"Sekarang apa yang kau pikirkan?" Ayaz menggebrakkan tangan di sandaran kursi yang digunakan oleh Sevda, dengan amat pelan tetapi itu menunjukkan kemarahannya.
Sevda menggelengkan kepala polos. "M-maaf, tadi aku marah dan tanpa sadar melempar itu," katanya.
"Katakan apa yang akan kita lakukan sekarang? Tidak ada kunci, kapal tidak berfungsi. Ponsel rusak. Dan tidak ada kapal lain yang terlihat. Kepada siapa kita akan meminta bantuan? Burung?"
Sevda mengangguk. "Kita bisa meminta pertolongan burung camar. Mungkin dia mau membantu kita." Dengan polosnya gadis itu berkata seperti itu.
Ayaz menggelengkan kepala tak habis pikir. "Sekalian kau meminta pertolongan teman-teman ikan koimu!"
"Tapi di laut tidak ada koi, Ayaz."
"Iya, kau benar! Adanya Hiu!" timpal Ayaz begitu saja.
"Ayaz… aku takut!" Sevda merengek sembari memegangi lengan kekar pria itu. "Tolong jangan tinggalkan aku!"
Sejenak Ayaz luluh, tetapi mengingat perlakuannya, pria itu menjadi tak acuh. Menyempatkan tangan Sevda dari lengannya. Pria itu menegakkan tubuh. Berdiri mondar mandir sembari mengelus-elus janggut tanpa berpikir.
"Bravo, Sevda! Bravo! Kau telah membuat kita terjebak di sini! Kau sadar itu?"
"Kenapa kau berteriak padaku?!" Sevda membalas teriakan Ayaz. "Kau juga bersalah dalam hal ini!"
"Terus saja mengatakan itu! Kita akan bermalam di sini. Lalu akan ada hiu, hantu, bajak laut dan sebangsanya! Biar saja kau dimakan!"
"Ayaz, jangan menakut-nakutiku!" Sevda mengacungkan telunjuknya ke arahnya.
"Yang benar saja! Ya Tuhan, kenapa kau mengirimkan gadis ini padaku!" Ayaz menyemburkan napas gusar. Berjalan mencari sesuatu yang bisa menyelesaikan masalahnya.
Kemudian ia melihat sebuah telepon di sana. Ia segera mengambilnya dan meminta bantuan.
"Hallo! Apa kau mendengarku? Hallo! Apa ada orang?"
"Ya, kami dengar!" Tiba-tiba terdengar suara dari telepon kabel tersebut.
Sevda yang mendengarnya pun langsung terjingkat. Bergerak ke arah Ayaz dengan wajah girang. Meroyok teleponnya begitu saja.
"Halo! Kami butuh bantuan! Kalian dengar? Tolong kirimkan bantuan!" teriak Sevda.
"Sevda, bisakah kau diam sebentar. Astaga! Biarkan aku yang berbicara!" bentak Ayaz.
"Memangnya kenapa kalau aku yang berbicara?" Sevda tampak tak terima.
"Karena kau hanya akan membuat masalah!" bentak Ayaz lagi.
"Jangan berteriak, Ayaz!"
Mereka kini malah saling berdebat.
"Sudah, berikan! Biar aku yang berbicara!" Sevda mencoba merebut telepon tersebut.
"Sevda, diam di tempat!"
"Kau yang diam!"
Mereka kini malah rebutan, dan tanpa sengaja kabelnya terputus. Membuat telepon tersebut tidak berfungsi, padahal itu merupakan satu-satunya hal yang bisa menyelam mereka.
Ayaz dan Sevda saling pandang. Menganga tanda terkejut.
"Halo! Halo!" Ayaz masih saja berbicara pada teleponnya.
"Fu*CK!" Pria itu membanting telepon tersebut dengan keras saat mulai frustasi. Lantas menatap Sevda dengan penuh penghakiman.
"Jangan kau coba-coba berteriak padaku lagi! Andai saja kau mau menurut dan membiarkanku yang menghubungi mereka, pasti hal ini tidak akan terjadi!"
Ayaz menggeleng tak habis pikir. Lelah sudah menanggapi tingkah gadis itu.
"Gadis ini benar-benar sakit jiwa!" gerutunya.
"Dan kau butuh ke dokter jiwa!" timpal Sevda tak terima. "Sebelum bertemu denganmu, hidupku benar-benar indah. Aku menikmatinya setiap hari. Terasa begitu mengasikkan. Tapi saat kau muncul dalam kehidupanku, semuanya menjadi berantakan!"
