Ayaz membuka matanya sebelah, melihat dinding-dinding kamar. Sedikit berpikir. Lantas mulai mengangkat kepalanya dengan sangat malas.
Pria itu membangkitkan tubuh kekarnya dari kasur empuk. Menguap dan menutup mulutnya.
"Hufftt … ngantuk sekali!"
Ia memegangi kepalanya yang masih pusing. Ingin kembali terlelap tetapi perutnya keroncongan. Beberapa saat ia termenung, sebelumnya akhirnya ia tersadar kalau kini dirinya sudah berada dalam Villa.
"Serkan!" Pria itu tanpa sadar memanggil sepupunya.
"Oh, iya. Serkan kan sudah pulang. Kenapa aku bisa tidak sadar seperti ini!"
Ayaz meremas keningnya. Memijat-mijat mengurangi rasa pusing di kepalanya.
"Serkan pasti panik mencariku. Aku harus segera menghubunginya."
Ayaz merogoh ponselnya di saku. Menemukan benda pipih tersebut yang sudah retak. "Apa ini masih berfungsi atau tidak? Aku coba isi daya!" gumamnya lantas beranjak mencari charger ponselnya.
Begitu ditemukan ia langsung menyambungkan ponselnya ke pengisi daya. Berkali-kali menekan tombol power tetapi ponselnya itu tetap tak mau menyala.
"Sial! Sepertinya ini sudah rusak!" gerutu pria itu. "Terus bagaimana aku bisa menghubungi Serkan? Huftt!" Ayaz menyemburkan napas gusar.
***
Suara ketukan membising di pintu kamar Sevda. Gadis itu mengeratkan pelukan batalnya yang menutupi kepala, tetapi tetap saja gendang telinganya masih merasa terusik. Hingga akhirnya gadis itu terpaksa membangunkan diri.
"Siapa sih gedor-gedor pintu tidak jelas!" Sevda menguap. Merasakan pusing di kepalanya. Lantas memutar leher, menoleh ke arah pintu.
Suara ketukan terus terdengar, diiringi dengan suara teriakan seorang pria.
"Nona Ikan koi! Bangun!"
Sevda mulai tersadar. Menebak kalau itu suara Ayaz. Siapa lagi sosok pria yang tinggal satu atap dengannya saat ini dan yang suka mengganggunya.
"Pria itu memang menyebalkan. Dia tidak pernah membiarkanku tenang sebentar!" Sevda bangkit dari ranjang. Berjalan gontai menapaki lantai palet kayu dan bergerak ke arah pintu.
"Nona penyihir!"
Terdengar Ayaz terus menggedor pintu itu.
"Ishhh…! Tidak sabaran!" Sevda mendesis kesal.
Gadis itu menarik tuas pintu dan membuka daunnya. Seketika tubuh pria yang sedari tadi menyandar di daun pintu tersebut kini mulai roboh. Untung sekali Sevda langsung buru-buru menjauhinya.
"Haha! Sokorin!" Sevda tergelak melihat tubuh Ayaz yang jatuh di lantai.
"Sial!" Pria itu mendongak. "Dasar penyihir! Kenapa kau tidak bilang kalau mau membukanya?"
Sevda masih saja tak menghentikan tawanya. "Hahaha!"
"Kau pikir ini lucu?!" Pria itu membangkitkan tubuh. Mengelus lengannya yang sedikit sakit.
"Lagi pula kau ngapain ke sini gedor-gedor seperti maling!" cerca Sevda.
"Maling itu menyelinap, Bodoh! Bukan gedor-gedor!" timpal Ayaz.
"Aarghh! Bodo amat! Kenapa kau menganggu tidurku!"
Ayaz terdiam sejenak. Kedua matanya melirik ke arah ponsel Sevda di atas nakas. "Umm … boleh aku meminjam handphone-mu sebentar?" tanyanya dengan nada yang sedikit turun.
"Buat apa?!" Sevda masih bersikap judes.
"Aku hanya ingin mengabari Serkan. Itu saja!"
