Sevda berhenti di sebuah pelabuhan. Melihat beberapa kapal boat yang terparkir di tepian. Gadis itu bergerak dan masuk di salah satunya. Memasuki kabin. Menumpahkan kembali air matanya di dalam sana. Memukul-mukul bangku yang digunakan untuk duduk.
Mengencangkan tangisnya namun tanpa suara. Hatinya benar-benar hancur dan terluka. Pertama, karena mengetahui pria impiannya, Serkan Basaglu yang telah memiliki kekasih. Dan yang kedua, karena dua sahabatnya menyembunyikan sesuatu darinya.
Ponsel yang digenggamnya itu terus berdering. Terdapat nomor Oyku yang memanggil. Tetapi gadis itu tak mempedulikannya. Sibuk menangis. Sengaja tidak mengangkat teleponnya. Panggilan kedua dari sahabatnya Cansu.
Sevda menyadari, pasti Cansu menghubunginya karena mungkin saja Oyku sudah mengatakan apa yang terjadi. Sevda kembali tak acuh. Saat ponsel tersebut terus berdering, memekakkan gendang telinga gadis itu, hingga membuatnya emosi.
Sevda melempar ponselnya tersebut ke sembarang arah. Dan terjatuh di bawah meja. Ia benar-benar tidak peduli dan memilih menutup diri dari semua hal untuk saat ini.
***
"Ayaz, kau mau ke mana?" Burak berteriak memanggil Ayaz, saat melihat temannya itu berlari menuju pelabuhan.
Tetapi Ayaz menulikan diri. Perasaannya campur aduk saat ini. Ayahnya telah membuatnya sangat kesal sehingga ia butuh sesuatu untuk ia luapkan.
Pria itu melihat ke arah beberapa kapal boat. Ia mencari tempat tersembunyi untuk menumpahkan kekesalannya tersebut. Menumpahkan kesedihannya yang selama ini terpendam. Ia ingin menangis tanpa diketahui oleh orang lain. Tanpa dilihat dan dipandang remeh oleh orang lain. Karena baginya, pria menangis adalah aib!
Tetapi rasa sedih serta kemarahan ayahnya telah membuatnya teringat akan sosok ibunya yang amat ia cintai, yang kini sudah berbeda alam. Ada dinding besar antara dirinya dan sang ayah, yang berhubungan dengan sang ibu, sehingga membuat Ayaz sangat membenci ayahnya. Menjadi pribadi yang dingin dan kaku.
Ayaz memilih masuk ke sebuah kapal boat yang kebetulan di dalamnya ada Sevda. Tanpa ia ketahui, pria itu langsung bergerak menuju ke arah mesin pengemudi. Dengan amat kesal, ia mengemudikan kapal tersebut meninggalkan dermaga.
Sevda yang merasa kapal yang ditumpanginya bergerak, mulai menghentikan tangisnya. Ia menengok ke samping, tepat di jendela kecil, melihat sekitar yang bergerak. Segera ia membangunkan diri. Berjalan menuju tempat mengemudi. Gadis itu terkesiap saat melihat Ayaz yang ternyata mengemudikannya.
"Ayaz?!" teriak Sevda membuat pria di depan sana menghentikan aksinya sejenak.
Ayaz menoleh, terkesiap melihat Sevda yang berada di sana.
"Ayaz, apa yang kau lakukan?" Pertanyaan Sevda terhenti saat melihat wajah pria itu yang berbeda dari sebelumnya. Ia bisa melihat jelas kalau wajah pria itu memerah dengan mata sembab.
Apakah pria itu habis menangis? Seorang Ayaz Navruz menangis?
"Ayaz, apa kau menangis?" tanya Sevda menurunkan nada bicaranya.
Pria itu tak peduli. Dengan cepat memalingkan wajah ke depan. Kembali fokus pada baling-baling kemudi. Ia putar sekencang mungkin membuat kapal tersebut kembali bergerak.
