"Neng.."
Aku menoleh ke arah sumber suara yang menginterupsiku. Mencari tahu siapa yang memanggilku, karena yang aku tahu di sini tidak ada seorang pun selain aku.
Deg!!. Seperti ada berturan keras di dadaku ketika aku melihat seorang bertubuh tegap dengan penampilan menakutkan berdiri tidak jauh dariku.
"Neng. Sendirian aja?" Ucap orang itu yang kini melangkah mendekat ke arahku. Rasa takut pun kian menyelimutiku. Aku tidak tahu siapa dan mau apa orang ini, tapi dari penampilannya orang itu seperti orang jahat. Dengan badan yang tinggi, tubuh kekar serta tato yang hampir menghiasi seluruh lengan kanannya dan juga telinga yang di tindik. Ya Allah.. siapa dia. Lindungilah hambamu ya Allah..
"Sini Abang temenin." Ucap orang itu yang diiringi gelak tawa dan seringai andalannya yang terdengar menggelegar dan menyeramkan.
"Anda siapa? Jangan mendekat!! kalo anda maju, saya teriak." Ucapku yang semakin ketakutan. Ya Allah.. tolong Ara..
"Hahaha. Silahkan teriak. Enggak akan ada yang dengar teriakan kamu manis." Ucap orang itu dan terus mendekatiku.
"Mau lari kemana lagi Neng?" Tanya orang itu lagi. Dan kini aku sudah terpojokkan di dekat pohon. Mataku tidak sanggup lagi membendung air mata. Ya Allah. Orang ini mau apa?.
Orang itu terus saja mendekat ke arahku. Hingga kemudian dia menarik lenganku.
"Toloooong...toloooooong.." teriakku. ya Allah.. tolong hamba.
Aku berusaha melepaskan diriku. Tapi cengkeraman orang itu begitu kuat tenagaku tidak sebanding dengan orang itu.
"Tolooooong.!!!!!" Teriakku lagi.
"Lepasiin.. lepasiin.." teriakku. Tapi orang itu sama sekali tidak menggubris omonganku. Dia semakin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Aku semakin ketakutan aku meronta-ronta sembari terus berdoa semoga keajaiban datang kepadaku.
Sesaat kemudian, orang itu jatuh tersungkur dan tubuhku terlepas dari cengkeramannya, aku pun segera menjauh.
"Beraninya jangan sama cewek.!! Kalau berani sini lawan gue!!" Ucap seseorang yang memukul orang jahat itu, dia adalah Kak Abhi.
Orang jahat itu pun bangkit, lalu segera menghampiri Kak Abhi, keadaan sekarang benar-benar tegang. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
"Eh.. anak kemaren sore.!! Songong amat lo.!!" Ucap orang jahat itu dan melayangkan satu pukulan ke wajah Kak Abhi dan langsung membuatku menjerit
Perkelahian pun terjadi antara orang jahat itu dan Kak Abhi. Aku tidak tahu kenapa kak Abhi bisa kembali lagi ke sini. Yang terpenting adalah aku harus berterima kasih pada Allah karena telah mengirim kak Abhi untuk menolongku.
Kak Abhi memberikan satu pukulan pada wajah orang jahat itu. Kemudian orang itu memberi balasan dengan memukul bagian perut kak Abhi.
Aku yang ketakutanpun berlari mencoba mencari bantuan. Tapi tidak ada seorangpun yang aku jumpai untuk ku mintai pertolongan. Akhirnya aku memilih untuk menelfon polisi dan berjalan kembali ke tempat dimana kak Abhi dan orang jahat itu berkelahi. Dan di sana aku melihat kak Abhi masih berusaha melawan orang jahat itu.
Saat itu aku melihat seseorang berlari ke arah pekelahian, aku merasa bersyukur karena ada orang yang akan melerai mereka. Tetapi aku salah. Orang itu ikut memukul kak Abhi. Aku mulai panik kembali. orang itu menyerang kak Abhi dari belakang. "Awas kak di belakangmu....." kak Abhi menoleh ke belakang dan Kak abhi dengan cepat menangkisnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa aku tubuh ku kaku tidak bisa digerakkan karna terkejut saat melihat keadaan itu. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah mengirimkan bantuan untuk kak Abhi.
