"Ayaz… di mana kau? Kenapa kau belum juga pulang sampai sekarang?" Serkan tampak mondar-mandir di dalam kamarnya, sembari menggenggam ponselnya. Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi nomor Ayaz tetapi panggilannya sibuk. Itu membuat Serkan semakin panik.
"Bagaimana jika ayah, ibu, dan paman bertanya tentangmu nanti? Aku harus jawab apa?" Serkan menyemburkannya napas gusar. Menggaruk pelipisnya yang sama sekali tak gatal itu.
"Uff… Ayaz… uff … apa yang kau lakukan saat ini sebenarnya. Dan di mana kau?"
Tuk..! Tuk…!
Ketukan pintu terdengar, membuat Serkan menoleh cepat arah persegi panjang. Jantungnya sudah tidak seperti biasanya.
"Tuan Serkan, aku bawakan makanan untukmu!" Itu suara seorang wanita yang merupakan pelayan rumah.
Serkan menghela napas lega, setidaknya itu bukan ayahnya, ibunya, atau pamannya.
"Masuklah!" perintah pria itu.
Detik berikutnya, pintu mulai terbuka. Menampilkan sosok wanita paruh baya yang berjalan membawa senampan makanan, buah-buahan, dan juga minuman.
"Taruhlah di sana, Bi!" perintah Serkan dengan sopan.
Pelayan rumah tersebut bergerak ke arah meja kaca, menaruh nampan berisi beberapa makanan itu di atasnya. Lantas kembali menoleh ke arah Serkan, dengan kepala menunduk.
"Apa kau butuh sesuatu lagi?" tanyanya sopan.
"Ah, tidak. Nanti aku akan memanggil Bibi kalau butuh sesuatu," ujar Serkan ramah.
Wanita paruh baya berseragam putih bawahan hitam itu mengangguk dua kali. Kemudian kembali bertanya, "Oh iya, di mana Tuan Ayaz? Kenapa aku tidak melihatnya? Apakah dia sudah pulang atau belum?"
Pertanyaan wanita itu membuat Serkan meneguk ludah.
"Umm… sebenarnya dia masih bersama temannya. Yah, nanti dia juga akan pulang, hehe." Bisa dilihat dengan jelas kalau saat mengatakan hal itu Serkan tampak gugup menandakan kalau dia tengah berbohong.
"Baik, Tuan. Kalau begitu Bibi pergi dulu, ya! Kalau butuh sesuatu panggil saja." Wanita paruh baya itu menunduk lantas membalikkan tubuh dan bergerak ke arah pintu.
"Umm… Bi tunggu sebentar!" panggil Serkan menghentikan langkah wanita paruh baya tersebut.
"Iya?" Wanita itu menoleh ke arahnya.
"Di mana ayah, ibu, dan Paman Mehmet? Kenapa tidak ada orang di rumah?" tanya Serkan.
"Oh iya, Tuan dan Nyonya sedang pergi ke Ankara. Mungkin nanti sore mereka bakal kembali," jawab wanita paruh baya tersebut.
"Oo…." Serkan mengangguk-angguk. "Baiklah, kalau begitu kau boleh melanjutkan pekerjaanmu!" sambungnya.
"Baik, Tuan." Wanita paruh baya tersebut melenggang keluar pintu dan menutup daunnya kemudian lenyap dari baliknya.
"Syukurlah, ayah, ibu, dan Paman Mehmet tidak ada di rumah. Setidaknya mereka tidak tahu kalau Ayaz masih belum juga kembali. Tapi, jika sampai nanti malam Ayaz belum juga pulang, maka semuanya akan kacau!" Serkan kembali gusar. Fokus pada ponselnya. "Coba aku hubungi Burak. Mungkin mereka tahu sesuatu."
Ayaz segera memencet nomor Burak dan menghubunginya. Tak lama ponsel tersebut tersambung.
"Burak, bagaimana? Apa kau mendapat kabar dari Ayaz?" tanya Serkan cepat.
