“Eungh.”
“Say something, Baby!”
“Say what?”
“Anything–argh. Call my name, Baby!”
“Mas–ahh, emmh. Mas Dewaa,”
“Yes, Baby?”
Perempuan yang ada di bawah pria bernama Dewa ini bergerak tak karuan. Dewa selalu bisa membuatnya gila. Sentuhan demi sentuhan dan gerakan yang Dewa lakukan membuatnya mabuk kepayang. Pria ini selain mempunyai pesona yang memikat, juga sangat mendominasi dalam permainannya.
“Like this, heum?” bisik Dewa dengan suara beratnya yang s3ksi.
Wajahnya terlihat tenang menikm4ti permainan ini, tapi tidak dengan gerakan pinggul yang kian menambah hentakan. Membuat perempuan di bawah kuasanya semakin bergelinjang.
Tak ada jawaban dari si perempuan, tapi anggukan kepala dan ekspresi wajahnya sudah cukup tunjukan jika menyukai apa yang Dewa lakukan.
“Mas Dewaa,” panggilnya dengan raut gelisah.
Keringat berkucuran, jemari bergerak tak karuan sedang meremas apa pun. Kedutan yang berontak karena gerakan dari Dewa semakin tidak bisa di kendalikan. Ada sesuatu yang ingin meledak untuk ke sekian kalinya.
“Apa, Sayang?”
Ah, panggilan itu. Perempuan ini sangat suka sekali jika Dewa memanggilnya dengan kata Sayang. Hasrat sudah tidak bisa lagi di bendung, air yang menumpuk membuat bendungan itu jebol, meluapkan cairan yang hangat beriringan dari lenguhan panjang dan cengkraman jemari lentik ke punggung kokoh milik Dewa.
Tak lama dari itu Dewa menyusul. Turut keluarkan sesuatu yang menembak di dalam sana. Hangatnya menjadi satu. Badannya meluruh di atas tubuh sintal yang sudah dibuatnya lemas.
Cup
Dewa kecup kening perempuan itu sebelum menarik sesuatu yang menyatu di bawah sana.
“Jangan tidur. Bersihkan dulu dirimu,” titah Dewa yang kini sudah berjalan ke kamar mandi lebih dulu.
Setelah sosok tegap Dewa hilang di balik pintu, bahu perempuan itu kian melorot. Napas panjangnya terhembus begitu saja. Bukan hanya nafas lelah, namun ada juga nafas sakit yang selalu melanda setiap usai melakukan aktifitas panas ini dengan Dewa.
Perempuan itu Renata Widuri. Bukan istri sah maupun kekasih dari pria yang bernama Dewa tadi. Entah sebutan apa yang pantas untuk dirinya di hidup Dewa. Mau disebut selingkuhan, tapi Dewa tidak sedang beristri atau memiliki kekasih.
Atau mau disebut wanita panggilan? Tidak juga, karena Rena bukan pekerja komersil yang menjajakan apemnya. Rena hanya melakukannya dengan Dewa saja.
Jawaban yang benar, Rena adalah wanita yang disimpan Dewa untuk pemuas nafsu. Lebih tepatnya, Rena ini bayi gulanya Dewa.
Dewa keluar dengan tubuh atletisnya yang hanya ditutupi dengan handuk di bagian bawah saja. Dengan langkah yang santai tapi tegap, Dewa menuju lemari. Mengambil kemeja baru yang selalu ada di kamar ini. Mata tajamnya menyorot ke arah cermin yang menjulang di depannya, tak pedulikan perempuan yang masih duduk di atas ranjang dengan mata yang tertuju padanya.
“Mas Dewa,” Panggil Rena dengan hati-hati.
Tak ada jawaban dari mulut Dewa, tapi gerakan tangan yang berhenti sejenak seolah kode jika dia mempersilahkan Rena untuk melanjutkan apa yang mau di sampaikan.
“Mas Dewa nggak nginep?”
