Carson sedang duduk di pinggir lapangan basket bersama kedua teman dekatnya. Dia melihat Lenora yang datang bersama orang yang tidak rela dia sebut suami Lenora. Betapa kesal dan marahnya dia melihat tempat yang seharusnya menjadi miliknya kini diisi oleh orang lain.
"Mantan kekasihmu itu benar-benar sesuatu, Carson." Ucap Teman Carson yang berwajah Afro-Amerika bernama Julian. "Dia lebih cantik daripada saat berkencan denganmu. Sekarang dia menjadi lebih bersinar. "
Carson juga mengakui itu. Dia sering mendengar bahwa wanita akan terlihat lebih cantik ketika mereka mengandung dan sekarang dia melihat hal itu pada Lenora. Membuat dadanya semakin terasa terbakar karena Lenora mengandung anak dari pria lain.
"Apakah kau benar-benar memilih Jenifer daripada Lenora hanya karena dia tidak mau berhubungan seks denganmu?"
Keith bertanya dengan seringai yang membuat wajahnya semakin terlihat tampan, namun terkesan misterius di saat yang sama. Dia adalah kapten tim basket dan senior satu tingkat diatas Carson.
"Dia terlihat biasa saja saat kau berkencan dengannya, tapi lihatlah dia sekarang. Bahkan dengan perutnya yang sebesar itu, dia masih menarik banyak lebah."
"Tidak heran Hyden selalu ada di sekitarnya." Julian mengangguk berulang kali. "Jika aku yang berkencan dengan Lenora, aku juga akan selalu menjaganya dengan benar."
Carson terus menatap Lenora ketika dia duduk di sebuah bangku di area fakultasnya, membelai perutnya membesar saat berbicara dengan David. Perutnya semakin besar dari hari ke hari, tetapi itu tidak membuatnya kehilangan pesona . Rambutnya yang panjang membuatnya semakin anggun. Dahulu Carson sangat suka memainkan rambut yang indah dan halus itu.
"Carson ?"
Mendengar namanya dipanggil, Carson menoleh dan melihat Jenifer yang ikut bergabung tanpa dia sadari.
"Jenifer ? "
"Kenapa kau seperti itu ? Kau tidak senang bertemu denganku ?"
Dia berkata dengan nada yang di buat sedih dan mengerucutkan bibirnya. Jika sebelumnya, melihat Jenifer seperti ini pasti akan bisa membangkitkan semangat Carson, tetapi sekarang, seolah-olah semacam tren yang kehilangan popularitasnya. Sama sekali tidak berpengaruh padanya. Seperti disiram air sedingin es yang membangunkannya dari mimpi.
"Maaf. Aku hanya sedikit kaget. "
Carson menciumnya untuk menenangkan pikiran. Saat ini, dia bahkan tidak yakin mengapa masih menjalin hubungan dengan Jenifer. Bersamanya, dan melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan dengan Lenora dulu terasa menyenangkan. Tapi sekarang, Carson bahkan merasa hal itu seperti pekerjaan. Sesuatu yang harus dia lakukan bukan karena dia ingin, tetapi karena dia harus melakukannya.
"Mengapa kau di sini?"
"Aku melihatmu, jadi aku datang." Jenifer berkata dengan senyum di wajahnya lalu melingkarkan tangannya pada lengan Carson
"Aku tidak bisa bertemu denganmu beberapa hari ini dan aku sangat merindukanmu."
"Ya,aku juga merindukanmu."
Carson menjawab ketika secara reflek meletakkan tangan kanannya di sekeliling pinggang Jenifer, mengabaikan tatapan aneh dan memutar mata yang dia dapatkan dari teman-teman dekatnya.
"Aku akan datang malam ini, oke?" Jenifer bertanya.
"Baik. Aku akan menunggumu setelah kelas selesai. "
Ucapnya sambil mencium bagian atas kepala Jenifer, namun kedua matanya melesat ke arah Lenora yang sekarang dengan senang memeluk suami yang menurut Carson b******n berambut keemasannya.
...
"Aku tidak mengerti. Sudah jelas bahwa kau tidak sedang jatuh cinta, tergila-gila atau dibutakan oleh rayuan Jenifer, jadi mengapa masih tinggal bersamanya? " Julian bertanya saat Jenifer telah pergi.
