Malam itu Sevda tengah duduk di depan cermin. Menata rambutnya, membuat ujungnya ikal dengan bantuan mesin roll. Memandangi wajahnya sendiri sembari mengingat-ingat kebersamaannya dengan Ayaz. Entah mengapa jika dikenang dengan suasana gembira momen-momen menyebalkan itu menjadikan menggelikan.
Gadis itu diam-diam mengukir senyum. Namun hal itu langsung ditepis oleh egonya.
"Ish … apa yang kau lakukan Sevda? Kenapa kau malah memikirkan pria es batu menyebalkan itu!" Sevda menggeleng, menghilangkan jauh-jauh pemikirannya tentang sosok pria yang kini menjadi rivalnya dalam adu debat.
Gadis itu melirik ke arah lipstik merah merona yang berada di kotak make up-nya. Itu merupakan lipstik milik Oyku yang dititipkan padanya, karena Sevda tak pernah memakai lipstik seterang itu. Ia hanya suka mengenakan warna natural. Namun kali ini pikirannya menggertaknya untuk menjajal mencicip lipstik merah tersebut.
Perlahan tangan Sevda meraihnya. Membuka penutupnya. "Kenapa Oyku dan Cansu suka sekali dengan lipstik seterang ini. Bukankah ini kelihatan seperti wanita pengoda?"
Gadis itu menghidu aroma rose yang terkandung dalam lipstik tersebut. Semakin tergerak untuk mencobanya.
"Coba ah sedikit!" Perlahan Sevda mengaplikasikan lipstik merah terang tersebut di permukaan bibir sensualnya. Merasakan tekstur empuk sehingga ia mengagumi kelembutan lipstik tersebut. Sembari bersenandung ria, Sevda terus meratakan lipstiknya.
DOK! DOK! DOKK!!!
Suara gedoran pintu tiba-tiba terdengar begitu nyaring, sehingga membuat Sevda terkesiap dan tanpa sengaja menjadikan lipstiknya merembet sampai ke pipi.
Sevda memandangi wajahnya di cermin. Menjerit lantas membuang lipstiknya begitu saja. Membalikkan tubuh dan tak sabar ingin merutuki seseorang yang telah mengganggunya berdandan.
Suara gedoran pintu belum berhenti sampai gadis itu menarik tuasnya dengan kasar.
Pintu terbuka memperlihatkan sosok Ayaz yang memasang muka tanpa dosa. Detik berikutnya pria itu tertawa terbahak kala melihat wajah Sevda yang pipinya tercoreng lipstik tebal sekali.
"Hahaha! Astaga, apa kau habis memangsa tumbal ayam?" cerca Ayaz masih saja tertawa keras.
"Iya, dan aku akan memakanmu juga!" Sevda berkacak pinggang dengan wajah berapi-api.
"Lihat wajahmu itu di cermin. Haha! Seperti badut salah adonan!"
"DIAM! semua ini gara-gara kau!" tuduh Sevda.
"Heh, dengar! Kalau kau tidak bisa berdandan, jangan nyalahin orang." Ayaz masih saja tak bisa menahan tawa setiap melihat wajah gadis itu. "Astaga, kau lucu sekali. Mukamu itu seperti waria jalanan. Haha!" Ayaz tertawa sampai terpingkal-pingkal.
"Aku bilang diam!" Sevda maju selangkah, memukul bahu pria itu.
Namun Ayaz masih tak menghentikan tawanya juga. "Mentang-mentang punya mulut lebar seperti ikan koi, pakai lipstik sampai ke ujung pipi. Haha! Kau mau cosplay jadi Joker?"
"AYAZ, DIAM!!!" Sevda semakin kesal dan terus memukulinya.
"Oke… oke … aku berhenti." Ayaz memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa. "Aduh, perutku sampai kaku."
"Sokorin!" ketus Sevda sembari melipat kedua tangan di perut.
"Aduhh … oke … oke sudah."
"Mau apa kau ke sini?" tanya Sevda kemudian. Masih dengan wajah jutek dan suara ketus.
