"Ada apa kalian mengundangku ke sini?" Mustafa bertanya pada keempat anak muda—Ozan, Burak, Cansu, Oyku— yang kini duduk di hadapannya.
Cafe bergaya Rustic yang mereka pilih sebagai tempat berkumpul terlihat sangat indah. Interiornya dirancang dengan material ramah lingkungan tanpa finishing, menggambarkan nuansa bangunan lama yang berkarat namun elegan. Ornamen serta lampu-lampu gantung terpadu indah dan membuat setiap pengunjung berdecak kagum serta merasa rileks saat berada di sana. Namun berbeda dengan keempat pemuda tersebut. Wajahnya tegang dan ketakutan.
"Girls, boys! What happened?" tanya Mustafa sekali lagi ke arah mereka.
Mereka masih terdiam menunduk. Tak juga memberi jawaban.
Mustafa bisa melihat betapa tegangnya wajah mereka.
"Minum dulu, minum dulu!" Mustafa meraih segelas kopi untuk diteguknya dan menyuruh mereka untuk minum minuman mereka juga.
Mereka mulai mengambil minuman di depan mereka masing-masing dan menyesapnya sedikit.
"Kopinya enak bukan?" tanya Mustafa basa-basi. Kembali meletakkan gelasnya di atas meja. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Sekarang, ayo cerita ada apa?" tanyanya kemudian.
Oyku menyenggol bahu Cansu untuk berbicara terlebih dahulu, karena saat ini ia sedang gugup dan tak bisa berkata-kata. Selain itu, Cansu yang paling dekat dengan pamannya Sevda. Sementara Ozan dan Burak hanya terdiam takut salah bicara.
Jemari Cansu saling meremas. Mengambil napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Jadi begini, Paman Mustafa."
Cansu kembali kesusahan untuk merangkai kata.
"Let me guess! Ini pasti soal Sevda, kan?" tanya Mustafa yang langsung membuat mereka meneguk ludah.
Cansu dan Oyku mengangguk.
"Apa kalian berantem?"
Cansu dan Oyku kembali mengangguk dengan canggung.
"Jadi, kalian mengajakku ketemuan di sini agar aku bisa membantu kalian untuk akur kembali dengan Sevda, begitu? No problem! Kalian tidak perlu khawatir, nanti aku coba mengobrol dengan Sevda. Tapi, ngomong-ngomong kalian sudah pulang dari tugas kampus kenapa Sevda belum pulang?"
Kalimat terakhir yang pria paruh baya itu tanyakan sukses membuat mereka tertegun meneguk ludah.
"Paman Mustafa … sebenarnya …." Cansu mencoba merangkai kata-kata. "Sebenarnya selain kami bertengkar, ada hal yang penting lagi kenapa kami mengajakmu ketemuan di sini. Kami ingin memberi tahu kalau…." Cansu tak sanggup melanjutkan.
"Kalau apa?" Mustafa yang penasaran mulai bertanya serius.
"Kalau…." Cansu menyubit lengan Ozan agar pria di sampingnya itu membantunya berbicara. Namun Ozan sama tegangnya dengan mereka.
"Kalau apa?"
"Kalau Sevda hilang dan tidak ada kabar!" Oyku berucap dengan mata terpejam.
"Apa?!" Mustafa langsung syok.
"Iya, Sevda dan salah satu teman kami tidak ada kabar sampai sekarang." Ozan menyahut.
Mustafa masih terkesiap dan langsung bangkit dari kursinya seketika. "Bagaimana ini bisa terjadi?!" Suaranya sedikit meninggi. Pria itu benar-benar panik, tak peduli ada puluhan pasang mata yang kini menatap ke arahnya heran.
Mustafa merogoh sakunya. Mencoba menghubungi Sevda tetapi tak ada jawaban.
"Kami semua sudah menghubunginya berkali-kali tapi tak ada respon sama sekali," kata Cansu.
"Kapan kejadiannya?" tanya Mustafa.
"K-kemarin." Oyku menjawab gugup.
"Keponakanku hilang sudah kemarin dan kalian baru menghubungiku sekarang?! Cansu, Oyku? Apa-apaan ini?!" Mustafa tak habis pikir.
"Maaf, Paman Mustafa. Kami takut kalian menjadi cemas," jawab Cansu gugup.
"Bagaimana tidak cemas?! Sevda hilang tanpa kabar. Bagaimana tidak cemas?!" Suara Mustafa kembali meninggi.
