Wajah Ellena terus berubah-ubah sejak beberapa jam yang lalu—tepatnya saat ia duduk di depan laptop. Satu buah tablet di sebelah kirinya tak lepas dari lirikan tajam iris mata kecoklatan milik gadis tersebut. Mulutnya komat-kamit seiring dengan tulisan berwarna-warni yang muncul pada kotak hitam yang tampil di layar menghasilkan kode-kode yang entah apa gunanya. Bibirnya menyeringai misterius di balik rambut yang tergerai menutupi setengah wajahnya saat jari telunjuknya menekan dengan semangat Enter Button pada keyboard dengan mode cahaya berwarna biru yang berasal dari bawahnya. Dalam hitungan detik ke sepuluh ia menutup kupingnya bersamaan dengan teriakan yang menyebutkan namanya dari luar sana.
"ELLENA COX!" Suara itu menggelegar mengisi suasana sore hari ini.
Ellena atau yang kerap dipanggil Elly itu tertawa sampai memegang perutnya. Bagaimana tidak, ia baru saja mengerjai Anne—Auntynya yang penakut. Elly pun berjalan menuju pintu keluar dari ruangan yang dipenuhi layar komputer itu dan menampilkan berbagai sudut rumah yang ia tinggali bertahun-tahun. Tawanya semakin menjadi mendapati wajah Anne yang menatapnya bengis penuh kekesalan.
"Kau tau apa yang kau lakukan ini, Sweety?" Desis wanita berambut sebahu tersebut.
"Tentu saja, Anne. Ayolah Aunty, aku hanya membuatkanmu hiburan agar kau tak cepat tua." Hiburan yang dimaksud oleh Ellena adalah potongan video dari film horor kemudian dia edit sedemikian rupa hingga nampak sepuluh kali lipat lebih menyeramkan. Tentu saja ia mengirimkan dan memainkan langsung dari ponsel milik auntynya tanpa perlu wanita itu repot-repot membukanya. Karena ia yakin Anne akan berpikir ribuan kali lipat untuk membuka setiap video yang ia kirimkan. Anne sudah sangat hafal dengan kelakuannya yang kadang membuat wanita itu meradang.
"Kau menghancurkan kue-kueku, Elly." Anne berkata lemah. Sejak pagi wanita tersebut berkutat di dapur untuk menjalani profesinya sebagai Pâtissier. Ia membuka toko kue sejak mereka pindah ke tempat itu beberapa tahun silam. Tepatnya saat ia memilih untuk menetap di negara tersebut. Namun, lihatlah dapurnya sekarang, tepung tercecer dimana-mana dan air yang tumbah di atas lantai sana.
"What's wrong, my aunty?" Tanya Elly dengan wajah tak berdosa. Senyum jenaka masih terpatri di bibirnya. "Aku hanya membuatkanmu hiburan agar kau tidak terlalu stress, my aunty. Dan aunty menuduhku macam-macam. Sungguh hatiku sedikit terluka." Imbuhnya membuat drama dengan memegang d**a dan meringis seolah itu benar-benar menyakitkan untuknya.
"It is so funny, Sweety." Desis Anne sambil menggerutu tak jelas. Tangannya sibuk menata kembali dapurnya yang sudah berantakan karena ia sangat terkejut ketika ponselnya tiba-tiba memutar video yang mampu membuatnya merinding tujuh hari tujuh malam ke depan. Saat ini saja bulu kuduknya masih meremang membayangkan betapa menyeramkannya sosok makhluk yang entah itu benar-benar seperti itu ataukah lebih menyeramkan. Sungguh ia hendak mengutuk sutradara yang membuat film-film seperti itu.
"Aku mencintaimu, aunty." Goda Elly. Tangannya mengambil satu buah cup cake yang sudah diatur rapi dalam kotak kue yang masih terbuka di atas meja bar, siap diantar kepada pemiliknya. Ia berjalan ringan tanpa rasa bersalah sebelum teriakan kedua benar-benar akan memecahkan gendang telinga. Tak lupa gadis itu memasang earphone dan menyetel sesuatu yang bisa ia dengar dengan volume yang mampu meredam teriakan yang sebentar lagi terdengar dari arah dapur sana. Elly menghitung dalam hati, tepat pada hitungan kelima suaranya Anne terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Jika memakai earphone saja suara itu masih terdengar jelas, maka mungkin suara Anne dapat terdengar seantero kota. Gadis itu bergidik ngeri sambil terus menguyah kue yang tadi....dicurinya?