"Serkan?" Sevda berpikir sejenak. Ia mengingat kalau tadi ia telah memblokir nomor Serkan.
"Hei, hello!" Ayaz melambaikan tangan ke arah wajah gadis itu, dan langsung membuat Sevda buyar dalam lamunannya.
"Aku bilang aku meminjam handphone-mu!" ujar Ayaz sekali lagi.
"A-aa … memangnya di mana handphonemu? Kau kan punya sendiri!" Sevda mencoba mengalihkan perhatian.
"Handphone-ku rusak. Kemarin aku tak membantingnya."
Tawa Sevda langsung melebar seketika. "Haha! Makanya jangan suka banting handphone!"
"Jangan sok menceramahiku, Nona Penyihir! Bukankah kau juga bilang kemarin kau pernah membanting handphonemu!"
Sevda terdiam meneguk ludah. Mengingat saat di kapal ia juga pernah membanting ponselnya.
"Arghh, pinjam sebentar saja tidak boleh! Dasar pelit!" Ayaz memajukan tubuh, menabrak tubuh Sevda begitu saja dan bergerak ke arah nakas mengambil ponsel gadis itu.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
"Aku tidak akan memakan handphonemu!" ketus Ayaz. Kini ponsel Sevda sudah ada dalam genggamannya.
Sebenarnya, Sevda hanya takut jika Ayaz tahu kalau dia telah memblokir nomor Serkan. Dan pria itu pasti akan mengejeknya.
Ayaz mencari nomor Serkan. Terlihat bahwa nomor itu telah diblokir. Ayaz menoleh ke arah Sevda.
"Kau memblokir nomor Serkan?"
"Bukan urusanmu!" jawab Sevda ketus.
Ayaz tertawa mengejek. "Oh … jadi karena ini kau tidak mau meminjamiku? Dasar tukang blokir! Kau tahu apa azab tukang blokir?"
"Apa?!" Sevda menyahut dengan ketus.
"Azab tukang blokir matinya diblokir malaikat dari surga! Haha!" decak Ayaz sembari tergelak.
Sevda memicingkan mata ke arahnya. "Lelucon yang buruk!"
"Sudahlah! Malas dekat-dekat denganmu!" Ayaz membawa ponsel Sevda keluar kamar.
"Dasar tidak waras! Sudah meminjam tapi tidak punya sopan santun!" gerutu Sevda. Gadis itu memandangi punggung Ayaz sampai tak terlihat dari balik pintu. Lantas ia menutup pintu tersebut.
"Lebih baik aku mandi saja!" Sevda bergegas menuju kamar mandi.
***
Serkan menuruni tangga dengan langkah pincang. Kakinya masih menetes darah, tetapi ia tak mempedulikan hal itu. Dilihatnya anggota keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga depan perapian.
Dilara tampak cemas memandangi Sinan yang mondar-mandir dengan ponselnya. Sementara Mehmet duduk termenung dengan pandangan kosong menatap api yang membakar kayu di perapian.
"Papa!" Serkan menyapa.
Mereka menoleh, kecuali Mehmet yang masih bergeming.
"Serkan?" Dilara membangkitkan tubuhnya dari sofa.
"Papa, apa Ayaz sudah ditemukan?" tanya Serkan pada Sinan.
Sinan menggeleng dengan raut wajah sayu.
Serkan bergerak ke arahnya.
"Serkan, kakimu kenapa?" Dilara baru menyadari kalau putranya itu berjalan sedikit pincang. Wanita itu langsung mendekat ke arahnya. "Ya ampun, Sayang. Kakimu berdarah!"
Wanita itu menjadi panik.
Sinan ikut terkejut. "Serkan, kakimu kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa. Tadi aku tak sengaja menjatuhkan gelas dan kena pecahannya," kata Serkan.
"Bagaimana bisa?" Dilara yang panik menuntun putranya ke arah sofa. "Ayo duduk dulu!"
"Emma!" Wanita itu memanggil asisten rumah tangganya.
