Seekor burung camar tampak berlalu lalang di dalam kapal. Di paruhnya menyongsong ikan segar yang baru saja di tangkapnya. Tanpa sengaja menjatuhkannya tepat di wajah Sevda.
Gadis itu terbangun. Menghidu bau amis ikan. Mulai menggerakkan tubuhnya. Mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Melihat ke sekeliling. Semuanya tampak sunyi.
Bahkan Ayaz tak terlihat di sekelilingnya. Hanya seekor burung camar dan seekor ikan yang kelebatan membutuhkan air.
"Aku ada di mana?" Sevda menggerakkan kakinya yang masih sakit. Keluar kabin, mencari keberadaan Ayaz.
"Ayaz?!" teriaknya memekik.
Sevda menyadari kapal mereka sudah berada di tepian pantai dengan pulau yang tampak tak berpenghuni. Ia berpikir pasti badai semalam yang membawanya sampai ke sini.
"Di mana pria batu itu?" Sevda kembali masuk. Mengecek di toilet tapi semuanya tampak kosong.
Mata Sevda tertuju pada seekor burung camar dan ikan yang masih di sana. Kemudian ia menghampirinya.
"Apa kau melihat Ayaz? Ada di mana dia?" tanyanya polos.
"Atau jangan-jangan…." Sevda membulatkan kedua matanya. "Jangan-jangan ada penyihir lalu menyihir Ayaz menjadi burung ini? Atau ikan?" Sevda membungkam mulutnya menunjukkan gelagat dan ekspresi terkesiap.
"Apa kau Ayaz? Hei!" Sevda hendak menyentuh burung tersebut tetapi dia malah dipatuk.
"Auu…! Kau memang seperti manusia gletser itu! Galak!"
Sevda kembali berdiri. Menyapu pandang sekitar. "Di mana kau Ayaz?"
Gadis itu kembali bergerak keluar kabin. Turun dari kapal dengan sangat hati-hati. Menjejakkan kakinya di pasir yang putih bersih.
"Ayaz!!!" teriaknya. Namun tak ada respon. Hanya deburan ombak dan angin yang saling berkolaborasi.
"Apa badai semalam telah menenggelamkan pria itu? Lalu… ada seekor hiu dan memakannya?" Sevda bergidik ngeri.
"Jika Ayaz tidak ada maka aku akan sendirian di sini. Tidak ada kapal lain. Dan pulau ini, ini seperti tidak berpenghuni."
Bulu roma gadis itu mulai berdiri. Tetapi ia memberanikan diri untuk berkeliling mencari Ayaz.
"Pria batu? Manusia Gletser! Kau di mana?"
"Ayaz?!"
"Apa kau mendengarku?!"
Meski gadis itu mencoba berteriak berkali-kali tetapi tetap saja tak ada sahutan.
"Di mana kau Ayaz? Apa kau masih hidup?" Kedua mata Sevda memandang ke arah pulau yang di penuhi pepohonan besar. "Aku pernah mendengar cerita yang sering menjadi perbincangan orang Indonesia, kalau hutan menyimpan banyak misteri dan juga mahkluk tak kasat mata. Apa penunggu hutan itu mengambil Ayaz dan menjadikannya tumbal?"
Sevda kembali bergidik. Mencoba menepis pikiran negatifnya jauh-jauh.
"Ayaz, di mana kau?" Sudah sepuluh menit sejak ia terbangun dari tidurnya, pria yang harusnya bersamanya saat ini masih belum juga ditemukan.
"Ya Tuhan… apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa terjebak di pulau tak berpenghuni seperti ini dan sendirian. Ponselku mati dan tidak ada makanan. Apa yang harus aku lakukan?"
Sevda mondar-mandir dengan kaki sedikit pincang karena luka akibat pecahan gelas masih terasa sakit.
"Ayaz!" Kembali gadis itu berteriak. Memekik memanggil nama Ayaz.
Sevda mulai bingung hampir stres. Air mata turun dari sudut matanya. Ketakutan menyelimutinya, ditambah perutnya yang keroncongan karena lapar.
"Ayaz… di mana kau?" gumamnya dengan sesengguk tangis.
