Aku menatap langit yang mulai menguning. Merasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajahku. Perlahan tubuhku seakan ikut melayang bersama burung-burung yang berterbangan.
"Pelan-pelan Syaaaam!!" Teriakku saat Syam mulai mengayunkan ayunanku begitu tinggi.
"Katanya pengen terbang."
"Jangan tinggi-tinggi. Aku takut!"
Ucapku, tapi Syam malah mengayun ayunanku lebih kencang lagi.
"Syaaaaaaaaaammmm!!" Teriakku saat aku mulai ketakutan akibat ulah Syam. Karena aku memang sedikit takut ketinggian.
"Hahaha.. udah besar juga. Masih aja takut sama yang tinggi." Ucap Syam sambil menghentikan ayunanku.
Aku mulai turun dari ayunan dan beranjak untuk duduk di bangku yang ada di taman belakang rumahku. Umi ku yang mendesain taman kecil ini hingga menjadi sangat indah seperti ini.
Sekilas aku menatap Syam yang juga mendudukkan badannya di sampingku. Hampir setiap hari selama tiga belas tahun ini aku melihat wajah itu. Wajah yang selalu ada di saat aku senang maupun sedih. Aku bersyukur. Meski zaman telah berubah di makan waktu, setidaknya hubunganku dan Syam tidak berubah. Masih sama seperti dulu, dan aku berharap selamanya akan begitu.
"Ai, kamu percaya enggak. Kalau ada cowok sama cewek bersahabat lebih dari sepuluh tahun 99% salah satu di antara mereka atau kedua-duanya punya perasaan suka."
Aku menoleh menatap Syam. Sedikit tersentak dengan ucapannya tapi kemudian aku menggeleng. Karna aku tidak percaya dengan hal seperti itu. Aku jadi ingat perbincanganku beberapa waktu lalu ketika Syam menanyakan apakah aku pernah suka kepadanya saat di danau.
"Kenapa?" Tanya Syam sembari menatapku.
Aku mengendikkan bahu "Entahlah.. menurutku itu hanya persepsi sebagian orang aja. Memangnya kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu? Apa kamu percaya? Atau jangan-jangan kamu suka sama aku ya?." Tanyaku sembari menaik turunkan alisku.
Syam tertawa. "Ish, pede banget!."
Aku mendengus. "Lagian kamu dari kemarin nanyain hal kayak gitu terus."
"Ya, Kan penasaran aja."
"Penasaran aja atau penasaran banget?." Godaku yang seketika membuat Syam kesal.
"Ish terserah lah, atau jangan-jangan kamu berharap aku suka sama kamu ya?."
Aku mendengus. "Pede banget."
"Anyway." Ucap Syam kemudian, sepertinya dia ingin mengganti topik pembicaraan.
"Penulis yang kamu suka itu siapa? RA ya?." Tanya Syam yang membuatku seketika teringat kepada RA, beberapa hari terakhir ini dia tidak pernah mengupload puisi, padahal sejak kemarin langit malam benar-benar indah.
"Iya, kenapa?."
"Kayaknya aku tahu deh dia siapa." Ucap Syam yang seketika membuat mataku terbelalak.
"Serius?."
"Enggak yakin, tapi kayaknya benar."
Mendengar Syam membuatku semakin penasaran. Benarkah Syam mengenal sosok RA? Atau dia bohong?.
"Terus kenapa kamu bisa bilang kalau kamu tahu siapa RA?."
"Jadi tuh, kemarin aku pinjam hp seseorang, terus pas dia ngasih hp, hp nya masih masuk di halaman blog, dan waktu aku lihat, itu blognya RA dan dia sebagai penulis."
"Hah?? Beneran?? Siapa orangnya? Aku kenal enggak?."
"Kenal."
"Hah? Serius?." Tanyaku semakin antusias, benarkah aku mengenal RA, berarti RA adalah orang di sekitarku?. Aku mencoba mengingat-ingat tulisan RA, penggambaran suasana langit malam atau keadaan langit yang dia tulis memang kalau di pikir-pikir lagi sama persis dengan suasana langit yang aku lihat. Berarti memang benar jika RA adalah orang yang berada di sekitarku atau paling tidak bertempat tinggal satu kota denganku.
“Siapa Syam, siapa orangnya?” Tanyaku penasaran, bahkan sangat-sangat penasaran
“Besok aja, kalau aku yag kasih tahu nanti enggak seru, biar kamu tahu sendiri aj.”
