MEGGIE
Kenapa hari ini rasanya terlalu sial? Huh, menyebalkan!
Di kafe begitu sibuk hingga lupa memberi kabar sampai kak Willy marah-marah, badan sudah sangat lelah, dan beberapa menit yang lalu aku malah terjatuh. Rasanya aku ingin mengumpat, hingga rasanya terlalu kesal. Bahkan sekarang aku pun masih harus memasak untuk makan malam.
Kenapa tidak pesan makanan saja? Kan lebih praktis. Ah, Kakak, kamu sangat tahu jika soal menyiksaku.
Hatiku tak henti menggerutu. Mata pun sedikit sembab karena aku menangis tadi. Mungkin jiwa dan raga ini terlalu lelah sampai aku begitu emosional sekarang.
Sudah, Meggie. Kamu hebat! Jadi tidak perlu mengeluh. Ingat! Kamu harus semangat. Tugasmu masih sangatlah banyak.
Bokongku masih agak sedikit nyeri. Untung saja tadi kak Willy datang dan mau membantu walau dia tetap menyebalkan, seperti biasanya. Aku pikir dia akan iba dan tidak akan menyuruhku memasak, tapi nyatanya dia tidak terlalu baik hati. Dia tetap Willy Scottler, kakak laki-laki yang paling menyebalkan sedunia.
Aku pun segera turun dari kamar untuk pergi ke dapur. Saat sampai di lantai dasar, aku melihat kak Willy tengah menonton sebuah acara di televisi. Dia terlihat begitu santai di sofa yang sangat empuk itu, seolah dia tidak memiliki beban di hidupnya.
Rasa gemasku kembali mencuat. Aku pun mencoba untuk tidak mengidahkannya dan mulai bersiap dengan peralatan memasak. Namun, aku baru ingat jika aku belum tahu apa yang harus aku masak untuk makan malam kami.
“Kak, mau makan apa?” seruku dari arah dapur.
“Aku tidak tahu, buat saja makanan yang bisa kita makan,” tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi, kak Willy begitu acuh menjawab pertanyaanku.
Jawaban macam apa itu? Solusi yang buruk!
Aku hanya bisa menghela napas kasar sambil sedikit menggerutu, menghadapi setiap kemelut yang sungguh mengusik hati. Rasanya lebih melelahkan, setelah seharian bekerja dan sekarang harus berhadapan dengan kakak yang tidak pengertian.
Aku pun mulai memasak dengan bahan yang ada dan yang aku bisa. Energiku sudah tidak cukup jika harus berdebat lagi dengan kak Willy. Aku hanya ingin segera selesai dengan segala tugasku. Namun, ditengah fokusku, tiba-tiba aku terperanjat karena sebuah suara yang tiba-tiba menghampiri pendengaran.
“Kamu masak apa?”
“Astaga! Tidak bisakah Kakak tidak mengejutkanku?” aku sedikit meninggikan suara karena terlalu kesal akibat tingkah kak Willy yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingku.
“Aku tidak merasa mengejutkanmu,” ucap kak Willy dengan tidak berdosanya.
“Kakak datang tiba-tiba macam hantu!”
“Kamu saja yang memasaknya sambil melamun. Awas ya kalau makanannya sampai gosong!” ucap kak Willy dengan ciri khasnya yang menyebalkan sambil menjauh.
Aku hanya meliriknya sejenak dan tidak ingin menanggapinya lagi karena itu percuma. Jadi, aku hanya menyelesaikan masakannya, lalu mengambil piring untuk menghidangkan makanan. Ngomong-ngomong, aku hanya memasak mie goreng pedas dengan potongan baso, sosis, telur, dan sayur. Tidak lupa dengan toping mozzarella sebagai pelengkapnya. Terlihat sederhana memang, tapi aku bisa jamin jika masakan yang aku buat ini sangat lezat.
Sejak kapan Kakak di situ?
Aku baru menyadari ternyata kak Willy sedang duduk di meja makan sambil menatapku, yang kini tengah membawa dua buah piring berisikan mie goreng. Aku menaruh salah satu piring itu di hadapan kak Willy.