"Baru saja aku mau menghubungimu dan menanyakan soal Ayaz. Tapi ternyata dia belum kembali juga ya?" ujar Burak dari seberang sana balik bertanya.
"Aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali tapi tidak ada respon." Serkan membuang napas kesal.
"Aku juga sudah menghubungi mereka, tapi tidak ada yang menjawab."
Serkan menaikkan sebelah alisnya saat mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh temannya itu.
"Sebentar… sebentar! Apa kau bilang tadi? Mereka? Maksudmu… Ayaz dan Sevda? Jadi, Sevda juga belum pulang?" berondong Serkan dengan berbagai pertanyaan.
Suara Burak tak lagi terdengar. Hanya desahan napasnya saja.
"Burak, aku tanya… apa Sevda juga belum kembali?" tanya Serkan sekali lagi.
Burak mendesis sejenak. "Belum," jawabnya singkat.
"Coba kau tanya Oyku, dia sahabatnya kan? Pasti dia tahu keberadaan Sevda," ujar Serkan.
"Oyku sekarang bersamaku. Cansu dan Ozan juga di sini. Mereka sama-sama mencemaskan Sevda. Sudah beberapa kali kami menghubungi tapi tetap saja tidak ada respon." Burak memberi jeda sejenak. "Serkan, mereka sudah hilang satu hari. Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi? Mungkin polisi bisa membantu kami," saran Burak.
"Yah, kau benar. Aku akan mencobanya nanti," kata Serkan menyetujui. "Burak, aku takut terjadi sesuatu dengan mereka. Kau ingat apa yang dikatakan seseorang saat di dermaga kemarin? Mereka melihat Ayaz dan Sevda naik kapal bersama, dan sampai sekarang mereka belum ada kabar. Aku takut jika mereka sebenarnya sedang dalam masalah." Serkan mengerjap, mencoba menepis pikiran negatifnya. Tetapi rasa takut kembali menyerbu begitu saja.
"Tapi, Serkan… bisa saja mereka berlibur. Maksudku, sengaja menikmati waktu berdua," argumen Burak. Namun tampaknya Serkan tak setuju dengan asumsi tersebut.
"Tidak mungkin, Burak. Kau tahu sendiri kan, Ayaz dan Sevda itu seperti kucing dan tikus. Mereka tidak pernah bisa akur bahkan semenit pun. Bagaimana bisa mereka berlibur bersama?"
"Kau benar juga." Burak menanggapinya. "Tapi bisa saja mereka sengaja menghilang untuk menenangkan diri setelah apa yang terjadi padanya." Lagi-lagi perkataan Burak membuat Serkan mengerlingkan mata heran.
"Wait… wait… apa maksudmu menenangkan diri? Dan memangnya apa yang terjadi pada mereka?" tanya Serkan serius.
"Aku tidak tahu soal Ayaz, tapi Sevda…." Burak menggantung ucapannya.
"Sevda kenapa? Apa terjadi sesuatu sebelumnya yang tidak aku ketahui?" Kembali Serkan bertanya dengan penuh penghakiman.
"Burak katakan cepat? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Ulang Serkan bertanya saat temannya itu tak memberikan respon. "Burak, kita pergi bersama-sama. Seharusnya kita pulang juga bersama-sama. Aku yakin pasti telah terjadi sesuatu dan kalian tahu tapi menyembunyikannya padaku. Burak, cepat katakan atau aku akan marah?!" Serkan menaikkan satu oktaf suaranya, terdengar menuntut.
"Sebenarnya… Sevda… uff .. Sevda…."
"Sevda kenapa?" tanya Serkan tidak sabaran.
"Sebenernya Sevda marah padaku!" Itu bukan suara Burak yang menyahut, melainkan suara seorang gadis, yaitu Oyku.
"Oyku?"
"Iya, Serkan. Kami sempat bertengkar sebelum berangkat pulang. Dia marah dan pergi." Rupanya Oyku tidak membiarkan Serkan tahu tentang perasaan Sevda terhadapnya, karena itu akan menimbulkan masalah baru.
