Ayaz tampak membuka kenop pintu kamarnya. Masuk ke dalamnya dan menutupnya begitu saja. Lantas bergerak ke arah ranjang, membanting tubuhnya dengan posisi tengkurap. Detoks berikutnya pria itu menutup mata untuk mengistirahatkan badan setelah dua hari tidurnya tidak proporsional.
Sementara Sevda mulai memasuki kamarnya. Matanya terpaku pada koper di sudut ranjang. Ia mendekat, memeriksa barang-barangnya yang masih utuh. Lantas kembali menyapu pandang Interior ruang persegi tersebut. Semuanya tampak sunyi.
"Hufft …! Akhirnya aku bisa kembali lagi di sini dengan selamat," kata Sevda. Ia memijat-mijat tengkuk lehernya yang terasa tegang, juga mulai merenggangkan otot-ototnya.
"Handphone-ku!" Baru tersadar ia akan benda miliknya.
Gadis itu merogoh sakunya, menemukan benda pipih berteknologi canggih yang kini mati total.
"Ya Tuhan, semoga handphone ku tidak rusak."
Gadis bermata hazelnut itu mencari charger ponsel di kopernya. Mulai menyolokkannya ke arus listrik begitu menemukan. Lantas ia mulai menghubungkan ponselnya tersebut dengan charger.
"Ya Tuhan … semoga masih berfungsi!" doanya.
Sevda menekan tombol power lama sehingga ponsel tersebut akhirnya menyala.
"Terima kasih, Ya Tuhan. Akhirnya masih berfungsi," ucapnya lega.
Setelah ponsel tersebut menyala, terdapat begitu banyak notifikasi panggilan tak terjawab serta puluhan pesan-pesan. Nama pemanggil yang terbaru adalah pamannya Mustafa.
"Mereka pasti sudha mengabari Paman Mustafa, dan mungkin Paman Mustafa juga mengabari ayah dan ibu. Mereka pasti sangat cemas. Hampir dua hari aku tersesat dengan pria batu tanpa kabar." Sevda menyemburkan napas. Menunggu ponselnya mengisi daya lebih banyak lagi baru bisa ia menghubungi pamannya.
***
Sore itu, Mustafa masih di cafe bersama keempat teman Sevda.
"Kalian pulang saja, pasti orang tua kalian sudah menunggu kalian," kata Mustafa.
Cansu mengangguk. "Iya, Paman!
Mereka mulai bersiap.
Mustafa hendak mengabari Aydin soal putrinya yang hilang, namun tiba-tiba ponselnya tersebut berdering dan nama Sevda yang menghiasi layarnya. Mustafa terkejut sekaligus senang. Pria itu langsung mengangkatnya sembari bangkit dari kursi.
"Halo, Sevda!"
Mendengar menyebut nama Sevda, keempat pemuda itu langsung bangkit dari kursi dan mendekati Mustafa.
***
"Halo, Paman Mustafa!" Sevda menjawab sapaan pamannya.
Terdengar suara embusan napas kelegaan dari suara Mustafa. "Sevda sayang, kau kenapa saja? Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang terjadi padamu, kan?" berondong Mustafa dengan pertanyaan.
"Aku baik-baik saja, Paman. Paman tidak perlu khawatir, aku sudah kembali di villa saat ini dan keadaanku baik-baik saja."
"Syukurlah. Paman cemas sekali padamu."
"Paman tidak memberitahu kakek dan orang tuaku ku kan?"
"Paman rencananya mau memberitahu ayahmu, tapi kau ternyata tadi langsung menelponmu. Paman senang sekali akhirnya kau menelpon."
"Paman aku mohon jangan beritahu mereka, ya? Aku takut mereka cemas."
"Ya sudah, Paman akan merahasiakan hal ini. Tapi bagaimana kau bisa hilang?"
"Aku tersesat di pulau, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja sekarang."
"Kau beneran baik-baik saja kan? Tidak bohong kan? Tidak ada yang luka?"
Sevda melirik ke arah goresan bekas luka di kakinya. "Iya, Paman. Beneran baik-baik saja!"
