Asraf benar-benar melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Apalagi setelah mendengar teriakan Sena. Hingga tak berapa lama kemudian mereka sampai di Rumah Sakit Hatimulia. Perawat dan tenaga medis langsung membawakan sebuah tempat tidur dorong untuk agar kyai Firman dapat segera dapat dibawa ke ruang UGD.
Kyai Firman pun didorong sampai ruang UGD. "Mba,mas,mohon tunggu disini,kami akan menangani pasien terlebih dahulu". Kata salah satu dari perawat itu. Sena hanya bisa terduduk dan menangis di balik pintu. Samar samar ia melihat dokter sedang melakukan CPR kepada kyai Firman. Hatinya hancur lebur. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada abahnya.
Di samping itu, Asraf mencoba menenangkan Sena. Tak sengaja ketika Sena sedikit memberontak, Asraf harus memeluk erat tubuh Sena. "Mas.....Abah". Ujar nya yang sudah mulai lemas dan akhirnya........
BRAKKKKK
Sena jatuh pingsan di pelukan Asraf. Akhirnya Sena juga dibawa ke ruangan rawat untuk mendapatkan pertolongan..
***
Di pesantren,Sahrul masih terdiam . Ia bertanya-tanya siapa laki-laki yang bersama dengan Sena tadi. Hujan tak kunjung berhenti,begitu juga rasa penasaran nya yang meningkat. Akhirnya ia bertanya kepada Ratna karena merasa bahwa Ratna adalah teman dekat Sena. "Mba Ratna....tadi laki-laki yang bersama dek Sena. Siapa dia???" Tanya Sahrul saat menghampiri Ratna. "Saya juga Ndak tau rul,tapi sepertinya mereka sudah saling mengenal ". Jawab Ratna yang memang tidak mengetahui siapa laki-laki itu.
Pikiran Sahrul mulai kemana mana. Ia berpikir bahwa laki-laki yang bersama Sena tadi adalah laki-laki yang sama yang akan dijodohkan oleh Kyai Firman. Ia mencoba untuk menepis anggapan itu,tapi pikiran nya selalu kembali lagi kesana. Akhirnya untuk mengurangi rasa penasaran nya,ia memutuskan untuk menyusul Sena ke rumah sakit.
Beruntung tadi ia sempat mendengar kemana Asraf akan membawa kyai Firman. Ia langsung memesan sebuah taxi dan berangkat menuju rumah sakit Hatimulia dalam keadaan hujan deras.
Sesampainya di rumah sakit,ia bertanya kepada salah satu perawat yang menunggu area administrasi. "Sus,apa tadi ada pasien yang baru saja masuk??" Tanya Sahrul, "pasien yang masuk hari ini banyak pak,coba berikan informasi lebih detail ". Kata Perawat itu. "Seorang pria paruh baya,dibawa oleh seorang perempuan dan laki-laki. Beliau bernama kyai Firman. Baru saja mba,baru saja masuk". Perjelas nya pada perawat.
Perawat pun paham dan kemudian menunjukkan kemana Kyai Firman dibawa. "Ohhh kyai Firman,beliau dibawa ke UGD mas. Sepertinya anak dan menantunya sudah menunggu disana". Ujar perawat itu sambil menunjukkan arah ke ruangan UGD.
Sahrul terkejut dengan apa yang dikatakan oleh perawat tadi. "HAHH???anak dan menantu mba?" Cetus nya pada perawat. "Bukankah begitu pak?tadi mba Sena dan mas Asraf terlihat berpelukan dan saling bergandeng tangan,tadi juga ketika mba Sena pingsan juga mas Asraf yang menggendong dan membawanya ke ruang rawat". Perjelas perawat itu.
'bergandengan tangan??? berpelukan??? Asraf????apa hubungan mereka???' batin Sahrul kesal.
Kemudian sampailah dia di ruang UGD,tapi sayang disana sudah tak ada Sena maupun Asraf. Kemudian Sahrul pun mencari cari Sena yang katanya sempat pingsan tadi. Ia mencari ke beberapa ruang rawat.
***
"Dengan keluarga ibu Sena??" Panggilan dari perawat . "Saya sus" sahut Asraf. "Bapak suami dari ibu Sena?" Tanya perawat lagi. "Emmmm.....benar". Jawabnya tanpa ragu.