"Sama sepertiku. Bagiku kau juga pembawa sial! Miss Trouble maker!!!"
"Apa kau bilang?"
"Yah, kau memang gadis pembuat masalah!"
"Kau?! Auu!" Tanpa sadar kaki Sevda menginjak pecahan kaca gelas yang ia banting tadi. Seketika ia menunduk, melihat kakinya yang berdarah.
Ayaz yang melihatnya langsung tertegun. Masih belum meresponnya.
"Auuu…! Sakit sekali!" Sevda memegang kaki, melihat telapak kakinya yang terdapat tancapan beling kecil.
Sevda yang melihatnya menjadi iba. "Apa itu sakit?" tanyanya.
Sevda tak menjawab. Sibuk memperhatikan lukanya.
Ayaz mulai mendekat. "Apa terasa sakit?" Pria itu mencoba menyentuh kakinya.
"Jangan sentuh!" teriak Sevda. "Kau hanya akan melukaiku saja!"
Ayaz menyugar rambutnya ke belakang dengan mendesah. "Astaga! Aku tidak akan menyakitimu! Tenangkan dirimu dulu!"
Ayaz memegangi kaki gadis itu perlahan. Mulai bersikap lembut terhadapnya. Lantas, dengan amat hati-hati, ia mencabut pecahan kaca dari telapak kaki Sevda.
"Aargh!" Sevda menjerit sembari menutup mulutnya.
"Ini hanya akan sakit sebentar. Setelah ini akan baik!" Ayaz berdiri, mencari kain untuk digunakan perban luka gadis itu.
"Tunggu sebentar!" Ayaz mengambil kotak obat yang tersedia di sebuah laci. Membawa kotak tersebut pada Sevda dan mulai mengobatinya. Lantas, membalut lukanya dengan kain.
"Sudah selesai!" Ayaz kembali merapikan kotak obatnya.
"Auuu…!" jerit Sevda saat hendak berdiri.
"Masih sakit?" tanya Ayaz.
Gadis itu mengangguk dengan wajah sayu.
"Kau jangan berdiri dulu. Istirahatlah, aku akan membantumu duduk di kursi!" Tanpa pikir panjang, Ayaz langsung menggendong tubuh Sevda untuk di baringkan di kursi panjang.
Sevda yang melihat sekaligus merasakan perlakuan manis pria itu menjadi sedikit bersimpati. Ia sadar, setidaknya masih ada sisi kebaikan dalam pria yang terus saja membuatnya kesal. Karena begitulah manusia, seburuk-buruknya manusia, pasti ada secercah kebaikan yang tersimpan di lubuk hatinya. Terlebih, Ayaz itu bukan seorang penjahat!
"Istirahatlah dulu!" kata Ayaz pada Sevda.
Lantas ia bergerak, merapikan pecahan gelas dan memasukkan ke sebuah tong tempat sampah. Ia sengaja tidak membuang pecahan tersebut ke laut, karena itu akan merusak biota yang ada di bawah sana.
"Ayaz, bagaimana kita akan pulang?" Sevda membuka suara dengan pelan.
Ayaz meliriknya sejenak. Tak menanggapinya dan memilih diam. Duduk di kursi dengan menyadarkan kepalanya di sandaran. Menutup mata, menenangkan pikirannya.
***
Burung camar tampak memekik, sehingga membangunkan Ayaz dan Sevda dari tidurnya. Mereka mulai membuka mata, menyadari hari sudah mulai gelap. Terlihat matahari yang mulai menenggelamkan diri. Juga siluet lumba-lumba yang bergerombol masuk ke dalam air kembali.
"Hari sudah petang, kita masih saja di sini." Sevda bergumam. Hendak menapakkan kakinya turun, tetapi terasa sakit.
"Auuu!" Ia baru sadar kalau kakinya tadi terluka.
Sementara Ayaz sibuk mencari-cari kapal lain yang mungkin bisa menolong mereka.
"Ayaz, lihatlah!" Sevda berseru.
"Apa? Apa kau melihat kapal lain?" tanya Ayaz antusias.
"Bukan. Tapi lihatlah di sana! Indah bukan. Sunset dan lumba-lumba di sana juga ribuan burung yang terbang di atasnya!" Sevda berdecak sembari menuju ke arah matahari tenggelam.
