Kapal tampak berhenti di dekat sebuah bebatuan besar yang menyerupai tebing. Rerimbunan pohon menyelimuti tempat tersebut. Tetapi itu hanya berupa tebing-tebing saja, tidak ada tanah yang bisa digunakan istirahat.
Sevda menikmati pemandangan di sana. Merasakan angin segar yang terus menerpa dirinya. Merenggangkan otot lehernya dengan mata menyapu pandang hutan di tebing tersebut. Hijau dan biru terpadu dengan warna coklat benar-benar membuat hati tentram. Kicauan burung juga sempat terdengar dari dalam sana.
"Aku tidak percaya ini. Ini sangat indah. Sungguh! Saat melihat hutan, aku jadi ingat Indonesia. Kau tahu, di sana ada banyak hutan dan gunung yang mengelilingi garis katulistiwa," ucap Sevda sembari merenggangkan keduanya tangan mencoba meraih awan.
Lantas pandangannya terpaku pada Ayaz yang masih berdiri di depan roda kemudi kapal. "Apa kau pernah ke Indonesia?" tanyanya kemudian.
Ayaz mengangguk. "Ehm. Sekali saja saat aku masih berusia tujuh tahun. Aku dan ayah dan ibuku berkunjung ke Bali. Kami sangat bahagia saat itu."
"Benarkah? Aku jadi merindukan ibu dan ayahku. Kau pasti juga merindukannya bukan?"
Ayaz menunduk sedih. Mengerjap dan berkata, "Aku memang selalu merindukan ibuku."
"Kalau ayahmu?"
Garis mata Ayaz menjadi tebal saat Sevda bertanya tentang sosok ayahnya. Sosok yang membuatnya kesal sampai ia harus berada di tempat ini.
"Bukan urusanmu!" jawab Ayaz dingin.
"Kenapa kau jadi marah? Aku hanya bertanya saja." Sevda kembali tak acuh. Memilih sibuk menikmati alam yang ada di sana.
Ayaz berjalan menuju pinggir.
"Hei, apa yang akan kau lakukan?" tanya Sevda sedikit berteriak.
"Aku ingin berenang!" kata Ayaz. Tak sabar saat melihat beningnya air tersebut bagai kristal. Mengusik keinginan untuk menceburkan diri dan menjajal segarnya air tersebut.
"Dan meninggalkanku di sini?" sahut Sevda.
"Kalau kau mau ikut silakan!"
"Berenang?" Sevda menengok ke bawah. Karang serta biota laut lengkap dengan ikan-ikan hias berbagai jenis tampak terlihat jelas. Tetapi, saat mengulik lebih dalam lagi, ia membayangkan seekor hiu yang tiba-tiba meloncat membuka mulut ke arahnya.
"Aaa!" Gadis itu berteriak tiba-tiba sembari memejamkan mata.
"Ada apa dengan dirimu?" tanya Ayaz terheran.
Sevda membuka mata. Sadar kalau semua itu hanya bayangannya belaka. Ia menggeleng dan berkata, "Tidak ada. Tidak ada apa-apa."
Ayaz memutar mata malas. Mulai membuka kaus dan membuat tubuh telanjang dadanya itu terekspos. Sinar mentari menyengat kulitnya yang putih. Bahkan Sevda sampai meneguk ludah memperhatikannya.
"Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?" tanya Ayaz dengan nada tinggi membuat Sevda tertegun.
Sevda menjadi salah tingkah. "Tidak… siapa juga yang memperhatikanku. Kenapa aku harus memperhatikanmu. Tidak ada gunanya!" Sevda melengos kan wajah ke lain arah.
Saat Ayaz kembali menatap depan, Sevda diam-diam kembali memperhatikannya.
Jika manusia es itu berenang dan meninggalkanku sendirian di sini, bagaimana jika nanti ada hiu yang tiba-tiba meloncat ke kapal dan memangsaku. Tidak!
Sevda bergidik membayangkannya. Ia pun memanggil Ayaz saat pria itu sudah hendak menceburkan diri.
"Hei, tunggu!" Sevda berjalan mendekat.