"Baik pak. Keadaan ibu Sena saat ini mengalami syok ringan,tapi untuk keadaan selebihnya masih normal,tapi saya harapkan untuk tetap berada di samping istri bapak agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan ". Saran perawat kemudian pergi meninggalkan Asraf. Asraf kemudian masuk ke dalam ruangan itu untuk menemani Sena.
***
Sahrul pun sampai di ruang rawat Sena, sebelum itu ia bertemu dengan perawat yang tadi memeriksa Sena. "Permisi, apakah tadi ada pasien bernama Sena?" Tanya Sahrul. "Ohh ada pak, kebetulan tadi suami dari ibu Sena baru saja masuk ke dalam ruangan, apakah bapak juga salah satu dari keluarga nya?" Tanya suster . "HAHH??suami nya???". Tanya bingung Sahrul. Bagaimana tidak,Sena saja belum jadi untuk menikah dan bahkan perjodohan tadi baru dibahas oleh kyai Firman. Tentu hal itu membuat Sahrul kesal . Ia kemudian langsung masuk ke dalam ruang rawat tersebut dengan kemarahan.
"Woy!!" Tegas nya saat memasuki ruangan. Asraf terkejut dengan suara itu, kemudian ia langsung berbalik badan dan melihat ternyata laki-laki yang ada di pesantren tadi. "Apa maksudmu berteriak seperti itu????" Tegas Asraf. "MAKSUDKU?? MAKSUDMU KUI OPO O?? SAMPEAN NDUE HUBUNGAN OPO KARO SENA???SAMPEK WANI WANINE SAMPEAN IKU NGAKU NGAKU DADI BOJONE SENA!!" . Kata Sahrul dengan sejuta emosi nya yang sudah tak tertahankan akibat rasa cemburunya itu.
"Saya hanya mempercepat proses pemeriksaan!!jadi lebih baik anda tidak perlu khawatir saya akan mempunyai hubungan palsu dengan wanita ini. Saya hanya membantu nya dan Kel......".
"Abah.......Abah.....Abah.....". Ujar Asraf yang terpotong karena ternyata Sena mulai siuman. Seketika itu juga Sahrul langsung berlari ke arah Sena dan kemudian menggenggam tangannya erat-erat, "dek...tenang,mas disini". . "Mass...mass..mas Asraf...Abah". Kejar sana lagi yang masih belum sepenuhnya siuman. Di saat itu juga Sahrul sangat marah kepada apa yang diucapkan oleh Sena tadi. 'ASRAF????DIA MENYEBUT NAMA ASRAF???AKU YANG DISEBELAH MU SEN!!AKU YANG SELALU MENCINTAIMU!! AKU SEN!!'. Batin kesal Sahrul kemudian meninggalkan ruang rawat itu dan membanting pintunya.
"Astagfirullah,kenapa dengan orang itu??". Cetus Asraf. Kemudian ia mendekat pada Sena dan menenangkan Sena hingga sepenuhnya siuman. "Tenangkan dulu dirimu. Abahmu tidak apa apa,dia pasti baik baik saja". Ujar Asraf. "Mas. Tolong bawa aku pada Abah....aku mohon". Kata Sena memohon. "Tapi kau masih belum pulih sepenuhnya ". Bantah Asraf. "Ku mohon,aku hanya syok dengan kejadian itu,aku tidak apa apa,aku baik baik saja mas,tolong". Ujar Sena yang terus menerus mendesak Asraf.
Akhirnya Asraf pun menuntun Sena menuju ruang UGD kembali. Tapi sampa sekarang belum ada dokter maupun perawat yang keluar dan memberi info lanjut soal kyai Firman. Disitu Sena takut terjadi sesuatu dengan satu-satunya orang yang ia punya disini. "Ya Allah, sembuhkan lah Abah. Kalau memang dengan menikahkan hamba dengan pilihan Abah bisa membuat Abah kembali sehat,hamba akan menyetujui pernikahan itu,hamba akan bersedia dijodohkan dengan siapapun orangnya". Kata Sena berdoa.
Tunggu punya tunggu akhirnya ada dokter dan perawat yang keluar. "Benar dengan mba Sena?" Tanya dokter itu. "Iya dok,saya anaknya ". Jawab Sena. "Begini mba. Kyai Firman saat ini sedang berada dalam masa kritis. Sementara waktu kami menyimpulkan bahwa beliau terkena serangan jantung berat. Dan hari ini kami akan memindahkan beliau ke ruang rawat inap untuk perawatan lebih lanjut ". Kata dokter menjelaskan keadaan kyai Firman.
