"Ta, jangan lupa nanti gue jemput."
"Kemana?"
"Ke ulang taonnya Nadia dodol!"
"YAELAAH, idup lagi miskin-miskinnya segala ada undangan ulang taon!"
Gadis yang sedang mengeluh ini namanya Renata Widuri. Mahasiswi semester 6 yang terkenal cantik di kampusnya, tapi juga terkenal paling misqueen a.k.a melarat di circle pertemanannya.
Karena nasib melarat yang menempel di hidupnya, Renata ini gencar sekali memacari cowok anak orang kaya untuk bisa bertahan hidup dari gempuran dompetnya yang kosong melompong.
Cewek matre? Iya, Renata matre tapi bodo amatlah dengan dua kata itu. Meski otaknya bobrok tak secantik parasnya, tapi Renata harus realistis. Logikanya bekerja bagaimana caranya dia harus bisa makan dan berangkat ke kampus tanpa mengeluarkan biaya.
Dan sekarang Renata ini sedang sumpek, mengeluh karena tak ada gandengan yang menraktirnya makan lagi, atau tak punya ojek pribadi lagi.
Renata jomblo sekarang.
Bukan, Renata jomblo bukan karena berubah menjadi jelek. Tapi dia jomblo karena kapok dengan mantan pacarnya yang terakhir itu. Si mantan pacar yang royalnya minta ampun ternyata meminta imbalan kepadanya.
Dan imbalannya ini loh yang bikin Renata ingin mencekik itu cowok. Si doi minta ehem.
Ya realistis juga sebenarnya itu cowok, tak mau rugi sudah keluar duit banyak tapi tak dapat apa-apa.
"Buset dah, Ta. Ama temen sendiri lo itung-itungan!" semprot Ike, salah satu bestie nya Renata
"Itung-itungan gigik lo kuning. Duit di dompet tinggal tiga ratus, apa yang mau di itung?" sungut Renata, menelungkupkan kepalanya di atas meja. "Mana gue belum bayar kos lagi. Huhu, begini banget punya nasib."
Mengeluh itu nama tengah Renata. Jadi aneh saja jika sehari gadis cantik ini tidak mengeluh.
Ike meringis, kasihan melihat temannya yang memang memprihatinkan.
Renata ini dari kampung, kuliah di Ibu kota untuk mengejar mimpi. Jika ditanya mimpinya apa, mulutnya Renata pasti akan jawab jadi orang kaya.
"Lagian lo ngapa dah, kuliah di Ibu kota. Tempat tinggal ngekos. Tau duit sulit, kenapa kagak idup di kampung aja sih?"
"Biar jadi tukang gosok? Terus gue punya laki tukang ojek, gitu maksud lo?" Jawab Renata tanpa mau mengangkat wajahnya untuk menatap temannya itu.
"Gue kuliah biar otak yang tidak pinter ini bisa pinter. Jadi orang kaya yang sukses, Ke. Ck, lo mah," lanjutnya menggerutu.
"Terus sekarang otak lo udah pinter?"
"Belum,"
Ike mencebik, mau kuliah sampe di negeri dongeng juga si Renata tidak akan bisa pintar. Sudah khatam banget si Ike sama isi otak temannya.
Pengen pinter tapi malas belajar.
"Gue pinjemin duit deh, Ta."
Nah, ini. Renata tuh lagi nungguin kalimat sakral yang ini dari mulut temannya. Dia mengangkat wajah dengan semangat, sesemangat senyum di bibir manisnya.
"Beneran, Ke?"
"Iyee. Gue pinjemin buat beli kado aja tapi ya. Nggak enak, Ta, masa ke temen sendiri kagak bawa kado,"
Renata mengangguk. "Berapa?"
"Seratus lima puluh."
Auto lenyap senyum di bibir Renata. "Jangan, Ke. Kebanyakan itu," sarkasnya. "Pinjemin seratus aja lah, biar bisa beli kotak pensil buat kado Nadia,"
Tawa Ike menyembur begitu saja, menertawakan kalimat sindiran dari Renata yang wajahnya sudah datar mirip meja di depannya.
"Canda atuh neng cantiik. Dah ah, ayo kita cabut. Sekalian beli kado!" Ike menarik tangan Renata, agar gadis cantik yang otaknya separuh itu mau bangkit.
***
Yang ulang tahun itu namanya Nadia, salah satu teman baik dari Renata dan Ike. Acara ulang tahunnya di club karena Nadia anak orang berada, tidak seperti Renata yang anaknya orang tidak ada.
Tidak ada harta dan tidak ada orangtua lebih tepatnya. Renata itu yatim, Ibunya kawin lagi tapi tak tahu dimana sekarang berada. Dulu Bapaknya meninggal setelah bercerai dengan si Ibu, dan Renata ini ngikut Bapaknya.
"Anjir, Ta. Cakep banget lo, sumpah!"
"Dari dulu keles." Renata kibaskan rambutnya yang panjang dengan centil. Namun detik selanjutnya wajah Renata meringis, "Ke, gue nggak nyaman deh pakai baju begini. Kayak ani-ani nggak sih?"