"Ada apa? Kau hanya menungguku saja!"
"Dengar, sebaiknya kau jangan turun ke sana. Kau tahu, meskipun airnya terlihat tenang, tidak menjanjikan akan tidak adanya bahaya."
Ayaz mengernyitkan dahi. Tak mengerti dengan perkataan gadis itu.
"Maksudku… jika kau turun ke bawah sana, bagaimana jika nanti ada Hiu yang datang kemudian memangsamu?"
Ayaz tertawa mendengar perkataan gadis itu. Seakan menganggap lelucon akan ketakutan Sevda. "Kenapa kau jadi peduli denganku? Harusnya kau senang saat musuhmu ini dimakan Hiu. Kau bisa hidup bebas nantinya. Lalu kenapa kau panik?"
Sevda tertegun meneguk ludah. "Ya… aku hanya memperingatkanmu saja. Meskipun kau musuhku, terkenal batu seperti es, kau tetap manusia. Dan sebagai sesama manusia, terlebih aku manusia yang baik hati, sudah sepatutnya aku mengingatkanmu akan bahaya."
"Benarkah? Apa kau lihat aku tampak peduli? Sama sekali tidak! Dan hiu yang kau katakan itu, sama sekali tidak masuk akal!" Ayaz tampak tak acuh, kembali hendak menceburkan diri ke laut.
"Hei… tunggu!" Sevda berjalan cepat menghalangi jalan pria itu. Berdiri merenggangkan kedua tangannya, tak membiarkan pria itu untuk lewat.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari hadapanku!" perintah Ayaz.
"Tidak akan!" Sevda tetap kukuh pendirian dan tampak keras kepala.
"Lagi pula apa masalahmu? Meskipun aku dimakan hiu, itu urusanku. Kau tidak punya hak untuk menghentikannya. Kau bukan siapa-siapaku. Teman juga bukan. Kau tahu apa yang ada di antara kita? Hanyalah kebencian satu sama lain! Kau dengar itu?!"
Sevda mengerjap. "Aku setuju!" ujarnya sembari mengangguk-angguk.
"Bagus. Sekarang biarkan aku mencebur. Aku sudah tidak tahan lagi. Cuacanya sangat panas."
"Tidak mau!" Sevda masih saja terus menghalanginya.
"Astaga… menyingkir atau aku akan mendorongmu sekalian!"
"Apa? Apa kau sudah tidak waras?" Sevda memajukan langkahnya. Mendekat ke arah Ayaz dan mendorong sedikit d**a pria itu. "Tidak bisakah kau bersikap baik terhadap perempuan?"
"Aku akan bersikap baik jika kau bersikap baik denganku. Sekarang menyingkir dan aku tidak akan menganggumu! Oke?"
"Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanmu sendirian di sini!"
Ayaz mengerlingkan mata. "Sekarang aku tahu kenapa kau terus saja menghalangiku. Kau bukan kasihan padaku. Tapi kau sendiri yang takut. Kau takut sendirian di atas kapal. Iya, kan?"
Bagaimana pria ini tahu?
Sevda menggeleng cepat. "T-tidak… siapa bilang aku takut? Aku tidak takut! Sungguh!"
"Benarkah? Kalau begitu menyingkirkanlah dari hadapanku sekarang juga!" Tanpa membuang waktu, Ayaz langsung menggeser tubuh langsing gadis itu untuk menyingkir. Kemudian ia berjalan maju.
Ombak tiba-tiba naik. Sevda menjerit melihatnya.
"HIU!!!!"
Tanpa sadar itu bergerak ke arah Ayaz. Memeluknya dengan kasar, bahkan sampai mendorong tubuh pria itu mencebur ke laut.
Akhirnya, keduanya mencebur bersamaan.
"Aaaa!!!"
Byurr…!!!
Sevda mulai panik di dalam sana. Mencoba meraih permukaan air. Phobia nya akan kedalam air membuat tubuhnya mengejang. Ayaz buru-buru meraihnya dan memeluknya erat. Membawanya menuju permukaan.