“Semoga Kakak suka! Selamat makan!” ucapku.
“Hm…”
Kak Willy hanya berdehem tanpa menatapku. Bahkan dia langsung menyantap makanannya dengan lahap. Walau tidak ada kata terima kasih, aku sedikit senang karena piring milik kak Willy tidak menyisakan sedikit pun makanan.
Aku belajar memasak saat aku mulai sering ditinggal sendirian di rumah saat siang. Dulu, aku memang sering memesan makanan siap saji untuk makan siang. Namun, lama-kelamaan lidahku terasa bosan dengan makanan luar. Jadi, aku belajar sedikit demi sedikit masakan yang ingin aku makan, karena ibu selalu mengisi kulkas dan lemari dapur dengan berbagai macam bahan makanan. Setelah makan malam dan membersihkan dapur, aku lebih memilih pergi ke kamar daripada ikut serta bersama kak Willy menonton televisi.
Malam ini aku begitu merindukan ranjang yang terasa empuk dan dingin. Aku sudah merindukan rasa nyamannya. Aku ingin segera terlelap, karena jarang sekali aku ingin tidur lebih awal seperti ini.
“Ah, nyamannya.”
Aku menarik selimut hingga menutupi pinggang. Bahkan mataku sudah tidak ingin menatap apa pun lagi. Dia hanya ingin terpenjam untuk segera bermimpi. Namun, baru beberapa saat terlelap, ponselku tiba-tiba berdering. Aku lupa untuk mengatur ponsel ke mode senyap.
Aku tidak berniat menjawab teleponnya dan membiarkan ponsel itu tetap berdering di meja kerja, berharap dering itu tidak terdengar lagi. Namun, semakin dibiarkan ponselku malah tidak mau diam.
“Ah, menyebalkan!”
Dengan terpaksa aku harus menunda beberapa detik sesi tidurku, karena dering ponsel yang sangat mengganggu. Aku melihat nama CV. Setia Jaya tertera di layar ponsel. Sebenarnya itu nomor pemiliknya, hanya saja aku memberikan nama perusahaannya. Aku tidak tahu mengapa seperti itu diawal aku menyimpan nomornya. Mungkin aku hanya ingin lebih mudah mengingat untuk siapa design yang aku buat.
“Halo Om Bram!” sapaku lebih dulu.
“Halo Meggie! Kamu sedang apa? Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?” ucap om Bram dari seberang telepon.
“Aku rasa, mungkin jam milik Om mati atau Om sekarang memang sedang tidak memiliki jam?” ucapku sedikit menyindirnya.
“Hey! Kenapa kamu bilang seperti itu?” aku mendengar nada bicara om Bram sedikit heran, mungkin karena nada bicaraku yang sedikit berbeda.
“Entahlah,” ucapku acuh.
Seperti menyadari sesuatu, aku bisa membedakan cara bicara om Bram dari intonasinya, “Ah, maaf. Om pikir ini masih siang.”
Hah? Apa mungkin mata Om Bram mulai bermasalah? Bahkan ini sudah terlalu malam hanya untuk dikatakan masih sore, apalagi siang. Ah, sudahlah.
“Ada apa Om telepon di jam segini?” ucapku langsung ke intinya.
“Begini, tolong buatkan design undangan khusus untuk acara kantor Om dan beberapa design untuk pelengkapnya. Om harap bisa selesai lusa. Makanya, Om telepon malam-malam begini. Om tahu ini terlalu mendadak. Bahkan Om hampir lupa untuk itu,” jelasnya.
“Lupa Om terlalu mengerikan untuk acara penting seperti itu.”
“Ya, Om tahu. Jadi, bagaimana? Apa kamu bisa?”
“Jika untuk design undangan khusus mungkin aku bisa usahakan lusa selesai, tapi jika ditambah dengan design yang lain mungkin aku butuh empat sampai lima hari jika tidak ada kendala.”
“Kalau begitu buat saja dulu untuk design undangan khususnya karena itu lebih penting, dan Om harus memberikannya lebih awal. Untuk detailnya Om kirim lewat pesan saja agar kamu bisa membayangkan seperti apa design-nya.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan segera menyelesaikannya.”
