikiranku salah tentangnya.
Aku hanya diam di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Hatiku masih terluka sampai detik ini dan aku pun masih tidak ingin bicara padanya. Biarlah, setidaknya apa yang selalu dia inginkan kini mulai terwujud. Dia yang selalu menyuruhku diam karena aku terlalu berisik.
Aku pun melakukan terapi okupasi seperti biasanya dan ini cukup memakan waktu. Kak Willy setia menemaniku sampai sesi terapi ini selesai. Dokter bilang perkembangannya cukup baik karena aku rutin melakukan terapi ini walau masih butuh waktu beberapa kali lagi. Namun, aku sudah rindu dengan pekerjaan baruku. Aku harus segera masuk kerja. Aku butuh pekerjaan itu karena mencari pekerjaan begitu sulit. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya.
“Kamu mau makan apa? Aku masih punya waktu untuk itu sebelum aku kembali ke kantor,” tanya kak Willy disela mengemudinya.
Aku tidak ingin, aku bisa memesannya sendiri di rumah.
“Meggie, aku bertanya padamu,” ucap kak Willy lagi.
Aku menahan emosi yang bergemuruh dalam d**a sebelum akhirnya aku mengeluarkan suara, “Pulang!”
“Baiklah, kita akan membeli makanan dulu untuk dibawa pulang,” putusnya.
Aku pun menggerutu lagi dalam hati. Untuk apa bertanya kalau hasil akhirnya tetap di tangannya? Ah, menyebalkan.
Kami pun akhirnya kembali ke rumah setelah mengunjungi salah satu restoran. Aku melihat kak Willy jalan lebih dulu menuju dapur. Aku langsung membalikkan tubuh menuju tangga. Aku ingin segera sampai di kamarku.
“Meggie! Kamu mau makan di sini atau di kamar?”
Aku menghentikan langkah dan hanya menatap kak Willy dari kejauhan. Aku tidak ingin bicara lagi, karena kurasa itu hanya sia-sia. Lalu, aku melihat dia menghela napas. Begitu kentara di mataku.
“Naiklah ke kamar! Aku akan membawakannya untukmu,” kak Willy langsung beralih pada kantung kresek yang berisi makanan. Dia tidak lagi menghiraukanku yang masih berdiri sambil menatapnya.
Maafkan aku!
Aku pun melanjutkan langkah menuju kamar. Memposisikan diri di atas ranjang senyaman mungkin. Suasana hatiku belum juga membaik. Entahlah, aku masih tidak bisa mengendalikan emosi.
Tidak lama kemudian pintu kamarku terbuka. Kak Willy membawa makanannya kemari. Jujur, dia sangat tampan dengan setelan rapi seperti itu sambil membawa piring yang berisi makanan untukku. Sekarang aku mengerti kenapa wanita itu begitu mencintai kakak, mungkin salah satunya karena dia tampan.
“Aku tidak bisa menyuapimu saat ini, aku harus kembali. Aku harap ketika aku pulang nanti, aku tidak menemukan sisa makanan di atas piring ini,” kak Willy meletakan piring itu di sampingku, lalu bergegas pergi meninggalkan kamar ini.
Setelah benar-benar sendirian di rumah ini, aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. Aku mencari nama Rio di sana dan langsung menghubunginya. Aku harap dia sedang tidak sibuk saat ini. Panggilan pertama berlalu tanpa jawaban dan akhirnya dipanggilan kedua Rio menjawabnya.
“Halo Rio! Apa kabarmu?” sapaku lebih dulu.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa kabarmu?” aku mendengar nadanya agak sedikit kesal.
“Membaik, apa aku sudah dipecat dari kafe?”
“Kau ini bicara apa? Kenapa saat kau sakit bicaramu jadi ngelantur. Kau masih tetap karyawan kafe. Jadi, kapan rencana kau akan masuk kembali? Apa lukamu parah? Bahkan kau melarangku untuk menjengukmu. Kau menyebalkan, Meggie,” aku tersenyum mendengar Rio seperti ini.
“Aku rasa sekarang ada yang sedang merajuk padaku,” aku mencoba mengodanya kali ini.
“Ya, aku khawatir setengah mati dan kau baru menghubungiku hari ini. Terakhir kali kau hanya mengirimiku sebuah pesan untuk menyampaikan izin sakitmu, yang katanya kau sedang di rumah sakit. Kau keterlaluan Meggie. Sungguh!” gerutunya.
“Aku minta maaf, Rio, sungguh aku menyesal telah membuatmu sekhawatir ini. Mungkin aku akan mulai masuk kerja lagi besok. Apa kau mau aku traktir?”
“Kau sedang menyogokku, hah?”
“Haha, sepertinya kau juga mulai mengerti.”
Aku mendengar ada seseorang yang berbicara selain Rio di seberang telepon.
“Rio, siapa itu?”
“Apanya?”
“Apakah ada orang di sampingmu yang mendengarkan telepon kita?” aku mencoba menerka-nerka dengan mempertajam pendengaran.
“Hah? Tidak ada.”
“Aku rasa aku tidak salah mendengar,” aku semakin menajamkan pendengaranku untuk bisa mendengar jelas suara selain Rio.
“Mungkin kau lelah. Sudah dulu Meggie, aku tutup teleponnya. Ada banyak pelanggan hari ini dan ingat kau juga harus istirahat. Aku tunggu besok!”
“Baiklah, selamat bekerja!”
“Dadah cantik!”
Sambungan telepon pun berakhir. Aku sedikit kaget dengan ucapan perpisahannya.
Cantik? Sejak kapan dia memberiku panggilan itu? Dasar Rio.
Aku hanya mengedikkan bahu sambil menyimpan ponselku di atas ranjang. Ini terlalu jenuh. Aku tidak melakukan apa pun selama beberapa hari.
“Kenapa harus tangan kananku yang terluka? Sepertinya aku harus mulai melatih tangan kiri agar aku bisa melakukan sesuatu dengan benar. Menjadi kidal? Tidak masalah.”