Air kolam renang bergoyang kala tubuh kekar seorang pria mencebur ke dalamnya. Menyelaminya bagai lumba-lumba yang merindukan kesegaran air.
Serkan tampak berenang dengan lihai, mencapai ujung kolam dan kembali lagi. Sesekali mengangkat kepalanya ke permukaan guna mengambil oksigen dan kembali menyelam.
Seorang gadis tampak bergerak ke arah kolam renang. Menanggalkan pakaiannya dan menyisakan bikini dalamnya. Kakinya kembali melangkahkan mendekat, memandangi sosok pria yang masih asyik berenang.
Suara langkah kaki jenjang gadis itu yang mendekati kolam tersebut tak membuat Serkan menghentikan aksinya. Sampai sang gadis itu bersuara ke arahnya.
"Good morning, Baby!"
Serkan keluar dari permukaan air. Membalikkan tubuh serta mengusap rambutnya ke belakang, membuat sisa-sisa air di pucuk kepalanya itu berjatuhan mengalir sampai d**a bidangnya. Matanya sedikit menyeleksi gadis yang berdiri di pinggiran kolam tersebut.
"Hazal? Kapan kau ke sini?" tanyanya sedikit terkejut dengan kedatangan gadis itu tiba-tiba.
"Baru saja," jawab Hazal sembari tersenyum.
Serkan menggerakkan tubuh mencapai pinggiran kolam.
"Pagi-pagi seperti ini?" Serkan hampir tak percaya kalau gadis yang berstatus sebagai pacarnya itu bangun sepagi itu.
"Ehm!" Hazal mulai merendahkan tubuhnya dengan menggoda. Berjongkok tepat di hadapan Serkan sembari menatapnya. Tangannya terulur meraih pipi Serkan. "Aku rela datang pagi-pagi ke sini hanya untuk melihat pangeran tampanku ini berenang tanpa busana," ujarnya genit.
Serkan memalingkan wajah dengan ekspresi datar.
"Sungguh, kau tampan sekali, Serkan. Apalagi saat tubuh seksimu itu melebur dengan air." Tangan Hazal mulai membelai leher pria itu dan turun sampai bahu. "Otot lenganmu yang kekar ini, sangat indah dan membuatku candu. Apalagi gumpalan bidang ini, terasa nyaman saat kepalaku bersandar di d**a ini." Hazal menggigit bibirnya sembari memandangi d**a bidang Serkan dengan penuh gairah.
Sayang sekali pria itu bersikap dingin terhadapnya. "Sudahlah, Hazal jangan membual!" desisnya.
"Aku serius, Sayang…!"
Serkan memindahkan kedua matanya menatap ke arah wajah Hazal. "Kapan kau dua belakangan ini?" tanyanya penuh penghakiman.
Senyum penuh arti tertarik dari garis bibir gadis itu. "Kenapa? Apa kau merindukanku?" ucapnya percaya diri.
Serkan memalingkan wajah dingin.
"Kau merajuk karena aku tidak memberimu kabar selama dua hari, ya?"
Serkan kembali menatap lurus gadis itu. "Sayangnya kau datang setelah masalah selesai!"
"Masalah? Masalah apa?"
"Lihat, kau bahkan tidak tahu! Kau menganggapku sebagai pacarmu tetapi kau tidak tahu masalah apa yang aku alami kemarin? Kau tidak mencoba menghubungiku, menanyakan keadaan, atau bahkan datang menemuiku!"
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau dalam masalah. Semejak pulang dari penelitian itu, ayah dan ibuku mengajakku liburan ke Ankara," kilah gadis itu.
"Apa mereka juga menyita handphonemu?" tanya Serkan masih dingin.
"Maksudmu?" Hazal mengerlingkan mata. "Memangnya ada masalah apa kemarin?"
"Sudahlah lupakan!"
"Baiklah. Mari kita lupakan hal itu. Sekarang bolehkah aku turun dan berenang bersamamu?" tanya Hazal dengan wajah genit.
"Aku sudah selesai berenang. Kalau kau mau berenang sendirian silakan saja!"
"Kau tidak boleh keluar dari air secepat ini, Baby…." Hazal mendorong d**a Serkan dan menceburkan diri ke dalam air. Lantas bergerak ke arah pria itu, mengalungkan tangannya di leher dan menciptakan suasana romantis.
"Aku merindukan tubuhmu ini. Aku merindukan bibir ini." Hazal meraba bibir pria itu.
"Hazal, hentikan. Nanti ada yang melihat!" pinta Serkan berusaha memalingkan wajah. Namun gadis di depannya itu semakin agresif.
"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu, Baby. Tidak ada siapa pun di lantai bawah kecuali para pelayanmu itu!"
"Meraka itu bukan sekadar pelayan, Hazal. Panggil mereka dengan sebutan Bibi!" tutur Serkan sedikit emosi.