Ayaz menarik napas dan menyemburkannya. "Aku mau kau memesankanku makanan. Aku lapar sekali. Atau kalau kau mau kita bisa keluar cari makan malam," ajak Ayaz. Suaranya mulai rendah.
"Kau pikir aku pesuruhmu? Aku tidak mau! Cari aja sendiri!" kata Sevda.
"Kau ini… ayolah...! Aku lapar sekali dan ponselku mati tidak bisa memesan online. Kalau begitu kau yang pesanku untukku. Jangan khawatir, aku akan membayarnya dan mentraktirmu jika kau mau."
"Maaf aja, aku masih banyak duit. Tidak butuh belas kasihanmu sama sekali!" kata Sevda angkuh.
"Ayolah, Sevda…!" mohon Ayaz. "Apa kau akan membiarkanku mati kelaparan?"
"Aku tidak peduli. Tadi saja kau menertawakanku, sekarang kau memelas seperti pengemis. Cih!"
"Kau menyebutku pengemis?!" Rahang Ayaz mulai mengeras dengan mata menjadi sebesar piring.
"Kenapa? Kau tidak suka?!" timpal Sevda tak takut sama sekali.
Ayaz mengerjap. Ia harus bisa mengontrol diri untuk tidak marah pada gadis itu jika ia tidak ingin tidur dengan perut kosong malam ini.
Pria itu menarik napas panjang. "Oke. Terserah kau mau menyebutku apa saja. Tapi, aku minta padamu untuk cepat pesankan aku makanan, oke?" pinta Ayaz dengan suara beradu gigit.
Sevda hanya tersenyum sumbang ke arahnya. "Sayang sekali aktingmu itu masih belum bisa menyentuh hatiku. Akting lagi ayo akting lagi!"
Kedua tangan Ayaz mengepal. "Kenapa Serkan menyewa Villa tetapi tidak menyediakan makanan sama sekali!" gerutunya.
"Hei, Bodoh! Setiap pagi dan malam kita selalu disediakan makanan, apa kau tidak ingat?!"
"Lalu kenapa sekarang tidak ada? Aku cari di dapur, di kulkas, semuanya hanya barang-barang mentah!"
"Karena mereka mengira kita sudah tidak menempati Villa ini, Bodoh!"
"Terus sekarang apa yang harus aku makan?!"
"Ada es batu di kulkas banyak. Kau tinggal gigit sepuasmu. Atau kalau mau makan daun-daun di taman juga banyak."
"Kau pikir aku kambing!"
"Bukan, lebih tepatnya sapi! Haha!"
"Ah, sialan!" Ayaz menggerutu dan bergerak ke arah ranjang. Membanting tubuhnya di sana, dengan posisi terlentang. Sementara dua tangan kekarnya ia tekuk sebagai bantal kepalanya.
Sementara Sevda melenggang menuju cermin. Menghapus lipstiknya dan merapikan wajahnya yang berantakan.
Bunyi perut Ayaz yang keroncongan mulai terdengar.
"Hei, Nona Penyihir. Kau mendengar sesuatu?" tanya pria itu sembari menatap langit-langit kamar.
"Nope!" jawab Sevda masih sibuk membersihkan wajah.
"Perutku keroncongan dan sebentar lagi cacing-cacing di dalam perutku akan menggerogoti dagingku. Lalu aku akan mati," ujar Ayaz merancau.
"Itu bagus!" jawab Sevda begitu saja.
"Lalu kalau aku mati kau akan dituduh telah melenyapkanku. Dan kau akan membusuk di penjara. Bayangkan, kau akan tidur di lantai kotor bersama para narapidana. Mereka akan mengacaukanmu!"
"Oh ya? Berusaha lebih keras lagi, Tuan Gletser. Aku masih tidak peduli denganmu!"
"Arghh! Kenapa kau menyebalkan sekali. Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memesankanku makanan?"
"Aku ingin kau pergi dari hidupku!" ujar Sevda. "Lagi pula kenapa kau tidak keluar saja cari sendiri?"
"Aku males!"
"Dasar pria pemalas!" Sevda membalikkan tubuh. Menatap ke arah pria di atas kasurnya yang kini memiringkan tubuhnya.