"Ayaz, kembalilah! Aku janji aku tidak akan marah dan berdebat denganmu! Aku akan menuruti semua permintaanmu!" Sevda berteriak ke arah pepohonan yang rindang.
"Ayaz, kau mendengarku?!"
"Hei, Miss Trouble Maker!" Tiba-tiba suara seorang pria terdengar. Suara itu mirip sekali dengan Ayaz.
"Ayaz? Kau kah itu? Apa kau ada di dalam pohon sana?!" teriak Sevda lagi.
"Hei, Nona ikan koi. Apa yang kau lakukan?"
Sevda baru menyadari kalau suara pria itu berasal dari belakangnya. Gadis itu buru-buru membalikkan tubuh. Menyipitkan mata. Melihat sosok lelaki tampan tengah berjalan di tepian pantai dengan menyongsong sebuah panjang dan juga beberapa ikan segar.
"Ayaz?!" Saking girangnya Sevda berlari. Tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya yang menginjak butiran karang kecil. Terus bergerak hingga menghambur di pelukan pria itu.
"Ayaz, kau kemana saja? Kau tahu, aku mencarimu seperti orang gila!" ucap Sevda haru sembari terus memeluk Ayaz. Menempelkan kepalanya di dad@ bidang pria itu.
Ayaz perlahan mulai menggerakkan tangannya. Menyentuh punggung gadis itu.
"Ayaz, kau tahu, aku takut sekali."
"Takut kehilanganku?" sahut Ayaz cepat.
Sevda yang tersadar dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini mulai melepaskan pelukannya. Kembali bersikap biasa saja.
"Tidak… siapa bilang?" Gadis itu menggeleng. "Aku hanya berpikir kau dimakan hiu, atau dijadikan tumbal pulau ini oleh para penunggu sini."
"Itulah masalahmu, Nona Ikan Koi. Pikiranmu itu selalu saja berbau mistis dan fantasi. Setidaknya berpikirlah yang realistis. Kita ini hidup di zaman modern segala kecanggihan teknologi. Janganlah terlalu primitif. Aku curiga kau lahir pada waktu zaman purbakala!"
Tanpa memikirkan perasaan gadis itu yang mencemaskannya, Ayaz tampak santai saja. Seolah tak terjadi apa-apa dan tak menganggap serius akan raut wajah Sevda.
"Memangnya kau ke mana tadi?" tanya Sevda kemudian.
"Tidakkah kau lihat yang aku bawa? Aku tadi hanya memancing ikan di sekitar sini," jawab Ayaz santai.
"Kalau kau di sekitar sini, kenapa aku tidak melihatmu? Dan kenapa saat aku berteriak kau diam saja? Tidak menanggapinya?!" Sevda mulai kesal.
"Aku sengaja. Biar saja kau panik," jawab Ayaz seadanya. Lantas berjalan meninggalkan Sevda.
"Kau?" Sevda mulai geram. Bergerak membuntutinya dengan tangan mengepal. "Aku mencarimu dan berteriak bagai orang gila dan kau malah sengaja mengerjai ku?! Berani sekali kau?!" Sevda sudah berdiri di depan Ayaz, menghalangi jalannya dengan kedua tangan mengepal serta mata melotot berapi-api.
Ayaz menghentikan langkahnya. Memutar mata bosan. "Dengar, ya, Miss Trouble maker! Aku dengar dengan jelas apa kau katakan tadi saat mencariku. Kau berkata kau tidak akan marah atau berdebat lagi denganku. Kau juga akan menuruti semua permintaanku asal aku kembali. Jadi, jangan membuatku pusing hari ini, oke?"
Sevda meneguk ludah. Sudah tak punya kesabaran lagi menghadapi pria di depannya saat ini. Tetapi ia tak bisa melawan, karena ia telah mengatakan sebuah perjanjian tadi.
"Sekarang biarkan aku lewat!" pinta Ayaz dengan senyuman penuh ejekan.
Sevda menahan rasa geram yang mendongkol di lubuk hati. "Silakan, Pangeran Songong!" ujar Sevda dengan nada pelan namun terdengar ketus.
