Sahrul sudah berteman dengan Sena sejak mereka kecil. Sahrul memang hanya berasal dari keluarga biasa yang bahkan dirinya sendiri tidak berkuliah. Kini ia hanya menjadi satpam di pesantren milik Kyai Firman itu.
"Kenapa to dek . Apa ada yang menyakitimu??katakan padaku,biar aku yang menghadapi nya dan menghaj....." Kata Sahrul yang terpotong. "Abah yang membuat aku menjadi banyak pikiran mas".
"Loh kenapa begitu???". Tanya Sahrul
"Iya mas. Abah mulai membicarakan soal kematian dan wasiat serta perjodohan ku". Ujar Sena dengan pandangan kosong nya. Sahrul pun ikut terdiam setelah mendengar jawaban Sena. Harapan nya untuk mendapatkan Sena semakin besar tetapi disisi lain ia juga mendapat rintangan yang paling sulit. Restu dari seorang ayah dan sekaligus kyai yang telah membimbing Sahrul tidak memberikan nya kesempatan untuk menjadi suami Sena.
Hancur itu sudah pasti. Ia merasa sangat kecewa atas keputusan Kyai Firman yang ingin menjodohkan Sena dengan sentah siapa laki-laki itu. Sahrul takut jikalau nanti calon suami Sena tidak menerima Sena apa adanya,ia juga takut laki-laki itu tidak baik dan tidak bertanggung jawab. Tapi apalah daya Sahrul yang tidak punya hak atas kehidupan Sena dan keluarganya.
"Mas...pie Iki,aku ndak mau kalau dijodohkan oleh abah,aku ndak mau mas....tolong bantu aku". Ujar Sena sambil menggenggam tangan Sahrul. Tapi sesaat setelah menggenggam tangan Sahrul tadi,ia menyadari bahwa mereka bukan mahram kemudian langsung melepaskan nya. "Astaghfirullahaladzim...maaf mas" katanya saat melepas tangannya dari Sahrul. "Ndak papa dek. Tapi mas minta maaf,mas Ndak bisa bantu masalah mu kali ini. Mas tidak mau ikut campur atas kehidupan mu,kyai pasti lebih tau dan faham apa yang harus dilakukan untuk anak perempuan satu-satunya". Jawab Sahrul yang sebenernya ingin sekali mengatakan bahwa ia sangat mencintai Sena dan berharap bahwa dia lah yang dipilih untuk menjadi suami Sena.
Karena tak kuasa melihat air mata Sena yang mengalir karena perjodohan itu, Sahrul memutuskan meninggalkan Sena tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Mas....mas...mas Sahrul" panggil nya pada Sahrul tetapi tidak dihiraukan.
***
Akhirnya Sahrul mengurung dirinya di dalam kamar karyawan, kebetulan tidak ada orang sehingga ia leluasa untuk meluapkan kesedihan dan emosi nya. Sahrul menangis seperti lelaki yang hatinya dicambuk setelah melihat wanita yang ia anggap wanita paling sempurna yang pernah ada. Sahrul tidak pernah merasa jatuh cinta sampai sedalam ini pada seorang wanita,tapi kali ini,Sena membuat perubahan dalam cara pandangnya terhadap wanita.
"Ya Allah Gustiiiiii.....pripun niki????Kulo kudu pripun????Kulo mboten lilo yen dek Sena dijodohkan kalih kyai Firman. Tapi Kulo kudu pripun ya Allah?!?Kulo mboten saget nopo nopo,tulungi Kulo Gusti,Kulo mboten ikhlas......HIKSSS". Ujar Sahrul dalam tangisan nya. Sungguh tangisan laki-laki ini sangat tulus. Ia benar-benar mencintai Sena dengan sepenuh hatinya. Sungguh tangisan itu tak bisa dibendung lagi.
Saat itu juga Sahrul memukul mukulkan kepalanya ke tembok kamar ,dan ia juga menggenggam bantal karena tak bisa meluapkan emosi nya. Sahrul teringat ketika tadi Sena tak sengaja menggenggam tangannya. Itu membuat rasa cinta di dalam hati Sahrul semakin membesar,hati Sahrul tak kuasa menahan rasa suka ini.