Kepala Sevda langsung menyembul ke permukaan air. Mengambil napas cepat, tetapi tetap saja terasa berat dadanya. Mengusap wajahnya yang basah kuyup.
Mulai marah saat melihat wajah Ayaz. "Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?!" Sevda menciprat air laut ke wajah pria itu dengan kesal.
"Tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa denganmu!" ucap Ayaz dengan beberapa air yang masuk ke mulutnya.
"Tenang… tenang … mulutmu! Aku hampir saja tenggelam. Aku hampir saja mati dan kau menyuruhku untuk tenang?! Dasar gila!"
"Kau yang gila!" timpal Ayaz. Mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang terhantam ombak. "Kau yang membuat kita mencebur bersamaan!"
"Benarkah?"
"Lihatlah, kau bahkan tak sadar dengan apa yang kau lakukan. Dan kenapa kau tadi berteriak Hiu?"
"Hiu? Ah, iya. Hiu! Ada hiu di sekitar sini!" Sevda mulai menjerit. Mencoba menyeimbangkan tubuh yang terombang-ambing di air.
"Astaga!" Ayaz menarik tangannya. Membawanya mendekat ke arahnya. Membungkam mulutnya erat. "Tidak ada hiu di sini. Kau dengar? Tidak ada!"
Sevda terdiam memperhatikan kedua mata Ayaz.
Perlahan Ayaz mulai menyingkirkan tangan dari mulut Sevda.
"Bagaimana jika aku tenggelam?" kata Sevda dengan mulut gemetar dan tubuh menggigil.
"Tidak akan terjadi apa pun padamu. Aku janjikan itu padamu. Aku tidak akan membiarkan bahaya mendekatimu!" Ayaz berkata dengan mantap tepat di wajah Sevda.
Untuk kali pertamanya, Sevda percaya penuh dengan ucapan pria itu. Matanya menunjukkan sebuah perlindungan. Tubuh mereka kini sangat dekat hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan keduanya bisa saling merasakan napas hangat satu sama lain.
Ombak mengguyur, mendorong tubuh mungil Sevda untuk maju, dan tanpa sengaja membawa mulutnya mengecup bibir Ayaz.
Waktu mendadak berhenti sejenak untuk mereka.
Kedua mata saling menumbuk. Tangan saling berpegangan erat seakan tak membiarkan terpisah satu sama lain.
"Ini masalahmu, kau tahu!" Ayaz tiba-tiba berkata sembari menjauhkan kepalanya dari Sevda. "Kau terlalu phobia dengan air banyak. Kau tidak bisa berenang dan sebagainya. Sehingga saat kau tercebur, kau harus meminta bantuan orang lain!"
Sevda menganga dan menoyor kepala Ayaz. "Apa yang kau katakan? Kau pikir aku mau memiliki ketakutan seperti ini?! Dengar ya, Tuan Gletser! Cepat bawa aku naik ke kapal lagi atau aku akan menenggelamkan mu di sini!"
Ayaz tertawa sampai air laut menyembur dari mulutnya. "Kau sendiri tidak bisa berenang bagaimana kau akan menenggelamkanku?"
"Jangan banyak bicara! Cepat bawa aku ke kapal!" perintah Sevda.
"Baiklah… baiklah! Sekarang naik ke punggungku!"
"Apa?"
"Bagaimana aku bisa membawamu kalau kau tidak mau menurut! Cepat sebelum aku berubah pikiran!" tuntut Ayaz.
"Cerewet!" Dengan terpaksa Sevda mulai naik di punggung Sevda. Mengalungkan tangan leher Ayaz. Merasakan tubuhnya bersentuhan dengan punggung lebar nan berotot pria itu membuat Sevda meneguk ludah.
Tentu saja, gadis mana yang tidak akan tergila-gila jika melihat tampan dengan tubuh indah seperti Ayaz. Nenek-nenek pasti juga bakal khilaf. Ayaz itu pria yang mendekati sempurna dalam hal fisik. Hanya satu masalah yang dimiliki pria itu, yaitu dingin keras kepala.
Tangan Sevda terus mengait di leher Ayaz. Sampai pria itu membawanya naik ke kapal kembali.