"Sevda pasti akan ditemukan!" Itu suara Burak. Setelah diam cukup lama akhirnya dia mau mengeluarkan suara. "Pihak keluarga teman kami yang juga hilang bersama Sevda, mereka sudah mengerahkan tim pencarian sejak kemarin malam," katanya.
"Apa sudah ada kabar sekarang?" tanya Mustafa lagi.
Mereka terdiam.
"Cansu! Oyku! Apa sudah ada kabar tentang Sevda?" tanya Mustafa lagi dengan penuh penghakiman.
Kedua gadis itu menggeleng.
Ponsel Ozan tiba-tiba berdering. Pria itu merogoh dari sakunya dan melihat nama Serkan yang menghubungi. Buru-buru ia mengangkatnya sembari mendirikan tubuh.
"Halo, Serkan? Bagaimana dengan autopsinya?" tanya Ozan.
Teman-temannya langsung bangkit dari kursi, penasaran terkait identitas mayat yang semula ditemukan oleh tim pencarian.
"Autopsi apa?! Siapa yang diautopsi?!" Mustafa semakin panik mendengar perkataan Ozan.
"Paman Mustafa, tenang dulu!" Cansu mencoba menenangkan lelaki itu.
"Ozan, mereka sudah melakukan autopsi dan itu bukan mayat Ayaz," kata Serkan dari seberang telepon.
Ozan menyemburkan napas lega. "Syukurlah. Aku yakin itu memang bukan Ayaz!" Ozan menatap ke arah Mustafa sejenak, kemudian fokus pada teleponnya. "Lalu bagaimana perkembangan pencariannya? Apa ada kabar dari Ayaz atau Sevda?" tanyanya pada Serkan.
"Mereka belum memberikan kabar. Oh iya, apa kalian sudah mengabari keluarga Sevda?" tanya Serkan balik.
Ozan menoleh ke arah Mustafa sejenak. "Kami sudah mengabari pamannya."
"Ya sudah, Ozan. Aku akan menelponmu lagi nanti kalau sudah ada kabar terbaru dari mereka. Sampai ni!"
"Oke!"
Panggilan terputus.
Mustafa bergerak ke arah Ozan. "Bisa katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Autopsi apa yang kalian maksud dan bagaimana?" tanya lelaki itu tidak sabaran.
"Sebenarnya mereka menemukan mayat seorang pria yang disangka itu teman kami yang hilang bersama Sevda. Tapi setelah dilakukan autopsi, ternyata itu bukan mayat teman kami," beber Ozan.
"Jadi itu bukan Ayaz?" Burak menghela napas lega. Pun begitu dengan Cansu dan Oyku.
"Lalu bagaimana dengan kabar Sevda dan Ayaz?" tanya Oyku.
"Kata Serkan mereka belum menemukan apa pun," jawab Ozan pasrah.
Wajah mereka kembali sayu.
***
Sebuah kapal Yacth tampak menepi di pelabuhan. Ayaz dan Sevda terlihat sedang berpamitan pada Riko dan Miranda dan mengucap terima kasih atas kebaikan mereka karena telah menolongnya.
Setelah membawakan kapal yang rusak ke tepian, akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Ayaz dan Sevda melambaikan tangan ke arah mereka dengan gembira.
"Akhirnya, kita kembali lagi ke sini!" kata Sevda sedikit lega.
Mereka kini sudah berada di pulau tempat mereka melakukan penelitian sebelumnya.
"Itu kapalku!" Suara seorang lelaki paruh baya berbadan buncit mengagetkan Ayaz dan Sevda.
Lelaki itu mendekati. Mengamati kapal miliknya yang sudah rusak, dan itu membuatnya teramat marah.
"Ayaz, apa menurutmu dia pemilik kapal yang sudah kau curi?" Sevda berbisik tepat di telinga Ayaz dengan pandangan mengarah ke arah sang lelaki yang sibuk memeriksa kapalnya.
"Aku rasa iya," jawab Ayaz pelan.
"Sekarang apa yang akan terjadi? Bagaimana kalau dia marah?" Sevda berkata cemas.
"Diamlah!" timpal Ayaz.
Lelaki berbadan buncit itu mulai membalikkan tubuh. Menatap nanar ke arah Ayaz dan Sevda.
"Lihat tatapannya, sepertsiput! Jadi pengen nyolok!" gumam Ayaz.
"Ayaz!" Sevda mendesis.