"Astaga… kalian kan sahabat karib, bagaimana bis bertengkar?"
"Maaf, Serkan. Semua ini salahku. Harusnya aku tidak melakukan itu pada Sevda. Aku sangat menyesal."
"Ya sudah, kau tenang saja. Lebih baik kita semua berdoa agar Ayaz dan Sevda cepat kembali. Atau setidaknya kita tahu kabar mereka," ujar Serkan pasrah.
"Iya."
"Serkan, apa orang tuamu tahu? Mungkin mereka bisa membantu. Orang tuamu kan punya agen yang bisa dipekerjakan untuk mencari Ayaz dan Sevda." Burak kembali berbicara.
"Orang tuaku sedang pergi ke luar kota. Mereka sekarang di Ankara. Dan mungkin sore atau malam baru kembali. Tapi, kalau mereka tahu aku pulang tanpa Ayaz, mereka pasti akan memarahiku habis-habisan." Serkan mengerjap. "Ya susah, Burak. Aku tutup teleponnya dulu ya. Kabari aku jika ada berita terbaru tentang mereka," sambungnya.
"Oke, Serkan."
Serkan mematikan ponselnya. Melemparnya ke spring bed dengan ekspresi frustasi. Lantas ia juga membanting tubuhnya tersebut di spring bed. Mengusap wajahnya penuh kekesalan juga kepasrahan.
***
"Ufff… sekarang bagaimana?" Oyku menyemburkan napas gusar. Menatap penuh arti ke arah Cansu dan Ozan.
Cansu tampak berpikir dengan menggigit-gigit kuku telunjuknya.
Ozan memandangi mereka secara bergantian. Kemudian angkat suara. "Kalau sudah seperti ini siapa yang di salahkan?" Pria itu bangkit dari duduknya. "Aku sudah bilang pada kalian, kalau akhirnya tidak akan baik. Kalian mencoba menjodohkan Serkan dengan Sevda, sementara Serkan sudah memiliki Hazal."
"Ozan, shut up!" Cansu menyelak cepat, dengan ekspresi serta nada marah. Memicingkan mata ke arah pria itu sampai akhirnya pacarnya tersebut duduk kembali dengan mendesah pasrah.
"Oyku…."
"Burak, kau diam juga! Jangan menceramahi kami!" Bahkan Oyku tak membiarkan Burak angkat suara.
Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa jebak. Sebelum akhirnya Cansu mendirikan tubuh.
"Kita tidak bisa tinggal diam. Sevda sahabat kita. Dia marah dan kami menyesal. Kami akan meminta maaf, aku yakin Sevda pasti akan memaafkannya." Cansu mengangguk-angguk, memantapkan diri sendiri.
"Masalahnya kapan dan bagaimana kalian akan meminta maaf? Sevda tidak bisa dihubungi sampai sekarang." Ozan berkata dengan nada pelan, takut membuat Cansu kembali bersungut.
"Ozan benar!" Oyku mendudukkan tubuhnya pasrah. "Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Sebentar! Mungkin saja Sevda sudah pulang? Bagaimana kalau kita coba hubungi keluarganya?" usul Burak.
"Tapi, Sayang… jika Sevda belum benar-benar pulang bagaimana? Keluarganya bisa khawatir dan kita akan kena masalah juga," ujar Oyku.
"Umm… begini saja, biar aku yang menelponnya dan mempertanyakan tentang Sevda!" seru Cansu. "Aku dan Sevda kan bukan satu tim, jadi mereka tidak akan curiga kalau seandainya Sevda belum pulang."
"Setuju!" Ozan bangkit dengan menunjukkan jari telunjuk ke arah Cansu serta dengan suara yang mantap.
"Cansu, siapa yang akan kau hubungi? Kakeknya?" tanya Oyku.
"Pamannya saja. Kau punya nomornya?" ucap Cansu balik bertanya.