Sesaat kemudian wanita berseragam hitam bawahan putih itu menghadap. "Iya, Nyonya?" ucapnya sopan.
"Emma, tolong ambilkan kotak obat, ya!" pinta Dilara.
"Baik, Nyonya!" Asisten rumah tangga tersebut langsung bergegas.
"Ibu sudahlah… aku tidak apa-apa," kata Serkan.
"Tapi kakimu terluka, Sayang!" Dilara masih cemas pada putra semata wayangnya tersebut.
"Ibu, Papa, aku tadi mau memberitahu kalian kalau Sevda sudah kembali ke Villa," kata Serkan mengabari.
"Siapa Sevda?" tanya Sinan.
"Dia teman kami. Gadis yang hilang bersama Ayaz."
"Jadi Ayaz sudah ditemukan?" tanya Dilara tiba-tiba.
Mendengar hal itu, kepala Mehmet langsung memutar, menatap ke arah mereka.
Serkan menunduk seraya menggeleng. "Aku tidak, Bu. Apakah Sevda kembali bersama Ayaz atau tidak. Soalnya Sevda belum cerita soal ini."
Wajah Mehmet kembali sayu.
"Kalau begitu coba kau tanya pada temanmu itu. Tanyakan soal Ayaz!" pinta Sinan tidak sabaran.
Serkan menggigit bibir bawahnya. "Masalahnya … itu …."
"Kenapa, Sayang?" tanya Dilara.
Detik berikutnya sang asisten rumah tangga datang membawa sekotak obat.
"Ini, Nyonya, obatnya!" kata Emma sembari menyerahkan kotak obat tersebut pada Dilara.
Dilara menerimanya. "Terima kasih, ya! Oh iya, tolong bersihkan pecahan kaca di kamar Serkan!" perintahnya lagi dengan nada ramah.
"Baik, Nyonya." Emma mengangguk lantas melenggang menuju lantai atas.
"Coba sini ibu lihat!" Dilara meminta Serkan membuka telapak kakinya.
"Ini hanya luka kecil, Bu," ucap Serkan.
"Luka kecil kalau tidak diobati dan dibiarkan saja akan menjadi besar dan berbahaya," kata Dilara. Wanita itu mulai mengobati telapak kaki putranya.
Mendengar perkataan Dilara, membuat Mehmet merasa tersinggung. Ia mengingat soal kali pertama sang putra membencinya. Saat itu Ayaz menaruh kebencian terhadapnya, tetapi ia tak mencoba menghilangkan rasa benci itu. Ia malah membiarkannya begitu saja, dan kini semakin dewasa sikap Ayaz semakin tidak peduli terhadapnya. Kebencian itu seolah terpupuk dan menjadi semakin besar.
"Auu!" Serkan mengaduh ketika obat tersebut mulai meresap di pori-pori lukanya.
"Tahan sakitnya sebentar, Sayang," kata Dilara.
Wanita itu memang mencerminkan seorang ibu yang sangat amat menyayangi putranya bahkan luka ringan pun membuatnya cemas. Beruntungnya hal itu tak membuat sang putra tumbuh menjadi anak yang manja. Malah sebaliknya, Serkan tumbuh sebagai pria yang bijaksana seperti ayahnya.
Dering ponsel tiba-tiba terdengar dari genggaman tangan Serkan. Pria itu menoleh, melihat nama Sevda yang memanggil. Sontak ia sedikit terkesiap.
"Sevda?!" Serkan bangkit dari duduknya.
"Sayang, jangan berdiri dulu!" pinta Dilara. Kembali mendudukkan tubuh putranya.
Serkan sedikit bingung kenapa Sevda menghubunginya padahal tadi nomornya diblokir. Namun pemikiran itu ditepis seketika dan memilih menerima panggilannya cepat.
"Halo, Sevda!"
"Halo, Cousin!" Terdengar suara Ayaz yang menyapa.
Mendengar suara itu, Serkan kembali bangkit dari duduknya.
"Ayaz?"