Ayaz hendak tertawa saat melihat wajah Sevda.
"Kenapa kau masih tertawa? Apa wajahku masih berantakan?" Sevda membalikkan tubuh, memeriksa kembali wajahnya di cermin. Lipstiknya sudah memudar dan pipinya sudah kembali mulus. Tidak ada yang salah dengan wajah gadis itu.
"Wajahmu itu sudah berantakan sejak lahir!" hardik Ayaz.
Sevda membalikkan tubuh dengan murka. "Kalau kau masih saja mengejekku aku tidak akan memesankanmu makanan!" ancamnya.
"Iya … iya baiklah!" Ayaz menghela napas pasrah.
Sevda berjalan ke arah nakas, mengambil ponselnya itu dan duduk di pinggiran ranjang. "Menu apa yang kau inginkan?" tanyanya pada pria yang masih berbaring di belakangnya sana.
Ayaz langsung bangkit. Mendekati punggung Sevda dan melihat-lihat menu yang tersedia di aplikasi ponsel pintar milik gadis itu.
"Sebentar, biar aku yang memilih!" Ayaz mulai menekan tombol makanan yang ia pilih dan otomatis menu tersebut masuk ke dalam keranjang.
"Kenapa kau memilih yang mahal-mahal dan banyak sekali. Kau ingin memerasku?" protes Sevda tak terima.
"Aku bilang aku yang bayar! Nanti aku akan mengganti semua uangmu!"
"Serius?"
"Hem." Ayaz mengangguk malas.
"Oke, kalau begitu biar aku pilih menu makananku!" Sevda mulai memborong menu-menu favoritnya dengan harga VIP. Gadis itu benar-benar berniat mengerjai Ayaz.
Di saat Sevda sibuk memilih-milih menu makanan, Ayaz diam-diam mengambil pucuk rambut Sevda yang ditata ikal. Menghidu aroma sampo yang membuatnya candu. Bahkan diam-diam, menciumnya.
"Done! Sebentar lagi makannya akan diproses dan diantar ke sini. Mau tinggal menunggu saja!" seru Sevda.
Ayaz mulai melepaskan tangannya dari pucuk rambut gadis itu.
"Apa yang kau pesan?" tanya Ayaz. Perasaannya mulai tidak enak.
"Bukan urusanmu. Yang penting, kau yang membayar semuanya."
"Sebentar, kau menggunakan pembayaran via online?"
"Oh, aku tidak sebodoh itu, Tuan Gletser! Kalau aku membayar via online, kau tidak akan mau mengembalikan uangku. Aku memilih pembayaran cash! Jadi, begitu nanti kurir datang, kau yang membayarnya. Sebaiknya kau siapkan saja uangmu dari sekarang, Oke?" Dalam hati Sevda menahan tawa, tak sabar ingin melihat ekspresi Ayaz saat itu.
"Perasaanku jadi tidak enak. Coba lihat sini apa saja yang kau pesan?" Ayaz menatap Sevda penuh curiga.
"No! No! Tidak boleh. Sebaiknya kau pergi ke kamarmu dan siapkan uangnya, oke?" Sevda bangkit dari duduknya. "Aku akan ke dapur mempersiapkan piring-piring. Kita akan makan besar malam ini," serunya.
Ayaz melirik penuh curiga. Menggesek rambutnya yang sama sekali tak gatal itu.
"Sudah, ayo keluar!" Sevda menarik tangan pria itu agar turun dari ranjangnya. Lantas mendorong tubuhnya menuju pintu keluar.
***
Bel berbunyi.
Sevda yang sibuk menata piring di meja makan mulai beralih pandang.
"Itu pasti makanannya sudah sampai. Lihat saja Ayaz, siap-siap kau miskin dan terkejut apa saja yang aku beli untuk makan malam spesial kita." Sedva bergumam sembari cekikikan. Bergerak menuju pintu utama.
Gadis itu membukakan pintunya. Tersenyum gembira saat melihat kurir yang mengantar begitu banyak makanan.