"Mengapa tidak putus saja dengannya sehingga kau bisa merenungkan kesalahan hidupmu?"
"Dia putus dengan Lenora untuk bersama Jenifer. Jika mereka berpisah tidakkah menghancurkan harga dirinya ? Dia berselingkuh dari pacarnya dengan sahabat wanita itu, mematahkan hati polos yang telah dinodainya, sekarang aku senang kau tidak berakhir di altar bersama Lenora." Kali ini Keith berkata sambil menghela nafas.
"Kalian berdua adalah temanku, bukankah seharusnya berpihak padaku? Kalian telah mengeroyokku sejak kami berpisah.”
Jawab Carson dengan tidak suka dengan teman-temannya yang lebih membela Lenora. Memang semua ini adalah salahnya, tetapi tidak bisakah mereka tidak ikut campur dan memperburuk keadaan ?
"Itu karena kau yang salah. Dia seperti malaikat murni dan kau membiarkannya pergi begitu saja dan sekarang dia dilahap dan dihamili oleh iblis yang kaya raya" Julian menjawab.
" Dia lebih seperti raja iblis. " Lanjut Keith. "Tapi Lenora telah menjinakkannya dengan baik."
Kesal dengan teman-teman yang terus memojokkan dirinya Carson lebih memilih pergi. Berada terlalu lama di tempat ini hanya akan membuat suasana hatinya semakin buruk.
"Aku sudah cukup banyak bicara hari ini." Carson berdiri dan membawa tasnya.
"Aku pergi."
...
Carson terbangun di tengah malam, merasakan tenggorokannya benar-benar kering. Dia bangkit dan melihat Jenifer yang telanjang tertidur lelap disampingnya. Hal itu bisa dimengerti mengingat aktivitas berat yang baru saja mereka lakukan.
Diapun bangun dari tempat tidur dan pergi ke dapur untuk minum air.
"Carson " Jenifer menekankan tubuhnya ke punggung Carson .
Kepala Carson sedikit menoleh ke belakang saat merasakan sesuatu menempel di punggungnya.
"Apakah aku membangunkanmu?"
"Tidak.. aku merindukan kehangatanmu."
Carson membalikkan tubuhnya dan memeluk Jenifer.
"Carson"
"Ada apa ?"
"Kau mencintaiku, kan?"
"Apa yang membuatmu bertanya seperti ?" Carson bertanya dengan alis yang berkerut. Tidak biasanya Jenifer bersikap aneh seperti itu.
"Tidak ada. Aku hanya ... aku hanya ingin mendengarnya darimu. " Ucapnya sambil menggosokkan wajahnya di d**a telanjang Carson. "Aku sangat mencintaimu."
Pria itu memilih mengusap pelan bagian belakang kepala Jenifer. Ekspresinya tidak terbaca.
"Aku tahu. Aku juga mencintaimu ."
Tapi aku lebih mencintai Nora.
Mendengar hal itu wajah Jenifer berseri-seri bahagia. Kemudian mendekatkan bibirnya untuk berciuman.
"Aku akan menjadikanmu pria paling bahagia, Carson. Aku sangat mencintaimu."
"Silahkan, Jenifer."
Tapi Carson tidak akan pernah bahagia selama sisa hidupnya. Dia sudah kehilangan kebahagiaannya.
"Tidak sopan . Aku sudah duduk di sini lebih lama darimu."
"Aku Lenora. Senang bertemu denganmu, Carson."
"Kau hebat Carson, Kau memang sangat berbakat . Kau pasti bisa. Aku percaya padamu."
"Aku akan selalu berada di sisimu. Kau bisa mengandalkanku."
"Aku juga mencintaimu, Carson. Ya, aku mau menjadi pacarmu."
Kepingan kenangan masa lalu selalu datang menghantam ingatannya. Mengingat senyuman Lenora adalah siksaan yang paling menyakitkan. Seolah menghukum Carson yang telah mengambil keputusan paling bodoh dalam hidupnya. Penyesalan akan terus dia bawa sampai akhir hidup. Cinta sejatinya tidak akan pernah kembali.
"Nora.. aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tolong ... tolong biarkan aku mencintaimu dari kejauhan."