"Sepertinya punya. Sebentar!" Oyku meraih ponselnya di atas meja dan mulai mengoperasikannya. "Ini dia!" Gegas ia menunjukkan nomor tersebut pada Cansu untuk dicatat di ponsel miliknya.
Cansu segera mencatat dan mulai menghubungi nomor tersebut. Setelah tiga kali percobaan, akhirnya telepon tersebut tersambung.
"Halo, siapa ini?" Suara seorang pria terdengar bertanya dari seberang sana.
"Halo, Paman Mustafa. Aku Cansu. Temannya Sevda," balas Cansu dengan canggung.
"Oh, Cansu. Apa kabar, Nak?"
"Baik, Paman. Paman sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik."
"Oh iya, Paman, apa Sevda ada?" Cansu menggigit bibir bawahnya saat bertanya hal itu.
"Bukannya Sevda belum pulang? Kemarin dia pamit untuk penelitian di sebuah pulau kan untuk tugas akhir kuliahnya. Kenapa kau malah bertanya?"
Cansu membolakan matanya. Menatap ke arah teman-temannya dengan menggeleng seakan memberi tahu kalau Sevda tidak ada di rumahnya.
"Ummm… sebenarnya, kami tidak satu tim. Jadi… aku tidak tahu apakah Sevda sudah pulang atau belum. Hehe."
"Oo… tapi kau bisa menanyakannya langsung kan lewat telepon?" Pertanyaan pamannya Sevda kembali membuat Cansu menggigit bibir bawahnya.
"Ummm… aku sengaja tidak mau menelpon karena… karena ingin memberikannya surprise. Yah, surprise. Sebentar lagi Sevda kan ulang tahun, jadi aku akan menyiapkan pesta jika dia sudah pulang nantinya. Hehe…."
"Ooo… dasar kalian anak muda ada-ada saja. Hehe. Nanti kalau Sevda pulang aku kabari. Oke?"
"Oke, Paman Mustafa. Terima kasih."
"Sama-sama."
Cansu buru-buru memutuskan panggilannya. Menatap ke arah teman-temannya dengan ekspresi datar.
"Ufff… Sevda belum pulang juga. Lalu di mana dia?"
"Ayaz juga," sahut Burak sembari menggaruk punggung kepalanya. "Di mana mereka sebenarnya?"
***
"Aku di sini!" Suara Ayaz mengagetkan Sevda.
Gadis itu menoleh ke belakang, memandang ke arah Ayaz yang berjalan dengan menyongsong sebongkok kayu kering.
"Ayaz… kenapa kau suka sekali menghilang?" Sevda menggerutu dengan wajah kesal.
"Apa kau tadi mencariku seperti orang gila lagi?" tanya Ayaz dengan santai. Bahkan pria itu juga tersenyum tipis.
"Tidak. Siapa juga yang mencarimu. Aku hanya… hanya penasaran saja. Dari mana kau?" tanya Sevda, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya.
"Bukankah matamu itu masih berfungsi dengan normal, Nona Ikan koi? Lihat apa yang aku bawa." Ayaz meletakkan sebongkok kayu bakar di atas pasir.
"Kayu? Kau mencari kayu?"
"Ehm. Kita bisa membuat api unggun nanti agar tidak kedinginan," jawab Ayaz.
"Ufff… kau sepertinya mau menciptakan suasana romantis ya?" goda Sevda tak tahu malu.
Ayaz memandangi geli. Mengedikkan bahu dengan ekspresi jijik. "Jangan terlalu bermimpi, Ikan Koi? Romantis… romantis… makanan apa itu? Sama sekali tidak doyan!"
Sevda memutar mata malas. "Kau memang berhati batu!"
"Jangan banyak bicara dan cepat bantu aku menyusun kayu ini," perintah Ayaz sedikit menuntut.
Sevda mendesis. Mulai menurut. Mereka pun mulai bekerja sama menyusun kayu-kayu tersebut untuk menyerupai api unggun. Usai tersusun rapi, Ayaz menyulutkan api dan membakar kayu tersebut.
