WILLY
“Meggie… Lihat aku.”
“Kak… Sakit. Hiks…”
Tangisannya begitu pilu. Aku langsung menggendongnya menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku mengemudi mobil secepat yang aku bisa. Aku cukup panik dan tidak tahu kenapa aku sangat khawatir dengan keadaannya. Hatiku sedikit teriris. Meggie terus menangis, tangan kirinya terus memegangi tangan kanannya.
Aku harap kamu baik-baik saja.
Saat sampai di rumah sakit, aku memarkirkan mobilku tak beraturan. Aku langsung menggendong Meggie yang masih menangis sesegukan.
“Dokter! Suster!”
Aku berteriak layaknya orang yang tidak waras di sini. Tidak lama kemudian, aku melihat beberapa orang menghampiriku sambil mendorong brankar.
“Baringkan di sini pasiennya,” ucap salah seorang perawat.
Aku langsung membaringkan Meggie di atas brankar tersebut dan ikut mendorongnya menuju ruang IGD. Aku hanya menatap pintu itu yang sekarang tertutup, membiarkan mereka semua menghilang dari pandanganku yang tidak mampu apa-apa. Aku merutuki kebodohanku di ruang tunggu yang begitu sepi dan hampa. Malam ini adalah malam di mana aku tidak ingin Meggie terluka untuk kali pertama. Sampai akhirnya pintu itu kembali terbuka menampilkan seorang pria berjas putih.
“Keluarga pasien!” serunya.
Aku langsung berdiri dan menatap dokter ini dengan harap-harap cemas, “Ya, saya sendiri.”
“Bisa ikut saya sebentar,” ucap dokter tersebut.
Aku pun mengangguk dan mengikuti dokter itu ke suatu tempat yang sepertinya menuju ruangannya, hingga kami pun sampai di tempat tujuan.
“Silahkan duduk!” dokter itu mempersilahkanku setelah dirinya duduk terlebih dahulu.
“Terima kasih,” aku langsung duduk dengan terkesiap.
“Kalau boleh saya tahu, hubungan Anda dengan pasien apa?”
“Saya Willy. Kakaknya, Dok.”
“Sebelumnya, apa yang pasien alami?”
“Meggie tadi terjatuh dari tangga, Dok.”
“Begitu rupanya. Dari hasil pemeriksaan sementara, sepertinya pasien mengalami cedera ekstremitas atas yang menyerang pada lengan kanannya. Mungkin ini diakibatkan karena benturan yang cukup keras saat pasien terjatuh. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, saya akan merujuknya pada dokter spesialis ortopedi agar penanganannya lebih tepat dan pasien bisa segera pulih.”
Aku cukup terkejut mendengar penjelasan singkat dokter ini, “Apa itu berbahaya?”
“Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh separah apa yang dialami pasien. Mungkin nanti Bapak bisa bertanya pada dokter yang akan menangani adik Bapak untuk pemeriksaan selanjutnya.”
“Ah, begitu. Baiklah, Dok.”
“Mungkin malam ini pasien harus menginap di rumah sakit sampai nanti hasil pemeriksaan selanjutnya keluar.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak Willy.”
Aku langsung menghampiri Meggie di ruangannya yang sudah dipindahkan dari ruang IGD. Saat aku membuka pintu ruangannya, Aku melihat Meggie sedang duduk termenung di atas brankar. Aku pun menutup kembali pintu itu lalu menghampiri Meggie. Dia tidak terusik sedikit pun atas kedatanganku.
“Apa itu sangat sakit?” ucapku lirih tidak ingin menyakitinya lagi.
Tidak ada tanggapan dari Meggie. Dia hanya diam tanpa mau menatapku. Kami hanya saling diam dalam kesunyian ruangan ini. Aku bingung harus berkata apa atau melakukan apa. Yang aku rasakan saat ini hanya rasa takut membuatnya terluka kembali. Malam ini membuatku begitu peduli pada Meggie yang sekarang hanya diam seribu bahasa. Aku pun memilih pergi meninggalkannya seorang diri. Aku segera menutup pintu ruangannya agar Meggie mengira aku benar-benar meninggalkannya. Aku berdiam diri sejenak di samping pintu ruangan Meggie. Mencoba mengatur deru nafasku yang entah mengapa terasa begitu sesak. Tidak lama kemudian, aku mendengar isak tangis Meggie dari balik pintu ini.
Maafkan aku, Meggie. Maafkan aku.
