“Istana ...?” Ayu mengulang kata itu sekali lagi. Kali ini dengan suara yang jauh lebih pelan. Seolah ia takut kalimatnya sendiri terdengar bodoh.
Albert melepaskan pelukannya perlahan. Lalu menepuk punggung tangan putrinya dengan penuh sayang. “Duduklah dulu sayang. Ayah akan menjelaskan semuanya.”
Ayu menurut. Ia duduk di tepi ranjang berkelambu putih itu dengan kedua kaki yang masih terasa lemas. Entah karena sisa obat bius yang disemprotkan Peter, atau karena kenyataan yang datang bertubi-tubi sejak ia membuka mata tadi.
“Rumah ini sudah berdiri sejak tiga ratus tahun yang lalu,” kata Albert sambil mengandahkan tangan ke arah jendela besar yang masih tertutup tirai tebal. “Orang-orang di sini menyebutnya istana. Ayah lebih suka menyebutnya rumah. Tapi apa pun namanya, semua ini akan menjadi milikmu, Danisha.”
Adelio yang sejak tadi hanya berdiri diam di dekat pintu segera melangkah. Dengan sigap ia menarik tirai tebal itu hingga terbuka lebar.
Cahaya matahari sore langsung masuk memenuhi ruangan.
Ayu terkesiap. Dari jendela yang tingginya dua kali tubuhnya itu, ia bisa melihat taman seluas lapangan bola. Air mancur batu di tengahnya. Deretan pohon yang dipangkas rapi. Dan jauh di belakang sana, bukit hijau yang ujungnya tertutup kabut tipis. Di sisi kanan taman ada bangunan panjang beratap coklat. Sepertinya kandang.
“Ini ... semua ini milik ayah?” tanya Ayu tanpa berkedip.
“Milik keluarga Konstanti,” jawab Albert. “Dulu milik almarhum kakekmu, lalu turun pada ayah. Dan sekarang, yang tersisa hanya ayah dan kamu.”
Kerongkongan Ayu kembali terasa kering. Gadis yang tujuh hari lalu masih menghitung sisa uang untuk membayar montel murah itu, sekarang diberitahu jika dirinya adalah pewaris sebuah istana. Rasanya seperti mimpi yang tidak masuk akal.
“Ayah bercanda kan ...?” gumannya lirih.
“Untuk apa ayah bercanda?” Albert tersenyum tipis. “Besok ayah akan mengajakmu berkeliling. Semua ruangan, semua tanah di balik bukit itu. Kamu harus mengenalnya.”
Ayu tidak langsung menjawab. Ada satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di kerongkongannya dan akhirnya keluar juga. “Tapi ... kalau ayah sekaya ini, kenapa aku dan ibu hidup pas-pasan di Indonesia? Kenapa ibu tidak pernah menceritakan apa pun tentang ayah? Sekali pun tidak pernah!” Tanpa ia sadari suaranya meninggi.
Senyuman di wajah Albert perlahan memudar. Pria paruh baya itu memandangi lantai cukup lama sebelum akhirnya menjawab. “Ada hal-hal yang belum bisa ayah ceritakan sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena kamu baru saja tiba, sayang. Ada waktunya nanti. Ayah janji.”
Ayu ingin mendesak lagi. Tapi melihat raut muka ayahnya yang tiba-tiba berubah muram, ia mengurungkan niatnya.
Hening.
“Barang-barangku ...!” Ayu tiba-tiba teringat sesuatu. “Semua barangku ada di montel. Paspor, koper, semuanya!”
“Sudah diambil, Nona,” sahut Adelio dengan muka datarnya. “Koper dan tas Nona sudah ada di kamar sebelah. Sewa montel juga sudah saya lunasi.”
Ayu menoleh cepat. Ia menatap pria bule itu dengan tatapan tajam. “Jadi kamu masuk ke kamarku dan mengobrak-abrik barangku?”
“Saya hanya menjalankan perintah Tuan Albert.”
“Kamu juga hanya menjalankan perintah waktu menyemprotkan obat bius ke muka aku?”
Adelio terdiam. Ia melirik ke arah Albert, seolah meminta pertolongan.
Albert justru tertawa kecil. “Sudah ... sudah. Adelio, tinggalkan kami dulu.”
“Baik Tuan.” Adelio membungkuk sedikit, lalu keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Albert kembali menatap putrinya. “Mulai hari ini, semua orang di rumah ini akan memanggilmu Nona.”
Nama panggilan itu terdengar amat asing di telinga Ayu sendiri. Nona. Padahal seminggu yang lalu ia masih ditolak bekerja di sebuah mini market karena tidak bisa berbahasa setempat.