"Paman Mustafa, apa itu Sevda? Apa dia sudah ditemukan?" Suara Cansu terdengar bertanya dari seberang sana.
Raut wajah Sevda langsung berubah kala mendengarnya. Ia masih marah dan belum bisa memaafkan teman-temannya.
"Paman, apa Cansu bersamu saat ini?" tanya Sevda berbisik.
"Iya, Nak. Tidak hanya Cansu, Oyku dan dua pria temanmu juga ada di sini. Mereka yang mengabariku tadi," kata Mustafa. "Kau ingin berbicara pada mereka?" tanyanya kemudian.
"Tidak, Paman. Aku mau istirahat. Nanti aku hubungi lagi, ya!" kata Sevda dengan suara dingin. Memasang wajah kesal dan meletakkan ponselnya di nakas lagi. Ia menyemburkan napas kemudian membanting tubuhnya di ranjang.
"Mereka semua menyebalkan. Kenapa tidak jujur padaku kalau sebenarnya Serkan dan Hazal sudah lama menjalin hubungan. Dan dengan bodohnya aku dibodohi mereka disuruh mendekati Serkan!"
Sevda membangkitkan tubuh. Menyemburkan napas kesal. Maniknya melirik ke arah ponsel di nakas yang masih terhubung dengan pengisi daya. Gadis itu meraihnya. Dengan kesal mencari nomor teman-temannya dan memblokirnya termasuk nomor Serkan.
Kemudian ia meletakkan kembali benda pipih berteknologi canggih tersebut di atas nakas. Lantas ia membanting punggungnya di kasur, mengambil bantal dan menutup wajahnya.
***
"Paman, boleh aku mengobrol dengan Sevda?" tanya Cansu.
Mustafa menoleh ke arah Cansu dengan wajah sayu. "Dia mematikan panggilannya saat mendengar suaramu," katanya sembari menghela napas.
"Sevda pasti sangat marah denganku." Cansu menundukkan kepala dengan wajah murung.
Oyku maju dan memeluknya dari samping. "Sevda tidak akan memaafkan kita. Lagi pula, ini salah kita juga," katanya bernada melas.
Mustafa melihat mereka dengan perasaan iba. Canda tawa mereka yang biasa ia dengar bersumber dari kamar Sevda, kebersamaannya setiap saat, dan momen-momen persahabatan mereka Mustafa melihat semuanya. Ia tak pernah menyangka kalau persahabatan mereka akan seperti ini.
Lelaki paruh baya itu mendekat. Menyentuh bahu Cansu. "Kalian tenang saja, nanti kalau suasana hatinya Sevda sudah tenang, aku akan mencoba mengobrol dan memintanya untuk memaafkan kalian. Oke?"
Kedua wajah gadis itu yang semula murung kini langsung sumringah. Menatap ke arah Mustafa dengan antusias.
"Terima kasih, Paman Mustafa. Tapi … apakah Sevda akan mendengarkanmu?" tanya Oyku.
"Eum… dia memang selalu membangkang perintahku, tapi kita coba saja nanti," kata Mustafa sembari terkekeh. "Kalian sudah kenal Sevda dengan baik, kan? Menurutmu apa dia akan dendam pada sahabatnya sendiri?"
"Tetap saja hati kami tidak tenang. Tapi, terima kasih, Paman Mustafa, semoga Sevda mau memaafkan kami," ucap Cansu.
Mustafa mengangguk dua kali. "Ya sudah, kalian pulanglah. Aku juga mau pulang," ujar Mustafa.
Mereka mengangguk setuju.
***
Suara dering ponsel terdengar membising dan mengganggu soerang pria yang tengah terlelap.
Serkan meraba-raba nakas dengan kepala yang masih ditimbun oleh bantal, bermaksud mengambil ponselnya yang terus berdering. Tetapi tangganya itu tanpa sengaja malah menjatuhkan gelas air ke lantai hingga pecah.
Serkan terbangun seketika. Kepalanya masih pusing. Baru tiga puluh menit yang lalu ia bisa tertidur dan kini malah sudah terganggu oleh suara bising ponsel.