Ayaz tersenyum bangga. Kembali melanjutkan langkahnya.
"Hei, Tuan Gletser! Tunggu dulu!" Sevda berjalan menghampirinya dan berjalan beriringan dengan pria itu. "Dengar, perutku lapar sekali. Aku bisa mati jika tidak makan. Kita juga terjebak di pulau tak berpenghuni seperti ini, sekarang apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan gunakan untuk mengganjal perut?"
Ayaz kembali menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Kalau aku… ini jawabannya!" Ayaz menunjukkan empat ikan besar yang masih segara yang ia rantai jadi satu. "Aku bisa makan ikan ini dan tidak akan mengalami masalah perut kelaparan. Kalau kau, aku tidak tahu. Itu masalahmu. Oh iya, boleh aku kasih saran? Kau mungkin bisa memakan dedaunan atau batu karang," ujar Ayaz semakin membuat Sevda kesal.
"Kau benar benar menyebalkan! Tidak kah kau mau berbagi ikan itu padaku?"
"Sayangnya aku tidak sebaik itu, Miss Trouble Maker!"
"Berhentilah menyebutku Miss Trouble Maker! Kau bukan pembuat masalah! Kau yang sebenarnya pria pembuat masalah!"
"Oh ya? Siapa yang menceburkan kunci boat ke laut?"
"Kau masih saja mengungkit hal itu! Huh!" Sevda melipat tangannya di perut dengan wajah masam. Perutnya itu benar-benar keroncongan. Kemudian ia ingat suatu hal. Ia ingat ada satu ikan cukup besar yang dibawa burung camar tadi di dalam kapal.
"Kau pikir aku tidak punya makanan?" Sevda berkata dengan suara angkuh pada Ayaz. "Lihat saja nanti!" Gadis itu bergerak menuju kapal dan naik ke atasnya.
"Apa yang akan gadis itu lakukan?" gumam Ayaz.
Sevda mulai mencari ikan yang tadi. "Di mana kau ikan?"
"Oh my God!" Sevda menganga saat melihat ikan tersebut hanya tersisa tulang dan kepala. Burung camar tersebut telah memangsanya sampai habis.
"Astaga apa yang kau lakukan?" Sevda mendekat membuat burung tersebut terbang. Ia menjinjing tulang ikan tersebut dengan memanyunkan bibir.
"Ayaz harus membagi ikannya denganku. Kalau tidak, maka namaku bukan Sevda!" Gadis itu mengangguk dua kali dengan mantap.
"Hei, Miss Trouble Maker! Apa kau menemukan sesuatu untuk mengganjal perutmu?!" Ayaz berteriak dengan nada penuh ejekan pada Sevda yang mulai menuruni kapal.
Sevda berjalan menghampirinya dengan menyembunyikan tangan di belakang.
"Apa yang kau dapatkan? Boleh aku melihatnya?" pinta Ayaz mencoba melihat apa yang gadis itu sembunyikan di tangannya.
Dengan wajah datar Sevda memperlihatkan tangan kanannya. Menjinjing sebuah tulang ikan lengkap dengan kepala. Tentu saja itu membuat pria di depannya terbahak.
"Hahaha! Apa kau akan makan tulang itu? Kau pikir dirimu kucing? Hahaha!" Ayaz kembali mengeraskan tawanya. "Tapi kau memang cocok memakan tulang. Hahaha!"
"Enak sekali tertawa, ya! Hentikan aku kusumpal mulutmu itu dengan tulang ikan ini!" ujar Sevda ketus.
Ayaz mulai menghentikan tawanya.
"Lebih baik kau cari sesuatu untuk mengganjal perutmu itu!" saran Ayaz.
"Tidak perlu. Karena kau yang akan memberikannya padaku," ucap Sevda dengan bangga diri.
"Aku? Memberikannya padamu? Mustahil! Jangan bermimpi Nona Ikan Koi! Walau kau menangis dan berlutut di kakiku pun aku tidak akan memberikannya padamu! Kau dengar itu?!"
"Astaga… kau pelit sekali!" Sevda menyemburkan napas gusar.