Seketika itu jantung Sena seperti ikut berhenti sejenak. Ia langsung tertegun tak berdaya setelah mendengar kondisi abahnya. "Astagfirullah astagfirullah astagfirullah astagfirullah". Gumam nya yang mencoba tegar dengan selalu beristighfar. "Baiklah dok, pindahkan Abah saya ke kamar terbaik dan tolong lakukan semua usaha terbaik yang kalian kamu.....tolong sekali untuk sembuhkan Abah saya". Kata Sena sambil meraih tangan dokter itu. "Pasti mba Sena,kami akan membantu orang yang baik seperti kyai Firman. Beliau sudah banyak membantu rumah sakit ini. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan beliau. Tetap sabar dan berdoalah kepada Tuhan Semoga beliau segera diberikan kesembuhan dan dapat beraktivitas kembali". Ujar dokter tersebut kemudian meninggalkan Sena dan Asraf.
Sembari menunggu Kyai Firman dipindahkan ke ruang rawat inap, Sena memilih untuk pergi ke taman rumah sakit untuk menenangkan diri. Ia dan Asraf duduk berdua di taman itu. "Mas. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena mas sudah membantu saya dan abah padahal kita belum saling mengenal". Gumam Sena. "Kita memang belum saling mengenal. Tapi sebentar lagi kita akan mengenal lebih jauh dan bahkan tidak hanya mengenali tentang nama". Jawab Asraf yang sedikit membuat Sena bingung. "Kita???Mengenal lebih jauh??? maksudnya???". Tanya Sena bingung.
"Biar abahmu yang menjelaskannya nanti". Jawab Asraf yang semakin membuat Sena bingung. Entah apa maksud dari yang ia katakan tadi. Tapi senang memilih untuk tidak mengambil pusing dan membiarkan hal itu begitu saja.
Sena memutuskan untuk pulang ke rumah dan mengambil beberapa kebutuhan untuk dirinya dan Abah selama di rumah sakit. "Kau mau pergi kemana?" Tanya Asraf, "saya mau pulang, saya perlu mengambil pakaian dan beberapa peralatan yang harus saya bawa untuk beberapa hari menemani Abah". Kata Sena saat akan pergi meninggalkan taman.
"Biar aku yang mengantarmu". Kata Asraf sambil mengeluarkan kunci mobilnya. "Tidak perlu mas. Hujan sudah reda dan hari semakin malam, saya sudah sangat berterima kasih karena mas Asraf sudah mau membantu saya dan abah. Itu sudah sangat lebih dari cukup". Tolak Sena.
"Kau tahu hari semakin malam tapi kau tetap ingin pulang sendiri??? Tidak ikutlah denganku, Aku tidak merasa direpotkan sama sekali. Nantinya ini akan menjadi satu kewajiban untukku". Jawab Asraf.
Menyadari apa yang dikatakan Asraf ada benarnya, akhirnya senang memutuskan untuk ikut dengan Asraf. Dan mereka pun kembali ke pesantren berdua.
Sesampainya di pondok pesantren Mereka pun langsung turun dan Sena kemudian langsung segera mungkin membersihkan diri. Tak lupa menyuruh Asraf untuk menunggu di are rumah nya. Hanya ada beberapa orang yang diizinkan untuk masuk ke rumah Sena dan Kyai Firman.
Asraf pun ikut membersihkan dirinya di salah satu kamar mandi milik Kyai Firman. Setelah sama-sama bersih mereka akhirnya berwudhu dan akan pergi ke masjid pesantren untuk melaksanakan salat Maghrib.
Setibanya di masjid pesantren. Asraf kemudian mempersiapkan dirinya untuk memulai adzan. Saat waktu sudah tiba ia pun mulai mengumandangkan adzan. Disana Sena cukup tertegun dengan suara adzan Asraf. Begitu indah ,merdu,dan enak didengar. Sena belum pernah mendengar suara se indah ini sebelumnya. Hingga rasa sedih yang awalnya ia rasakan tiba-tiba sedikit terobati akibat suara adzan dari Asraf.
"Masyallah,indah sekali suaranya". Kata Sena dengan lirih.
Namun sayang setelah azan selesai dan iqomah akan dikumandangkan oleh salah satu santriwan. Sahrul tiba-tiba datang bersama Amir dan mulai membuat kegaduhan. Ya tidak terima karena biasanya ia dan Sahrul yang selalu mengumandangkan adzan dan juga iqomah di setiap 5 waktu salat.
