WILLY
Mata ini masih tetap terjaga. Begitu sulit untuk membuatnya terpejam. Entah kenapa, aku penasaran ingin melihatnya. Ini sudah lewat tengah malam. Aku kira dia sudah terlelap dalam tidurnya. Namun, ternyata kamarnya kosong. Aku pikir dia sedang di kamar mandi, tapi setelah aku periksa, kamar mandinya juga kosong.
Pergi kemana dia? Tidak mungkin dia keluar rumah di jam segini. Apalagi tadi aku habis memarahinya.
Aku melihat tabletnya menyala. Aku rasa dia meninggalkan kamarnya beberapa saat yang lalu. Mungkin dia sedang tidak bisa tertidur makanya dia melakukan semua ini. Aku duduk di meja kerjanya sambil mengamati setiap detail gambar yang tertera di layar tablet ini. Entah mengapa, aku merasa gambar ini terasa nyata. Seperti bukan hanya sekedar gambar. Ada nyawa dibalik rancangan yang belum sepenuhnya rampung.
Apa ini hasil tangannya? Ini sangat indah dan sungguh menakjubkan. Aku tidak tahu jika dia bisa sehebat ini.
Di tengah sedang memperhatikan detail gambarnya, aku mendengar pintu kamar ini terbuka dan itu pasti Meggie, karena ini adalah kamarnya.
“Astaga!” ucapnya.
Aku melirik Meggie sejenak yang sedang di ambang pintu dengan wajahnya yang terkejut. Dia membawa cemilan yang cukup banyak. Namun, Aku tidak peduli. Aku kembali memperhatikan hasil gambar ini yang menurutku jauh lebih menarik.
“Kenapa Kakak selalu saja tiba-tiba muncul? Dan kenapa Kakak berada di kamarku?” nadanya terdengar tidak suka.
“Aku tidak bisa tidur,” singkatku.
“Lalu, urusannya apa Kakak di sini sekarang?” kudengar dia menutup pintu lalu menghampiriku. Dia juga menyimpan beberapa cemilan di meja ini.
“Tidak ada,”
Aku menyimpan tablet yang sedari tadi aku amati dan beralih mengambil salah satu cemilan yang dia bawa dari bawah lalu memakannya. Aku tidak peduli dengan ekspresinya yang aku pastikan sekarang dia sedang kesal padaku.
“Kalau tidak ada, kenapa Kakak di sini?” ucapnya dengan wajak ditekuk.
“Memangnya tidak boleh?”
“Ini sudah malam Kak bahkan sudah lewat tengah malam.”
“Memangnya siapa yang bilang ini siang hari? Aneh kamu.”
“Kok, malah jadi aku yang aneh?”
Aku hanya mengedikkan bahu, lalu beralih menghampiri ranjangnya karena kupikir dia akan menggunakan kembali kursi yang tadi aku duduki jika melihat gambarnya yang belum selesai keseluruhan. Aku memposisikan tubuhku senyaman mungkin di ranjangnya. Dia masih menatapku kesal sambil berdiri, masih di posisi yang sama.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanyaku acuh tak acuh.
“Kakak menyebalkan,” dia langsung duduk di kursinya dan mulai meraih tabletnya.
Aku tidak ingin menanggapinya. Biarkan saja dia menggerutu sepuas hati. Aku hanya melanjutkan memakan cemilan yang entah kenapa terasa lebih lezat dari biasanya. Aku pun meraih ponselku lalu memainkannya yang menurutku saat ini tidak cukup menarik. Aku terus menggulirkan isi beranda media sosial milikku yang sungguh membosankan. Sesekali aku melirik Meggie yang sepertinya dia sangat menikmati kegiatannya. Berbeda denganku. Seolah tidak terganggu dengan keberadaanku di kamarnya atau mungkin dia menganggapku tidak ada di sini.
Jika iya, dia sungguh menyebalkan.