"Apa kalian yang telah mencuri dan membuat kapalku ak?!" Suara lelaki itu membuat Ayaz dan Sevda meneguk ludah.
"B-bukan …!" Ayaz dan Sevda menggeleng bersamaan.
"Jangan bohong! Aku lihat kalian datang dengan kapal ini tadi!" kata lelaki itu.
"Dia yang mencurinya, Pak!" Sevda menunjuk ke arah Ayaz. "Aku tidak bersalah."
"Apa kau sudah gila!" Ayaz mengamuk pada Sevda.
"KALIAN BERDUA HARUS TANGGUNG JAWAB!!" bentak lelaki buncit itu.
"Ayaz, bagaimana ini?" Sevda tampak gugup sekaligus ketakutan.
"Diamlah, dalam hitungan ketiga kita harus lari! Lariii….!" Belum juga menghitung, Ayaz langsung lari duluan.
"Ayaz!" Sevda bergegas membuntutinya.
"Hei, jangan lari kalian!" Lelaki itu mengambil kayu dan mengejar mereka.
Sevda menoleh ke belakang. "Ayaz, dia membawa kayu. Aku rasa dia mau memukul kita!"
"Jangan banyak bicara! Lari saja!" ujar Ayaz dengan terus berlari.
"Hei!" Lelaki itu tak mau berhenti mengejar.
Mereka kini seperti main kucing-kucingan.
Ayaz menghentikan langkahnya saat melihat benda miliknya di antara bebatuan. Sevda tak sengaja menabraknya karena pria itu berhenti secara tiba-tiba di depannya.
"Auuhhh!"
Bukannya pria itu yang jatuh, tetapi malah Sevda yang terpental.
"Dasar pria gila!" celetuk Sevda.
Ayaz tak mempedulikannya. Ia bergerak mengambil ponsel miliknya yang kemarin ia banting dan sekarang terhimpit di antara bebatuan. Layar ponselnya itu tak dan tidak menyala. Namun pria itu tetap memasukkannya dalam saku.
Sevda melihat lelaki pemilik kapal tadi yang masih mengejar sembari menodongkan tongkat kayu ke arahnya.
"Ayaz! Ayaz! Dia masih mengejar!" ujar Sevda panik.
"Cepat lari, Bodoh!"
"Ayaz, bantu aku berdiri!"
"Sial!"
Ayaz bergerak ke arah Sevda dan mengulurkan tangannya. Sevda langsung menariknya, merendahkan tubuh pria itu dan dengan sigap ia langsung mengalungkan tangannya di leher Ayaz bermaksud meminta gendong.
"Apa kau sudah gila! Apa yang kau lakukan?!" protes Ayaz.
"Sudah diam! Cepat gendong aku!"
"What? Are you kidding me?!"
"Kau telah membuatku jatuh sampai kakiku sakit. Sekarang ayo gendong aku!"
"Jangan aneh-aneh, cepat turun!" perintah Ayaz.
"Tidak mau!" Sevda semakin mengeratkan pegangan tangannya.
Ayaz mendesis.
Sevda menoleh ke belakang, melihat lelaki yang mengejarnya tadi mulai mendekat.
"Ayaz, cepat! Dia semakin dekat!"
"Kau memang benar-benar gadis sialan!"
Ayaz terpaksa menurut, berlari sembari menggendong Sevda di punggung.
"Astaga kau berat sekali!" keluh Ayaz.
"Aku yang berat atau kau yang tidak kuat! Kau itu memang payah!" hardik Sevda.
"Jika kau masih saja mengejekku, maka kulempar kau sekarang juga!"
"Ish … dasar psikopat!"
"Apa si buncit itu masih mengejar?" tanya Ayaz kemudian.
Sevda kembali menoleh ke belakang. Melihat pria tadi masih mengejar.
"Apa jarak villa kita masih jauh?" Sevda berbalik bertanya.
"Yah, kurang lebih!" jawab Ayaz sembari menahan rasa lelah.
"Ayaz, kurasa kita harus bersembunyi. Orang itu akan terus mengejar."
"Sebentar!"
Ayaz membelokkan arah. Melewati gang samping yang diapit bangun-bangunan kuno. Sampai pada akhirnya mereka berada di sebuah bangunan yang terbuat dari bebatuan kuno. Bangunan itu sudah rusak dan terbengkalai. Hanya terdapat dinding-dindingnya saja.
Ayaz menghentikan langkah. Menurunkan Sevda.