"Ufff… akhirnya!" Sevda segera naik.
Ayaz mendudukkan Sevda di kursi. Memberinya segelas air dan menyuruh gadis itu meneguknya. Sevda mulai menyesapnya hingga tandas.
"Sudah? Atau masih butuh air? Tenang saja, tidak perlu khawatir kehabisan. Masih ada air laut yang bisa kau minum," canda Ayaz, sembari meletakkan gelas kosong di atas meja di sebelah kunci kapal.
Sevda memicingkan mata emosi. "Kau saja yang meminum air laut!"
Gadis itu mendirikan tubuhnya. Mencari handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
"Astaga! Lihat keadaanku. Semua ini gara-gara pria itu!" gerutu Sevda sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kau masih saja banyak bicara!" Ayaz menanggapinya. Pria itu saat ini berdiri menatap mentari, guna mengering tubuhnya. Butiran air yang menempel di dadanya serupa kristal saat terpancar sinar mentari. Rambutnya yang basah ia kibaskan. Membuat butiran-butiran air tersebut berjatuhan, mengalir sampai ke perut sixpack-nya.
Sevda meneguk ludah melihatnya.
"Hei, apa kau memperhatikanku?" Pertanyaan Ayaz membuat gadis itu buru-buru memalingkan wajah ke lain arah.
Sevda kembali fokus mengeringkan tubuhnya. Rambut panjangnya ia kibaskan. Pakaiannya yang basah membuat lekukan tubuhnya tercekat nyata. Sangat seksi dan hot.
Ayaz memperhatikannya tanpa kedip. Meneguk ludah berkali-kali.
Sevda yang sadar akan pria itu yang memperhatikannya mulai menegur. "Apa kau juga memperhatikanku, Tuan Gletser?!"
Ayaz menggeleng. Mengarahkan pandangannya ke lain arah. "Tidak, aku hanya memperhatikan ikan koi di air sana!" ujar Ayaz sekenanya.
Sevda memutar mata bosan.
"Jika saja aku tidak terjebak dengannya di sini, pasti aku sudah kembali pulang ke Istanbul." Sevda melototkan mata saat mengucap kalimat terakhir. Ia baru sadar kalau hari ini seharusnya ia berangkat pulang. Teman-temannya pasti bingung mencarinya, atau bahkan mereka sudah meninggalkannya.
"Aaaa!!!" Gadis itu menjerit sejadi-jadinya, membuat Ayaz membungkam telinganya.
"Hei, apa masalahmu? Mentang-mentang kau di tengah laut kau bisa berteriak seenak jidat!" ujar Ayaz dengan suara meninggi.
"Ayaz, apa kau menyadari sesuatu?"
Ayaz mengerlingkan mata. Mulai bergerak, melangkah kaki menghampiri Sevda. "Apa?"
"Kita seharusnya sudah kembali ke Istanbul," kata Sevda membuat Ayaz menepuk jidat.
"Kau benar! Serkan pasti mencariku!"
"Lupakan soal Serkan, sekarang di mana ponselku?" Sevda mulai mengingat-ingat kembali di mana ia meletakkan ponselnya.
Gadis itu ingat kalau tadi dia masuk ke dalam kapal dan menangis. Lalu Oyku dan Cansu mencoba menghubunginya tetapi ia malah membanting ponselnya tersebut.
"Ah, iya!" Gegas gadis itu bergerak ke arah meja. Menunduk, mencari ponselnya. "Ah, itu dia!" Sevda meraih ponselnya tersebut. Mencoba membuka kunci tetapi tidak bisa.
"Ufff… apa yang terjadi padamu?" Sevda mencoba menepuk-nepuk ponselnya.
"Kenapa?" Ayaz berjalan mendekat.
"Ponselku mati!" ucap Sevda memanyunkan bibir.
"Kehabisan baterai?"
"Sebenarnya mati karena aku lempar tadi."
"Itulah masalahmu. Kenapa kau melemparnya? Sekarang kau tidak bisa mengabari mereka!" Ayaz terlihat menyalahkan Sevda.