“Ih, mana bis..”
"Eh lo Syam kan?" sebuah suara tiba-tiba menginterupsiku dan Syam sehingga aku dan Syam pun kompak menoleh.
Syam menatap orang itu dengan bingung, lalu menganggukkan kepalanya.
"Siapa Ai?" Bisik Syam. Aku hanya mengendikkan bahuku sambil tersenyum.
"k*****t lo ya. Bisa-bisanya lo lupa sama gue. Syampret.. Syampret. Bisa-bisanya lupa sama makhluk seganteng gue."
Mendengar ucapan itu, seketika mata Syam terbelalak "Woooaaahh. Gila!! Kak Farhan!! Masih aja panggil gue Syampret!!" Ucap Syam kemudian memeluk Kak Farhan.
"Gue tahu kalau gue cakep. Tapi gue gak doyan sama lo. Jadi plis lepasin gue, jangan lama-lama." Ucap Kak Farhan yang membuat Syam terkekeh.
Sedangkan aku dan mas Fatah hanya tertawa melihat tingkah dua orang itu, dulu itu Kak Farhan dan Syam benar-benar seperti kakak adik, mengingat Kak Farhan yang anak terakhir di keluarganya dan Syam yang anak tunggal, jadi Kak Farhan memposisikan Syam sebagai adiknya sendiri, begitu pula sebaliknya. Maka dari itu tidak heran jika kedua orang ini terlihat akrab meski sudah lama tidak bertemu.
"Btw, kok lo jadi cakep kayak gini sih Syam? Pelanggaran ini, padahal dulu masih bocil."
"Dari dulu juga gue udah cakep kali kak. Lo aja yang nyadar. Dan lo kok jadi makin tua sih?" Ucap Syam yang membuat kak Farhan berdecak.
“Wah.. wah.. kurang ajar nih.”
Aku terkekeh menyaksikan perkelahian dua orang itu, mereka benar-benar seperti Tom dan Jerry.
“Ngomong-ngomong, kalian awet ya?.” Ucap Kak farhan sembari menatapku dna Syam secara bergantian.
“Awet?’”
Kak farhan mengangguk. “Iya awet, dari dulu barengan terus. Udah cocok lah pokoknya, buruan di halalin aja Syam.”
Aku mendengus mendengan ucapan Kak Farhan, begitu pula dengan Syam. “Tuh kan mulai lagi ngaconya.” Secara bersamaan.
“Tuh-tuh.. lihat. Gue bilang juga apa. Udah cocok banget kan? Mana segala ngomong samaan.”
“Sudah- sudah. Berantemnya di lanjut nanti lagi, ayo Han, kita keburu telat.” Ucap Mas Fatah melerai, lalu setelah itu mereka berpamitan untuk pergi. Katanya ada sesuatu yang harus diselesaikan.
**
"Lusa Abi mau mengundang sahabat Abi buat makan malam di sini." Ucap Abi setelah [h1] menyeruput kopi panasnya. Abhi dan Umi baru saja pulang sore tadi.
Saat ini kami sekeliarga tengah berada di ruang keluarga untuk saling bercengkerama dan bertukar cerita. Kami bercerita tentang segala hal. Termasuk cerita yang tempo hari menimpaku. Dan sayangnya sampai saat ini, satu minggu setelah kejadian itu, aku belum mengucapkan rasa terima kasih ku kepada Kak Abhi. Karena akhir-akhir ini aku jarang melihatnya. Sekalipun aku melihat dirinya dia seolah selalu menghindariku.
"Siapa Bi?. Om Idris? Atau Om Wahyu?" Tanya mas Fatah.
"Bukan. Om Dirga, sahabat Abi dan Umi dulu waktu kuliah. Kalian juga udah pernah ketemu, tapi dulu waktu Ara masih umur enam tahun. Soalnya dulu Om Dirga sama istrinya sempat pindah dan balik lagi kesini waktu anaknya masuk SMA." Jelas Abi. Aku dan Mas Fatah pun mengangguk.
Setelah itu kita kembali bercerita banyak hal hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Mi.. Bi.. Ara ke kamar yaa. Ara udah ngantuk nih." Ucapku, mataku benar-benar terasa sangat berat, alias mengantuk.
"Yasudah. Sana tidur.. besok sekolah juga kan?" Aku menganguk.