"Turun!" perintahnya pada gadis itu.
"Iya iya!" Sevda lekas turun. "Kasar banget sama cewe! Apa hatimu itu terbuat dari batu? Tidak ada rasa belas kasihnya sama sekali!" gerutu Sevda.
Gadis itu bergerak ke arah dinding-dinding batu yang sudah runtuh. Ia mengambil sebuah batu kuno di atasnya. Mengamatinya sejenak.
Sementara Ayaz mengambil posisi membungkuk, menyentuh lutut, sembari mengambil menenangkan diri. Napasnya masih memburu.
Sevda bergerak ke arahnya. Mendekatkan batu yang dipeganginya tepat di sampingnya wajah Ayaz.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu terheran, dan dengan suara judes.
"Lihat! Mirip kan? Batu ini mirip sekali denganmu. Sama-sama keras! Haha!" kata Sevda mengejek.
"Gadis tidak waras!" Ayaz merebut batu tersebut dan melemparkannya ke sembarang tempat.
"Astaga, kenapa kau melempar saudaramu sendiri?" Sevda membungkam mulutnya dengan ekspresi berlagak terkejut.
"Kenapa? Kau mau kulempar juga?!" ketus Ayaz.
Pria itu mendesis dan mulai menggerakkan kaki, berjalan menyusuri jalan berbatu.
"Hei, tunggu!" Sevda membuntutinya. "Lihatlah, di sekelilingmu, Ayaz. Mereka semua ini saudara-saudaramu. Kau tidak mau menyapanya? Ish, parah sekali." Sepanjang jalan gadis itu terus mengoceh. "Kalian lihat, saudaramu ini sangat sombong. Dia tidak mau menyapa kalian. Parah!" kata Sevda pada batu-batu di sana.
Ayaz merasa teramat geram. Ia membalikkan tubuh dan berkata ketus ke arah Sevda. "Jika kau masih banyak bicara maka akan aku rontokkan gigi-gigimu itu!"
"Oh, ya? Bagaimana caranya?" balas Sevda menantang.
"Aku akan meminta saudara-saudaraku ini untuk melemparkan diri ke mulutmu dan gigimu akan rontok seketika!" ujar Ayaz ketus, lantas kembali fokus pada jalan.
"Haha!" Sevda tertawa terbahak. "Jadi kau mengakui kalua batu-batu tua ini saudara-saudaramu?"
"Diamlah, nanti si buncit tadi bisa mendengarmu!" celetuk Ayaz.
"Ayaz, dia tidak tahu kan kalau kita ada di sini?"
"Selagi kau masih ngoceh seperti burung kelaparan maka tidak butuh waktu lama untuk dia menangkapmu!"
Sevda memutar mata bosan.
"Tapi, Ayaz …." Tanpa sadar kaki Sevda terantuk batu dan membuatnya roboh menimpa tubuh Ayaz.
"Aaa!"
Mereka mengguling dan jatuh di permukaan tanah. Kini posisi Ayaz berada di bawah sementara Sevda menindih di atas tubuh kekarnya.
Sejenak waktu terasa berhenti. Suara alam senyap seketika. Hanya ada detak jantung mereka yang terus berdenyut, sepasang mata yang saling menumbuk, juga napas hangat keduanya yang saling membaur satu sama lain.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Ayaz langsung tersadar, dan menyingkirkan tubuh Sevda dari atasannya.
"Menyingkirlah!"
Ayaz membangunkan tubuh. Duduk dengan tangan berpangku lutut dan menikmati laut Bhosporus yang terlihat dari balik bebatuan.
Sevda juga mulai membangunkan tubuh. Tangannya menyentuh bahu Ayaz untuk membantunya bangun.
"Apaan sih!" gerutu Ayaz.
"Indah sekali ya, pemandangannya!" seru Sevda. Kedua matanya menyaksikan pemandangan laut yang terhampar di sana.
Sevda menoleh ke sekeliling. Merasakan betapa sunyi dan damainya tempat tersebut. Hanya terdengar suara gemersik dedaunan yang terhantam angin juga kicauan burung-burung. Sungguh menenangkan pikir. Sangat berbeda dengan Istanbul ataupun Jakarta tempat kelahirannya.
"Kurasa si buncit itu sudah tidak mengejar lagi!" Ayaz membangkitkan tubuh. Merentangkan kedua tangannya. "Ayo, kita pergi dari sini!"