***
Elly mengendari skuternya di jalanan kota sambil sesekali melirik pada layar di depannya. Benar. Layar yang menempel pada skuternya tersebut bukan hanya berfunsi untuk mengetahui kecepatannya dalam berkendara atau berapa banyak bahan bakar yang tersisa. Akan tetapi juga berfungsi untuk menampilkan map untuk mempermudah pengendara untuk menuntunnya ke lokasi pelanggan. Elly, gadis itu memang mempunyai kesulitan untuk mengingat jalan jika hanya sekali atau dua kali ia lewati, jadilah ia merancang skuternya untuk memudahkan. Map itu membawanya ke lokasi pelanggan kue Anne yang terakhir hari ini, ia benar-benar memuji teknologi yang berkembang pesat seperti sekarang. Para pelanggan dapat membeli apapun dan dari manapun tanpa repot-repot harus keluar rumah bahkan mereka bisa berbelanja dengan posisi sedang tidur atau renang sekalipun.
Ellena berhenti tepat di sebuah gang sempit, kemudian memilih untuk berjalan kaki karena letak lokasinya menurut map tak jauh dari pintu masuk gang tersebut. Tangannya menenteng sebuah kotak kue—kotak terakhir yang harus sampai di tangan pelanggan. Ketika ia melirik pergelangan tangannya yang melingkar smartwatch, ia sudah berada di titik lokasi—Di depan sebuah rumah yang terlihat sepi. Dahinya mengernyit membentuk beberapa lipatan karena setelah beberapa kali ia menekan bel, belum ada satupun orang yang keluar. Kondisi gerbang kecil yang tidak terkunci memudahkannya untuk melenggang masuk dan di sambut oleh halaman kecil. Sangat kecil karena setelah langkah ketujuh ia sudah menginjak teras putih bersih tanpa celah dan mendapati pintu rumah tersebut sedikit terbuka kemudian ia sedikit berteriak.
"Hello. Excuse me!" Lagi-lagi tak ada sahutan ataupun suara di dari dalam sana. Lalu ia sedikit mendorong pintu rumah tersebut, Namun sebelum itu ia mengedarkan pandangannya ke atas dan gotcha! ada CCTV yang masih aktif menempel di atas sana. Setidaknya ia tidak akan di tuduh sebagai pencuri. Ia tersenyum kemudian masuk tanpa ragu. Suasana begitu gelap dan mencekam karena langit pun di luar sana sudah mulai gelap. Tak ada satupun lampu yang menyala. Belum lagi hanya ada satu jendela yang tertutup gorden dan menghalangi cahaya untuk masuk.
Akhirnya ia merogoh sakunya dan menyetel flashlight dari ponselnya untuk sekedar bisa melihat langkah. Ia menyorot flashlight ponselnya ke segala arah dan rumah ini benar-benar sepi, hanya ada lemari berisikan buku-buku di ruang tengah tempat ia berdiri dan sebuah televisi.
"Hello!" Ia kembali bersuara. Barangkali si pemilik rumah tertidur atau berada di belakang sehingga tak mendengarnya. Bukan sahutan atau jawaban yang ia dapat melainkan gemari suaranya sendiri. ia sedikit mengusap bagian belakang kepala karena merasa aneh dengan situasi yang sedang ia alami saat ini. Ketika kakinya pelan-pelan melangkah bak pencuri yang takut ketahuan, tak sengaja ia menginjak sesuatu di bawah sana. Dengan perasaan penasaran ia mengalihkan cahaya dari ponselnya ke arah kakinya.
Saat itu juga suaranya kembali bergema lebih keras. "AAKKKHHHH!" Ellena menjatuhkan kotak kue di tangannya, tubuhnya hampir limbung ketika tiba-tiba kepalanya pusing. Di sana ia mendapati sebuah tubuh dengan kepala berlumuran darah dan jangan lupa matanya yang melotot kosong pertanda tak lagi bernyawa. Tangan gadis itu gemetar hebat, selama dua puluh empat tahun hidupnya, tak pernah sekalipun ia melihat mayat dengan kematian tragis seperti itu walaupun ia sering menontonnya di berita. Tetap saja berbeda dengan melihatnya secara nyata.
Kue-kue yang tadi tersusun rapi dalam kotaknya sudah tercecer di lantai bersama dengan darang segar yang masih menggenang. Ia baru akan menekan angka di ponselnya, namun suara sirine polisi sudah terdengar di luar sana. Tak lama derap langkah terdengar kemudian diikuti dengan lampu yang menyoroti tajam. Ellena melihat mereka yang ikut menatapnya penuh intimidasi dan tuduhan.
"Bukan aku yang melakukannya. Aku baru saja mengantar kue itu." Tuturnya tanpa diperintahkan. Suaranya sangat santai meski hatinya berdegub kencang, ia menunjuk lantai dimana kue-kue itu tercecer. Ia tahu tatapan mereka menuduhnya mengingat dirinya berada di lokasi kejadian.
***
TBC