"Terserah kau mau bilang aku apa. Tapi boleh aku kasih saran, sebaiknya kau mulailah mencari ikan sendiri atau kau akan meneteskan liur saat aku memanggang ikan ini dan memakannya! Ini kail untukmu!" Ayaz memberikan kail tersebut pada Sevda.
"Semoga kau mendapatkan ikan yang banyak!" ujar Ayaz dengan tawa penuh ejek dan bergerak menuju kapal untuk mencari korek api.
"Tentu saja, aku akan mendapatkan hiu dan menyuruhnya memangsamu!" sahut Sevda dengan kesal.
Tak lama akhirnya Ayaz kembali dengan wajah sedikit murung.
"Kenapa, Tuan Gletser? Apa kau tidak menemukan korek api?" Sevda bertanya dengan nada penuh ejek.
Ayaz terdiam.
Sevda mulai menunjukkan tangan kirinya yang menggenggam sebuah korek api. Memamerkannya pada pria yang berdiri di depannya dengan kening berlapis.
"Jadi … jadi kau yang mengambilnya? Pantas saja aku mencarinya tidak ketemu!" Ayaz mengeraskan rahangnya.
Sevda tertawa puas. "Tanpa korek api ini, kau tidak bisa memanggang ikan! Tapi, kalau kau mau memakannya mentahan silakan saja!"
"Tentu saja! Tentu saja aku akan memakannya!" ujar Ayaz geram. Ia mulai mendekatkan ikan tersebut ke arah mulutnya. Menghidu aroma amis sudah membuatnya teringin muntah, apalagi harus memakannya tanpa dimasak.
"Kenapa, Tuan Beku? Rasanya enak bukan?" Sevda tersenyum puas melihat wajah Ayaz yang emosi. "Sekarang begini saja, bagi ikanmu itu padaku dan aku akan memberikan korek api ini padamu!" saran gadis itu.
"Tidak akan!" balas Ayaz keras kepala.
"Baiklah. Kita akan sama-sama kelaparan di sini!" timpal Sevda.
Satu hal terbesit dalam benak Ayaz. Ia pernah menonton sebuah film, di mana tokohnya yang terjebak di hutan. Mereka mencoba menciptakan api dengan menggesekkan dua batu sehingga tercipta api.
"Kau pikir aku tidak bisa memanggang ikan ini tanpa korek apimu itu, Miss Trouble maker? Sekarang lihat apa yang akan aku lakukan?!" Ayaz melewatkan ikannya di samping kakinya. Tetap siaga saat gadis di depannya mencoba merebut. Lantas ia mulai mencari dua batu. Mencoba menggesekkan keduanya. Tetapi api tak juga mau muncul.
Sevda tertawa melihat aksinya tersebut. "Kau pikir dirimu itu pahlawan?"
"Diamlah! Aku pernah melihat adegan dalam film di mana lelaki mencoba membuat api untuk digunakan oleh gadisnya menghangatkan tubuh."
"–Dan kau berpikir kau adalah pahlawan di dalam film tersebut? Jangan bermimpi terlalu tinggi, Bodoh. Sudahlah lebih baik kau menyerah saja!" ujar Sevda meremehkan.
"Sial! Menyebalkan!" Ayaz membanting kedua batu tersebut saat sudah beberapa kali gagal melakukan percobaan menciptakan api. Pria itu menyemburkan napas kesal. Perutnya itu mulai keroncongan. Ia bisa pingsan kalau tidak segera mengganjalnya dengan sesuatu.
"Astaga… baiklah baiklah. Aku akan memberikanmu sedikit imanku," kata Ayaz kemudian.
"Sedikit? Tidak bisa. Ikanmu kan ada empat. Kau dua aku juga dua. Bagaimana?" tawar Sevda.
"Demi Tuhan aku akan menceburkanmu ke laut! Baiklah baiklah!" Akhirnya Ayaz mengalah dan menurut. "Sekarang berikan korek api itu padaku?" pintanya.
"Aku bukan orang bodoh, Tuan Gletser! Berjanjilah dulu kau tidak akan curang!" ucap Sevda was was.