Api mulai berkobar, membuat asap menyembul. Ayaz dan Sevda mulai duduk dengan tangan yang ia arahkan ke api agar merasakan radiasi api tersebut guna menghangatkan tubuh di cuaca yang mulai dingin.
Ayaz menengok ke atas. Melihat sekawan burung camar yang beterbangan hendak menuju sarangnya karena hari telah usai.
"Lihatlah, malam sudah menyongsong dan kita masih saja berada di sini," ujar Ayaz.
"Apa kita akan seperti ini terus, Ayaz?" Sevda bertanya dengan wajah cemas. "Aku jadi merindukan keluargaku yang ada di Indonesia. Kau tahu, kami pernah berkemah di puncak gunung. Rasanya indah sekali saat itu karena kami bersama-sama. Tapi sekarang kita hanya berdua. Aku takut."
Ayaz menoleh ke arahnya. "Kau tidak perlu takut. Di sini tidak ada bahaya," kata Ayaz menyakinkan Sevda juga dirinya sendiri.
"Benarkah? Bagaimana kau bisa menjamin hal itu? Bagaimana jika ada harimau yang keluar dari hutan dan memangsa kita?" Sevda berderit nyalinya saat membayangkan kemungkinan terburuk.
"Itulah masalahmu. Kau selalu berpikir yang tidak-tidak yang hanya akan membuat dirimu takut sendiri!" timpal Ayaz.
"Memangnya kau tidak takut?" Sevda memicingkan mata ke arahnya.
Ayaz memutar mata malas. Sebenarnya, dirinya sendiri juga menghawatirkan hal yang sama serupa gadis itu.
Malam semakin naik, membuat suasana semakin gelap saja. Tetapi langit mulai bercahaya saat ribuan bintang tampak menyebar luas di angkasa. Juga sebuah rembulan cantik yang eksis di antara ribuan kelap-kelip bintang.
"Indah sekali, ya! Rasanya pemandangan itu seperti sangat langka." Sevda tersenyum saat melihat bintang-bintang di atas sana. "Kau tahu, saat aku telat pulang. Maka ayah dan ibuku akan sangat panik. Mereka tak mempedulikan dirinya sendiri dan mencariku ke manapun sampai aku ketemu. Ayah Aydin dan ibu Aisha Itu sangat sayang sekali padaku. Semua kasih sayang dan perhatiannya, itu yang selalu aku rindukan saat aku menginjakkan kakiku di Turki. Aku benar-benar merindukan mereka."
"Kalau kau merindukannya, kenapa kau tidak menemuinya saja!" balas Ayaz seadanya.
"Jangan bodoh. Bagaimana caraku menemuinya?"
"Yah, kau bisa berenang meraungi lautan. Kau kan ikan koi!" seloroh pria itu.
"Haha! Lucu sekali!" ujar Sevda dengan nada ketus dan mata memicing ke arahnya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya hidup jauh tanpa ibumu?" tanya Ayaz tiba-tiba.
"Kau masih bertanya? Tentu saja itu berat. Aku sangat merindukannya. Apa kau tidak pernah merindukan ibumu?" tanya Sevda balik.
Ayaz menunduk. Merasa sedih saat mengingat ibunya yang sudah tiada. "Setiap saat. Setiap saat aku merindukannya," jawabnya bergumam.
"Ayaz, orang tuamu pasti cemas mencarimu saat mengetahui Serkan pulang tanpamu. Kalau kakek dan pamanku tidak tahu kalau aku bakal pulang sekarang, jadi mereka tidak akan cemas."
"Mereka tidak akan mencemaskanku!" ujar Ayaz dengan nada kasar.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Ibumu pasti–"
"Berhentilah mengatakan soal ibu!" Tiba-tiba Ayaz sangat emosional.
Sevda terdiam seketika. Memurungkan wajah saat Ayaz membentaknya.
Ayaz meliriknya. Merasa sedikit menyesal karena telah membentak gadis itu. "Tidak perlu bersedih," ujarnya.