“Saya ada janji.”
“Sama siapa?” sahut Rena cepat yang setelahnya dia memaki dalam hati, merutuki kebodohannya yang lancang menanyakan itu ke Dewa, karena pria itu sekarang sedang menatapnya dengan lekat. Tanpa ekspresi sama sekali.
Dan itu membuat Rena takut. Tahu jika Dewa selalu tidak suka jika dirinya terlalu dalam ikut campur.
Dewa menarik nafas panjang. “Tidurlah. Besok saya akan mengantar kamu ke kampus.”
Ya, Rena masih seorang mahasiswi.
Dewa sudah siap dengan pakaiannya, langkahnya kini ia bawa untuk mendekat ke ranjang dimana Rena berada. Berdiri di sisi ranjang, sedikit membungkuk untuk berikan kecupan di kening wanita cantik yang sudah ia ambil keg4dis4nnya satu tahun lalu.
“Saya pergi,” ucapnya yang berlalu begitu saja. Namun stelah mencapai pintu, Dewa tidak langsung menutupnya. Kepelanya sedikit menoleh kesamping. “Sudah saya peringatkan, Rena. Jangan pernah lupa dengan isi kontrak kita.”
“Terutama di point nomor satu,” imbuhnya tanpa perasaan.
Sudah, setelah mengatakan itu Dewa benar-benar hilang dari pandangan Rena.
Rena tidak pernah lupa dengan apa saja isi dari kontrak yang sudah ia tandatangani dengan Dewa. Ia masih mengingatnya, SEMUA.
Dan diingatkan seperti itu oleh Dewa mendatangkan rasa pedih yang paling dalam. Pedih yang membuat dadanya kian sesak dan berujung naik menjadi butiran air mata.
Point nomor satu katanya. Dilarang ada kata CINTA di dalam hubungan haram ini.
Rena sadar, Rena tahu posisi. Dia hanya wanita yang dibayar untuk memuaskan nafsv seorang Dewa Angkasa. Tapi apa salah jika hatinya ingin ikut bermain dalam hubungan ini?
Dewa baik, Dewa pelindungnya. Dewa memang dingin, tapi kadang juga hangat. Dan yang selalu membuat Rena nyaman, Dewa itu sangat perhatian.
Hati Rena bernyawa, tidak bisa dipungkiri jika semua perhatian dan kebaikan Dewa membuat segumpal daging yang namanya hati itu jatuh dalam pesonanya.
Selain perlakuan Dewa, Rena juga tidak bisa mengelak jika sudah lama dia terikat dengan pesona Dewa. Parasnya yang sangat sesuai dengan namanya, Dewa. Pria itu mau dilihat dari sudut manapun akan selalu terlihat tampan. Alisnya tebal, sorot matanya yang tajam sangat serasi dengan hidungnya yang mancung. Pahatan rahang yang tegas semakin membuat Dewa nampak tak bisa ditandingi.
Kaya? Itu sudah jangan ditanya! Akan sangat kocak jika seorang pria dengan dompet yang pas-pasan berani menyimpan bayi gula.
Dengan kekayaan Dewa, Rena bisa mempunyai hunian berupa apartemen mewah. Bisa membiayai kuliahnya, dan tentunya bisa menyentuhkan barang-barang branded yang melekat di tubuhnya.
“Lo emang bego, Ren! Harusnya lo sadar, lo siapa.” Rena menghapus air matanya yang percuma, karena setelah dihapus air mata itu keluar lagi dan lagi. “Lo itu nggak lebih dari seekor gundik di hidup Dewa!”
Jika sudah begini, Rena hanya bisa menikmati rasa sakit yang ia timbulkan sendiri. Dia akan menangis sampai puas, dan setelahnya dia akan menghibur diri dengan menghabiskan uang dari tubuhnya yang dinikmati oleh Dewa.
