Nafas Ayu tersengal. Kini indera pendengarannya kembali pulih. Sayup-sayup Ayu mendengar suara seseorang sedang berbicara. Memakai bahasa Indonesia, tapi dengan logat yang aneh.
Aroma kopi dan juga harum bunga tercium jelas di ujung hidungnya. Mengingatkan Ayu pada masa kecilnya yang pernah ia lupakan.
Aroma yang menenangkan. Membuat nyaman.
Kelopak mata Ayu perlahan terbuka. Lalu seorang wanita berkulit putih s**u, berpakaian seragam pelayan berwarna hitam dengan celemek putih berenda yang terikat di pinggangnya itu langsung berteriak, “Lord, miss is awake!” serunya sambil segera berlari.
Semakin lama kelopak mata Ayu yang masih terasa berat itu membuka. Ia mengusap sepasang matanya yang indah dengan tangan kanannya. “Sial ...,” gerutunya dan kemudian mengerjap.
“Sayang, kamu sudah bangun?” Suara seorang pria bertanya pada Ayu.
Ayu terkejut. Ia langsung menoleh ke sumber suara. Awalnya padangannya berkabut dan tidak jelas, efek dari obat bius yang sudah disemprotkan padanya. Namun lama kelamaan ia pun bisa melihat dengan jelas.
“Maafkan Adelio sayang. Dia terpaksa melakukan ini karena kamu terus meronta,” ujar pria itu lagi.
Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Agar pandangan matanya benar-benar pulih. Tidak berbayang dan berkabut lagi. “Siapa kamu?” tanyanya dengan nada bicara tegas.
Pria yang berbicara padanya itu pun tersenyum. Berjalan mendekat. “Aku Albert, ayahmu.”
Jantung Ayu seraya berhenti berdetak. “Deg!” Yang benar saja tiba-tiba pria berkebangsaan asing ini mengaku sebagai ayahnya.
“Apa-apaan ini?!” pekik Ayu tidak percaya. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Baru tersadar jika dirinya sedang berada di dalam kamar luas nan indah. Seraya berada di negeri dongeng. Kamar indah dengan ranjang kayu berkelambu putih. “Di mana aku?!”
“Kamu bersama Ayah. Tenang Nak ... Sudah lama Ayah menantikan kepulanganmu ...,” kata Albert dengan kedua mata berkaca-kaca. Terharu penuh kerinduan.
Ayu sama sekali tidak mengerti dengan yang terjadi. Beberapa kali dijelaskan jika pria di depannya ini adalah ayahnya, Ayu tetap tidak percaya. “Aku ingin pulang!” teriaknya ketakutan.
“Apa kamu tidak ingat dengan ayah?” tanya Albert lagi. Ia menatap lekat manik mata Ayu yang berwarna amber.
Tanpa sadar Ayu membalas tatapan itu. Merasakan ketenangan dan kenyamanan di dalamnya. “Ayah ...?” tanyanya lirih.
Bola mata Albert berwarna sama dengannya. Dan aroma disekitar Albert membuatnya tenang dan nyaman. Terasa familiar.
“Apa kamu benar ayahku?” tanya Ayu dengan suara parau dan pelupuk mata yang sudah menggenang air mata.
Albert menganggukkan kepalanya pelan sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menahan tangis yang tercekat di kerongkongan. “Apa kamu ingat ini?” tanyanya sambil mengandahkan tangan ke samping. Meminta Adelio memberikan satu album foto.
Dengan sigap, Adelio memberikan album keluarga di tangan Albert.
Albert, pria paruh baya berumur lima puluh lima tahun dengan tubuh yang masih gagah dan tegap seperti pria berumur empat puluh lima tahun itu memberikan album keluarga pada Ayu.
Album foto keluarga yang selalu disimpan Albert seperti sebuah harta karun yang tidak ternilai. “Lihatlah ....”
Ayu mengambil foto album itu dengan tangan gemetar. Album foto lawas yang masih terawat membuat jantungnya berdegup kencang. Jika apa yang dikatakan Albert benar, ia adalah anaknya. Pantas saja, dirinya sering disebut blesteran. Ternyata itu semua bukan kebetulan. Bukan juga karena ia mirip dengan almarhum Neneknya yang memang berkulit putih dan bersih. Ternyata Ayu memang keturunan dari orang tua beda negara.
“Ayo lihatlah ...,” kata Albert pada saat tangan Ayu tak juga membuka halaman depan album foto.