"Siapa yang bersedih?" Sevda melengos kan wajah. Kembali menengok ke atas. Matanya itu menangkap bintang jatuh.
"Lihat! Ada bintang jatuh!" seru Sevda sembari telunjuk menunjuk ke atas.
Ayaz menadahkan kepalanya ke atas. Melihat bintang yang jatuh kemudian melebur sebelum mencapai permukaan tanah.
"Make a wise!" seru Sevda lagi. Kemudian gadis itu mulai memejamkan mata, mengucap permohonannya pada Tuhan.
Sevda kembali membuka mata.
"Apa yang kau minta?" tanya Ayaz.
"Aku memohon pada Tuhan agar Ayah Aydin dan Ibu Aisha bahagia selalu. Dan juga Ibu Sonya, Deniz, Leon, Kakek, Paman Mustafa, dan semua keluargaku hidup bahagia."
"Dan kau sendiri? Kau tidak meminta untuk hidup bahagia?" Kembali Ayaz bertanya.
"Kau tahu, masalahnya… hidupku tidak akan bahagia selagi masih bersamamu!" seloroh Sevda.
Ayaz memutar mata bosan.
"Lalu apa yang kau minta?" tanya Sevda kemudian.
"Aku hanya ingin keluar dari sini dan tidak pernah bertemu denganmu lagi. Kau puas!" ketus pria itu.
"Kau memang mementingkan dirimu sendiri. Apa kau tidak berdoa untuk keluargamu?"
"Aku tidak punya keluarga!" jawab Ayaz begitu saja.
"Astaga! Jahat sekali kau. Orang tuamu pasti akan sedih jika mendengar itu darimu." Sevda menggeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka.
"Memang benar aku tidak punya keluarga. Ibuku…. Ibuku sudah meninggal," ungkap Ayaz dengan nada sedih.
Mendengarnya Sevda ikut bersimpati. "Maaf, aku tidak bermaksud mengingat kau tentang ibumu. Aku turut berdukacita."
Ayaz memandang sejenak ke arah Sevda kemudian mengangguk pelan.
"Kau tahu, ayah kandungku juga sudah meninggal," ujar Sevda sembari menatap ke atas. Kembali memandangi ribuan bintang. "Bahkan aku belum pernah bertemu dengannya. Aku hanya melihat wajahnya di dalam foto saja," imbuh gadis itu bernada sedih saat menyadari akan ayah kandungnya—Elvan—sudah meninggal tepat saat ia lahir ke dunia.
Ayaz mengerutkan dahi. Menoleh ke arah gadis itu dan bertanya. "Lalu, yang aku bangga-bangga tadi siapa?"
"Maksudmu Ayah Aydin?" Sevda menjawab dengan sedikit senyum dan menatap pria itu. "Dia juga ayahku. Ayah yang paling menyayangiku."
"Ayah keduamu? Jadi ibumu menikah lagi?"
"Bukan urusanmu! Ceritanya panjang," kata Sevda.
"Lebih baik kau tidak perlu bercerita. Kau ngomong biasa saja sudah panjang kali lebar, apalagi bercerita. Aku akan muak dengan ceritamu itu!"
Sevda mengambil potongan ranting dan melemparkannya ke arah Ayaz. "Enak saja!"
"Kau tahu, ayah Aydin dan ibu Aisha itu sangat mencintai sejak dulu, mau bagaimana pun keadaan pasti akan menyatukan mereka," kata Sevda dengan nada manis.
"Omong kosong! Para pasangan mengatakan cinta tapi salah satu mereka berkhianat dan berselingkuh!" ujar Ayaz penuh arti.
"Eh, tidak semuanya begitu ya." Sevda membantah pemikiran pria itu.
"Buat apa jatuh cinta kalau ujungnya saling menyakiti?"
"Kenapa kau mengatakannya dengan sangat kesal seperti kau sudah mengalami sendiri. Memangnya kau pernah berpacaran sebelumnya?" tanya Sevda. "Kalau melihat tampangmu, kau tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis mana pun. Para gadis pasti langsung ketakutan saat melihat sifatmu yang dingin itu!" seloroh Sevda.