Sevda panik dan menjerit.
"Ayaz, apa yang kau lakukan?! Hentikan!" Serupa angin lewat, perkataan Sevda tersebut tak digubris olehnya.
"Ayaz! Apa kau sudah gila?"
"Iya! Aku memang gila!" Akhirnya pria itu membuka suara dengan sangat lantas.
"Dunia ini sangat gila! Aku muak dengan semua ini. Dunia yang terus menyulitkanku tiada henti! Merenggut kebahagiaanku! Apakah itu adil?!" Dalam emosinya, pria itu mencoba mencurahkan isi hatinya.
Sevda yang kebetulan habis patah hati pun setuju dengan perkataan pria itu. Ia mengangguk, menarik air hidungnya. "Kau benar. Dunia memang kejam. Baru saja mendapatkan kebahagiaan, tapi sudah direnggut kembali. Semesta ini memang kejam!" Gadis itu mengumpat sembari mendudukkan tubuhnya di kursi samping Ayaz.
"Semesta juga tidak berpihak pada kita!" timpal Ayaz.
"Benar sekali! Dan seorang pria itu sangat menyebalkan! Mereka suka sekali menyakiti hati wanita!"
"Kau benar!" Lagi-lagi Ayaz menyahuti perkataan Sevda. "Sangat penuntut dan tidak pernah memberikan kebebasan!"
"Menebar pesona dan membuat para gadis jatuh cinta! Itu pekerjaan pria! Tapi, ujung-ujungnya membuat sakit hati."
"Membuat emosi dalam diri kita memberontak. Mengingat sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya!"
"Tidak pernah membuat hati tenang!"
"Tepat sekali!"
"Ngomong-ngomong, kenapa kau terlihat sangat setuju dengan perkataanku? Bukankah kau juga seorang pria? Lalu kenapa kau setuju saat aku mengatakan hal buruk tentang pria? Apa kau pernah disakiti pria?" Pertanyaan Sevda membuat Ayaz meneguk ludah.
"Jangan-jangan… kau…."
"Diamlah, Ikan koi! Itu tidak seperti yang kau pikirkan!" timpal Ayaz cepat.
"Benarkah? Lalu kenapa kau terlihat sangat kesal dengan sosok pria sementara dirimu sendiri seorang pria?"
"Aku kesal dengan seseorang. Dan itu bukan urusanmu!"
"Exactly! Kenapa juga aku peduli. Aku tidak peduli apa pun tentangmu, Tuan Gletser!" Sevda memalingkan wajahnya. Memilih menikmati pemandangan laut yang terhempas semilir angin.
"Dia selalu banyak bicara!" gumam Ayaz sembari terus mengemudikan kapalnya.
***
Sementara itu, Serkan dan yang lainnya sudah hendak berangkat pulang ke Istanbul. Mereka mencari Ayaz dan Sevda yang tak ditemukannya. Oyku mulai panik. Tetapi Burak terus mencoba menenangkannya.
Serkan bertanya pada seseorang yang berada di dermaga. Ia menyebutkan ciri-ciri Ayaz dan Sevda. Seseorang itu mengatakan kalau Sevda masuk ke dalam kapal boat. Begitupun dengan Ayaz yang masuk setelahnya. Kemudian kapal tersebut berangkat.
"Mungkinkah mereka sudah pulang terlebih dahulu?" pikir Burak.
"Tanpa mengabari kami?" Serkan tampak ragu.
Burak dan Oyku saling berpandangan dengan wajah murung. Tentu itu membuat Serkan mengerling penasaran.
"Apa terjadi sesuatu tadi?" tanya Serkan pada mereka.
Oyku dan Burak saling berpandangan. Masih memilih bungkam.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku? Aku yakin pasti telah terjadi sesuatu. Apa Sevda dan Ayaz kembali bertengkar?" berondong Serkan dengan pertanyaan yang menyudutkan mereka.