"Wow! Tolong taruh di dalam, ya, Pak!" pintanya dengan sopan.
Lelaki kurir itu mulai membawa sekotak besar makanan. Balik lagi dengan dua kantong besar.
"Nona, total tagihannya–"
"–Ooo… tunggu-tunggu … biar aku memanggilkan orang yang akan membayar semua ini, oke? Bapak tunggu di sini dulu!" Sevda lantas bergerak menaiki tangga memanggil Ayaz.
"Ayaz! Ayaz! Makanannya sudah datang!" teriak gadis itu.
"Pria batu itu pasti sudah tidur. Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia mengingkari janjinya. Pokoknya dia harus membayar semuanya!" oceh Sevda sepanjang jalan menuju kamar Ayaz.
"Ayaz! Bangun!" Sevda berteriak tepat di depan kamarnya sembari menggedor-gedor pintu tersebut.
"Tuan beku! Tuan Gletser! Tuan batu! Manusia es! Pria pelit senyum! Pria menyebalkan! Apa lagi, ya? Pria tidak waras! Cepat buka pintunya!"
Tok! Tok! Tok!
"Apaan sih, berisik?" Ayaz membuka sembari menggesek rambutnya yang basah, menandakan pria itu habis dari kamar mandi.
"Malam-malam kau sedang mandi?" tanya Sevda.
"Bukan urusanmu!"
"Kau bisa terkena rematik, Bodoh!"
"Aku hanya berendam di bathtub dengan air hangat. Memangnya kenapa kau peduli!" kata Ayaz balik bertanya dengan nada ketus.
"Umm… aku hanya …."
"Sudahlah, ada apa kau menggangguku?"
"Makanan sudah datang, hehe," ucap Sevda cengengesan.
"Oke, aku akan turun lima menit lagi!" Pria itu hendak menutup kembali pintunya.
"Ayaz, tunggu!" Sevda menghalanginya.
"Apa lagi?" tanyanya malas.
"Kau harus membayarnya, kau sudah janji!"
"Iya… iya, sebentar!"
"Ayaz, kurirnya sudah menunggu di bawah. Kasihan!"
"Aku bilang sebentar!" Ayaz menyemburkan napas gusar. Bergerak ke dalam dan mengambil dompetnya. Lantas kembali menghadap Sevda. "Berapa tagihannya?" tanyanya malas.
"Sebaiknya kau bawa semua dompetmu ini dan ayo turun! Kau akan tahu sendiri nanti berapa tagihannya, oke?"
Ayaz mengerlingkan mata.
Dengan sigap Sevda menarik tangan Ayaz dan membawanya turun.
"Sevda, lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!"
"Aku tidak percaya! Kau pasti akan kabur!" Sevda tetap bersikeras menarik lengan pria itu.
Sesampainya di bawah, Ayaz bertanya pada sang kurir tentang total tagihan.
"Tuan, total tagihannya tujuh ribu lima ratus lima puluh lira," kata lelaki tersebut. Kalau dalam rupiah setara dengan delapan juta lebih.
"WHAT?!" Mata Ayaz langsung sebesar piring. Menggeleng-geleng tak habis pikir.
"Tidak mungkin. Mana coba lihat tagihannya!" Ayaz meroyok kertas tagihan yang lelaki itu pegang.
Mata Ayaz semakin membola dengan mulut menganga. Sevda yang melihatnya cekikikan dalam hati. Terasa puas telah mengerjai pria itu.
Ayaz menatap ke arah Sevda. "Apa-apaan ini? Apa kau bercanda?!"
Sevda menggeleng. "Tidak. Aku tidak bercanda. Lihat, makanannya itu asli. Bukan candaan. Iya, kan, Pak?" ujar Sevda sembari tersenyum.
"Dasar gadis sakit jiwa!"
"Sudah jangan bicara. Cepat bayar! Kasihan kurir ini menunggu sejak tadi!"
"Kau benar-benar mau memerasku?"
"Katamu kau kaya raya banyak uang. Hanya segitu saja harusnya tidak ada artinya buatmu! Mana sini dompetmu!" Sevda merebut dompet Ayaz yang sedari tadi digenggamnya. Lantas mulai mengeluarkan sejumlah uang Turki dan menyerahkannya pada sang kurir.