"Dan aku tidak pernah tertarik dan berniat untuk menjalin hubungan dengan siapa pun, asal kau tahu!" timpal Ayaz.
"Kau berbicara seperti alergi dengan kasih sayang. Dengar ya, Manusia Batu, meskipun kau tidak sudah menjalin hubungan, setidaknya kau sadar kalau manusia diciptakan salah satunya untuk merasakan cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Meskipun ibumu sudah tiada, setidaknya kau bisa melihat kasih sayang sayangmu–"
"–jangan menyebutnya!" Ayaz memotong ucapan Sevda dengan suara meninggi. "Tidak semua ayah di dunia itu baik!" imbuhnya.
Sevda meneguk ludah. Merasa, bahwa perkataan pria itu seperti menyimpan luka terhadap sosok ayah.
"Jangan bicara seperti itu. Sekarang ayahmu pasti cemas mencarimu."
"Mustahil!" ujar Ayaz ketus.
"Memangnya kau yang tahu kejadian yang ada di rumahmu sekarang?"
***
Suara deru mobil terdengar memasuki pekarangan rumah besar nan mewah berdinding putih, dengan gaya arsitektur timur tengah. Serkan yang melihatnya dari balik jendela mendadak gelisah.
"Mereka sudah pulang. Dan Ayaz sampai sekarang belum ada kabar. Sekarang apa yang akan terjadi?"
Pria itu menggaruk punggung kepalanya. Mendesah gusar. "Apa sebaiknya aku pura-pura tidur saja? Ya, itu ide bagus!" Segera pria itu naik ke ranjang dan menarik selimutnya. Namun detik berikutnya ia mulai menyingkap selimutnya kembali.
"Ufff… ini ide buruk! Ini tidak seperti dirimu Serkan! Biasanya kau akan teguh dalam menghadapi segala masalah. Ayo Serkan, kau baru berani mengatakan kebenaran ini pada mereka!"
Pria itu mencoba menggertak dirinya sendiri.
"Yah, aku harus mengatakan pada mereka kalau Ayaz masih belum kembali saat ini dan tidak ada kabar. Mungkin mereka akan langsung meminta agen untuk mencarinya." Serkan beringsut dari ranjang. Berjalan menuju pintu dan keluar kamar.
Pria itu mulai menuruni anak tangga. Melihat dari atas sana betapa lelahnya keluarga setelah berpergian. Apa baik jika ia mengatakan masalahnya sekarang ini?
Serkan kembali merenung berpikir.
"Serkan!" Sinan Basaglu, ayahnya Serkan memanggil putranya itu saat melihat Serkan berhenti di tengah tangga.
"Serkan!" Dilara, ibunya Serkan ikut memanggil saat putra semata wayangnya tak merespon.
Serkan langsung tersadar. Menatap ke arah ibunya. "Ah, iya, Bu!" Kakinya itu mulai menapaki anak tangga melanjutkan kakinya menuruni tangga.
"Kalian sudah pulang?" tanya Serkan basa-basi.
"Iya, Nak!" Dilara bergerak ke arahnya. Memeluk putranya tersebut dan menepuk kecil pipinya. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Baik, Bu!" jawab Serkan datar.
"Jadi… kau sudah pulang dari penelitianmu?" tanya Sinan sembari melepas jasnya dan menyerahkan kepada pelayanan untuk menaruhnya.
"Iya, Ayah!" jawab Serkan singkat.
"Kapan kau kembali, Nak?" tanya Dilara sembari mengelus punggung putranya.
"Umm…. sebenarnya aku sudah kembali sejak kemarin."
"Dan Ayaz?" Mehmet, ayahnya Ayaz menyahut cepat. "Di mana Ayaz? Apa anak itu tidur di kamarnya?" tanyanya membuat Serkan meneguk ludah.
Sekarang… apa yang akan terjadi?