Bagaimana mereka bisa mengatakan kalau sebenarnya Serkan lah yang membuat Sevda pergi.
"Serkan sebenarnya…."
"Sudahlah, Serkan. Lebih baik kita pulang saja!" Hazal memotong perkataan Burak. "Mungkin Sevda dan Ayaz sudah pulang mendahului kita. Dan kita malah sibuk mencarinya di sini? Kita bisa ketinggalan feri nanti!"
"Sebentar, aku coba hubungi Ayaz. Oyku kau coba hubungi Sevda!" pinta Serkan, kemudian mengoperasikan ponselnya menghubungi sepupunya.
Berkali-kali mencoba, hasilnya nihil. Ponsel Ayaz tergeletak di suatu tempat setelah ia banting tadi. Pun begitu dengan Sevda, yang tergeletak di bawah meja kabin.
"Sial!" Serkan mendesah gusar saat tak bisa menghubungi satu pun dari mereka. "Ponsel mereka tidak aktif!"
"Sudahlah, Serkan! Lebih baik kita cepat masuk Feri! Aku tidak mau ketinggalan dan harus menunggu feri berikutnya!" gertak Hazal tidak sabaran.
Sebuah terompet berbunyi nyaring menandakan feri yang harusnya mereka tumpangi segera berangkat.
"Kau dengar itu? Cepat angkat koper kalian dan kita pergi!" ujar Hazal dengan kesal lantas menyeret kopernya menuju Feri.
Serkan, Burak, dan Oyku terpaksa menyetujuinya. Berangkat untuk kembali ke Istanbul tanpa Ayaz dan Sevda.
***
Sebuah kapal boat berlayar mengarungi lautan Bhosporus. Menggeret ombak serupa kain yang ditarik. Percikan air menciprat di sekitarnya, berlomba dengan lumba-lumba yang melompat-lompat di sekeliling boat putih tersebut.
Deburan ombak yang biru terasa segar di pandang mata. Meliuk-liuk menenangkan pikir, namun bisa saja membuat pusing. Dari kejauhan, air tersebut seperti menyatu dengan langit yang kebetulan sangat cerah, dengan awan kumulus yang menggantung indah. Meski sinar mentari cukup terik, tetap saja tak membuat kulit terasa tersengat. Malahan terasa sejuk saat angin sepoi-sepoi menghantam dari berbagai arah.
Sevda tampak asyik memandangi burung camar yang terbang di atas kapal. Sesekali menata rambutnya yang menghalangi pandangan akibat terhentak angin. Sementara Ayaz sibuk mengemudikan boat putih tersebut. Memutar kemudi dengan perasaan hampa.
Ayaz menoleh ke arah gadis itu sejenak. Memperhatikan senyumnya yang mulai terbit setelah tangis menyerbunya. Tentu saja senyum Sevda itu serupa virus yang kini mewabah di bibir Ayaz.
Pria itu ikut tersenyum, walau tipis.
"Apa saat melihat laut kau jadi ingin berenang, Nona Ikan Koi?" Ayaz membuka percakapan.
"Pergilah dan mencebur. Kau bebas berenang sekarang. Mungkin kau akan bertemu dengan teman-teman ikanmu di sana!" sambung pria itu dengan nada penuh ejek.
Sevda tersenyum sengir. Memutar leher ke belakang, menatap tajam ke arah pria yang tengah memutar kemudi kapal.
"Apa kau bilang tadi?" tanya Sevda sedikit kesal.
"Tidak ada!" jawab Ayaz dingin tanpa menoleh ke arahnya.
"Hei, Tuan Gletser! Aku tahu kau tadi mengatakan sesuatu!"
"Mungkin kau salah dengar. Yah, mungkin saja angin yang berbicara. Atau… telingamu yang mungkin bermasalah. Mungkin telingamu tersumpal radio sehingga kau bisa mendengar suara-suara aneh."