Meggie begitu fokus dengan wajahnya yang tidak ditekuk lagi seperti tadi, sesekali dia memakan cemilannya lalu beralih lagi pada tabletnya. Bulu matanya bergerak-gerak ketika dia mulai berkedip untuk menyesuaikan dengan cahaya tablet yang menyorot wajahnya. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tapi entah mengapa dia begitu menarik dan mempesona dengan caranya.
“Tidakkah kamu mengantuk?” tanyaku memecah keheningan yang mulai membosankan.
Dia langsung mengangkat wajahnya dan menatapku, “Hah?”
“Kamu tidak mengantuk? Ini hampir pagi jika kamu mendadak amnesia,”
“Hm, sedikit,” ucapnya sedikit mengangguk.
Dia melanjutkan kembali aktivitasnya. Tidak ada lagi percakapan. Aku gemas melihat dia terus fokus pada tabletnya. Aku pikir dengan menyindirnya dia bisa langsung peka, tapi dugaanku salah. Dia tidak seperti biasanya. Aku tahu matanya sudah cukup mengantuk, atau mungkin dia sudah sangat mengantuk. Ini sudah pukul satu malam dan dia masih saja betah di kursi kerjanya. Aku tidak habis pikir dengannya.
“Apa gambarmu belum juga selesai?” tanyaku tidak suka.
“Belum, masih harus diperbaiki,” ucapnya tanpa menoleh padaku.
Apa sebegitu pentingnya kah gambar itu sampai dia tidak mau mengalihkan tatapannya ke arah lain?
“Sampai kapan?” ketusku.
“Apanya?”
“Sampai kapan kamu terus duduk di sana? Apa kamu tidak sadar ini hampir pagi,” ucapku sedikit meninggi.
“Kalau bisa sampai gambarku selesai,” ucapnya santai.
Malam ini dia aneh, bahkan aku hampir marah pun dia seolah tidak peduli.
“Bukannya kamu sudah mulai bekerja, lalu bagaimana besok?”
“Besok ya bekerja, Kak.”
Tuh kan, jawaban macam apa itu.
Aku semakin penasarannya dengan tingkahnya malam ini. Meggie yang selalu menurut padaku seolah menghilang entah kemana.
"Sebenarnya untuk apa gambar itu? Apa kamu hanya tidak bisa tidur?"
"Tidak, aku cukup mengantuk sejak tadi, tapi ini penting jadi aku harus tahan beberapa menit ke depan."
"Beberapa menit? Omong kosong! bahkan aku yakin kamu tidak akan tidur sampai pagi."
"Mungkin iya."
Apa? Dasar anak nakal!
"Mending kamu tidur saja, itu tidak berguna," aku semakin kesal.
Namun, tidak disangka dia malah berbalik marah padaku, "Kakak ini kenapa? Kalau Kakak sudah mengantuk ya tidur saja, kenapa harus mengomel padaku? Atau Kakak masih marah padaku soal tadi? Jika iya, aku minta maaf, tapi tolong jangan ganggu aku begini. Aku sudah lelah."
"Terserah kamu saja, aku tidak peduli."
Hatiku semakin kesal, bahkan terlalu kesal dengan dia yang begitu keras kepala. Sepenting apa gambar itu baginya sampai dia rela tidak tidur begini.
Dan kenapa aku tidak suka melihat dia begitu keras pada dirinya? Padahal aku sendiri selalu bersikap keras padanya.
Aku pun beranjak dari ranjangnya, melewatinya. Aku pun membanting pintu kamarnya cukup keras. Aku tidak peduli jika sampai pintu itu rusak. Hatiku terlalu kesal. Perasaanku semakin tidak baik-baik saja. Aku masuk ke kamarku dengan hati yang begitu kacau.
Aku mencoba berbaring di ranjang, berharap mataku bisa cepat terpejam untuk segera tertidur. Aku tidak ingin memikirkan hal yang tidak perlu. Menit demi menit berlalu sampai rasanya bosan membolak-balikan tubuh hanya sekedar mencari kenyamanan. Sampai akhirnya ponselku bergetar.
Siapa yang mengganggu di jam segini? Apa dia manusia kurang kerjaan sampai mengabariku sekarang? Menjengkelkan!