Ayu menelan ludah.Perlahan tangan gemetar itu membuka album foto seperti yang diminta Albert. Dan baru juga satu foto paling depan yang dilihat, Ayu sudah amat terkejut. Wajah Larasati, ibunya terpampang nyata bersama Albert dengan senyuman bahagia mengarah pada kamera.
Mereka seperti pasangan yang saling mencintai dan sangat bahagia. Berpose dengan kepala ibunya bersandar di d**a bidang Albert. Pemandangan yang menjadi latar belakang itu nampak jelas seperti di Indonesia, negara asalnya.
Tanpa sadar air mata meluncur pelan dari kedua mata Ayu. Terharu dengan kenyataan yang baru diketahuinya ini. Ayah yang selau dipertanyakannya itu sekarang ada di hadapannya. Mengajaknya berbicara dan memperlakukannya dengan lembut.
“Di album itu juga ada fotomu saat masih bayi dan balita,” ucap Albert yang juga dengan suara parau. Susah payah Albert menahan tangisnya. Menahan rasa rindunya.
Tangan Ayu gemetar membuka lembaran foto di baliknya. Ya, benar! Semua foto di dalamnya adalah foto kebersamaan ibunya dengan Albert. Juga foto dirinya ketika masih bayi hingga berumur empat tahun.
“Lalu ....” Ayu memotong kalimatnya sendiri. Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. “La−lalu kenapa kamu memanggilku dengan nama Danisha?” tanya Ayu dengan suara bergetar.
“Karena namamu, Danisha Ayu Diska. Aku yang memberikan nama depan, Danisha padamu,” jawab Albert. “Entah kenapa Larasati menghapus nama depanmu itu ....”
“Dan jika kamu memang ayahku, kenapa selama ini tidak pernah menemuiku? Bahkan aku telah lupa bagaimana wajah dan nama ayahku sendiri. Ke mana saja ayah selama ini? Apa ayah tidak menyanyangiku?” tanya Ayu dengan suara parau.
Albert memegangi kedua pipi Ayu. “Ayah menyanyangimu. Tapi ayah tidak bisa menemuimu karena perjanjian yang dibuat ibumu dan ayah ketika berpisah. Ayah tidak bisa menemuimu hingga kamu berumur dua puluh tahun.”
“Maksudnya, kedatanganku ke Austria ini bukanlah kebetulan?” tanya Ayu lagi.
“Ini adalah takdir,” jawab Albert yang masih tidak difahami Ayu.
“Takdir ...?” Kedua alis Ayu beradu.
“Iya sayang, ini adalah takdir. Sebetulnya ayah ingin pergi mengunjungimu. Tapi detektif yang ayah suruh mencari tahu tentang kamu mengatakan, Danisha Ayu Diska sedang melancong ke Austria. Bukankah hal ini adalah sebuah takdir? Jadi ayah tidak usah repot-repot ke negara ibumu.”
“Ini takdir ...?” guman Ayu masih dalam kebingungan.
“Ini takdir Danisha sayangku. Takdir yang membuatmu bisa ke mari ....”
Kerongkongan Ayu serasa kering. Ya, memang ini adalah takdir! Pikirnya. Ini adalah jawaban dari semua doa-doanya yang selalu ia panjatkan pada Tuhan. Jika ia ingin bertemu dan tinggal bersama sang Ayah.
“Danisha ... anakku,” kata Albert penuh rasa sayang dan suara parau karena rasa haru yang mendalam.
Tatapan mata Ayu yang tadi tertunduk kini mengandah. Menatap lurus Albert yang ada di hadapannya. “Ayah ...,” desisnya lirih. Air mata meluncur dengan cepat menyusuri pipinya yang putih.
Melihat air mata putrinya, kini ketegaran Albert langsung runtuh seketika. Ia pun menangis. Ayu langsung memeluk Albert yang duduk di sampingnya. Sekarang ia percaya jika Albert adalah ayah kandungnya.
“Ayah ... aku merindukanmu ...,” bisik Ayu sambil memeluk erat Albert. “Sudah sangat lama aku ingin bertemu dengan ayah.”
“Ayah juga merindukanmu, Danisha sayang ... Kamu adalah pewaris satu-satunya istana ini.”
Kedua mata Ayu membulat. Ia tidak percaya dengan kalimat yang baru saja terdengar di indera pendengarannya. “Apa ...? Istana?!”