Seperti yang Hyden katakan sebelumnya, bahwa wajahnya adalah hal pertama yang Lenora lihat begitu ia membuka mata.
Sebuah pemandangan yang sangat indah ketika memandang pria itu yang ternyata memiliki bulu mata yang panjang, hidungnya yang mancung, bibir berwarna merah , dan rambut keemasannya yang membuatnya terlihat seksi. Jika tertidur seperti ini dia tampak manis, sama sekali tidak terlihat jika dia adalah pria yang arogan dengan harga diri tinggi dan selalu membuat teman-temannya melakukan apa yang dia perintahkan.
Lenora tidak percaya jika dia menikah dengan pria seperti Hyden. Bukankah dia berada di tempat terlalu jauh dengannya yang hanya orang biasa ini ?
Sambil memikirkannya, perlahan-lahan tangan Lenora menyentuh bibirnya. Tak disangka bibir itu sangat lembut. Dia terlalu fokus pada bibir Hyden sehingga Lenora tidak menyadari jika Hyden sudah bangun dan menatapnya.
"Lenora ?"
Wajah Lenora seketika memerah begitu mengetahui jika ia tertangkap basah. Dia takut jika Hyden berpikir macam-macam tentang dirinya.
Karena tak ada pilihan, Lenora memutuskan untuk bersikap tenang, seolah tidak terjadi sesuatu.
"Selamat pagi, Hyden."
Lenora menyapanya dengan ekspresi yang bisa dia kendalikan.
Hyden tertawa kecil saat dia melihat ekspresi Lenora yang salah tingkah.
"Selamat pagi sayang."
Dia memegang tangan Lenora yang menyentuh bibirnya dan membawanya lebih dekat untuk membasahi jari-jari Lenora dengan ciuman. Tampaknya tidak puas hanya dengan jari-jari Lenora, dia bergerak mendekati Lenora dan menekankan bibirnya ke bibir Lenora. Itu adalah ciuman yang menyelidik. Lenora bisa tahu dari cara Hyden menggerakkan bibirnya. Dia mencoba melihat seperti apa reaksi Lenora nantinya.
Lenora pun membalas ciuman itu. Jelas, bahwa bibirnya mengingat bagimana ciuman mereka waktu itu dan bagaimana dia meresponsnya. Ketika Lenora menyadarinya, Hyden tersenyum di antara ciuman mereka.
" Hyden, lebih baik kita bangun."
Ujar Lenora ketika ciuman itu berakhir.
"Aku lebih suka berpelukan denganmu, Lenora." Bibir Hyden mulai menemukan jalan turun ke leher Lenora, membuatnya menggigil.
"Hyden, Kita harus bangun sekarang sebelum- “
"Lenora, sarapan sudah siap ..."
Rahang ayah Lenora jatuh begitu dia melihat postur ambigu mereka.
"Dasar bocah sialan ! Beraninya kau melecehkan putriku di bawah atap rumahku sendiri !"
Ayah Lenora berteriak ketika dia mengarahkan jarinya tepat didepan wajah Hyden.
"Ayah, dia tidak melecehkanku."
Lenora berkata ketika memperbaiki posisinya dan duduk.
"Ya, Ayah. Lenora benar. Saya hanya mencium istri saya. "
Hyden menjawab sambil duduk dan meletakkan lengan kanannya di pinggang Lenora dan mencium pipi istrinya.
"Aku perlu mengingatkanmu, Ayah, bahwa aku menikah dengan putrimu."
"Kau bocah!"
"Ed, biarkan putri dan menantumu sendirian." Lenora mendengar ibunya berkata.
"Tapi sayang! Kau tidak melihat apa yang aku lihat! " Seru pria setengah baya itu.
Ibu Lenora muncul di samping ayah Lenora dan menatapnya dengan ekspresinya yang jauh lebih normal dari biasanya.
"Apakah kau mau membantah ku?"
"Tapi sayang! T- "
"Edward. Jangan memaksaku mengatakannya dua kali. " Kata Michelle sambil menghadap mereka.
"Lenora, Hyden, sarapan sudah siap. Aku akan membawa ayahmu dan pastikan kalian untuk turun sebentar lagi. "
Setelah mengatakan itu, Ibu Lenora meraih ayahnya dan menyeretnya keluar dari kamar pasangan muda itu.
"Orang tuamu benar-benar menarik, sayang." Ucap Hyden setelah melihat orang tua Lenora keluar dari kamar.
"Kenapa aku merasa ayah lebih membencimu?" Lenora bertanya penasaran.
"Itu normal bagi ayah mertua untuk membenci menantu laki-laki mereka." Hyden menjawab dengan senyuman lebar. "Itu yang membuat pernikahan menarik."
"Benarkah ?"
"Iya."
"Lalu ... apakah ayahmu membenciku juga?"
"Itu tidak mungkin." Dia berkata sambil meraih Lenora ke pelukannya. "Kau tidak mungkin dibenci, Lenora."
Menyembunyikan rona pipi, Lenora turun dari tempat tidur.
"Kita harus turun. Ibu dan Ayah tidak akan suka kalau kita terlambat sarapan. "
...
Mereka berdua langsung berpamitan setelah selesai sarapan . Sebenarnya mereka ingin tinggal lebih lama tapi Lenora punya kelas siang ini. Mereka segera pulang untuk mempersiapkan materi kuliah masing-masing.
“Telpon aku ketika kau selesai dengan kelasmu. Aku akan menjemputmu."