Sampai akhirnya ada teman bernama Amir yang membuka pintu menggunakan kunci cadangan yang ia bawa. Sedari tadi Amir mendengar suara tangisan sehingga mau tak mau harus membuka pintu itu dengan kunci cadangan yang ia bawa. "Astaghfirullahaladzim rulll!!!!" Teriak Amir ketika melihat Sahrul dalam keadaan berantakan. Bantal guling berserakan hingga beberapa isi kapas di bantal itu keluar. "Ono opo rull??? istighfar rul istighfar....elingo Gusti Allah rul!!" Kata Amir yang menghampiri Sahrul dan kemudian menggoyangkan tubuh Sahrul. "Mir.....aku kudu pie mir??aku Ra iso ngene Iki terus....aku tresno Karo de'e mir.....aku Ra ikhlas mir!!" Ujar Sahrul yang masih tak bisa mengendalikan dirinya.
"Astagfirullah.....Iki perkoro mba Sena meneh???Iyo ta ru???? ngomongo rul!!" Tegas Amir meminta penjelasan pada Sahrul. Namun Sahrul hanya mengangguk pada Amir dan tak menjawab pernyataan nya. "Astagfirullah ya Allah.....emang sampean Karo mba Sena keno opo??mba Sena kenopo?koe kenopo??crito o mie??" Kata Amir.
Seharusnya Amir tidak memaksa Sahrul untuk bercerita saat ini, karena dalam keadaan terguncang dan juga emosional, mungkin seseorang tidak mampu berbicara dengan benar. Itu juga dirasakan oleh Sahrul. Tetapi di saat ini,Amir juga khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
***
Sena kebingungan karena Sahrul tiba-tiba meninggalkan dirinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Ya Allah,pripun niki". Ujarnya sambil mengusap air mata.
"Ustadzah.... Kenapa?kenapa ustadzah menangis?" Tanya Ratna ayu. Ia adalah teman dekat Sena dari kecil. Ratna sudah mengabdi pada pesantren Syaikh Al Albani ini bertahun-tahun setelah ia dinyatakan lulus dari pesantren. Bahkan hitungan nya, Ratna lebih tua lima tahun daripada Sena. Tetapi sebagai rasa hormat kepada Sena,ia lebih memilih menyebut Sena dengan sebutan nduk Sena atau ustazah Sena.
"Mba Ratna........." Kata Sena yang kemudian memeluk erat Ratna setelah menyadari kedatangan Ratna. Mereka saling berpelukan bak adik kakak. Ketika berada di sebelah Ratna,ia merasa mempunyai seorang saudara. Yaa bagaimana tidak??Sena adalah anak pertama dan satu-satunya dari kyai Firman. Dia juga dikatakan keturunan terakhir dari keluarga Adipati Putra sebelum akhirnya nanti ia akan menikah dan melahirkan pewaris Adipati Putra.
"Enten nopo to nduk??kok sedih sekali awakmu?" Tanya Ratna yang tak melepas pelukannya dari Sena. "....mbaa.....Sena mau dijodohkan sama Abah....Sena Ndak mau....Sena tidak mau menikah dengan orang yang bukan pilihan Sena sendiri". Katanya menjelaskan.
Tapi belum sempat menjawab Sena,kyai Firman datang menghampiri mereka. Itu berarti Ratna harus meninggalkan mereka berdua. "Mba Ratna disini saja....mba". Rengek Sena ketika Ratna akan meninggalkan nya. "ngapunten kyai...Kulo nyuwun sewu Kyai". Kata Ratna kemudian pergi meninggalkan kyai Firman dan Sena.
Kyai Firman pun duduk di sebelah Sena. Dalam beberapa saat mereka tidak saling berbicara,sampai akhirnya kyai Firman memulai pembicaraan. "Nduk....Abah ini tau seberapa kecewa kamu setelah mendengar apa yang katakan tadi. Tapi....".