"Astaga!" Ayaz menggaruk kepalanya. Sama sekali tak habis pikir. "Kita sedang terjebak di tengah laut, tapi kau masih saja memikirkan tentang sunset? Apa kau tidak berpikir tentang keadaanmu yang akan terjadi nantinya?!" Pria itu memarahi Sevda, membuat gadis itu menunduk diam.
Ayaz yang melihatnya merasa kasihan. "Sudah… sudah! Lupakan saja perkataanku tadi!" Pria itu membuang muka. Kembali menerawang, mencari kapal dari kejauhan.
"Help me!" Pria itu berteriak dengan tangan melambai-lambai. Berpikir akan ada kapal lain yang melihatnya. Namun teriakannya itu hanya dibalas oleh sahutan burung camar di atasnya juga deburan ombak yang mulai naik.
Matahari mulai sepenuhnya tenggelam. Digantikan oleh rembulan yang naik ke atas. Suara ombak mulai terdengar nyaring. Membising, membuat telinga Sevda risih.
"Hei, Tuan Gletser. Bisakah kau menyanyi untukku? Rasanya bosan sekali mendengar suara ombak!" ucap Sevda ke arah Ayaz sibuk memperhatikan rembulan.
Ayaz menoleh. "Kau pikir aku tontonan?"
"Kau menolak karena suaramu jelek kan?"
"Astaga. Bisa tidak semenit saja kau tidak mengajakku berdebat?!" Ayaz memalingkan wajah kembali fokus pada pantulan rembulan yang terombang-ambing di permukaan air.
Sevda memutar mata bosan. Mencoba turun dari kursi. Berjalan pincang mencari sesuatu.
"Ya Tuhan, apa kau tidak bisa diam? Kalau kau jatuh lalu kakimu sakit, siapa yang harus bertanggung jawab?" gerutu Ayaz.
"Shut up, Mr. Es! Kau tidak perlu memikirkan tentang diriku!" Sevda keras kepala dan tetap berjalan menuju sebuah meja koleksi. Ia menemukan sebuah radio yang sepertinya masih berfungsi.
Lalu ia mulai memencet tombolnya, mengotak-atiknya sehingga radio tersebut bisa memutar lagu.
Radio tersebut memutarkan lagu Turki milik Buray yang berjudul Sen Sevda Misin. Lirik lagu yang sesuai dengan perasaan Sevda saat ini. Gadis itu mendengarkannya sembari merenung memerhatikan langit.
Tanpa sadar bahkan Ayaz juga menikmati lagu tersebut. Meresepi setiap lirik lagunya. Sementara Sevda meneteskan air matanya. Mengingat kisah cintanya berakhir sebelum dimulai.
Usai lagu tersebut berhenti, kini berganti lagu milik Mustafa Ceceli yang berjudul Gul Rengi
"Sudah cukup!" Ayaz mematikan radio tersebut. "Kau sudah puas menangis? Sekarang waktunya tidur dan jangan menggangguku dengan berbagai suara!" kata Ayaz.
"Aku tidak mengerti, orang apa yang memutar lagu hanya untuk mencari kesedihan!" Ayaz menggerutu sembari berjalan memasuki kabin.
"Menyebalkan!" Sevda memutar mata bosan. Berjalan pincang membuntuti Ayaz. "Kita akan tidur di mana?" tanyanya.
"Khusus untukmu kau boleh tidur di luar sesukamu!" timpal Ayaz begitu saja.
"Astaga, apa kau tidak bisa mengalah dengan gadis? Hanya ada satu kasur di sini. Kau tidur di kursi saja. Aku yang dikasur. Ya… ya?" Kedua mata Sevda berkedip cepat.
Ayaz bergidik geli melihat ekspresi gadis itu.
"Lagi pula kenapa kau mencuri kapal yang hanya memiliki satu kamar? Tanggung banget!" celoteh Sevda.
"Kau pikir aku mencuri?!"
"Ya karena kau membawanya tidak bilang itu sama saja dengan mencuri. Coba kau pikirkan, pemilik kapal ini pasti bingung mencarinya."
Sevda berdiam memikirkan perkataan gadis itu. Menggeleng cepat. "Sudah sudah, lebih baik kau diam. Aku tidak mau memikirkan hal-hal aneh yang menggangguku. Aku hanya ingin tidur damai!"
Ayaz mengambil selimut dan bantal dan berjalan menuju kursi dan membaringkan tubuhnya di sana.