"Kita mau ke mana?" tanya Sevda yang masih duduk menikmati suasana di sana.
"Kita ke Villa! Aku ingin tidur. Sudah muak aku bermalam tanpa kasur yang empuk!"
"Sebentar, Ayaz! Aku masih ingin di sini!"
"Ya sudah, silakan di sini sendirian sampai malam. Aku mau pergi!" ujar Ayaz.
"Ish … kau memang kurang ajar, ya!" desis Sevda. "Bantu aku berdiri!" perintahnya begitu saja.
Ayaz tersenyum sengir. "Apa kau itu bayi sehingga tidak bisa berdiri sendiri?!"
"Kalau iya, kenapa?"
Ayaz mendesah gusar. Kemudian mengulurkan tangan ke arah Sevda dengan terpaksa. Sevda langsung meraihnya dan bangkit dari duduknya. Lantas Ayaz menggandengnya berjalan bersama, tanpa mereka sadari kalau tangan mereka bergandengan.
Sevda mulai tersadar lebih dahulu. Tetapi ia tak melepaskan genggaman Ayaz, karena ia merasakan akan kenyamanan saat tangan itu menggenggam tangannya. Gadis itu hanya terpaku pada tangan keduanya. Sementara kakinya bergerak mengikuti langkah Ayaz di depannya.
"Sebentar!" Ayaz menghentikan langkah. Matanya celingukan, memastikan bahwa pria pemilik kapal tadi sudah tidak mengejarnya lagi.i saat Ayaz sibuk mengamati sekitar, Sevda yang di belakangnya terdiam fokus pada punggung pria itu. Sesekali melirik ke arah tangannya yang masih digenggam oleh Ayaz. Hal itu membangkitkan rasa tak biasa dalam diri Sevda. Denyut jantungnya berdetak tidak karuan. Bahkan gadis itu meneguk ludah berkali-kali.
"Kurasa Si buncit itu sudah tidak mengejar kita," cakap Ayaz. "Apa kau melihatnya?" tanyanya pada Sevda.
Namun gadis di belakangnya itu tak merespon.
Ayaz menoleh ke belakang. Memperhatikan Sevda yang membisu. Lantas ia melirik ke bawah, baru tersadar kalau sedari tadi tangannya itu menggenggam erat tangan Sevda.
Ayaz langsung melepaskannya seketika.
Kini mereka berdua menjadi salah tingkah.
"Sebaiknya kita pergi dari sini!" ujar Ayaz dingin. Kemudian berjalan meninggalkan Sevda.
"Hei, tunggu!" Sevda buru-buru membuntutinya.
Tiba-tiba Ayaz melihat sekelompok polisi yang sedang bertugas. Ia buru-buru membalikkan tubuh, menarik tangan Sevda dan membawanya ke suatu tempat.
"Ayaz, apa yang kau lakukan?" Sevda bertanya heran.
"Diamlah!"
Ayaz membungkam mulut Sevda, dan menghimpit tubuh langsing itu di dinding bebatuan. Kini kedua tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Tak ada jarak yang memisahkan.
Kedua netra mereka saling menumbuk satu sama lain. Ayaz menatap lekat sepasang mata hazelnut milik gadis di depannya itu. Begitu indah saat melihatnya dari jarak terdekat. Pun begitu dengan Sevda, yang diam-diam mengangumi bola mata cokelat terang milik pria yang saat ini membungkam mulutnya dan mengunci tubuhnya.
Para polisi mulai melewati jalanan tersebut.
Ayaz yang menyadarinya, semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Sevda. Hingga kedua hidung mereka yang mancung saling menyapa satu sama lain.
Sevda bisa merasakan kehangatan pria itu. Napas Ayaz yang mengembus, menjalar ke wajahnya dan menyentuh pori-porinya. Terasa sangat hangat dan menenangkan.
Mulut mereka terkunci satu sama lain. Hanya detak jantung yang berdenyut, yang mampu merasuk gendang telinga keduanya.
Beberapa saat kemudian, para polisi mulai meninggalkan tempat tersebut.
"Emm...!" Sevda mencoba mengatakan sesuatu.
"Sstt... biarkan mereka pergi dulu!" kata Ayaz. Pria itu menoleh, tak lagi melihat polisi di sekitar. "Aku rasa mereka sudah pergi," imbuhnya kemudian.
Sevda masih terdiam, lantaran mulutnya masih dibungkam oleh tangan Ayaz.