Sebelum kembali ke kamar, Aku memeluk Umi, kemudian mencium pipi Abi serta mencubit lengan Mas Fatah dan berlari pergi.
"Dasar tukanh cubit!!" Teriak mas Fatah kesal sedangkan Abi dan Umi tertawa melihatnya. Aku meghiraukan ucapan Mas Fatah dan segera berlari menuju kamar.
Sesampainya kamar, aku gosok gigi, cuci muka dan tentu saja berwudhu terlebih dahulu. Setelah itu barulah aku beranjak untuk tidur. Tapi baru saja aku akan memejamkan mata, sebuah suara notif yang masuk kedalam hpku berbunyi. Aku mengambilnya dan melihat notif itu. Satu yang membuatku senang, itu notif dari blog RA yang menandakan RA memposting puisi baru, dengan segera aku membukanya.
Bak memainkan sebuah Drama.
Dimana aku sebagai tokoh utamanya.
Ingin ku teriakkan jika 'Aku merindukanmu'.
Tapi apalah dayaku.
Aku hanya bisa menatapmu dari jauh.
Bukan menatap, hanya sekilas bertemu bayangmu.
Karna aku tak sanggup menatap kilaumu yang selau membuatku takut. Takut akan kehilangan yang begitu menyakitkan..
Kejora.. Aku merindukanmu..
-RA-
Aku menghela nafasku, kejoraa oh kejora.. siapakah dirimu.. kenapa kamu selalu membuat RA galau?. Entah mengapa aku selalu terbawa suasana dengan semua puisi RA. Baik itu sedih ataupun bahagia. Ah sudahlah. Lebih baik aku segera tidur. Bukankah dari awal niatku begitu?
**
Bukan tanpa alasan seseorang mempunyai rasa cinta. Entah itu pada orang yang tidak kita kenal ataupun orang yang kita kenal. Terlebih kepada sahabat kita sendiri. Entah mengapa sejak kemarin aku selalu teringat kata-kata Syam mengenai mitos yang mengatakan 99% diantara laki-laki dan perempuan yang bersahabat akan melebihi sebuah perasaan yang lebih dari sebuah rasa persahabatan. Sebut saja friendzone.
Aku tak tahu bagaimana perasaanku kepada Syam. Tapi sejauh ini yang aku rasakan hanyalah rasa sayangku kepada Syam yang tidak lebih dari rasa sayang seorang sahabat.
Pikir saja, jika aku suka kepada Syam. Harusnya aku cemburu setiap kali ada perempuan yang mendekati Syam. Tapi apa?. Aku tidak cemburu sedikitpun, hanya saja aku sedikit terluka apabila perempuan itu menganggapku sebagai penghalang kedekatannya dengan Syam.
Oh Syaaam... kenapa kata-katamu tak bisa lepas dari pikiranku. Sebenarnya apa yang kamu mau bicarakan.?
"Heii.." aku tersentak lalu mengalihkan pandanganku pada orang yang kini menatapku.
"Mau turun nggak? Atau mau di sini aja?" Tanya orang itu.
Aku mengalihkan pandanganku, mencoba melihat sekelilingku. Dan benar, mobil yang aku tumpangi telah berhenti di halaman rumahku.
"Oke, aku turun ya.." ucapku, aku segera merapikan tas dan segera bergegas untuk menuruni mobil.
"Ai.."
Aku menoleh menatap Syam yang kini juga menatapku.
"Ya?"
"Aku pengen ngomong sama kamu." Ucapnya. Aku mengurungkan niatku untuk turun dari mobil Syam. Aku sedikit memiringkan tubuhku agar bisa berhadapan dengan Syam.
"Kalau aku pergi, apa kamu akan merindukanku?"
Deg!! Pergi? Apa maksud Syam? Aku tidak mengerti.
"Pergi kemana?" Tanyaku.
"Enggak.. aku hanya bertanya, jika aku pergi apa kamu akan merindukanku?" Tanyanya lagi.
"Menurut kamu?"
"Yess"
"Idih pede banget." Ucapku.
"Memang kamu nggak bakal kangen apa sama aku?" Tanya Syam lagi.
"Memang kamu mau kemana?" Tanyaku masih penasaran.
"Nothing.. udah sana turun.." usir Syam. Dasar ini anak hobi banget bikin penasaran yang nggak ada ujungnya. Malah sekarang ngusir-ngusir lagi.
"Iya..iya aku turun. Daah Syamilll." Ucapku sambil melambaikan tangan.
***