“Terima kasih, kalau begitu Om tutup teleponnya, ya.”
“Baik, Om.”
Kuembuskan napasku dan ini terasa begitu berat. Ternyata sesi tidurku bukan hanya tertunda beberapa detik, tapi puluhan menit bahkan harus hingga berjam-jam. Beliau adalah salah satu teman ayah yang menjadi klienku. Om Bram terlalu pelupa, jadi aku cukup memakluminya. Mungkin karena faktor usia juga yang lebih tua beberapa tahun dari ayah.
Aku pun duduk di kursi kerja dan mulai menyalakan tablet yang biasa aku pakai untuk menggambar. Aku melirik ranjang sejenak yang sangat menggoda mata, sebelum akhirnya aku mulai fokus pada tablet yang ada di hadapanku untuk merancang gambar yang baru.
Ah, Meggie yang malang.
Aku membaca detail konsep acara yang baru dikirimkan oleh om Bram, untuk aku tentukan design apa yang cocok dengan undangannya agar terlihat serasi. Setelah ditela’ah, aku mulai menggambar sesuatu di tablet. Aku berusaha agar hasilnya bisa sesuai dengan harapan klien. Kerjaku harus totalitas dan hasilnya pun harus memuaskan. Pantang untukku jika aku mengecewakan mereka atas karya yang aku buat. Apalagi aku menyukai bidang ini.
Tidak terasa sudah dua jam lebih aku mengerjakan rancanganku. Hasilnya masih tujuh puluh persen. Setidaknya malam ini aku harus menyelesaikan rancangan hingga sembilan puluh persen, karena besok aku sudah bekerja di kafe, tidak ada waktu lagi.
Aku sudah sangat mengantuk sekarang, bahkan mataku sudah enggan untuk menatap layar tablet yang sekarang tidak polos lagi. Beberapa kali menguap sampai rasanya mulutku pegal. Aku sudah tidak tahan dengan rasa kantuk yang luar biasa. Jadi, aku memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka, dengan harapan mata ini bisa lebih segar dan terjaga kembali untuk puluhan menit lagi malam ini.
Aku yakin ini sudah lewat tengah malam. Untung saja jam masuk kerjaku tidak seperti jam masuk sekolah. Setidaknya aku punya waktu sedikit lebih lama untuk menjadi benar-benar siap dalam bekerja esok hari.
Setelah di rasa cukup, tiba-tiba perut ini terasa lapar di jam malam begini. Aku memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil makanan atau sejenis cemilan, agar tenagaku bisa cukup untuk tetap terjaga sampai aku bisa menyelesaikan gambarku.
“Aku ambil apa saja ya?”
Aku melihat isi lemari dan memilah makanan yang terdapat di dalamnya. Ada banyak berbagai macam cemilan mulai dari kripik, biskuit, dan aneka macam makanan kemasan. Lalu, aku mengambil beberapa yang aku inginkan saja. Setelahnya, aku beralih menuju lemari es. Aku mengambil sekotak s**u, minuman botol, dan juga dessert. Tidak lupa aku pun membawa air putih bersamaku. Aku tidak ingin sampai dehidrasi di malam hari. Air putih itu harus menjadi yang utama kapan pun waktunya.
Aku cukup kerepotan membawa semua makanan ini. Ternyata yang aku ambil terlalu banyak. Ini bisa dimakan oleh dua orang atau tiga orang, tapi tidak masalah. Perutku luar biasa untuk hal makanan. Dia pasti bisa menampung semuanya. Aku pun kembali ke atas sambil memeluk semua cemilannya. Dengan wajah puas aku membuka pintu kamarku.
Namun, siapa sangka, aku malah terperanjat dan hampir menjatuhkan semua makananku. Napasku tercekat seketika. Jantung pun berdegup cukup kencang sampai dadaku bisa merasakan detakannya. Bahkan kaki ini mendadak lemas melihat penampakan yang tidak tertuga. Ini sudah lewat tengah malam dan aku merasa sedang dalam acara jerit malam.
“Hah, astaga!”