"Hahaha! Tidak lucu!" Sevda mengerucutkan bibir. "Telingaku masih baik-baik saja, Tuan Gletser! Dan ya, aku dengar kau mengatakan kalau kau menyuruhku untuk menyebur ke laut! Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?!"
"Baguslah, setidaknya telingamu bisa berfungsi dengan benar. Tidak seperti otakmu!" timpal Ayaz masih mengejek. Mencoba menghibur hatinya yang sedih dengan menggoda gadis itu.
Sevda mengepalkan tangan dengan mengigit bibir bawahnya. Tersenyum penuh getir. "Andai saja kau cacing, pasti sudah aku makan!"
"Astaga! Apa kau biasa makan cacing? Makhluk macam apa kau ini?"
"Kau yang bilang kan kalau aku ini ikan koi. Dan ikan koi biasa makan cacing," balas Sevda sekenanya.
"Ck! Bodoh! Ikan koi tuh makan Pur ikan. Eits, tapi kalau ikan koi norak sepertimu memang sukanya makan cacing. Menjijikan. Boleh aku kasih saran? Sebaiknya kau jadi ikan koi berkelas. Yah, setidaknya agar para koi jantan mau mendekatimu!" ejek Ayaz sembari menahan senyum.
"Terima kasih atas saran bodohmu itu, Tuan Gletser! Tapi maaf, aku bukan ikan koi norak!" balas Sevda tak terima.
"Lantas? Kalau bukan ikan koi norak, kau jenis ikan koi apa?" tanya Ayaz menanggapinya.
"Koi anggora! Kau puas!!!"
Ayaz tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini pria itu terbahak. Pria yang biasa kaku dan dingin melebihi gletser di kutub Utara kini bisa cair saat bertemu dengan Sevda.
Sevda terbengong melihatnya.
"Apa aku sedang bermimpi?" Tiba-tiba Sevda mengatakan hal itu yang langsung membuat Ayaz menghentikan tawanya.
"Astaga, aku rasa kau benar-benar sedang bermimpi. Pria batu sepertimu bisa tertawa?" Sevda mencubit lengannya sendiri. "Ufff… sakit. Apa ini benar-benar nyata?"
"Kalau kau masih mempertahankannya apakah kau bermimpi atau bukan aku bisa membantumu. Aku bisa menceburkanmu ke laut untuk membuatmu sadar apakah bermimpi atau bukan!" jawab Ayaz ketus.
"Tapi,Tuan Gletser! Boleh aku katakan sesuatu? Kau cocok juga kalau tersenyum. Aura ketampananmu itu menjadi keluar." Sevda bahkan tak sadar apa yang baru saja ia katakan.
"Apa yang kau katakan? Apa aku tidak salah dengar? Kau menyebutku tampan?" tanya Ayaz membuat Sevda meneguk ludah.
"Umm… m-maksudku…."
"Jangan berpikir kalau kau mulai tertarik padaku, Nona Ikan Koi!" tuduh Ayaz seenaknya.
Sevda membuka mulut menganga. Menggeleng tak menyangka dengan kepercayaan diri pria batu itu. "Apa kau bilang? Aku? Tertarik padamu?" Sevda tersenyum sumbang. "Mustahil, Tuan Gletser! Kau pikir dirimu itu pangeran? Sama sekali tidak ada dalam daftar takdir hidupku untuk tertarik dengan orang sepertimu!" Sevda menyebutkan napas kesal.
"Ya bisa saja. Kau tidak bisa mendapatkan Serkan, jadi kau mulai mendekatiku!" kata Ayaz semakin percaya diri.
"Omong kosong! Sama sekali tidak sudi jika harus tertarik denganmu!"
"Aku juga tidak sudi, asal kau tahu! Kau pikir dirimu itu Tuan putri?!"
"Yah, aku memang Tuan putri," ucap Sevda sembari mengibaskan rambut berlagak sombong.