"Ini, Pak. Tujuh ribu lima ratus lima puluh lira!"
Ayaz memegang pipinya dengan kedua tangan, sembari membuka mulut dan mata membola—ekspresi campur aduk.
"Terima kasih, Nona!" Lelaki kurir itu mengucap demikian setelah menghitung uangnya.
"Sama-sama," ucap Sevda.
"Kalau boleh tahu, makanan sebanyak ini untuk apa, Nona? Kalian hanya tinggal berdua kan?" tanya kurir itu penasaran.
"Untuk sesajen mahkluk gaib!" sahut Ayaz ketus. "Kenapa? Kau ingin jadi tumbalnya juga?!"
Wajah lelaki kurir itu langsung ketakutan.
Sevda tertawa. "Ayaz, kau tidak boleh begitu sama orang yang lebih tua darimu!" tuturnya.
"Suruh dia pergi sebelum aku ambil lagi uang itu!" ketus Ayaz.
"Nona, saya permisi dulu, ya! Terima kasih." Kurir itu langsung pamit untuk diri dengan wajah ketakutan.
Sevda kembali menutup pintunya. Lantas melemparkan dompetnya ke arah Ayaz.
Ayaz menangkap dompet tersebut. Memeriksa sisa uangnya yang hanya tak seberapa. Mengeluarkan semuanya dan mengetok berharap masih ada yang tersisa, tetapi dompet itu benar-benar kosong.
"Kau benar-benar memerasku!" gerutu Ayaz dengan wajah tercengang.
Itu membuat Sevda tertawa girang.
"Sudah diam saja! Mari kita siapkan makan malam!" kata Sevda tanpa beban dosa. Mulai membawa makanan-makanan tersebut ke meja makan.
"Yang benar saja makanan sebanyak ini untuk apa?" tanya Ayaz geram sembari berjalan membuntutinya.
"Kau kan yang bilang untuk tumbal pesugihan!" sahut Sevda begitu saja.
Ayaz mengangguk-angguk dengan ekspresi geregetan. "Yah, panggil semua teman-teman penyihirmu itu. Suruh datang ke sini untuk berpesta!"
"Jangan banyak bicara, cepat bantu aku menyiapkan semua ini!" perintah Sevda.
***
Aneka makanan mewah khas Turki dan Eropa serta Indonesia tersaji rapi di meja makan. Semuanya penuh bahkan hampir tak muat.
Sedva duduk dengan senyum berbinar, sementara Ayaz memandang dengan tercengang setelah kehilangan uangnya yang lumayan banyak hanya dalam sekejap.
"Lihat, ini nasi goreng khas Indonesia. Sudah dalam aku tidak memakan makanan khas Indonesia. Ufff… tidak sabar!"
Sevda mulai menjajal nasi goreng tersebut. Lantas mencicipi hidangan yang lainnya. "Ah, Manti khas Turki ini sungguh menggugah seleraku!"
"Lahmacun kelihatannya juga enak!" Sevda mencicip makanan Turki yang dengan bahan dasar roti dan isian daging giling, salad, dan sari lemon.
"Kebab ini juga enak sepertinya!"
Sementara Sevda sibuk dengan mengoceh dan mencicip semuanya, Ayaz hanya menyaksikannya dengan wajah mendongkol. Pria itu mengambil steak daging, memotongnya dengan kasar dan melahapnya sembari melirik tajam ke arah Sevda.
Tiga puluh menit berlalu. Perut mereka sudah kenyang tetapi masih banyak makanan yang belum tersentuh.
"Hoam… Ayaz, aku kenyang sekali dan rasanya ngantuk sekali!" ucap Sevda dengan suara malas.
Ayaz tersenyum sumbang. "Kau tidak boleh tidur sebelum menghabiskan semua ini!" Pria itu bangkit dari duduknya. "Makanlah dengan para penyihirmu itu!"
Ayaz berjalan meninggalkan Sevda yang terkulai dengan perut kenyang di kursi makan.