Setelah dirasa cukup lama aku mendengar Meggie menangis yang tak kunjung berhenti, aku pun memutuskan pergi menuju bagian administrasi untuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan selama di rumah sakit. Saat aku kembali ruangan Meggie begitu sepi, aku tidak mendengar tangisan Meggie lagi. Aku membuka pintu ruangan ini dan aku melihat Meggie sedang berbaring di ranjangnya.
Apa dia sudah tidur?
Aku mendekatinya dan benar Meggie sudah tertidur. Matanya sembab karena dia terus menangis sejak tadi. Semalam aku terjaga, kantukku tidak pernah hinggap. Aku hanya duduk di samping ranjang sambil menatap Meggie yang sedang terlelap. Pikiranku terus melayang-layang tidak karuan.
Ini hari ketiga Meggie di rawat di kamar rumah sakit ini. Selama tiga hari ini Meggie menjalani terapi okupasi. Aku terus menemaninya walau aku harus kerepotan dengan pekerjaanku.
“Kondisi lengan Meggie mulai membaik, tapi ini masih membutuhkan pengobatan. Meggie masih harus menjalani terapi okupasi ini secara teratur selama sebulan. Setelah itu kita akan melihat secepat apa perkembangannya. Saya sudah mengatur jadwal terapi untuk Meggie lakukan nanti,” ucap dokter wanita yang menangani Meggie saat aku sedang menemuinya di ruang kerjanya.
“Baiklah, Dok. Saya ingin yang terbaik untuk adik saya,” aku bersungguh-sungguh mengucapkannya.
“Tentu, saya akan berusaha untuk adik Bapak. Namun, jika saya boleh tahu kemana orang tua Meggie? Karena sampai hari ini saya belum bertemu dengan orang tuanya.”
“Orang tua kami sedang di luar negeri.”
“Ah, begitu rupanya. Baiklah.”
“Kalau begitu saya permisi. Terima kasih, Dok. Saya mau mengurus administrasi kepulangan adik saya.”
“Sama-sama. Silahkan, Pak.”
Aku pun meninggalkan ruangan dokter wanita itu dan pergi menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan semua berkas agar aku bisa membawa Meggie pulang dengan segera. Aku berbohong tentang ayah dan ibu di luar negeri, mereka hanya pergi ke luar kota. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya aku mengatakan semua ini pada mereka. Aku yakin ayah akan sangat marah jika tahu semua yang dialami Meggie karena perbuatanku yang tidak disengaja.
Selama di dalam mobil Meggie hanya diam dengan tatapannya yang kosong. Bahkan saat kita tiba di rumah pun Meggie masih melamun. Aku mencoba untuk mengatur suasana hatiku yang beberapa hari ini sangat berantakan lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Meggie.
“Meggie…”
Dia mengalihkan pandangannya untuk menatapku.
“Kita sudah sampai di rumah, ayo!”
Meggie melihat sekitar seolah sedang mencari kebenaran dari perkataanku. Lalu dia beralih untuk membuka sabuk pengamannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Biar aku bantu.”
Aku langsung melepaskan pengait sabuk pengamannya. Setelah terlepas, aku beralih pada Meggie. Aku berniat menggendongnya, tapi tangan kirinya langsung menahan salah satu tanganku yang sudah aku selipkan di bawah lututnya. Aku pun langsung mengalihkan tatapanku padanya. Matanya begitu sendu, dia terluka. Dia tidak berbicara atau pun menggerakan kepalanya. Dia hanya menatapku dengan penuh arti.
“Aku akan menggendongmu sampai ke dalam, kamu masih sakit sekarang.”
Aku pun melanjutkan untuk menggendongnya. Namun, dia menahan tanganku kembali. Entah mengapa, sejak malam itu hatiku semakin luluh. Aku melihat Meggie berbeda. Tiba-tiba aku memiliki keberanian untuk mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku mengecup keningnya. Dia sedikit terkejut atas tindakanku. Matanya terus menatapku dan dia masih diam seribu bahasa. Aku pun mulai menggendongnya dan kali ini tidak ada penolakan darinya.
Aku terus menggendong Meggie sampai ke kamarnya. Ujung mataku menangkap kalau Meggie tidak pernah melepaskan tatapannya dari wajahku. Aku membaringkannya perlahan di ranjang. Menarik selimut untuknya. Aku pun mengecup kembali keningnya sebelum aku pergi meninggalkan kamarnya. Sejak hari ini aku menyukai aktivitas itu.
Rasanya sangat melelahkan. Aku membaringkan sejenak tubuhku yang terasa begitu kaku. Aku memikirkan segala hal yang sudah terjadi. Rasanya rumit, atau mungkin aku yang membuat semuanya menjadi rumit.
