Halo semuanya, matahari sudah di atas tanda hari sudah siang. Balik lagi sama gue, hari ini kita masih akan melintasi waktu. Dari pada gue semakin lama ngomong di pembukaan, lebih baik kita langsung cus aja ke story nya.
*Flashback on*
Gue sekarang lagi disekolah, dan hari ini gue berniat untuk mencoba memakan masakan ibu gue walaupun ada rasa khawatir di diri gue. Tapi sebagai anak yang baik dan tidak durhaka karena gue juga takut dikutuk jadi batu alhasil gue akan mencoba nya.
"Saatnya melihat dan merasakan masakan ibu ku," ucap gue pelan dengan membuka bekal makanan secara perlahan, kalau di drama-drama ini adalah adegan yang paling lebay dan disukai oleh kaum hawa yang singgah di bumi ini.
"Emm, ini aman ga ya? Kok bau nya gini? Yaudah deh reihan coba aja dulu siapa tau enak." Batin gue yang bergejolak tapi mencoba untuk tetap positif dan membayangkan makanan-makanan enak di otak gue.
Setelah berpikir yang tidak tau sudah ke berapa kali dan dengan batin yang bergejolak akhirnya gue cicipi makanan ibu gue, tapi tebakan gue bener, ini adalah makanan terburuk yang pernah gue coba selama gue hidup. Lu mau tau rasanya? Biar gue deskripsikan bentuk dan rasa dari setiap makanan nya.
Kimbab nya tidak berbentuk seperti kimbab pada umumnya, yang biasa lu lihat di drakor kan bulat sempurna dengan bentuk rapih didalam nya. Sementara yang ibu gue buat ini bentuknya tidak bulat tapi setengah lingkaran dengan sayur dan ayam yang terpampang nyata. Lu pernah cobain kimbab ga? Kebanyakan sayur nya itu mentah dan ayam atau telur nya mateng, ya kan? Nah ini kebalikan nya, yang mateng malah sayuran nya dan yang mentah malah telur dan ayam nya. Gue emang suka telur setengah mateng tapi engga gini juga dong konsep nya.
Pas gue cobain nih rasanya bahkan lebih parah dibandingkan penampilan nya, ayam nya tidak ada rasa, yang bisa gue rasain cuma amis dan bau anyir aja. Nasi nya lebih parah, karena masih terasa seperti beras. Lu mau tau keadaan dumpling soup? Ibu gue ngide itu soup pake tumbukan bayam ya alhasil air nya warna hijau dong. Dan rasanya gausah ditanya dan penasaran dah lu pada, engga bisa di deskripsikan deh pokoknya.
Gue yang tadinya bahagia setiap makan siang menjadi merasa malapetaka untuk makan siang hari ini, dan sebal nya lagi. Hari ini tidak ada yang jualan karena ternyata hari ini semua anak disuruh membawa bekal dan gue melupakan hal itu.
"Tau gitu tadi reihan minta papah belikan makanan dulu, kenapa mesti lupa lagi." Ucap gue pelan dengan nada yang kesal sendiri.
Disaat gue lagi menggurutu sambil melihat makanan yang ibu gue buatkan, tiba-tiba ada teman gue yang minta makanan gue. Dengan sangat ramah dan senyum yang mengembang tapi niat di dalam nya jahat. Anak seusia gue kan emang lagi usil-usil nya dan pasti sangat bahagia ketika berhasil membuat anak orang lain menangis.
"Oh kamu mau makanan ku? Karena kamu sangat cantik hari ini, aku kasih semua aja deh buat kamu. Silakan habiskan ya," ucap gue sambil senyum nyengir sendiri.
"Wah kamu baik sekali reihan, makasih ya." Ucap anak perempuan di kelas gue itu, dan tanpa rasa curiga dia mulai memakan makanan ibu gue dengan lahap tapi membuat gue malah jadi heran, karena dia memakan semua nya sampai habis dalam waktu singkat. Gue sampai mikir, dia kayanya tidak punya indera perasa sampai makanan seperti itu dia makan dengan lahap nya.
Gue yang masih heran, hanya bisa termenung sambil melihat hal yang mustahil ini di hadapan gue. Gue cek berulang kali itu tempat makan gue dan betul sekali tidak ada yang tersisa, semua nya dilahap habis sama dia. Disaat gue lagi sibuk dengan keheranan ini tiba-tiba anak yang tadi makan makanan gue itu mengeluh sakit perut, dalam waktu singkat muka nya langsung pucat dan dia menangis tanpa henti. Hal itu membuat semua orang panik termasuk guru disana.
"Aduh kenapa sayang? Kok kamu bisa sakit perut begini? Kamu habis makan apa?" Tanya salah satu guru di SD gue dan anak perempuan itu hanya bisa mengacungkan jari telunjuk nya ke arah gue sambil tetap memegang perut dan menangis seperti bayi kecil.
"Reihan, kamu kasih apa sama anak ini?" Tanya ibu guru ke gue yang seketika membuat gue kebingungan sendiri karena memang gue tidak memberikan yang aneh-aneh hanya bekal makan siang gue aja.