Ayaz terkekeh penuh ejek. "Jika kau Tuan putri, lalu kenapa Serkan lebih memilih Hazal menjadi kekasihnya daripada dirimu?" Ejekan Ayaz tersebut sukses membuat hati Sevda kembali sedih.
Gadis itu menunduk sayu. Wajah ceria seketika lenyap begitu saja. Merasuk kemurungan yang tiba-tiba menghampiri. Tanpa sepatah kata yang mampu terucap, tetapi bisa menggambarkan kalau ia benar-benar terluka.
Ayaz yang melihatnya menjadi menyesal karena telah berkata seperti itu pada Sevda. Ia pun mulai mengalihkan pembicaraan lagi.
"Kau tahu, kalau kau murung seperti itu, kau malah semakin mirip dengan cucut!"
Sevda memicingkan mata ke arahnya. "Kau selalu saja mengejekku. Tidakkah sekali saja kau mengatakan hal yang benar tentangku?!"
"Apa boleh buat, pertemuan kita memang diawali dengan kejadian yang tidak menyenangkan! Kau marah-marah tanpa alasan padaku!" ujar Ayaz tanpa menoleh ke arahnya.
"Oh hello…. Apa kau amnesia, Tuan Gletser! Aku masih ingat kau menabrakku saat itu dan menumpahkan minuman cokelatku. Dan tanpa meminta maaf kau langsung pergi begitu saja. Tentu saja aku sangat marah denganmu! Apa itu salah!" sungut Sevda serupa banteng mengamuk. "Jika saja pertemuan kita baik, maka aku tidak bersikap demikian padamu!" sambung gadis itu lantas melipat tangannya ke perut dan membuang wajahnya memandang ke arah laut.
"Oh ya? Memangnya pertemuan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Ayaz begitu saja.
Sevda berpikir sejenak. Kemudian mulai membayangkan. "Misalnya seperti ini. Di suasana yang sedang hujan deras. Aku sedang berjalan di tepi jalan mencari taksi. Lalu–"
"–lalu aku datang dengan mobilku dan mencipratkan genangan air hujan ke arahmu. Tubuhmu menjadi sangat basah dan kotor. Itu pasti seru sekali!" decak Ayaz menaikkan kedua alisnya.
Tentu saja Sevda tak terima. "Pertemuan macam apa itu? Sama saja kau membuatku kesal. Lalu aku akan marah-marah, kau pun balik marah. Kita akan tetap bertengkar, Bodoh!" Sevda menyemburkan napas tak habis pikir.
"Baiklah… baiklah. Bagaimana kalau seperti ini!" Ayaz mulai membayangkan sebuah adegan di mana ia dan gadis itu kali pertama berjumpa.
"Saat itu hujan begitu deras. Lalu aku dan kau sedang mencari taksi. Begitu taksi lewat, aku dan kau datang bersamaan. Kau dari arah kiri dan aku dari arah kanan. Kita sama-sama membuka pintu dan masuk ke dalamnya."
"Lalu kita akan berdebat di dalam dan membuat sopir taksi pusing?" sahut Sevda.
"Bukan begitu. Astaga!" Ayaz mendesis.
"Lalu?" Sevda menaikkan sebelah alisnya.
"Saat itu aku sibuk menata jaketku yang basah kuyup. Kau yang di sebelahku menatapku tanpa henti. Matamu seperti terpana saat melihatku untuk kali pertamanya. Dalam hatimu kau sangat mengagumiku, sampai tak sadar kau terbengong. Kau tidak akan mau keluar dari dalam taksi dan teringin terus di sampingku. Meskipun aku menyuruhmu keluar, tapi kau keras kepala. Tetap saja memandangku dengan senyuman yang indah. Lalu kau mulai mulai tertarik padaku."
"Ck...CK...CK… No! No! No!" Sevd berkata cepat dengan mengungkap telunjuknya yang ia goyang-goyangkan sebagai tanda penolakan. "Yang benar saja? Tidak! Tidak seperti itu! Dengar, akan lebih indah jika seperti ini."