"Bukankah orang yang melayani semua kebutuhan kita disebut sebagai pelayan?" Hazal berkata dengan nada menggoda dan terus menggerakkan tangannya menjelajahi d**a bidang pria itu.
Serkan menarik napas menahan emosinya. "Itu mungkin di rumahmu, tapi tidak di rumahku! Di sini semua orang sudah seperti keluarga. Jika kau ingin menjadi bagian dari rumah ini, maka mulai sekarang belajarlah untuk menghormati dan menghargai siapa pun yang lebih tua darimu. Meskipun jabatannya lebih tinggi darimu!"
"Baby … kau terlalu memusingkan hal yang tidak berguna. Kau cepat sekali emosian belakang ini." Gadis itu masih menganggapi perkataan Serkan dengan ringan. Seakan tak peduli sama sekali. "Jangan cepat marah, Baby… nanti wajah tampanmu ini akan lenyap."
Serkan mendesis gusar sembari memalingkan wajah.
"Lebih baik, kita ciptakan suasana yang romantis saja. Aku sudah datang ke sini pagi-pagi demi bertemu denganmu. Apa kau tidak merasa senang sedikitpun?" Garis mata Hazal terangkat sebelah, dengan bulu berkedip-kedip.
"Hazal, sudahlah. Aku ingin pergi!" ucap Serkan tak acuh. Seakan tubuh seksi yang basah di depannya itu tak membuatnya tergoda.
"Kau ingin pergi ke mana? Kita ini mahasiswa semester akhir, kau tidak perlu datang ke kampus untuk menyelesaikan tugas akhir."
"Hazal… hentikan!" perintah Serkan saat tangan gadis itu mulai kurang ajar dan meraba sampai ke bawah perut.
"Kenapa? Apa aku mulai mengganggumu?" bisik gadis itu dengan suara menggoda.
"Hazal, hentikan!" Serkan mendorong tubuh Hazal dengan spontan, saat tangan gadis itu mencoba menyentuh benda miliknya.
Garis mata pria itu menegas. "Kalau kau masih ingin berenang silakan, aku sudah selesai!" kata pria itu dingin, lantas bergerak ke pinggir dan keluar dari kolam renang.
Hazal memandangi Serkan dengan ekspresi emosi serta mulut menganga. "Serkan, apa-apaan ini?!"
Serkan tampak tak acuh dan sibuk mengeringkan rambut serta badannya dengan handuk.
"Serkan, cepat kembali ke sini!" pinta Hazal.
Serkan membalikkan tubuh. Menatapnya sejenak, dan tanpa sepatah kata pria itu berjalan memasuki rumahnya.
"Serkan!!!" Gadis itu berteriak sembari memukul-mukulkan tangan di permukaan air.
***
"Hoamm…!"
Sevda membangunkan tubuhnya setelah terlelap dengan pulas semalaman. Perutnya yang masih penuh akibat makan banyak semalam membuatnya terasa sakit di pagi hari. Gadis itu gegas bergerak menuju kamar mandi dan membuang hajat.
Setelah menyegarkan badan, Sevda merapikan diri. Ia baru teringat akan makanan semalam yang lupa ia masukkan lemari es.
Gadis itu membulatkan mata.
"Ya Tuhan! Aku lupa memasukkan kulkas makanan semalem!"
Gadis itu buru-buru membalikkan tubuh, bergerak keluar kamar. Menuruni tangga dengan tergesa. Dilihatnya makanan masih berceceran di atas meja makan. Piring, sendok, mangkuk, dan semuanya masih kotor.
Setelah Ayaz meninggalkan meja makan, tadi malam gadis itu juga menuju kamarnya tanpa membereskan semuanya terlebih dahulu.
"Hufft … sepertinya aku harus kerja berat hari ini. Kalau aku meminta pria batu itu untuk membantuku, dia pasti akan memarahiku lagi karena telah memesan makanan sebanyak ini. Aku memang harus melakukan ini sendirian!"
Sevda mencoba mengumpulkan semangat pagi hari, dan mulai menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ia menaruh sisa makanan yang masih layak ke dalam lemari es. Mencuci piring-piring kotor dan merapikan meja makan hingga rapi dan bersih seperti semula.
Tiga puluh menit berlalu, meja makan itu sudah kembali bersih.
"Ufff… rasanya letih sekali." Gadis itu membanting tubuhnya di kursi sembari merilekskan badan dan pikiran.
Saat asyik bersantai, tiba-tiba bel berbunyi. Sevda sedikit terkejut.
"Siapa yang pagi-pagi datang ke sini?"
Gadis itu membangkitkan diri. Menggerakkan kakinya melenggang menuju pintu. Menarik tuas dan membuka daunnya. Kedua mata gadis itu menjadi sebesar piring dengan mulut membuka.
Alangkah terkesiapnya Sevda saat mendapat tamu yang datang tersebut merupakan lelaki si pemilik kapal kemarin.