Pria tampan berambut kecokelatan itu mengabaikan pecahan gelas di lantai dan memilih meraih ponselnya di nakas. Dilihatnya nama Ozan yang memanggilnya.
Serkan menggeser tombol hijau ke atas dengan malas.
"Halo, Serkan!" sapa Ozan dari seberang sana.
"Halo, Ozan? Maaf, aku tadi ketiduran. Kau pasti menelpon untuk bertanya soal Ayaz, kan? Saat ini aku masih belum tahu. Tapi nanti aku coba tanyakan Papa," ucap Serkan dengan suara malas.
"Serkan, jadi kau belum tahu?"
"Tahu apa?"
"Sevda sudah ditemukan!" kabar Ozan antusias.
"Hah?" Serkan mengucek matanya. "Sebentar-sebentar… apa yang kau katakan?"
"Sevda sudah kembali ke Villa!"
"Serius?!" Serkan terkesiap dan langsung bangkit, beringsut dari ranjang. Saking senangnya ia tak memperhatikan keadaan lantai tersebut yang penuh dengan pecahan gelas kaca. Alhasil kakinya itu tergores sedikit pecahan kaca.
"Aaauuh!" Pria itu mengaduh kesakitan. Melihat telapak kakinya yang berdarah.
"Serkan, kau tidak apa-apa?" tanya Ozan yang terkejut mendengar suara Serkan berteriak.
"Iya … iya … aku tidak apa-apa." Serkan mencoba menahan rasa pedihnya. "Tadi apa kau bilang? Sevda sudah ditemukan?"
Ozan terdengar bercerita. "Iya. Jadi, tadi kami menemui pamannya Sevda. Kami mengobrol banyak dan mencari solusi. Saat hendak pulang, tiba-tiba pamannya Sevda mendapatkan telepon dari Sevda. Katanya dia baik-baik saja dan sudah kembali di Villa."
"Lalu bagaimana dengan Ayaz?" tanya Serkan.
"Aku juga belum tahu, sih. Soalnya Sevda langsung mematikan panggilannya saat Cansu hendak berbicara dengannya. Dia marah sama Cansu dan Oyku."
Serkan mengernyitkan dahi. "Hah? Bagaimana bisa? Bukannya mereka sahabat? Mereka berantem karena apa?" tanya Serkan penasaran.
"Umm … uum …." Ozan tampak kesusahan untuk berkata-kata. Tidak mungkin juga ia jujur kalau Sevda bertengkar dengan kedua sahabatnya gara-gara Serkan dan Hazal.
"Tapi kau sudah coba hubungi Ayaz atau Sevda?" tanya Serkan kemudian.
"Ayaz masih belum bisa dihubungi dan mendadak nomor Sevda juga susah untuk dihubungi. Saat aku coba cek w******p-nya foto profilnya kosong. Apa iya aku diblokir? Aku tanya Cansu dan yang lainnya juga kosong."
"Hah?" Serkan semakin kebingungan. "Bagaimana bisa?" Serkan mengerjap. "Sebentar, aku cek dulu profil dia di WhatsApp."
Serkan mengecek ponselnya. Ia terkejut saat mendapati dirinya juga diblokir.
"Sevda juga memblokirku!" kabarnya pada Ozan. "Kok bisa? Ada masalah apa sebenarnya? Kenapa dia sampai marah pada kita semua?"
Suara Ozan tak terdengar. Hanya suara helaan napasnya saja.
"Ya sudah, Ozan. Nanti aku hubungi lagi. Aku akan mengabari Papa soal ini. Mungkin para tim suruhannya sudah menemukan Ayaz," ujar Serkan.
"Oke! Nanti kabari aku, ya!" pinta Ozan.
"Oke."
Serkan memutuskan panggilannya. Masih berpikir kenapa Sevda sampai memblokade kontaknya. Namun sesaat kemudian ia mengesampingkan hal itu dan memilih untuk menemui sang ayah. Pria itu berjalan pincang keluar kamar tanpa mempedulikan kakinya yang masih menetes darah.