Sevda mulai mengatakan apa yang ada di dalam bayangannya.
"Kita masuk dalam taksi. Lalu kau langsung terpana denganku. Kau menjadi buta akan semuanya kecuali wajahku dan kecantikanku. Kau terus memperhatikanku. Mengagumi auraku, wajahku, rambutku, semua hal yang indah dalam diriku. Tapi aku merasa jijik saat kau melakukan itu. Kau terus saja memandangku meski aku sudah menggeser tubuhnya sampai ke pinggir. Tapi kau tetap kurang ajar dan terus menempel padaku."
"Hahaha! Tetaplah bermimpi seperti itu, Nona Ikan Koi! Mimpi yang mustahil!" Ayaz menyemburkan napas pasrah. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" sambungnya bertanya.
Sevda mulai menyamankan posisi duduknya. Kembali antusias bercerita. "Lalu kau berkata dengan mulut manismu itu untuk mendekati. Kau bilang 'Nona Cantik, bolehkah aku–"
"–Stop! Stop!" Ayaz memotong perkataan Sevda cepat. "Biar aku koreksi, bukan Nona Cantik. Tapi Nona ikan koi!" katanya membuat Sevda geram.
"Jangan bodoh, Tuan Gletser! Ini ceritanya kita sedang mengalami pertemuan yang indah tanpa ejekan atau perdebatan!"
"Baiklah-baiklah… terserah kau saja!" kata Ayaz kembali pasrah.
"Baik aku akan teruskan." Sevda mengembangkan senyumnya. "Sampai mana tadi?"
"Nona ikan koi! Eh, Nona cantik!" jawab Ayaz malas.
"Oh iya. Begini. Kau bertanya padaku. 'Nona cantik, aku tahu kau yang mendapatkan taksi ini duluan, tapi… bolehkan aku bareng bersamamu? Kau tahu kan di luar hujan lebat sekali. Aku bisa basah, dan tubuhku bisa saja tumbuh jamur jika terlalu lama menunggu taksi'. Lalu aku dengan wajah malas mengangguk dan menyetujuinya. Kau sangat senang saat itu. Cara pertama untuk mendekatiku berhasil. Lalu kau menyuruh sopir taksi untuk memutar musik romantis. Dan dengan tidak tahu malunya kau mengikuti lirik tersebut sembari terus memperhatikanku. Kau benar-benar sangat tergila-gila padaku saat itu."
"Ueekk!!!" Tiba-tiba Ayaz seperti muntah. "Kau tahu, apa yang baru saja kau katakan itu membuatku teringin muntah. Sungguh! Itu tidak sesuai dengan kriteria diriku!" ujar Ayaz.
"Yah, kau benar. Kau memang batu dan kaku. Bagaimana kau bisa bersikap romantis dengan orang lain! Itu suatu hal yang sangat mustahil!" balas Sevda, kemudian mendirikan tubuhnya. "Sudahlah. Kita akhir omong kosong ini. Bagaimana pun juga kita tidak akan pernah akur!"
"Yah, karena kau akar permasalahannya!" timpal Ayaz masih saja ingin berdebat.
"Aku sudah muak, Ayaz! Diamlah!" Sevda menyemburkan napas. Melihat ke arah laut sejenak. Kemudian kembali menoleh, menatap Ayaz.
"Sekarang kita mau ke mana?"
tanyanya.
"Terserah. Asal kita bisa melupakan masalah kita," jawab Ayaz begitu saja.
"Yah, kau benar. Kita butuh udara segar untuk membersihkan semua masalah dan kesedihan dalam diri kita." Sevda memberi jeda sejenak. Menatap Ayaz penuh heran. "Sebentar-sebentar… kau tadi juga seperti sedang dalam masalah. Maksudku, wajahmu seperti sedih. Boleh aku tahu alasannya?"
"Memangnya siapa dirimu? Tidak perlu sok prihatin!" jawab Ayaz membuat Sevda merasa menyesal karena telah bertanya demikian.