"Tapi Abah tidak mau memahami perasaan Sena dan lebih memilih keputusan yang Abah ambil tanpa persetujuan Sena??iya bah??". Cetus Sena. "Ora ngono nduk. Abah hanya tidak mau kamu salah pilih pasangan. Dia orang baik nduk. Dia juga adalah seorang yang terpelajar. Dia anak dari kyai Zakaria ". Kata Kyai Firman membujuk. "Anak seorang presiden pun,jika itu bukan pilihan Sena,maka Sena tidak mau untuk menikah dengannya bah. Bah....Sena mohon". Kata Sena sambil memegang tangan kyai Firman.
"Abah juga mohon nduk....Abah mohon". Ujar kyai Firman juga. Mereka saling memohon. Disatu sisi Sena tidak ingin dinikahkan dengan lelaki pilihan abahnya, disisi lain,kyai Firman juga menginginkan yang terbaik untuk anak semata wayangnya.
Akhir dari perbincangan mereka yang singkat adalah,kyai Firman meninggalkan Sena sendirian dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
"Abah...bah.....Abah dengarkan Sena dulu bah". Pinta nya sambil mengejar kyai Firman. Namun sayang kyai Firman kemudian masuk ke kamarnya dan menutup pintun kamarnya rapat rapat. "Astagfirullah". Gumam nya.
Sena tidak tau kenapa Abah nya tiba-tiba meminta agar ia menikah. Sebelumnya kyai Firman tidak pernah memberikan permintaan yang sampai-sampai membuat nya mengurung diri dikamar. Tapi memang sebelumnya Sena tidak pernah memberikan penolakan terhadap apapun permintaan abahnya. Menyadari bahwa sekarang ia hanya punya kyai Firman di dunia.
Sang Umik sudah meninggal dunia ketika Sena menginjak usia 5 tahun. Umik meninggal akibat gagal jantung yang dialaminya. Saat itu,Sena belum mengerti tentang arti dari kematian. Ia hanya tau bahwa Umik nya sedang bekerja untuk beberapa waktu . Tetapi semakin dewasa,ia semakin paham kenapa Umik nya tidak kunjung kembali.
Seperti biasa. Ketika Sena punya masalah,ia akan datang ke makam Umik nya untuk meminta beberapa petunjuk. Ia percaya bahwa disurga,Umik nya akan mendengar semua keluh kesah dan cerita Sena. "Assalamualaikum umik. Sena kembali lagi mik. Sena butuh pencerahan dari Umik".
"Sena bingung mik. Tidak ada angin ataupun hujan,Abah tiba-tiba ingin menjodohkan Sena dengan laki-laki yang Katanya adalah anak dari kyai Zakaria. Sena tidak tau dia siapa. Abah juga tau bahwa Sena tidak akan menikah dengan orang yang bukan pilihan Sena". Ujar nya di atas makam sang Umik. Ia membaringkan wajahnya di atas tanah makam dan mulai bercerita.
"Mik. Bagaimana??apa yang harus Sena lakukan??Sena butuh Umik". Gumam nya sambil menaburkan bunga di atas makan Umik. "Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Kasihan beliau yang sudah tiada,beliau akan merasa kamu tidak ikhlas atas kepergian nya. Percayalah ini takdir Allah,ini yang terbaik". Kata seorang pria menggunakan pakaian serba hitam dan juga menggunakan kacamata dan masker. Ia juga membawa payung untuk meneduhkan Sena.
"Astagfirullah". Cetus nya yang ternyata baru sadar bahwa saat ini sedang gerimis,dan mungkin dalam hitungan menit akan hujan deras. "Kemari lah. Saya akan berikan tumpangan". Tawarnya. "Ti....tidak usah,saya bisa pulang sendiri ". Tolak Sena. "Sudahlah...jangan bawel... sbentar lagi akan semakin deras,ikut saja denganku. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu". Kata lelaki itu sambil menarik paksa tangan Sena.