Tapi aku tetap meraih ponselku. Saat aku melihat nama yang tertera di layar ponsel, tiba-tiba nafasku tercekat. Dadaku bergemuruh, mataku memanas. Sejak hari itu aku menjadi tidak suka padanya walau hanya sekedar melihat namanya. Namun, aku ingin tahu apa yang akan dia katakan sampai harus meneleponku dini hari.
"Hallo!" Sapaku dengan nada tidak suka.
"Hai! Aku tahu kau akan mengangkat teleponku," suara yang sangat menjengkelkan.
"Apa maumu?" singkatku.
"Tentu aku merindukanmu."
"Omong kosong!"
"Bahkan aku terlalu rindu padamu."
"Tapi maaf, aku tidak begitu."
"Tapi kau mengangkat teleponku dan aku anggap kau juga merindukanku."
Aku berusaha menahan emosi sampai rasanya leherku tercekik, "Terserah, aku tutup teleponnya jika tidak ada hal penting."
"Ada… Aku minta maaf," lirihnya.
"Aku tidak ingin menerima permintaan maafmu."
"Mengapa begitu?"
"Harusnya kau sadar, salahmu terlalu besar."
"Aku tahu, makanya aku minta maaf."
"Terserah! jangan hubungi aku lagi mulai sekarang!"
"Kalau kau bersikap seperti ini padaku, aku bisa memberi tahu pada adikmu tentang kebenaran, semuanya."
Rahangku mengeras seketika saat mendengar penuturannya, "Apa kau sedang mengancamku sekarang?"
"Jika kau berpikiran seperti itu, silahkan!"
Dia melanjutkan lagi percakapannya, "Terkadang aku iri pada adikmu walau kau tidak pernah bersikap baik padanya, tapi aku tahu tentang sesuatu dan akan aku pastikan kau akan tetap menjadi milikku."
Sambungan teleponnya terputus. Aku semakin kesal sekarang. Rasanya emosiku sulit lagi untuk ditahan. Mengapa dia bertingkah seperti itu sekarang, padahal dia sendiri yang berkhianat. Ya, aku yang salah karena terlalu percaya padanya. Rasanya aku begitu menyesal pernah mengatakan semua itu padanya. Aku pikir dia baik, tapi nyatanya…
Ah, sial! Awas saja dia!
Aku melempar ponselku ke atas ranjang. Tanganku mengepal untuk meredam emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Rasanya aku ingin sekali melampiaskan kekesalanku. Ini hampir pagi, sudah cukup lama dari terakhir aku keluar dari kamar Meggie. Sungguh, ini malam yang panjang. Namun, aku masih tetap terjaga dengan emosi yang masih membakar hati. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar Meggie. Aku ingin melihat sedang apa dia sekarang.
Apa dia masih sibuk dengan tabletnya? Jika iya awas saja, aku tidak akan peduli jika dia menangis lagi.
Saat aku membuka pintu kamarnya ternyata dia sedang terlelap di meja kerjanya dengan posisi yang memprihatinkan.
"Dasar, anak nakal."
Aku menghampirinya dan melihat hasil gambarnya. Aku memperhatikan segala detail yang dia buat. Sepertinya gambarnya telah selesai keseluruhan. Itu sangat indah, bahkan terlalu indah.
Aku suka rancangannya.
"Kamu berbakat ternyata."
Aku melihat matanya terpejam. Pasti dia sangat kelelahan. Bahkan kuelus puncak kepalanya pun dia tidak terganggu dengan apa yang aku lakukan. Kupandangi wajahnya yang terlelap. Tidak terasa kedua sudut bibirku terangkat. Hatiku sedikit tenang walau hanya melihat wajahnya. Bertahun-tahun aku melewatkan semua hal berharga. Menutup telinga, menutup mata, bahkan juga menutup hati.
Aku harap kamu bisa memberikan aku waktu sedikit lebih lama lagi, Meggie. Aku akan berusaha walau rasanya sulit.