"Oh ayolah, Mom. Kita masih bertemu tadi pagi." Untuk melihat pemandangan kota di luar sana.
"Tapi aku sudah merindukanmu, boy. Kamu harus pulang malam ini. Jemput Miranda sekalian, Boy. Mom tiba-tiba khawatir kepada perempuan nakal itu." Ibunya bersikeras agar ia pulang nanti malam. Masalahnya baru tadi pagi ia berpamitan ke kantor dan siang ini ibunya merecokinya menyuruhnya untuk pulang.
"Baiklah, aku akan pulang." Raymond, nama laki-laki tersebut. Tangannya memijat-mijat pelan pelipisnya karena pusing, pada akhirnya ia akan tetap mengalah. Ibunya benar-benar tahu cara untuk membuatnya menuturi kemauan perempuan nomor satu dalam hidupnya itu.
"Good, Boy. Mom tahu kamu masih anak Mom. Aku akan menutup teleponnya. See you." Panggilan itu berakhir.
Memangnya kalau bukan anak mom, anak siapa lagi? Sungutnya ketika ponsel itu ia jauhan dari telinganya. Lalu ia memutar kursi kebesarannya kembali menghadap sejumlah berkas yang tak pernah ada habisnya. Ia kembali memasang kacamata setelah tadi sempat ia singkirkan. Namun suara pintu kembali mengganggu konsentrasi, seakan sudah tahu yang mengetuk pintu itu ia tetap tak mengangkat wajahnya dari dokumen kemudian membubuhi tandatangannya di sana.
Jennifer, sudah berdiri di balik meja di hadapan Raymond. Jari tangannya bergerak di atas layar tab yang di pegangnya.
"Sir, lima belas menit lagi meeting bersama Mr. Liu Zhang dari Shanghai. Dilanjutkan dengan dinner dengan Miss Avelyn sebagai brand ambassador untuk produk liontin yang akan di rilis bulan depan." Jennifer mengurai schedule bosnya yang dibalas dengan anggukan kepala oleh lawan bicara.
"Kamu tidak bisa mewakiliku untuk dinner bersama Avelyn, Jen?" Tanya Raymond sambil melihat pada cermin besar di depannya memastikan letak dasinya sudah sempurna.
"Tidak bisa, sir." Jawab Jennifer. Jenifer sangat enggan berurusan dengan Avelyn. Ia tahu dengan jelas Avely itu wanita seperti apa.
Setelah memakai jas yang dibantu oleh Jenifer, ia berjalan menuju pintu kaca yang tembus pandang dari dalam, namun tidak dari luar tersebut. Raymond hendak menghadiri meeting seperti yang sudah disampaikan oleh sekretarisnya. Di luar ruangan tersebut sudah ada George, laki-laki sepantarannya dan merupakan orang kepercayaan Raymond. Lelaki cerminan dari Raymond, berwajah dingin dan kadang menyebalkan karena wajah mereka yang selalu datar.
Jennifer dan George mengikuti langkah Raymond dari belakang menuju ruang meeting. Karisma ketiganya tidak bisa di tolak oleh siapapun, tidak sedikit karyawan yang berlalu lalang di lorong yang mereka lewati dan menatap penuh minat kepada ketiganya. Oh tidak, lebih tepatnya kepada Raymond, The King of Valley. Begitu mereka menyebutkan karena netra gelap Raymond yang mampu menenggelamkan. Alasan lainnya adalah karena Raymon merupakan CEO dari Valley Jewelry.
George membuka pintu meeting room dan sudah ada dua orang yang menunggu kedatangannya. Kedua orang tersebut langsung berdiri dan menjabat tangan Raymond dengan senyum penuh makna yang mereka suguhkan. Sementara Raymond malas mengubah raut wajahnya yang sudah menjadi ciri khasnya, datar dan penuh wibawa.
"Hello, Mr. Montgomery." Liu Zhang tersenyum penuh arti kepada Raymond.
Raymond hanya mengangguk, kemudian duduk di kursi di ujung meja berbentuk oval tersebut. Wanita yang duduk di samping clientnya tersebut menyeka rambutnya di belakang telinga, menatap malu-malu kepada laki-laki yang tadi balas menjabat tangannya sekilas. Sementara Raymond tak mempedulikan hal tersebut dan fokus pada tab yang baru saja ia terima dari Jennifer yang juga sudah duduk di sampingnya.
"Seperti yang kami sampaikan di proposal. Kami menawarakan agar produk-produk Anda dapat di pasarkan di Shanghai. Kami melihat potensi yang besar untuk produk berlian-berlian tersebut. Apalagi melihat pertumbuhan ekonomi penduduk di sana sangat baik." Liu Zhang memulai penjelasannya setelah mendapat kode dari Jennifer untuk menyuruhnya segera berbicara.
"Seberapa besar potensi yang kalian tawarkan?" Tanya Raymond memotong penjelasan Liu Zhang.
Liu Zhang melirik sekretarisnya sekilas kemudian dia tersenyum, "Kami tidak bisa memastikan besaran potensi hanya saja kami mampu menangkap potensi ekonomi yang selalu naik dan membaik setiap periode."
Raymond terkekeh sinis, "Aku tidak bekerja sama dengan mereka yang tidak mampu memberikanku angka pasti." Sergahnya. "Seharusnya sebelum Anda mengirimiku proposal sampah seperti ini Anda perlu memahamiku lebih dulu, Sir."