Rasanya setelah kedatangan Asraf, dia tergantikan begitu saja. Emosi dan amarah pun meluap-luap di dalam hatinya hingga tidak bisa mengendalikan emosi. Padahal Amir sudah berusaha menenangkan Sahrul, tetapi gagal.
Sahrul akhirnya mendatangi masjid pesantren dan kemudian masuk dan mulai menghajar Asraf. Asraf menjadi bulan-bulanan Sahrul yang saat itu juga sudah sangat emosi berat.
Para santriwan dan juga Amir berusaha untuk melerai perkelahian itu. Pena yang melihatnya juga ikut panik dan tak tahu harus berbuat apa. "ASTAGHFIRULLAHALADZIM!!!!MAS.....BERHENTI!!!!ONO OPO IKI!!??" Cetus Sena yang juga ikut mencoba melerai Asraf dan Sahrul.
Sebenarnya di kala itu Asraf tidak terlalu melawan, tetapi bagaimanapun juga mereka tetap berkelahi. Sampai akhirnya perkelahian itu dihentikan oleh teriakan Sena. "CUKUP!!!!.....ONO OPO TO IKI??MAS SAHRUL, SAMPEAN NYAPO NGETEN NIKI???? KITA DISINI INGIN MELAKSANAKAN SALAT!!!KENAPA MAS TIBA-TIBA DATANG DAN KEMUDIAN MENGHAJAR MAS ASRAF??? ISTIGHFAR MAS.... ISTIGHFAR.... ELING GUSTI ALLAH MBOTEN SARE". Kata Sena sambil memegangi tubuh Asraf yang sudah babak belur.
Saat itu juga Sahrul menyadari bawa apa yang ia lakukan sangat salah. Iya terbakar oleh api cemburu sehingga melakukan hal yang tidak pantas kepada orang yang seharusnya mereka jamu sebagai tamu. "A.....ANU....DEK, MAAFKAN SAYA.....SAYA TIDAK BERMAKSUD SEPERTI ITU....." Kata Sahrul lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan keadaan Asraf.
Di saat itu juga hanya Amir yang bersedia mengejar Sahrul. Para santriwan dan santriwati lebih fokus kepada Asraf yang sudah tergeletak . Sena sempat berpikir Kenapa Asraf tidak melawan pukulan dari Sahrul, tetapi ia lebih memilih menepis pikiran itu.
"Mass... njenengan mboten nopo nopo??enten sing luka???" Ujar panik Sena yang melihat beberapa bagian tubuh Asraf membengkak. Sepertinya pukulan yang diberikan oleh Sahrul lumayan keras sehingga menyebabkan beberapa memar di bagian wajah dan juga lengan Asraf.
Tapi walaupun begitu Asraf menguatkan dirinya dan memberitahu bahwa dirinya aman sehingga mereka harus tetap melaksanakan salat Maghrib dan. Diiringi ia sebagai imam nya. Di dalam salatnya Sena sangat merasa bersalah atas kejadian yang telah menimpa Asraf. Padahal Asraf sudah membantunya dalam banyak hal hari ini, tetapi bukan jamuan yang baik yang didapatkan, malah sebuah pukulan dan hantaman keras yang ia terima.
Setelah salat pun Asraf terlihat hanya diam di tempat salat nya. Melakukan dzikir dan mulai bertadarus. Suaranya dalam membacakan ayat-ayat Alquran laki-laki membuat Sena semakin luluh. Suara yang indah itu belum pernah IA dengarkan sebelumnya. Bahkan ia mengakui suara abahnya sendiri belum pernah seindah itu. Sena bahkan mendengarkan tadarus Asraf hingga selesai, sangking merdunya suara Asraf tersebut.
Tapi ternyata tidak hanya senakoma santriwan dan santriwati lainnya juga melakukan hal yang sama. Mereka benar-benar kagum dengan suara indah yang dimiliki oleh Asraf. "Laki-laki itu cocok sekali ya dengan ustadzah. Sepertinya mereka berdua mempunyai kecocokan".
"Iya, ustadzah sangat pintar mengaji dan mempunyai ilmu yang tinggi, laki-laki itu juga mempunyai suara indah dan sepertinya juga mempunyai ilmu yang tinggi soal agama".
Ujar beberapa santriwati perlahan namun tetap terdengar oleh Sena. Tapi iya tidak menggubris ucapan tersebut dan hanya tetap menikmati suara indah Asraf hingga selesai bertadarus.