“Risa… Aku harus membereskan dia dulu.”
Aku pun bangkit dari ranjang dan segera membersihkan diri. Aku berharap pikiranku bisa sedikit lebih jernih.
Aku tidak bisa memejamkan mataku kembali malam ini. Aku hanya terus berganti posisi mencari kenyamanan yang tidak juga aku dapatkan.
“Aku sangat lelah, tapi kenapa kantukku tidak juga datang. Menyebalkan!”
Aku mengusap wajahku lalu mengacak-ngacak rambut yang pastinya sudah tidak beraturan. Aku mengecek ponsel yang isinya tidak penting. Ternyata ini sudah pukul sebelas malam. Aku tidak menyadari waktu secepat ini berlalu.
Apa Meggie sudah tidur? Aku harap dia sudah bermimpi indah.
Aku beranjak dari kamarku dan berniat masuk ke kamar Meggie. Namun, saat aku akan memutar gagang pintunya aku mendengar isak tangis lagi dari dalam kamarnya. Suara tangisnya begitu menyayat hati seperti malam-malam sebelumnya. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke kamarnya. Cukup berdiri di depan pintu kamarnya sambil mendengar tangisnya yang tidak kunjung berhenti. Cukup lama aku berdiri di sini sampai akhirnya tangisnya berhenti. Aku rasa mungkin dia mulai tertidur.
Maafkan aku, Meggie. Aku tahu aku salah. Aku gagal lagi dalam usahaku. Aku tidak bisa mengendalikan hati, aku kesulitan untuk mengendalikan diri, dan juga egoku. Aku terlalu takut tentang dirimu sampai aku terus saja melakukan kesalahan lagi dan lagi. Aku terus berbohong padamu dan juga menyangkal tentang hatiku. Maafkan aku, aku akan terus berusaha lagi dan lagi.
Aku tidak bisa tidur semalaman dan sekarang aku bangun lebih pagi dari biasanya, atau mungkin ini terlalu pagi. Bahkan langit pun masih dalam keadaan gelap gulita. Aku memutuskan untuk mandi lebih awal. Rasanya lebih baik. Aku bersiap-siap untuk pergi, bukan untuk bekerja melainkan untuk menemui seseorang.
Saat aku membuka pintu kamarku mataku langsung memandang pintu di seberang. Hatiku mencelos. Aku pun menghampiri pintu yang masih tertutup itu lalu membukanya perlahan. Aku melihat Meggie masih terbaring di ranjangnya. Sepertinya dia masih terlelap. Aku melihat matanya begitu sembab. Aku sudah menyiapkan sarapannya walau itu hanya sekedar roti selai.
Aku mengusap puncak kepalanya lalu mengecup keningnya sebelum aku berlalu meninggalkannya sendiri, “Maafkan aku.”
Aku pun meninggalkan rumah dan menuju suatu tempat. Ini sebuah apartemen kelas menengah ke atas. Aku menuju salah satu pintu yang dulu aku anggap bisa mengalihkan perhatianku. Namun, nyatanya dia malah menorehkan luka saat aku mulai mau menerimanya. Aku mengetuk beberapa kali pintu ini sampai akhirnya penghuni apartemennya membukakan pintu dan menampilkan seorang wanita yang dulu sangat aku percaya.
“Aku ingin kita bicara,” ucapku datar.
“Willy…” dia langsung menghampiri ingin memelukku.
Aku langsung menghindar tanpa mau menatap matanya yang sekarang mulai mengeluarkan air mata. Aku tidak akan goyah. Keputusanku sudah bulat sampai aku harus datang ke apartemen ini lagi.
“Kita hanya perlu bicara. Kumohon mengertilah!” aku menatapnya dengan dingin.
“Baiklah, kita bicarakan di dalam,” ucapnya lirih.
Aku mengisyaratkan agar Risa masuk lebih dulu dan aku mengikutinya menuju sofa. Ya, wanita yang aku temui adalah Risa.
“Kau mau minum apa?” tawarnya.
“Tidak usah, duduklah! Aku hanya ingin bicara denganmu,” Risa mengurungkan niatnya dan mulai menatapku.
“Maafkan aku Willy, kumohon! Aku tidak bermaksud mengkhianatimu.”
“Jika memang kau tidak bermaksud begitu, kau tidak akan melakukannya berkali-kali.”
“Kau…” Risa mengerutkan dahinya.
“Aku tahu Risa, bahkan kau berani sampai menginap di hotel dengannya padahal aku masih berstatus kekasihmu. Mungkin aku bisa memaafkanmu, tapi tidak untuk menjalin hubungan kembali.”