"Ya bagus dong. Siapa tau lo nanti di sana dapet pelanggan yang kajirnya melintir,"
"b******k lo!"
Ike tertawa. Selain makian, dia juga dapat toyoran dari Renata. Untung dia itu sudah jago bawa mobil, jadi tidak sampai oleng meski kepalanya sudah oleng karena ulah tangan temannya.
Mobil avanza keluaran terbaru milik Ike melaju cepat untuk menuju tempat pestanya Nadia. Mobil ini hasil dari jerih payah si Ike jualan.
Jualan apem legit dari Om-Om yang kayanya tidak seberapa.
"Beneran deh, Ke. Baju lo kependekan ini,"
"Ck, kagak, Ta. Udah cocok itu di badan lo yang seksi. Lo cantik pake baju itu!"
Ike tidak bohong, Renata tambah cantik dengan dress yang ia pinjami. Dress warna putih yang panjangnya setengah paha. Lengannya sesiku, tapi bagian dadanya sedikit rendah.
Sangat pas di tubuh Renata yang tidak kurus tapi tidak besar. Renata ini tubuhnya tergolong semok, semok-semok yang bagus. Tingginya juga pas.
Mobil Ike sudah sampai di parkiran. Dua gadis, eh ralat, si Ike sudah tidak gadis. Ike dan Renata keluar membawa satu kotak kecil sebagai kado untuk Nadia.
Mereka berdua sudah legal masuk ke tempat ajeb-ajeb ini.
Begitu masuk, telinga dan mata langsung di suguhi oleh suara dentuman musik dan lampu yang berkedap kedip. Si Renata tidak pusing, karena sudah sering menginjakkan kaki di tempat seperti ini karena ajakan dua temannya itu.
"GIRLS!! Akhirnyaa, kalian datang juga. Gue udah nungguin lama tau!" Yang punya acara menyambut kedatangan Renata dan Ike dengan heboh.
"Happy birthday ya, Nad. Temen gue yang paling sinting!" Renata memeluk Nadia.
Nadia tertawa dan mengangguk. Lantas dia mengajak temannya untuk ke tengah-tengah, dimana sudah ada kumpulan dari undangan yang lain, yang sedang meliuk-liukkan badan menikmati musik dari Mbak DJ.
"Taik lo, Nad. Baru dateng suruh makan kek, malah di seret joget," keluh Renata karena yang ada dibayangannya pesta Nadia ini akan ada banyak makanan.
"Hahaha. Iya, iya. Gue lupa kalo perut lo selalu demen gratisan." Si paling kaya, tapi miskin bacotnya. "Ke, ajak teman lo makan sana!"
Ike mengangguk dan menarik tangan Renata. Menuju meja yang kosong, tempat ini sudah di booking oleh Nadia, jadi mereka bebas untuk duduk dimana saja.
Agak aneh sih dengan kelakuan orang kaya, kok tidak sayang uangnya untuk di hambur-hamburkan begini, pikir Renata. Tapi ya wajar sih, Nadia ini anaknya Pak Menteri dan dengar-dengar emaknya anaknya orang kaya.
"a***y, ini makanan isinya beginian semua? Kagak ada nasi kah?"
"Buset, Ta. Emang lo ngarepin makanan yang gimana di tempat yang isinya orang mabok semua? Pecel lele?" Ike mendorong bahu Renata seiring dengan mulutnya yang mengeluarkan kalimat sarkasnya.
Si Renata nyengir, dia lupa jika ruangan yang bikin telinganya budek ini tidak akan ada menu makanan yang bisa bikin perut penuh.
"Lo mau minum kagak, Ta?"
"Rugi sih dateng ke tempat beginian kagak icip-icip," jawab Renata. "Tapi nanti dulu lah, setelah perut gue ke isi makanan. Biar kagak hoek-hoek."
Ike mengangguk setuju. Mereka berdua lanjut makan di selingi obrolan-obrolan yang tak berfaedah. Mana ngobrolnya harus pakai urat biar bisa di dengar, karena suara dentuman musiknya terlalu kencang.
"Ke, masih belum ada kabar ya, dari Mbak Sinta?" Renta menghempaskan punggungnya, bersandar ke sofa empuk. Wajahnya sedikit merenung mengingat email yang baru dia terima tiga jam yang lalu, uang UKT yang sudah nunggak.
Ike menggeleng, "Belum, Ta. Masih nggak ada job," jawabnya.
Mbak sInta yang di tanyakan Renata ini, orang yang bekerja di showroom mobil mewah. Sering mencari tenaga spg freelance jika ada event. Dan Renata ini salah satu freelance nya.
"Butuh duit lagi?" celetuk Ike.
"Orang gila mana yang kagak butuh duit?" cibir Renata. "Kecuali temen lo yang lagi ulang taon noh. Duit emak bapaknya bejibun, enteng banget idupnya."
"Lo tuh punya kecantikan di atas rata-rata lo, Ta,"
"Si jaka sambung. Kita lagi bahas apa, Nyet. Omongan lo malah kesono."