"Iya… iya… aku janji, astaga! Kau ini banyak bicara!"
Akhirnya keduanya pun sepakat untuk berbagi sesuatu untuk saling mengasihi guna bertahan hidup di pulau tersebut.
"Hei, Nona! Ikan tidak akan matang hanya dengan kau lihat sambil duduk! Sekarang ayo, cepat bantu aku mencari kayu bakar!" perintah Ayaz.
Sevda memutar mata malas. Terpaksa menuruti perintah pria itu.
Mereka pun mulai mencari kayu bakar dan mengumpulkannya. Setelah lumayan banyak terkumpul, mereka menatanya membentuk serupa api unggun. Setelah itu Ayaz mulai membakar kayunya. Api langsung menyulut usai beberapa kali percobaan. Sementara Sevda sibuk menata ikan-ikan untuk ditusuk dijadikan satu. Setelah semuanya rapi, mereka mulai memanggang ikan tersebut.
Angin pantai menerpa membuat aroma ikan yang masih segar tersebut terasa harum. Menggugah perut mereka yang sudah tak sabar ingin mencicip daging ikan tersebut.
"Punyamu sudah matang, Bodoh! Cepat jauhkan dari api!" ujar Sevda saat melihat ikan panggang Ayaz yang mulai berasap.
Ayaz mengangkatnya. Baru menyadari kalau sisi belakangnya sudah gosong berwarna hitam. Tentu saja itu membuat mereka tertawa.
Tanpa sadar mereka menikmati momen tersebut dengan canda tawa. Setelah ikannya matang, mereka mulai memakannya masing-masing sambil menikmati deburan ombak yang menyapa bibir pantai.
"Suasananya indah sekali, ya!" ujar Sembari dengan mata yang di manjakan keindahan alam tersebut.
"Mengesampingkan kenyataan bahwa kita terdampar di sini, tapi jujur tempat ini sangat indah. Lautnya terlihat lebih tenang. Airnya juga biru jernih," ujar Ayaz.
"Kau benar." Sevda menengok ke sekitar. "Lihatlah, hampir tidak ada sampah berserakan di sini. Semuanya benar-benar bersih. Pasirnya juga putih bersih. Rasanya indah bukan jika alam ini tidak tidak dirusak."
"Exactly! Dan manusia-manusia seperti kau yang selalu merusak alam. Oh iya, lupa. Kau kan ikan koi, bukan manusia!" canda Ayaz, lantas memasukkan cubitan daging ikan ke dalam mulutnya.
Sevda yang masih sibuk mengunyah menghentikan gerakan mulutnya. Menatap datar pria di sampingnya. "Bisa tidak sedetik saja kita tidak bertengkar!"
"Orang sepertimu tidak bisa diajak berteman!" balas Ayaz sekenanya.
"Orang sepertimu juga mustahil untuk diajak berbaikan. Kau tahu, seandainya aku terjebak di pulau dengan pria yang benar. Maka dia akan bersikap romantis padaku. Seorang pangeran tampan. Mengambilkan ikan untukku. Lalu memanggang bersama. Kemudian kami saling bersuap-suapan. Ufff…. Indah sekali rasanya." Sevda mulai berhalusinasi membuat Ayaz merasa jijik.
"Teruslah bermimpi sampai kau jatuh di kotoran ayam!"
"Ayaz!" Sevda meninggikan suaranya. "Kita sedang makan dan kau malah membalas hal jorok seperti itu?! Apa kau tidak punya sopan santun!"
Kalimat tersebut mengingatkan akan perkataan ayahnya kemarin, membuat Ayaz muak. "Diam! Jangan berkata sopan santun padaku!"
"Memang kau tidak punya sopan santun, kan? Apa kau tidak merasa jijik membahas kotoran ayam saat sedang makan?" Sevda menggerutu ke arahnya.
"Tidak. Aku lebih jijik saat mendengar kau membahas tentang impianmu tadi. Soal apa? Pangeran? Omong kosong! Kau itu cocok mendapatkan monster, bukan raja atau pun pangeran!" cerca Ayaz.