“Bahkan kau mencintai wanita lain saat kita masih bersama, lalu kenapa kau tidak memberikanku kesempatan?” nada bicara Risa mulai meninggi.
“Aku berkali-kali menolakmu dan kau terus saja mendekatiku tanpa jeda sampai akhirnya aku menyetujui hubungan kita, tapi ternyata kau malah menyia-nyiakan kesempatan. Jadi, siapa di sini yang sebenarnya pengkhianat?” aku mulai tersulut emosi membandingkan posisiku dengan posisinya.
“Tidak Willy! Aku tidak akan membiarkan hubungan kita berakhir seperti ini.”
“Risa, hubungan kita sudah berakhir.”
“Tidak Willy, tidak,” Risa menangis sambil memegang tanganku.
“Aku pergi.”
“Willy!”
Aku berusaha melepaskan tangan Risa, tapi sepertinya dia tidak ada niat untuk melepaskan. Dengan kasar aku pun membuat Risa mau membiarkanku pergi walau aku mendengar dia terus memanggil namaku sambil menangis histeris. Hatiku terlalu sakit karena pengkhiatannya. Aku pun segera meninggalkan gedung apartemen ini. Pikiranku terlalu kacau dan fokusku sekarang hanya pada Meggie yang mungkin masih terbaring di atas ranjangnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku berusaha menata hati dan melupakan masa lalu yang selalu terngiang di pikiranku. Aku sekarang adalah pria berusia dua puluh lima tahun, bukan anak-anak lagi seperti dulu. Bahkan aku pun melupakan perasaanku padanya yang entah sejak kapan itu muncul, karena rasa benciku selalu lebih kentara saat mengingat semuanya.
“Argh!”
Aku terus memukul kemudi, berusaha melampiaskan semua kekesalanku yang nyatanya tidak berkurang sedikit pun. Aku malah semakin kesal sekarang.
Aku pun masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu utama dengan keras. Sampai di atas ketika aku ingin memasuki kamarku, aku baru ingat lagi kalau ada orang yang pasti terganggu dengan suara keras tadi. Aku pun berbalik menghampiri pintu kamar yang lain. Meggie masih tertidur dan sarapan yang aku buat juga masih utuh, padahal ini sudah siang. Aku mendekati ranjang dan duduk di sampingnya. Kuulurkan tangan untuk mengelus rambutnya. Kelopak matanya berkedut, mungkin aku mengganggu tidurnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
“Kenapa rotinya belum dimakan? Apa sejak tadi kamu hanya tertidur?” tanyaku pada Meggie.
“Atau kamu ingin makanan lain? Nanti aku belikan.”
Dia tetap diam, tatapannya kosong.
“Meggie, katakan sesuatu. Atau mau aku suapi, hm?”
Dia tidak menjawab satu pertanyaan pun, hanya menatapku dengan mata sembabnya.
Astaga! kenapa dia hanya diam saja? Aku rasa dokter tidak bilang jika suaranya hilang.
“Terserah kamu saja.”
Aku kehilangan kesabaranku. Aku tidak ingin melampiaskan padanya, jadi aku memilih meninggalkannya sendirian. Selama di dalam kamar pikiranku tidak pernah fokus. Aku membawa sebagian pekerjaan ke rumah dan beberapa diantaranya sudah aku selesaikan dengan susah payah. Aku hanya ingin merawat Meggie dengan benar, tapi aku selalu kesal jika sudah bersamanya. Apalagi akhir-akhir ini dia hanya diam saja seolah mengabaikanku yang berusaha berbaik hati padanya.
Sekarang aku berakhir di sini, di kamar gadis menyebalkan dengan sepiring nasi beserta lauknya.
“Memangnya kamu tidak lapar? Sejak pagi sepertinya kamu belum makan apapun. Argh! Kenapa kamu selau membuatku kesal, Meggie,” aku sungguh frustrasi karenanya.
“Di sini tidak ada perawat yang mau membantumu. Apa aku harus memaksamu untuk makan?”
Aku berusaha menyuapinya, tapi dia terus berkelit seolah memiliki tenaga yang besar, padahal aku tahu dia belum memakan apapun sejak pagi.
“Ah, sudahlah. Aku tidak ingin tahu lagi, aku lelah.”
Aku pun meninggalkan kamarnya. Hatiku terus menggerutu sambil memikirkan sesuatu.
Kenapa sekarang aku begitu sulit menghadapinya? Apa rasa benciku mulai terkikis sekarang?