"Memang benar-benar pria yang menyebalkan!" gerutu Sevda pelan.
"Hei, Nona Koi, daripada kau bergumam tidak jelas, lebih baik kau gantian yang mengemudikan kapal ini. Aku capek!"
"Aku?"
"Tentu saja. Kenapa? Apa kau tidak bisa? Yah, kau memang payah!"
Sevda tak terima dengan ejekan tersebut. Ia pun memberanikan diri untuk menuruti perintah Ayaz. "Jangan pernah meremehkanku, Tuan Gletser!"
"Kalau begitu buktikan kalau kau bisa!"
"Baiklah. Siapa takut!"
Sevda mulai berjalan mendekat ke arah Ayaz. Agak ragu saat melihat lingkaran besar yang seperti setir mobil tersebut. Gadis itu pandai mengemudikan mobil, tetapi kapal? Itu sama sekali belum pernah. Bahkan untuk berpikir pun tidak pernah.
Ayaz mundur selangkah untuk membiarkan Sevda berasa di posisi saat ini. "Ayo!" ucap Ayaz menyuruh Sevda.
Dengan penuh keraguan, Sevda menyentuh alat kemudi tersebut. Meneguk ludah sembari memejamkan mata. Tangannya mulai memutar roda kemudi kapal. Tetapi kapal tersebut malah semakin ke lain arah.
"Hei… apa yang kau lakukan?"
"Ayaz, apa yang terjadi? Kenapa kapal ini terasa oleng? Apa kita akan tenggelam!" Sevda mulai panik.
"Kau ini hanya membuai saja. Tadi kau bilang bisa, tapi apa buktinya?" Ayaz kembali maju. Berniat mengambil alih kemudi.
"Begini caranya!" Ayaz menumpangkan kedua tangannya pada punggung tangan Sevda yang masih memegang roda kemudi kapal. Kemudian ia mengajarinya bagaimana mengemudikan kapal dengan benar. Tanpa sadar ia menempelkan d**a bidangnya pada punggung Sevda. Mereka terlihat sangat dekat tanpa jarak.
Sevda yang mulai bisa mengemudikan dengan bantuan Ayaz merasa senang. Senyum tergambar indah di raut wajahnya. Menikmati udara segar yang terus menyemburnya dari berlawanan depan. Pemandangan pulau-pulau serta perkotaan tampak indah di jauh mata memandang.
Saat Sevda sibuk menikmati keindahan tersebut, Ayaz malah sibuk memperhatikan wajah Sevda. Bahkan ia merasakan perasaan aneh dalam dirinya. Saat ia tubuhnya sangat dekat dengan gadis itu, rasanya sangat damai. Berbeda dengan saat jarak sedikit memisahkan, membuat mereka hanya akan berdebat.
Tanpa ia sadari, hidungnya yang mancung itu menempel pada kepala Sevda. Mengendus aroma parfum gadis itu yang terasa segar dan menyusuk tulang. Saat kedua tangannya menggenggam tangan Sevda pun terjadi getaran yang tak biasa dalam diri Ayaz. Tentu saja tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sejenak, waktu seperti terhenti bagai mereka.
Ayaz membuyarkan lamunannya seketika. Menepis perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya. Kemudian mengalihkan perhatian.
"Bisakah kita lebih cepat sedikit?"
"Bagaimana caranya?" tanya Sevda yang tak tahu menahu.
"Gampang. Kita tinggal arahkan tuas pada posisi yang sama secara perlahan."
Sevda menurut dengan arahan tangan Ayaz.
"Jangan terlalu kencang, sedikit dan perlahan saja!" kata Ayaz.
Kapal tersebut pun mulai melaju sedikit kencang, membuat Sevda menjerit kegirangan.
"Aaaa… Ayaz, ini seru sekali!"
Tanpa sadar mereka telah menikmati kebersamaan tersebut.