"Dan kau cocok mendapatkan penyihir!" balas Sevda tak mau kalah.
Ayaz memutar mata bosan. "Setidaknya tidak mendapatkan dirimu!" gumamnya.
"Kau mengatakan sesuatu, Tuan Gletser?" tanya Sevda.
Ayaz menggeleng berpura-pura bodoh. "Tidak. Tidak ada. Mungkin telingamu yang eror!" Masih saja mencari kesempatan untuk mengejek gadis itu.
"Oh iya, bagaimana kau bisa bangun pagi tadi? Maksudmu kita kan….umm.. kita … kita… tidur bersama, tapi kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Sevda, merasa ragu dan amat terpaksa saat mengucapkan kalimat terakhir.
Ayaz sedikit tersedak. Baru ingat kalau gadis itu tidur di sebelahnya semalaman. Ia mulai mengingat kejadian tadi pagi saat matanya mulai membuka.
Saat itu kicauan burung camar membising di atas kapal. Ayaz mulai risih, membuka matanya. Hendak terbangun, tetapi terkejut melihat seorang yang berada di sampingnya.
Ayaz melihat Sevda yang masih terpulas. Memperhatikan wajah polos tersebut. Perlahan, tangan Ayaz merapikan rambut gadis itu yang sedikit menghalangi pandangan. Mengaitkannya pada daun telinga. Sevda sedikit bergerak, membuat Ayaz buru-buru menutup mata berpura-pura tertidur.
Kemudian pria itu kembali membuka kedua kelopak matanya perlahan. Melirik ke arah Sevda yang masih terlelap. Senyum mengembang dari garis bibir pria itu.
Kau cantik juga ya kalau kau tidak banyak bicara. Ayaz bergumam dalam hati.
Suara pekikan camar kembali merebut perhatian Ayaz. Pria itu mulai membangunkan diri dengan sangat hati-hati, takut jika gadis di sebelahnya terbangun. Ayaz bahkan memberikan selimutnya untuk digunakan menyelimuti gadis itu.
Lantas mendirikan tubuh. Berjalan pelan keluar kabin. Dilihatnya matahari sudah naik setinggi tombak. Segerombolan burung camar tampak berlalu lalang di atas sana, siap untuk mencari santapan setelah semalaman mendekam di dalam sarang.
Ayaz menengok ke sekitar. Baru sadar kalau kapalnya sudah berada di tempat yang berbeda. Di tepian sebuah pulau yang sunyi tetapi tampak indah.
"Apa semalam terjadi badai?" gumam Pria itu mempertanyakan. Lantas mulai turun dari kapal. Sedikit terkejut saat melihat bangunan sisi kapal tersebut yang sudah rusak. Dan mustahil untuk bisa kembali dengan kapal tersebut.
"Ufff… sial!" Ayaz menggaruk kepalanya.
Kembali memandang ke sekelilingnya.
"Hallo! Apa ada orang?!" Pria itu berteriak. Tetapi suaranya kembali terpantul, menandakan betapa sunyinya tempat tersebut.
"Sepertinya tempat ini benar-benar kosong!" Ayaz menjelikan mata. Menerawang jauh, mencari kapal lain yang muncul terlihat. Tetapi sejauh mata memandang hanya terdapat laut kemudian menyatu dengan langit.
Detik berikutnya perutnya itu merongrong. "Ufff… rasanya lapar sekali!" keluh Ayaz sembari menepuk-nepuk perutnya. "Sebaiknya aku memancing ikan untuk mengganjal perut."
Ayaz bergerak ke arah kapal. Kembali naik untuk mencari alat pancing.
"Gadis itu masih saja belum bangun?" gumamnya saat memperhatikan Sevda yang masih nyenyaknya bermain di alam bawah sadarnya. "Tapi itu lebih bagus. Setidaknya duniaku akan damai ketika dia tertidur. Dan ya… dia sangat manis saat tertidur."
Tanpa sadar Ayaz telah memuji gadis itu bahkan senyum-senyum sendiri memandangnya.
"Astaga, Ayaz apa yang kau lakukan? Yang benar saja. Apa kau baru saja memuji gadis pembuat masalah itu?" Pria itu mendesis. Menggesek rambutnya yang tak gatal.