Malam itu Ayu sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ia berbaring di atas ranjang yang empuknya keterlaluan itu sambil memandangi langit-langit kamar yang penuh ukiran. Di dalam kepalanya hanya ada satu wajah. Wajah ibunya. Wanita yang selama dua puluh tahun lebih menyimpan semua ini rapat-rapat, dan sebentar lagi akan menikah dengan Om Bondan tanpa pernah sekali pun menyebut nama Albert Simon Konstanti.
***
Tiga pekan berlalu tanpa terasa.
Ayu masih juga belum terbiasa. Setiap pukul tujuh pagi ada pelayan yang mengetuk pintu kamarnya, membawa nampan berisi teh dan menyiapkan gaun yang sudah disetrika rapi. Sarapannya roti, keju, dan buah. Tidak ada nasi. Perutnya sempat protes selama satu pekan penuh sebelum akhirnya menyerah.
Albert menepati janjinya. Di hari kedua, ayahnya itu mengajaknya berkeliling. Ada ruangan yang isinya hanya lukisan orang-orang berpakaian kuno, yang katanya adalah kakek buyutnya. Ada ruangan makan dengan meja sepanjang delapan meter. Ayu sampai lupa jalan pulang ke kamarnya sendiri dan harus bertanya pada pelayan.
“Good morning, Miss.”
“Iya ... eh, good morning,” jawab Ayu tiap kali. Selalu terlambat sedetik. Dan para pelayan itu selalu menunduk saat ia lewat, membuat Ayu ikut-ikutan menunduk karena tidak faham harus bersikap bagaimana.
Yang paling membuatnya kikuk adalah Adelio. Entah siapa yang memerintahkan, ke mana pun Ayu melangkah, pria itu selalu ada tiga langkah di belakangnya. Ke taman, ke ruang perpustakaan, bahkan ke dapur. Ayu tidak pernah bertanya kenapa. Ia masih kesal setiap kali teringat botol kecil yang disemprotkan ke wajahnya di tepi danau itu.
Pada Viona, Ayu hanya mengirimkan pesan singkat. ‘Aku aman. Aku ketemu ayah kandungku. Nanti aku ceritakan.’ Tiga baris. Tidak lebih. Karena Ayu sendiri belum tahu harus mulai bercerita dari mana.
Sedangkan pada ibunya, Ayu belum mengirimkan apa pun.
Hingga pada suatu pagi, Ayu menuruni tangga dan mendapati rumah yang tidak seperti biasanya. Para pelayan hilir mudik. Vas-vas bunga diganti dengan yang baru. Aroma kue panggang tercium sampai ke ujung lorong. Dan Albert sudah rapi dengan setelan jas, padahal jam masih menunjukan pukul delapan.
“Ayah mau ke mana?” tanya Ayu heran.
“Tidak ke mana-mana. Hari ini ada tamu penting,” jawab Albert sambil membetulkan letak kancing lengannya.
“Tamu penting?” Kedua alis Ayu beradu. “Rekan bisnis ayah?”
Albert menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik nafas panjang sebelum menjawab. “Namanya Rashad. Dan dia ... calon suamimu.”
Deg!
Kaki Ayu berhenti tepat di anak tangga terakhir. “Ca−calon suami?” Suaranya terbata. “Ayah bilang apa tadi? Calon suami?!”
“Kamu sudah dijodohkan sejak lama, sayang.”
“Dijodohkan?! Aku bahkan baru tiga pekan mengenal ayah!” pekik Ayu tidak terima. “Aku tidak pernah diberitahu apa-apa! Ibu juga tidak pernah!”
“Makanya sekarang ayah beritahu,” jawab Albert tenang. Terlalu tenang untuk ukuran kalimat sebesar itu.
“Tapi Ayah−”
“Dia sudah menunggu di ruang tamu sejak setengah jam yang lalu.”
Kalimat terakhir itu membuat semua bantahan yang baru tersusun di kepala Ayu buyar seketika.
Ayu memandangi gaun selutut yang dikenakannya. Lalu rambut panjang bergelombangnya yang bahkan belum sempat disisir rapi pagi ini. Ia ingin lari kembali ke kamar. Tapi tangan Albert sudah lebih dulu menggandengnya.
Kaki Ayu terasa amat berat saat melangkah menyusuri lorong panjang itu. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya penuh oleh pertanyaan yang belum satu pun terjawab.
Di ruang tamu, seorang pria tinggi berdiri membelakangi pintu. Ia sedang mengamati lukisan besar yang tergantung di dinding. Punggungnya tegap dan rambutnya hitam legam.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, pria itu berbalik.
Dan saat sepasang matanya bertemu dengan mata Ayu, seulas senyuman langsung terbit di wajahnya.