Ayaz menyingkirkan tangannya dari mulut Sevda.
Mereka kini menjadi salah tingkah.
"Apa pemilik kapal tadi melapor polisi?" Sevda membulatkan mata. Kedua tangannya sontak menggengam lengan Ayaz. "Ayaz, bagaimana ini?" Wajah Sevda benar-benar ketakutan.
"Tenanglah. Kita akan aman selagi mereka tidak melihat kita," kata Ayaz.
Mereka tidak tahu, kalau sebenarnya para polisi tersebut adalah polisi suruhan Sinan untuk mencari keberadaannya.
Ayaz dan Sevda pun kini mulai kembali melanjutkan perjalanan menuju Villa.
Sesampainya di Villa, mereka merasa kesal lantaran Villa tersebut terkunci.
"Sial, kenapa terkunci!" Ayaz memukul pintu Villa tersebut.
"Apa masa sewanya sudah habis, lalu mereka menguncinya?" tanya Sevda. "Tapi barang-barangku masih ada di dalam sana! Atau jangan-jangan sudah ada penghuni baru yang menyewa Villa ini?" Sevda membulatkan mata, membuat ekspresi panik.
"Sialan!" Ayaz kembali menendang pintu tersebut.
"Ayaz! Apa kau tidak bisa lebih tenang sedikit?!" Sevda tampak kesal pada sikap pria itu.
"Serkan menyewanya selama sebulan, apa mungkin sudah expired sehingga mereka mengosongkannya?" pikir Ayaz.
"Bagaimana kalau mereka membuang barang-barangku? Ayaz, bagaimana ini?!"
"Tidak perlu berlebihan! Barang-barangku juga masih ada di sana!" timpal Ayaz.
Sevda memutar mata malas. Melipat kedua tangannya di perut.
"Sebentar!" Ayaz bergerak ke arah jendela. Mengambil batu di bawah tanaman-tanaman dan hendak melemparkannya ke arah jendela kaca.
"Ayaz, apa yang akan kau lakukan?!" Sevda bergerak cepat ke arahnya dan menahan tangannya. "Apa aku akan memecah kaca jendela itu? Jangan gila!"
"Kalau kau tidak punya rencana lain maka berhentilah menceramahiku!"
"Ayaz, hentikan! Buang batunya! Buang!" Sevda merebut batu tersebut dan menjatuhkannya kembali. "Kita coba lihat apakah ada jendela yang tidak terkunci."
Ayaz dan Sevda bergerak, mengamati setiap jendela satu persatu. Setelah sekian lama akhirnya Ayaz berhasil menemukan jendela yang bisa dibuka. Pria itu langsung masuk ke dalam.
Sevda yang melihatnya sedikit terkejut. "Ayaz, kau menemukannya kenapa tidak bilang padaku?!" gerutu gadis itu. "Cepat bantu aku masuk!"
"Masuk sendiri kalau bisa!"
"Ayaz!!!"
"Ck! Baiklah-baiklah! Kau memang menyusahkan!"
Ayaz mulai membantu gadis itu masuk melewati jendela. Insiden kecil terjadi sehingga membuat tubuh mereka roboh ke lantai. Posisi Ayaz berada di bawah tubuh Sevda.
"Apa kau tidak bosan menindih ku terus!" kata Ayaz ketus.
"Apa?!"
"Menyingkirlah dariku!"
"Auu!"
"Sekali lagi kau jatuh di atasku, maka akan kulempar tubuhmu ke jurang!"
Sevda tidak terima. "Kau pikir aku mau jatuh di atasmu!"
"Bilang saja kalau kau ketagihan!" Ayaz mendirikan tubuh dan mulai berjalan ke arah tangga.
Sevda melotot dengan mulut menganga tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan pria itu. "Apa kau bilang?!!"
Ayaz sibuk menaiki tangga menuju kamarnya.
"AYAZ NAVRUZ!!!" teriak Sevda.
Pria itu bersikap tak acuh dan memilih melanjutkan jalannya tanpa menoleh ke arah Sevda.
"Dasar bongkahan Gletser! Rasanya ingin sekali mencingcang tubuhnya dan menendangnya sampai ke laut!" Kedua tangan Sevda mencengkeram dengan ekspresi geram sementara kakinya menendang kursi, tetapi itu malah membuatnya kesakitan sendiri.
"Aarghh!" Sevda merasa muak. Memilih bergerak ke atas menaiki tangga dengan langkah kesal.