"Hei, hei… kenapa kau membawa selimutnya?" ujar Sevda.
"Apa kau berpikir setelah mendapat kasur kau juga akan mendapatkan selimut? Jangan berpikir aku akan memberimu kenyamanan itu Tuan putri!" balas Ayaz.
Ayaz mulai menata bantalnya kemudian digunakan untuk berbaring dan membungkus tubuhnya menggunakan selimut.
Sevda merasa geram. Berjalan menuju kasur dan membaringkan tubuhnya di atas sana.
Meski gadis itu mencoba menutup mata, tetap saja kantuknya tidak mau menghampiri. Terlebih serangga seperti nyamuk yang mulai menyerbunya. Di tambah udara yang kian dingin menusuk tulang.
Sudah beberapa tahun gadis itu hidup di Turki dan sudah cukup bisa menyesuaikan musim dan iklim yang ada. Tetapi, jika tidur di atas kapal dengan udara yang dingin, tentu itu akan sangat mengganggu gadis itu.
Beberapa kali Sevda terjaga. Melirik ke arah Ayaz yang nyenyak terbalut selimut.
"Astaga! Pria itu benar-benar tidak punya hati nurani. Tidak kah dia mengalah dan memberikan selimutnya padaku? Menyebalkan!"
Sevda mulai menyapu pandang sekitar. Tubuhnya terasa bergoyang saat ombak menggerakkan kapal tersebut. Ia menengok ke jendela, mencari rembulan yang sudah tertutup awan gelap. Di luar sana benar-benar mencekam. Hujan sepertinya akan turun lebat. Begitu pun dengan badai. Itu membuat Sevda berpikir aneh-aneh.
Ia pun bergerak, berjalan menghampiri Ayaz. Mencoba membangunkan pria itu. Menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Ayaz, bangunlah! Ayaz!"
"Diamlah… aku mau tidur."
"Ayaz!"
"Serkan ada apa? Kenapa kau membangunkanku pagi-pagi sekali. Ini masih pagi, jam kuliah masih lama!"
Sevda mengerutkan dahi saat mendengar pria itu menggigau dan mengira kalau Serkan yang membangunkannya.
"Aku rasa dia memang mirip beruang jika sudah tidur!"
Sevda kembali menatap sekitar. "Ya Tuhan, bagaimana aku bisa tidur?"
Badai tiba-tiba menghadang di luar sana. Hujan turun begitu derasnya membuat air laut naik. Ombak semakin besar membawa kapal tersebut entah ke mana.
"Aaaa!" Sevda menjerit. Pikirannya terbayang yang tidak tidak sehingga membuat gadis itu bingung entah kenapa.
Namun ia tak mau terus berjaga dan mendengar serta melihat hal hal mengerikan di sekitarnya. dan yah, semua yang ia lihat maupun ia dengar dari gendang telinganya merupakan kutukan baginya pada malam itu.
Kedua ekor mata Sevda hanya melirik ke kanan dan kiri entah apa yang ia lihat. Tetapi udara dingin yang menyerbunya sangat membuatnya tidak tahan dengan keadaan ini. Ia pun akhirnya memilih untuk segera terlelap. Namun sialnya ia tak bisa terlelap begitu saja. Ia sangat mengutuk dirinya sendiri kenapa tidak bisa memejamkan mata.
Gadis itu terbangun sejenak. Berjalan mondar-mandir hingga kapal kembali bergoyang saat angin ribut menghantamnya. Sevda terguling jatuh dan sedikit mengaduh.
Sepertinya ide buruk jika ia harus tetap berjaga seperti itu. Akhirnya ia memiliki ide untuk berbaring di sebelah Ayaz. Namun, rasa gengsi kembali menyerbunya. Ia bahkan tidak terima jika harus bersebelahan dengan pria itu. Tapi apa boleh buat. Ia harus menerima keadaan tersebut dan mengesampingkan egonya.
Akhirnya, dengan seribu penyesalan, gadis itu menggerakkan langkahnya menuju Ayaz. Mendudukkan tubuh dengan sangatlah hati-hati dan membaringkan tubuh dengan merasa tidak nyaman.
"Ya Tuhan kapan ini berakhir?" Setelah bergumam demikian, suara petir kembali menyengat membuat Sevda menjerit.
"Aaaaa!"
Sevda langsung merapatkan tubuhnya di sebelah Ayaz dan mulai memejamkan mata dengan sangat rapat.