Mau tak mau Sena hanya bisa mengikuti lelaki itu karena benar saja,semakin lama hujan itu semakin deras. Mereka pun naik ke mobil laki-laki itu. Di dalam mobil. Pria itu membuka kacamata dan masker nya,Sena sedikit terkejut dengan wajah laki-laki itu. Wajannya putih bersih seperti tak ada noda, hidungnya mancung,dan bibirnya merah merona. 'ehhhhh astagfirullah,kenapa aku melihatnya terus-menerus ". Batin nya yang kemudia memalingkan muka.
"Perkenalkan,aku Muhammad Asraf Basaiqh". Kata nya mendahului. "..sa..saya Rashena Clorius Adipati Putra".
"Terima kasih sudah memberikan saya tumpangan ". Lanjutnya. ". Kemana saya harus mengantarkan kamu?". Tanya nya sambil menyalakan mobil. "Ke pesantren Syaikh Al Albani,dekat kampung prajalengka ". Jawabnya menunjukkan jalan.
Kemudian mobil itu melaju dengan kecepatan stabil,tanpa bertanya kemana arah jalan. Tampaknya laki-laki itu sudah mengetahui arah lokasi pesantren Syaikh Al Albani itu. Ia dengan lancar melawati jalanan itu. Jika memang ini orang sekitar,Sena juga berfikir tak pernah melihat nya, pakaian nya juga bukan seperti orang dari daerah sekitar.
Beberapa menit berlalu dan mereka pun tiba di pesantren Syaikh Al Albani. Mereka turun dari mobil. "Monggo,mampir terlebih dulu mas,saya akan buatkan teh hangat untuk panjenengan ". Tawar Sena pada Asraf sebagai tanda terima kasih nya karena sudah memberikan tumpangan.
"Tidak perlu...saya akan.....". Putus Asraf karena ada teriakan dari seorang perempuan. Itu Ratna,ia berteriak-teriak memanggil nama Sena. "Ustadzah SENA.... ustadzah SENA... ustadzah SENA!!! NJENENGAN DIMANA??YA ALLAH". Teriaknya sambil berkeliling pesantren. "MBA..SAYA DISINI. ADA APA?". Tanya Sena yang juga memanggil Ratna. "Ya Allah Gusti.... ustadzah,kyai Firman pingsan di kamar nya, sekarang para santri sedang berusaha untuk memberikan pertolongan kepada Kyai Firman". Ujarnya dengan panik karena ternyata pingsannya kyai Firman sudah berlangsung cukup lama. Tapi baru ada beberapa Santri yang menyadari nya. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu pada kyai Firman.
"YA ALLAH ABAHHH!!!" Panik Sena yang kemudian langsung berlari ke kamar kyai Firman. Disana sudah terdapat banyak santri yang mencoba membangunkan kyai Firman, begitu juga dengan Sahrul dan Amir.
"Ya Allah mas....Abah kenapa??" Tanya Sena setelah sampai. "Tidak ada yang tau dek.... Tapi masalahnya disini adalah mobil pesantren sedang dibawa oleh pak mantri untuk mengantarkan santriwan dan santriwati untuk lomba hafidz diluar kota". Ujar panik Sahrul yang makin membuat Sena ketakutan. "BAWA DIA NAIK KE MOBIL SAYA..... SAYA AKAN MEMBAWANYA KE RS TERDEKAT". Kata Asraf yang ternyata tadi mengikuti Sena. Tanpa banyak bicara,Sena meminta agar kyai Firman dinaikan oleh Asraf ke dalam mobilnya. "Abah yang kuat ya". Kata Sena sambil memangku kepala Abah di dalam mobil."saya akan bawa beliau ke RS hatimulia". Kata Asraf dalam mobil. "Saya ikut..." Kata Sahrul yang ingin naik ke dalam mobil.
"Jangan mas....lebih baik mas dan mba Ratna menjaga pesantren saja,biar saya dan mas Asraf yang membawa Abah ke rumah sakit". Kata Sena yang kemudian membuat Sahrul berhenti membuka pintu mobil dan malah menutupnya kembali.
Mobil pun dilajukan dengan kecepatan tinggi. Dalam mobil Sena pabik bukan main karena badan sang Abah mulai membiru. "YA ALLAH ABAH......!!ABA....!!"
BERSAMBUNG..........!!!