Dilara dan Sinan terkesiap dan mulai mulai fokus pada Serkan. Bahkan Mehmet juga sampai membangkitkan diri dari sofa, menatap ke arah Serkan.
"Iya, ini aku," kata Ayaz dari seberang sana.
Serkan menghela napas lega. "Akhirnya… Ayaz, kau kemana saja?"
"Itu beneran Ayaz, kan?" tanya Dilara.
"Dia baik-baik saja, kan?" sahut Sinan bertanya.
"Ayaz, kami mencemaskanmu. Kau baik-baik saja kan? Apa yang terjadi padamu?" berondong Serkan bertanya.
"Aku baik-baik saja, Serkan. Aku terjebak sama Sevda di sebuah pulau."
"Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang."
"Oke, nanti ceritakan padaku, ya! Ibu dan Papa ingin mendengar suaramu," ucap Serkan, lantas menyerahkan ponselnya pada Dilara.
"Halo, Ayaz!" Suara Dilara begitu lirih. Air mata bocor dari sudut pupilnya.
"Halo, Auntie Dilara!"
"Bagaimana kabarmu, Nak? Kami semua sangat cemas denganmu."
"Aku baik-baik saja, Auntie. Bagaimana denganmu? Aku merindukanmu. Merindukan pai buatanmu. Hehe," seru Ayaz.
Dilara tersenyum dalam tangisnya. "Pulanglah cepat. Auntie akan memasakkan Pai banyak untukmu."
"Aku juga mau bicara dengan keponakanku," ujar Sinan dengan suara haru.
"Ayaz, pamanmu ingin bicara denganmu," kata Dilara, lantas menyerahkan ponselnya pada sang suami.
Sinan menteri ponsel tersebut. Mendekatkannya di daun telinga. "Halo, Ayaz!"
"Halo, Paman Sinan!"
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Aku baik-baik saja, Paman. Kalian tidak perlu khawatir. Aku sekarang sudah kembali ke Villa dengan selamat."
"Syukurlah. Paman senang mendengarnya. Kami semua merindukanmu," kata Sinan. Lantas matanya itu melirik ke arah Mehmet yang terus menatapnya, seolah dari tatapannya mengatakan kalau ia ingin sekali mendengar suara putra kandungnya.
"Aku juga merindukanmu, Paman. Merindukan Serkan, Auntie Dilara, Bibi Emma dan masakan Bibi Zeynap, hehe!"
"Dan ayahmu?" tanya Sinan.
Sunyi. Hanya terdengar embusan napas Ayaz belaka.
Sinan bergerak ke arah kakaknya. Menyodorkan ponsel tersebut padanya.
Dengan tangan gemetar Mehmet mulai menerima ponsel tersebut. Menempelkannya di daun telinga. Meneguk ludah sebelum akhirnya berkata, "Halo, Ayaz. Apa kabar?"
Suara Ayaz tak lagi terdengar saat ayahnya yang berbicara.
"Ayah sangat merindukanmu, Nak!"
"KAU BUKAN AYAHKU!" Setelah kata itu terucap, panggilan langsung terputus.
Mehmet bergeming. Air matanya jatuh tetapi langsung ia hapus dengan ujung telunjuk. Mengangkat kepala, memutar leher menatap ke arah Sinan.
"Teleponnya sudah terputus. Mungkin jaringannya jelek," kata Mehmet sembari menyerahkan ponselnya pada Sinan.
Lelaki baya itu lantas melangkah menjauhi mereka. Menahan tangis dan rasa sesak di d**a saat mengingat kalimat yang putranya katakan padanya tadi.
"Kak Mehmet…." Suara Sinan begitu lirih.
"Aku mau pergi ke kamar. Ayaz sudah baik-baik saja, kan? Kalian tidak perlu cemas lagi. Sebaiknya kalian istirahatlah," kata Mehmet dengan suara menahan tangis.
Lelaki itu melangkah lunglai menuju lantai atas.
Sinan, Dilara, dan Serkan yang melihatnya menjadi iba. Mata mereka penuh dengan embun.