“Jadwal kelas kita berbeda. Kau akan menunggu lebih dari dua jam jika menungguku. "
"Aku tidak keberatan. Kau adalah prioritasku, Lenora. ” Hyden mencium pipi Lenora begitu sampai di kelasnya.
"Telepon aku jika terjadi sesuatu padamu. Aku akan langsung datang menemuimu "
"Baik."
Dengan lembut Lenora meremas tangan Hyden yang sedang menggenggam tangannya. Mereka saling melambaikan tangan dan dengan enggan Lenora masuk ke dalam ruangan. David memiliki kelas lain bersama dengan Jenifer. Hanya dia dan Carson yang memiliki kelas yang sama saat ini. Lenora dengan gugup melihat sekeliling dan menyadari bahwa satu-satunya kursi kosong yang tersisa adalah kursi di samping Carson.
Entah, apakah ini di sebut keberuntungan atau kesialan?
Tanpa banyak pilihan, Dengan enggan Lenora menyeret kakinya menuju kursi itu.
Lenora duduk setenang mungkin tanpa melihat orang yang duduk di sebelahnya. Dia berdoa dengan sepenuh hati agar profesor datang lebih awal dan memulai mata kuliahnya. Tetapi doanya kali ini tidak dikabulkan. Profesor itu memberitahu akan terlambat satu jam dan meninggalkan mereka dengan studi kasus. Dan untuk beberapa alasan dia memberi tahu mahasiswanya untuk membahas pelajaran itu dengan orang yang duduk di sebelah mereka. Itu berarti dia harus membahasnya dengan Carson. Demi apapun dia sedang tidak siap untuk menghadapi orang itu. Setidaknya untuk saat ini.
Lenora hendak berdiri untuk mendekati Lucy dan berpasangan dengannya tetapi Carson meraih lengannya.
"Kau mau pergi kemana ?"
"Aku akan meminta Lucy untuk berpasangan denganku."
"Mengapa? Aku di sini duduk di sampingmu. " Carson bertanya.
"Kita tidak dalam kondisi yang baik."
"Kita tidak perlu melakukannya jika kita hanya akan membahas materi ini." Dia menjawab.
Apa yang Carson katakan membuat Lenora berpikir.
Mereka sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan cinta mereka. Carson tidak memusuhi Lenora seperti beberapa hari yang lalu. Sepertinya mereka kembali menjadi orang asing yang nyaris tidak saling kenal.
"Baik." Lenora duduk kembali dan mulai membaca materi yang ditinggalkan profesor. Jika Carson bisa bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, maka dia juga bisa melakukan hal yang sama.
...
Tepat setelah mata kuliahnya selesai, Lenora segera mengemasi barangnya kedalam tas. Dia berdiri dan meninggalkan ruangan.
Begitu dia melangkah keluar, Lenora melihat Jenifer bersandar di dinding, mungkin dia sedang menunggu Carson. Pria itu melewati Lenora begitu saja dan Jenifer langsung menyerangnya dengan pelukan.
"Carson!"
"Jenifer." Pria kecokelatan itu menggerutu. "Berhenti menempel padaku."
“Ayolah Carson, aku merindukanmu!" Rajuknya dengan manja.
"Terserah"
Jawab Carson dengan acuh tak acuh meletakkan tangannya di saku ketika Jenifer bergelayut manja di lengannya yang kokoh.
Suara gadis-gadis bergemuruh dan memekik ketika melihat betapa serasinya pasangan itu saat terlihat bersama.
Lenora mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu suaminya bahwa kelasnya baru saja selesai, dan saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang. Namun Lenora tiba-tiba mendengar suaranya tepat di belakang punggungnya.
"Lenora."
Lenora dengan cepat berbalik dan tersenyum bahagia. Dia tidak tahu kenapa, tetapi saat ini dia begitu ingin melihat suaminya ada didekatnya.
"Hyden."
Lenora menjawab berusaha menjaga wajahnya agar tetap berekspresi biasa. Dia berusaha mengendalikan perasaannya tetapi emosi lebih menguasai dirinya saat ini. Tiba-tiba saja Lenora merasakan matanya kembali berair.
"Hei, sayang, kau menangis?"
Hyden dengan cepat menangkup wajah Lenora dengan tangannya dan mematuk bibirnya dengan ciuman.
"Kenapa kau menangis?"
"Aku hanya ... merindukanmu ..." kata Lenora.
Hyden menatapnya dengan tercengang sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang lucu?" Lenora bertanya cemberut.
"Asal kau tahu Lenora. Aku merindukanmu lebih dari yang pernah kau bayangkan"
Hyden menarik Lenora ke dalam pelukan dan dengan hati-hati mengencangkan tangannya ke tubuh wanita itu.
"Mau pulang?"
Lenora melepaskan pelukan dari Hyden dan dengan malu-malu menghubungkan tangannya sendiri dengan tangan Hyden.
"Kau tidak punya kelas lagi?"
“Kelas dibatalkan jadi aku punya waktu luang dan bisa membawamu pulang. "
"Kalau begitu mari kita pulang."
"Baiklah My lady."
Hyden berkata dengan senyum yang indah di wajahnya. Senyuman yang akan membuat para wanita pingsan melihatnya, dan itu hanya dia tunjukkan pada istrinya seorang.
Saat itu Lenora baru menyadari, dia jatuh cinta padanya, bukan?
Tbc
Terimakasih sudah membaca, saya sangat menghargai kalian ?
Maaf atas belum konsistennya saya dalam update ?
Tetapi saya janji kalau akun ini sudah rame saya akan memprioritaskan akun ini daripada akun ffn ?