Hai gadis
Kau cantik sekali
Kenalkan...aku pengagum mu
Ingin ku sentuh wajahmu
Agar kau tahu bahwa kau memang cantik
Singkaplah sesaat tirai di hati
Agar asmara terlampiaskan
Biarkan sejenak rayuan ku terbuai
Agar kau terkenang kesan saling menggapai.
Hai pujaan hati
Kau selalu ku puji berbagai bidadari
Agar ku dapat selalu yang ku cari
Tak kan ku berheni pasrah dalam ingin ku
Lebih dari sekedar yang telah kau beri
Tak kan puas ku berhenti sampai di sini
Hingga ku dapat lebih banyak lagi
Lagi..
Lagi..
Dan lagi...
Padahal Tuhan tahu, tapi kau menunggu
Semak-semak jadi saksi bisu
Bergelimang dosa tak menentu.
Aku tak terpikir bahwa aku merasa dosa besar
Akibat lelaki itu merayuku
Aku merasa berdosa dan kenapa
Aku selalu mendengar rayuan lelaki.
Dan kini ku menyesal dengan hidupku
Setelah aku di nodai oleh
Lelaki itu.
Aku Cuma kali ini bisa menjaga anak-anak
Setelah lahir ke dunia
Dan hidup bersama anak-anak
Saat tanpa sosok lelaki ini.
Kini dan nanti
Pada sang buah hati
Aku bisa merasakan bertemu buah hatiku
Dan menjaga, memelukmu dan mencium
Anak-anak.
Tapi cintaku dan cintamu, bagaikan madu dan racun
Dari bicara biksumu ini adalah kehancuran
Madu beracun, racun madu
Kita sama-sama mematikan, pada jiwa penglana
Pencari kebenaran.
Kau harus menjelaskan semua kesalahanmu ini
Berbalur birahi cinta kita yang dalam
Tetapi selalu dengan kesalahan kita
Selama ini.
Kita bicara pada tuhan yang menciptakan
Tapi dalam kesucianNya, kita pula yang menghujatNya
Aku dan kau tentu berbeda.
Dengan masa depan nantinya
Tidak ada yang bisa mengulangi lagi
Dengan seperti dulu, setelah kita berdoa
Dan minta ampunan dari tuhan.
Namun bagaimana dengan keluarga kita setelah
Cahaya itu hadir ke dunia.
Ciptaan tuhan inilah adalah anugerah
Dari Allah SWT.
Kita sama pada semua Indrawi
Tapi kita beda pada hati
Kini antara madu dan racun sudah sama
Tapi akibat meriam yang ditembakkan sama
Kini madu dibilang racun
Racunlah sebenar-benar madu
Akibat semua bom rakitan ke telinga
Dan madu tetaplah madu
Racun tetaplah racun.
Tak sekali langit menggerutu
Menghiasi tangisan-tangisan senduh
Para ibu mengeluh
Berselimut duka penuh haru
Dan kau tak jua malu.
Kini ku Cuma ingin memohon maaf
Dari kau dan keluargaku bahwa kita akan menjagamu
Dan anak-anak.
Agar kita bisa memperbaiki hatimu ini
Dan bisa menjalani hidup secara terpisah
Atau kembali lagi hatiku dan hatimu.
Karena dia sangat kuat untuk cukup menjalani kehidupan
Setelah itu perempuan yang menjadi hawa nafsu cinta
Tuan yang sudah menghancurkan masa depan terhadap
Perempuan ini, sampai dia harus berkorban untuk
Kekuatan untuk aku bisaa perjuangan kan hidupku ini
Semua energi untuk dulunya jadi hawa nafsu cinta
Aku berdoa semoga tidak ada lagi badanku yang
Memperkenalkan hawa nafsu cinta ke lelaki ini
Maka kali ini aku akan berhati-hati pada hatiku ini.
Semua rayuan ini
Membuatku menjadi tergila-gila
Dengan laki-laki ini karena kau agar aku
Bisa mendapatkan rayuanmu ini
Untukku.
Aku bisa saja teriak untuk badanku ini
Dari godaan lelaki ini…
Kau ini…
Nafsu cintamu ini
Tidak akan aku bisa menerima
Kegilaanmu ini
Ke aku…
Dasar cowo mata keranjang.