Bukan salah Dewa, dari awal pria tampan itu sudah memperingatinya, jika di hubungan ini tidak akan ada yang namanya cinta.
“Stop, Ren. Lo per3k. Lo nggak boleh main hati. Ayo, mari hamburkan uang dari manusia arogan itu!” kalimat penghibur yang biasa Rena lontarkan setiap kali rasakan dari sakitnya jatuh cinta sendirian.
Rena tertawa getir melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin. Netranya terpaku pada ruam-ruam merah yang Dewa tinggalkan. Hatinya merasa di tampar oleh kenyataan, jejak itu menyadarkan jika Dewa hanya menginginkan tubuhnya saja.
PRAAANG!
serpihan kaca yang sudah berserakan di lantai menggambarkan isi hatinya. Hancur.
Badan Rena ambruk ke lantai, menangis lagi yang kali ini tangisannya meraung-raung. Suaranya memenuhi ruangan itu. Tak pedulikan kulit putihnya yang sudah keluarkan cairan merah karena goresan pecahan kaca itu.
"Sakit," rintihnya dengan kepalan tangan yang terus memukul d**a kiri. "Aku sakit, MAS DEWAAA!!"
Tak pernah Rena bayangkan jika memendam rasa terlalu lama bisa sesakit ini. Mungkin tempat untuk menampung cinta Dewa di hatinya sudah penuh, hingga meluap menjadikan cermin tak berdosa itu sebagai samsaknya.
"Aku nggak sanggup, Mas. Aku lelah," lirihnya disela isak tangis. "Apa ini saatnya aku pergi dari hidup kamu?"
Sudah satu tahun lamanya Rena memendam rasa cinta yang tak terbalas ini. Rena pikir, tidak akan masalah jika cintanya tak di balas asal Dewa selalu ada di hidupnya.
Tapi ternyata itu saja tidak cukup. Hatinya ingin egois tak mau memiliki raga Dewa saja. Sakitnya kian bertambah setiap cintanya semakin nyata.
Rena sudah tak sanggup. Dia tidak bisa terus menerus seperti. Hubungan yang tidak jelas, dan tidak ada jaminan jika Dewa akan selalu disisinya. Dewa bisa pergi kapanpun pria itu ingin pergi.
Dewa punya segalanya, dia bisa dibuang jika Dewa menemukan cintanya.
"Enggak." Rena menggeleng. Dia sudah sakit karena cinta sendirian, Rena tidak mau sakitnya bertambah jika Dewa tiba-tiba membuangnya.
"Gue emang harus pergi," katanya. Lantas kepalanya mengangguk ribut. "Ya. Gue harus pergi sebelum benar-benar menjadi sampah!"
Rena bangkit, di usapnya dengan kasar jejak air mata itu. Masih dengan tubuhnya tanpa busana Rena menarik satu kursi kecil di meja riasnya, mengambil koper yang ada di atas lemari. Lemari dibuka, di keluarkan beberapa baju untuk di masukkan ke koper.
Tak hanya itu saja, Rena membawa perhiasan, uang dan dua kartu debit hasil dari dia menjadi wanita simpanan Dewa.
Sakit hati memang iya, tapi logika harus tetap berjalan. Rena tidak mau keluar dengan tangan kosong. Dia tidak mau menjadi gelandangan.
Semua yang dia peroleh ini hasil dari kerja kerasnya melayani Dewa. Harta itu sudah menjadi haknya.
Rena sudah mandi dan satu koper sudah siap untuk ia bawa keluar.
"Aku pergi, Mas."
Rena menatap kamarnya seolah dia sedang menatap Dewa. Dikamar itu memang tidak ada Dewa, tapi kamar itu lah yang menjadi saksi dimana malam-malamnya berakhir dengan Dewa.
Satu kali tarikan napas panjang untuk bulatkan tekad, Rena memutar tumit untuk melangkah keluar.
Rena pergi membawa cintanya, sakitnya dan kenangannya bersama Dewa.