"Diamlah! Daripada kau terus mengguruiku, lebih baik kau ambil ponselmu dan kasih tahu sepupumu Serkan kalau kita belum pulang!"
Ayaz terdiam beberapa saat.
"Kenapa kau malah diam? Apa kau sedang cosplay menjadi patung?"
"Umm…. Sebenarnya… aku tidak membawa ponselku. Tadi aku juga membantingnya."
Sevda tertawa seketika mendengarnya. "Aku sendiri juga melempar ponselku lalu kenapa kau tadi sok menceramahi ku?" Sevda kembali melanjutkan tawanya. "Haha!"
"Kau pikir ini lucu?"
Sevda menghentikan tawanya. "Dengar, Tuan Gletser! Semua ini gara-gara dirimu!"
"Kenapa kau malah menyalahkan ku?"
"Jika saja kau tadi tidak mengemudikan kapal ini, maka aku tidak terjebak denganmu di sini seperti ini?!"
"Oh ya?" Ayaz mengerlingkan mata. "Lalu kenapa kau berada di kapal ini? Apa yang kau lakukan? Kau juga sama bersalahnya denganku!"
Sevda mengerjap. Sudah tak lagi punya kesabaran menghadapi pria itu. "Kau yang bersalah! Aku singgah sejenak. Tapi dengan bodohnya kau mengemudikannya. Apa kau sudah gila? Kau pikir ini kapalmu sehingga kau bisa membawa dan mengemudikannya sesuka hatimu?!"
Bahkan Ayaz baru sadar kalau kapal ini bukan hak miliknya.
"Diamlah, Ikan koi!"
"Kau yang diam! Kau itu sudah tidak waras! Lihat sekarang kita ada di mana? Kita ada di tengah laut! Kau lihat kapal lain di sini? Tidak ada!" Sevda mengerjap. Tiba-tiba bayangan Serkan dan Hazal yang bermesraan memenuhi ruang kepalanya. Itu semakin menambah emosinya. "Kau dan sepupumu itu memang selalu saja membuatku kesal! Membuat hidupku berantakan!"
"Wait… wait… tunggu sebentar! Kenapa kau membawa-bawa nama Serkan dalam hal ini?!" Ayaz tampak protes.
"Karena Serkan…. Serkan…." Sevda meneguk ludah.
"Biar aku lanjutkan! Karena kau menyukai Serkan, sementara Serkan tidak menyukaimu, kau langsung mengaitkan masalah ini dengan Serkan?! Boleh aku katakan sesuatu? Serkan tidak bersalah dalam hal ini. Tapi kau yang terlalu berharap dengannya!!!"
"DIAM!!!" Sevda membungkam kedua telinganya yang terasa panas saat Ayaz mengatakan kebenaran yang terlalu menyakitkan tersebut. "Diam saja kau!!!"
Sevda meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar. Mengambil gelas di sebelahnya dan membantingnya hingga pecah. Lantas, tanpa sadar ia mengambil kunci kapal di sebelahnya dan melemparnya begitu saja hingga tercebur ke laut.
Ayaz yang melihatnya langsung terkesiap. Membungkam mulutnya dengan tangan. Sementara Sevda yang mulai sadar akan hal itu mendadak diam.
Ayaz menatap Sevda dengan penuh arti. Sevda meneguk ludah. Menggeleng lalu melangkah mundur. Duduk di sofa dengan wajah penuh penyesalan seperti seekor anak kucing.
Ayaz mendekat. "Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?"
Sevda menggeleng. Memasang wajah polos. Menggigit jari telunjuknya.
"Kau masih saja tidak tahu apa yang baru saja kau lakukan?" ulang Ayaz bertanya.
"A-pa?" Bibir Sevda bergerak dengan tubuh gemetar.
"Kau baru saja membuang kunci boat ke dalam laut!"
"Hah? Apa itu kunci kapal?" Sevda masih saja bersikap polos.
"Tentu saja. Kau pikir kunci rumah? Tanpa kunci, kapal tidak akan bisa bekerja. Kau tahu itu? Dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Apa?"
"Kita akan terjebak di sini selamanya!"
"Hah!" Mulut Sevda menganga seketika.