"Araa!!!" Panggil seseorang, aku menoleh dan segera berlari memeluk orang itu begitu aku mengetahui orang itu adalah adalah mas Fatah.
Lalu ada seseorang dari belakang mas Fatah berlari untuk membantu kak Abhi melawan orang jahat itu.
"Mas...mas.. tolongin dia!!." Ucapku, untuk sejenak mas Fatah menatapku yang masih ketakutan.
"Kamu tunggu sini. Biar mas bantu dia." Ucap Mas Fatah.
Namun, saat Mas Fatah hendak berlari, tiba-tiba sebuah mobil polisi datang dan langsung menghentikan perkelahian itu. Polisi menangkap dua orang yang tadi mengeroyok Kak Abhi, dan kita semua di minta untuk ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan.
"Lo enggak apa-apa?" Tanya seseorang yang tadi bersama mas Fatah pada kak Abhi.
"Gue enggak apa-apa." Jawab kak Abhi. Aku melihat wajah kak Abhi penuh dengan lebam, bahkan hidung dan sudut bibirnya pun berdarah.
"Tapi hidung kak Abhi..."
"Gue enggak apa-apa. Lo enggak apa-apa kan?" Akupun mengangguk.
"Ya udah, ayo buruan ke kantor polisi biar semuanya cepat selesai." Ucap kak Abhi kemudian berbalik menuju motornya.
"Gantle juga tuh cowok. Cowok lo ya Ra?" Tanya orang yang tadi bersama mas Fatah. Akupun menoleh untuk melihat wajah orang itu, karena sedari tadi aku tidak mengamati dengan jelas siapa orang itu.
"Kak Farhan???"
**
"Jadi cowok tadi guru bimbel lo Ra?" Aku pun mengangguki pertanyaan Kak Farhan. Dia adalah tetangga sekaligus sahabat SMP Mas Fatah yang dulu sempat pindah ke Surabaya. Dan kini dia sudah kembali
"Gue kira cowok lo. Kenapa enggak di pacarin aja sih?" Tanyanya yang mendapat jitakan dari Mas Fatah.
"Lo tuh, kalo ngajarin yang bener Kenapa? Ara itu bukan lo yang lihat cakep dikit langsung dipacarin." Ucap mas Fatah.
"Yaa dari pada elo Tah, dari jaman singkong sampe sandwich masih aja jomblo." Celetuk Kak Farhan yang membuatku tertawa.
"Tapi itu cowok beneran enggak apa-apa kan ya? Gue khawatir deh. Soalnya tadi enggak mau dibawa ke rumah sakit." Ucap Mas Fatah yang membuatku mengangguk setuju. Tadi setelah dari kantor polisi, Mas Fatah ingin mengajak Kak Abhi ken rumah sakit untuk memeriksa luka-lukanya. Tapi Kak Abhi dengan keras menolak dan malah langsung pergi.
Tadi, Mas Fatah mengatakan alasan dirinya begitu lama ketika menjemput, karena Mas Fatah sedang ada urusan, hpnya di silent dan sempat mati karena lowbat. Alhasil Mas Fatah tidak tahu jika aku menghubunginya, selain itu Mas Fatah jugavmengira jika aku sudah pulang bersama Syam. Dan kebetulan sekali, ketika Mas Fatah dalam perjalan pulang bersama Kak Farhan, dia melalui tempat bimbelku dan melihatku yang ketakutan.
"Mas, Kak. Ara ke kamar dulu ya." Ucapku kemudian, tubuh dan pikiranku sangat lelah, rasanya aku benar-benar ingin membaringkan tubuhku.
"Iya sana lo masuk. Udah malem juga, sana buruan tidur." Ucap kak Farhan yang ternyata belum berubah, alias masih bawel seperti dulu. Aku hanya tersenyum lalu segera melangkahkan kaki ku ke menuju kamar.