"Sudahlah, lupakan dia. Lebih baik kau cepat cari ikan agar perutmu tidak keroncongan!" ujar Ayaz pada dirinya sendiri.
Pria itu pun bergerak mengambil alat pancing. Kembali keluar kapal setelah menemukannya. Berjalan ke arah pantai untuk memancing ikan.
"Hei, kenapa kau malah bengong?!" Sevda membuyarkan lamunan pria itu, dengan melambaikan tangannya tepat di wajah Ayaz.
Ayaz kembali tersadar. Berpulang dari ingatan kejadian pagi tadi. Pria itu menatap Sevda.
"Lagi pula, kenapa kau jadi tidur di sampingku? Bukannya kau sudah tidur di kasur?" tanya Ayaz membuat Sevda meneguk saliva.
Sevda kembali menatap laut. "Tadi malam aku tidak bisa tidur. Ada begitu banyak nyamuk. Dan kau tidak akan tahu kalau tadi malam terjadi badai. Kau malah sibuk bermimpi!"
"Jadi kau tahu kalau tadi malam ada badai?" tanya Ayaz.
Sevda mengangguk. "Yah, dan mungkin badai itu yang membawa kita sampai ke sini. Kau lihat, sisi kapal itu rusak akibat terhantam badai dan karang. Sekarang, kita tidak akan bisa kembali!"
"Walau pun kapal itu tidak rusak, kita juga tidak bakal bisa kembali karena kuncinya sudah dibuang sama nenek sihir ke laut!"
"Hei, apa kau menyindirku?" Sevda memicingkan mata ke arahnya.
"Kalau kau merasa ya itu bukan salahku!" jawab Ayaz santai.
Sevda mencengkeram pasir pantai dengan tangan kirinya. "Bagaimana aku tidak merasa, orang aku yang menceburkannya ke laut!" ujarnya menaikkan oktaf suaranya.
"Bagus. Setidaknya kau sudah mengakuinya!" timpal Ayaz semakin membuat Sevda kesal.
"Kau… benar-benar…"
"Diamlah!" Ayaz mendirikan tubuhnya. Melakukan perenggangan otot-ototnya. "Berdoalah semoga ada kapal yang menyasar ke sini."
Tiba-tiba Sevda terbatuk. "Ayaz… ambilkan aku minum!" pintanya saat tersedak tulang ikan.
"Itu ada banyak di laut. Mau tinggal meminumnya di sana," jawab Ayaz masih saja bercanda.
"Ayaz cepat! A-aku… tenggorokanku… uhuk-uhuk…!" Sevda memegangi tenggorokannya yang sakit.
Ayaz menoleh ke arahnya. Menyadari kalau gadis itu sedang tidak bermain-main. Akhirnya ia pun menyetujui permintaannya. "Baiklah… baiklah! Makan ikan saja kau tidak bisa!"
Ayaz mulai menggerakkan kakinya, melangkah menuju kapal untuk mengambil air bersih yang masih tersedia di dalam sana.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali dengan menyongsong segelas air putih. Berjalan ke arah Sevda yang masih terbatuk.
"Ini, minumlah!" Ayaz menyodorkan segelas air tersebut.
Sevda masih sibuk memegang lehernya yang sakit dan terus saja terbatuk.
"Ya Tuhan…," desis Ayaz. Lantas menekuk lututnya, sedikit menunduk dan membantu gadis itu untuk minum.
Sevda langsung meneguknya hingga tandas.
"Terima kasih," ucap Sevda pelan. Merasa tenggorokannya itu sudah lebih baik.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ayaz.
"Yah, aku sudah lebih baik."
Ayaz kemudian meletakkan gelas tersebut di atas pasir samping Sevda. Ia pun kembali menundukkan tubuh di sebelahnya.
"Sampai kapan kita akan terjebak di sini?" tanya Sevda bernada sedih.
"Entahlah!" Ayaz menyemburkan napas pasrah. "Serkan pasti panik mencariku menyadari aku belum sampai rumah," sambungnya bernada melas.