"Wah ternyata masakan mamah bisa membunuh orang dalam waktu singkat," batin gue yang ada sedikit ngeri tapi ada sedikit rasa syukur juga karena bukan gue yang merasakan sakit nya.
"Reihan, kenapa kamu diam saja? Ayo jawab ibu guru, kamu kasih apa sama anak itu?" Tanya kembali ibu guru sama gue.
"A-a-aku ga kasih apa-apa kok Bu," jawab gue dengan sedikit terbata-bata.
"Bohong ya kamu? Aduh reihan, ibu guru tau kalau kamu itu anak yang badung tapi bukan begini juga dong becanda nya." Ucap ibu guru ke gue yang seketika membuat gue marah.
"Aku ga bohong, emang ga aku kasih apa-apa. Dia yang minta bekal makanan ku, karena aku baik jadi aku kasihkan semuanya." Bentak gue kesal ke ibu guru karena dia salah tuduh gue begitu saja.
"Engga mungkin, masa hanya bekal makan siang anak itu bisa sakit perut, kamu pasti masukan sesuatu kedalam makanan nya kan?" Tuduh ibu guru ke gue yang membuat gue merasa terpojokan.
"Engga, reihan engga masukan apa-apa. Ibu guru jangan nuduh gitu dong, Ibu guru ada bukti engga?" kesal gue karena sekarang gue menjadi pusat perhatian anak kelas dan itu paling gue benci.
"Sudahlah, lebih baik kita bawa anak ini ke rumah sakit dulu. Reihan kamu ikut dengan bapak sebentar ya," ucap Pak kepala sekolah yang langsung menengahi perdebatan gue sama ibu guru yang super ngeselin itu.
*Ruang kepala sekolah*
"Reihan, coba ceritakan sama bapak, apa yang terjadi?" Tanya Pak kepala sekolah ke gue dengan sangat ramah dan tenang.
"Reihan engga masukin apa-apa kok Pak, tadi dia minta bekal makanan reihan dan karena reihan ini baik jadi dikasih semua ke dia bekal nya." Ucap gue dengan nada yang sedikit kesal karena dituduh tadi.
"Yasudah, bapak sudah panggil orang tua kamu kesini. Kamu tunggu disini dulu ya sama bapak," ucap kembali bapak kepala sekolah dengan masih nada ramah dan tenang.
*15 menit kemudian*
"Selamat siang Pak, maaf kami baru sampai." Ucap dua orang yang baru memasuki ruang kepala sekolah dan ternyata itu ibu sama bapak gue dan muka mereka sudah sangat merah seperti nahan amarah.
"Ahh mamp*s lah aku, bakal kena omel habis-habisan nih," batin gue yang sekali lagi membuat diri ini makin kesal dan marah.
"Selamat Siang, silakan duduk Pak, Bu. Saya memanggil kalian kemari karena ada anak perempuan di kelas nya reihan yang tiba-tiba sakit perut setelah makan makanan dari reihan." Jelas bapak kepala sekolah ke ibu bapak gue yang sontak membuat mereka termenung, tapi termenung nya bapak dan ibu gue beda nih. Bapak gue langsung bisa menebak karena apa anak itu sakit perut tapi ibu gue malah makin tajam melihat ke arah gue.
"Oh seperti itu Pak, anak perempuan nya sudah dibawa ke rumah sakit? Dan katanya karena apa bisa sakit perut?" Tanya bapak gue ke kepala sekolah dengan tenang dan santai.
"Loh kok papah malah nanya itu sih, ini anak kita bandel banget sih. Kamu kasih makanan apa ke anak itu reihan?" Ucap ibu gue dengan nada yang tidak santai dan mata yang melotot merah.
"Reihan hanya kasih bekal makanan yang dibuat mamah kok, dia yang minta bekal reihan." Jawab gue dengan kesal dan tanpa ada rasa takut karena emang gue berkata jujur.
"Masa dikasih makanan bekal kamu bisa sakit perut? Kamu masukin apa ke bekal makanan kamu reihan? Mamah engga habis pikir ya sama jalan pikiran kamu ini. Mamah malu loh ini," Gerutu ibu gue yang langsung meluapkan emosi nya ke gue.
"Mah, udah dong. Engga enak ini dilihat sama kepala sekolah, ga usah emosi begitu. Namanya juga anak-anak loh mah," jawab bapak gue mencoba menenangkan ibu gue yang emosi nya sudah sampai di ubun-ubun seperti nya.
"Engga bisa Pah, anak ini sudah keterlaluan, bilang sama mamah. Kamu masukin apa reihan?" Tanya kembali ibu gue ke gue yang membuat gue akhirnya meledak juga saking udah tidak bisa ditahan lagi karena tidak ada yang percaya.
"Reihan udah jujur, engga masukin apa-apa." Jawab gue dengan nada sedikit membentak.
"Oh berani ya kamu sama mamah, mana bohong lagi. Katakan yang sejujur nya reihan, apa nya sih ya susah?" Ucap ibu gue kembali tidak mau kalah.
"MASAKAN MAMAH SAMPAH! itu yang buat anak itu sakit perut, reihan udah ngomong jujur. Kalau tidak percaya ya sudah," teriak gue yang seketika membuat ibu gue diam dan semua orang yang ada di ruangan menjadi hening.
*Bersambung...