Aku menghirup udara yang ada di dalam kamarku. Mencoba untuk memejamkan mata. Tapi ternyata aku tidak bisa. Bayangan perkelahian Kak Abhi dan orang-orang jahat itu selalu saja berlarian dalam otakku. Apalagi saat mengingat wajah Kak Abhi yang babak belur, rasa bersalah itu seakan menghantuiku. Aku pun memutuskan menuju balkon kamarku untuk menatap gemerlap bintang, mungkin dengan menatapnya bisa membuatku sedikit tenang.
Ya Allah, terimakasih. Engkau telah mengirimkan Kak Abhi untuk menolong hamba. Jagalah dia ya Allah. Angkatlah sakitnya dan sembuhkanlah lukanya. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
**
"Kamu di gangguin preman, Ai?" Aku pun mengangguk.
"Tapi kamu enggak kenapa-kenapa kan?" Sekali lagi aku mengangguk.
Aku melihat wajah kekhawatiran Syam.
"Kok bisa gitu. Memangnya kamu enggak ada yang jemput? Kenapa enggak telfon aku aja sih? Jam segitu kan aku udah pulang? Kalau kamu kenapa-napa kan aku juga yang sedih." Aku tersenyum mendengar kekhawatiran dari Syam.
"Sebenernya aku udah sms mas Fatah. Udah telfon juga sih tapi gak di angkat, dan enggak tahu kenapa, aku enggak kepikiran sama sekali untuk telfon kamu."
"Terus gimana?."
"Aku di tolongin Kak Abhi."
"Kak Abhi?" Aku mengangguk lagi.
"Semalem dia nemenin aku nunggu jemputan, tapi karena lama dan dia ada acara jadi dia pamit dulu, setelah dia pergi tiba-tiba ada ornsg hahat itu datang, tapi enggak lama setelah itu, tiba-tiba Kak Abhi balik lagi terus berantem sama ornag jahatnya. Anyway, nanti temenin aku bilang terima kasih ke Kak Abhi yaa."
"Siap, aku juga mau terima kasih sama dia."
Aku mengernyitkan dahi. "Terima kasih? Soal apa?."
"Terima kasih karena sudah nemenin dan nolongin kamu." Aku tersenyum mendengar ucapan Syam.
"Makasih ya Syam."
"Buat?."
"Makasih aja."
"Ih enggak jelas."
"Biarin wlee! Ya udah yuk kita balik ke kelas." Ajak ku ketika aku mendengar bel masuk telah berbunyi."
**
Rasa ketakutan itu masih ada saat aku kembali menginjakkan kaki ku di tempat bimbel. Bayang-bayang kejadian kemarin malam tidak henti-hentinya mengusik pikiranku.
Aku masih berdiri di depan kelas bimbelku, menunggu kak Abhi lewat, karena hari ini dia tidak mengajar kelasku. Aku ingin berterima kasih padanya karena telah menolongku. Namun, lama menunggu dia tidak juga muncul, pikiranku melayang kemana-mana. Apakah dia sakit?.
Aku mencoba menepis semua pikiran burukku. Aku hanya berharap semoga kak Abhi baik-baik saja. Aku pun kembali menoleh ketika mendengar suara langkah kaki, aku berharap jtu adalah Kak Abhi. Dan benar saja di sana ada Kak Abhi yang tengah berjalan bersama Kak Adam yang juga guru bimbel di sini. Rasa bersalahku kian memuncak ketika melihat wajah Kak Abhi yang penuh lebam. Ternyata luka Kak Abhi lebih parah dari apa yang aku lihat semalam.
Aku pun menatap kak Abhi dan berusaha memanggilnya saat melewatiku tapi lidahku terasa kelu saat melihat wajah dingin Kak Abhi yang sama sekali tidak melirik keberadaanku. Ia terus berjalan bahkan ia berjalan lebih cepat dan meninggalkan Kak Adam di belakangnya.
Rasanya aku ingin menangis. Apakah dia marah kepadaku? Apa dia merasa aku penyebab dirinya seperti itu? Astagfirullahal'azim. Ya Allah jauhkan lah semua pikiran-pikiran burukku. Jauhkan hamba dari perbuatan su'udzon ya Allah.
Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk menghampiri Kak Abhi, karena pria itu kini telah memasuki kelasnya, aku harap Kak Abhi baik-baik saja dan diberi kesehatan serta kesembuhan.
***