"Selain cantik, lo juga punya body yang oke." Tak menghiraukan cibiran dari Renata, Ike tetap melanjutkan apa yang ada di otaknya.
"Ya terus?" Renata lirik temannya dengan malas.
"Kenapa nggak cari Om-Om aja sih, biar hidup lo naik derajat."
Satu kentang gorteng melayang, dan pas mengenai hidung Ike. Pelakunya si Renata, bacotan temannya ini selain tidak berfaedah, juga menyesatkan.
Kan bahaya kalau si Renata bisa tergiur.
"Gue rasa perut lo udah penuh, kebanyakan tai, Ke. Sampe itu congor kagak di saring," sarkas Renata yang hanya di tanggapi oleh cebikan bibir oleh IKe.
"Dih, lo kagak tau aja rasanya. Dnegerin gue ya, Ren." Ike mengubah posisi duduknya dengan badan yang condong ke Renata, agar temannya itu bsia mendengar dengan baik.
"Kalo lo jadi bayi gula, lo nggak bakalan tuh ngerasain yang namanya sumpek duit. Lo bisa beli apa pun yang lo mau. Cuma modal ngangk4ng!" Lanjut Ike.
Sadar jika sarannya ini terlalu ekstrim, tapi IKe tak tega terus-terusan melihat temannya yang selalu di landa kemiskinan. Bisa-bisa wajah Renata keriput sebelum waktunya karena mikirin duit.
"Wah, makin nggak waras lo, Ke." Renata geleng kepala, tak mau menanggapi celotehan Ike yang ngawur.
Kalau dia tidak sayang tubuhnya, sudah Renata kasih kegadisannya sama mantan pacarnya kemarin. Yang sudah jelas royalnya.
"Lagian ya, Ta, Om-Om jaman sekarang mah orangnya cakep-cakep. Wangi, badannya udah bau duit, Ta." Masih belum menyerah si Ike meracuni temannya. "Lo pikir gue bisa kuliah duit dari mana, Ta?"
Renata melotot kaget mendengar pernyataan dari mulut Ike yang sungguh diluar dugaannya. Setahunya, Ike ini punya uang karena emak bapaknya di kampung juragan tanah.
"Ke, jangan bilang lo ...?"
Ike mengangguk santai, tapi Renata bisa melihat jika gurat wajah temannya tunjukkan sedikit pahit.
"Iya, Ta. Gue jadi simpenan Om-Om," aku IKe dengan jujur. Dari sekian temannya, hanya Renata orang pertama yang dia beri tahu.
Itu pun baru sekarang.
"Ke," Renata mendekat, memegan lengan temannya.
"Hahaha, biasa aja, Ta. Walau sedikit aneh, gue udah nyaman dengan pekerjaan yang haram begini," Ike menepuk lengan Renata. "Gue begini ya karena untuk bertahan hidup, Ta. Setelah gue lulus, gue bakalan tobat kok."
Ah, lidahnya renata kaku sekarang, tak bisa mengeluarkan satu kata pun. Bingung mau merespon temannya bagaimana, tapi lebih ke terkejut saja sih. Tidak menyangka jika Ike jadi bayi gula.
"Mobil yang baru itu, dari Bapak ketemu gede ya?" Tebak Renata dengan hati-hati.
"Hahaha. Iya. Selain itu ada apart juga, Ta."
"Wah, apa gue begitu aja kali ya? Ada nggak kira-kira Om-Om yang royal tapi gue nya nggak pake ngank4ng?"
Tuiing, Ike dorong kening bestienya dengan gemas. Ternyata otak Renata tidak 80 persen bodohnya, tapi sudah 95 persen.
"Mana ada bego! Mereka nggak mau rugi lah. Gila aje lo, mau nikmati duitnya tapi cuma kasih grepean doang!" Semprotnya.
"Ya kali aja, Ke, ada. Gue mau tuh kalo ada. Kagak apalah kalo di grepe doang, yang penting dapet duit,"
"Yeuuh, sama aki-aki aja sono. Yang tititnya kagak bsia bangun tapi doyan liat yang bening!"
Renata meringis, omongan temannya ini menggelikan, membuatnya mulas. Mulas yang betulan mulas pengen buang hajat.
"Anjir, mules gue karena omongan lo. Gue ke toilet bentar, Ke!"
Renata berdiri, sebelum kakinya melangkah, dia tarik dressnya karena kainnya ke atas habis di buat duduk. Dan tarikan yang terlalu kencang tak sadar membuat bagian dadanya lebih turun, sedikit menampakkan daging yang malu-malu tapi bikin orang penasaran.
Tanpa mereka sadari, di samping sofa yang mereka duduki ada satu pria matang yang tersenyum tipis mendengar obrolan mereka.
Pria dengan kemeja hitam yang pas di badan itu menyandarkan punggungnya, kedua tangannya terlipat di d**a membuat bisep tercetak jelas. Sorot matanya yang tajam memperhatikan Renata saat membenarkan dressnya.
"Menarik," gumamnya sendiri.