"Tapi kami akan menjamin jika itu akan memberikan keuntungan yang besar, Tuan." Laki-laki bertubuh gempal tersebut berusaha meyakinkan meskipun dia sudah merasa kalah.
"Bagaimana jika tidak berhasil? Kamu ingin bisa menjadikan perusahaanmu sebagai jaminan, Mr. Liu Zhang?" Desisnya datar.
Liu Zhang terdiam. Tidak mungkin baginya untuk menjaminkan sebuah kerja sama dengan mempertaruhkan perusahaannya sebagai jaminan. Ia tak ingin mengambil risiko sebesar itu, apalagi Raymond dikenal sebagai pebisnis kelas kakap yang tak akan pernah melanggar apa yang telah terucap dan tak segan-segan untuk mematikan atau merebit bisnis lawan tanpa pandang bulu.
"Antar Mr. Liu Zhang sampai depan, Jen." Pintanya, kemudian di bangkit namun langkahnya tertahan. "Aku juga tidak suka bekerja sama dengan orang yang tidak memiliki keberanian." Tegasnya sambil merapikan jasnya. Barulah Raymond benar-benar menghilang di balik pintu.
Sedangkan Liu Zhang menahan sakit hatinya, wajahnya merah padam menahan amarah, menatap pintu yang baru saja di lewati oleh Raymond dengan perasaan geram penuh dendam. Ia bahkan belum sepenuhnya mempresentasikan proposal yang sebelumnya ia sudah berikan. Lalu laki-laki tersebut meninggalkan ruangan itu tanpa mempedulikan Jennifer yang juga sama dinginnya dengan Raymond. Liu Zhang tidak menyangka kerjasama yang ia tawarkan ditolak mentah-mentah. Belum lagi perjalanannya yang panjang dan waktu tunggunya yang lumayan lama berakhir sia-sia.
Jennifer memilih untuk kembali ke ruangannya tanpa perlu repot-repot untuk untuk mengantarkan Liu Zhang. Perempuan tersebut sudah paham bagaimana tuannya bekerja, kejadian seperti ini bukan sekali-dua kali ini terjadi melainkan sering. Mendapatkan kepercayaan Raymond memang sangat sulit untuk mereka yang pertama kalinya bekerja dengan lelaki tersebut. Akan tetapi sebaliknya, jika mereka mendapatkan kepercayaan Raymond, maka Raymond tak akan segan-segan untuk mengerahkan yang ia bisa untuk membantu atau menyelamatkan rekannya dari kehancuran.
***
Hari sudah gelap, ketika Raymond memilih untuk menyetir sendiri untuk memenuhi janji dengan brand ambassador, Avelyn. Ini bukan pertama kalinya ia dinner dengan model papan atas tersebut melainkan beberapa kali, dan cukup jengah dengan tingkah Avelyn yang seolah-olah mereka menjalin hubungan khusus di luar pekerjaan. Namun, tetap saja laki-laki tersebut akan lebih menyayangkan ratusan miliarnya hilang jika kerjasamanya terputus. Selama Avelyn tidak melewati batasnya, maka ia akan dengan senang hati menggunakan perempuan itu. Mereka saling menguntungkan, bukan? Avelyn memanfaatkannya untuk menambah popularitasnya dijagat hiburan.
Walaupun mereka sering menghabiskan malam panjang bersama, tapi Raymond hanya menganggap perempuan itu sama dengan kebanyakan perempuan di luar sana, yang memanfaatkannya bukan hanya untuk popularitas mereka akan tetapi juga cara instan untuk mendapatkan harta yang berlimpah. Raymond selama ini dikenal loyal oleh para wanita yang pernah ia gunakan walaupun hanya sebatas sekali pakai saja, Raymond tidak akan berpikir panjang untuk membalas mereka dengan memenuhi kebutuhan, ah atau lebih tepatnya keinginan materil yang para wanita itu minta. Lagi-lagi Raymond menganggap bahwa mereka saling menguntungkan. Karena Raymond pun menyadari bahwa kebutuhan biologisnya harus terpenuhi dan ia tidak bisa menggunakan sembarangan wanita untuk itu. Raymond memang player, tapi untuk kepada mereka yang menurutnya pantas.
Iring-iringan sirine polisi menjadi latar irama menemaninya dalam mobil yang terasa sepi. Fokusnya teralih kepada benda pipih yang ia letakkan di dashboard di depannya, nama George muncul di layar. Segera ia memasang earphone di telinganya, walaupun ada decakan malas untuk menerima panggilan tersebut.
"Kenapa, Georg?" Tanyanya tanpa repot-repot menyapa seperti layaknya sambungan telepon umunya.
"Sir, ada masalah dengan Dyling Corp., barang-barang yang kita kirim ke sana sepertinya tidak sampai dengan semestinya."
"Benarkah?" Tanya Raymond ringan. Seolah kabar yang baru saja ia terima bukan kabar buruk atau baginya itu bukanlah kabar buruk? "Georg, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan? Seharusnya masalah kecil seperti ini tidak perlu kau laporkan." Ia berdecak malas. Sudah berkali-kali ia tekankan kepada asistennya tersebut untuk tidak membuatnya terlibat dalam masalah sepele seperti ini.
"Percayalah, Ray. Ini bukan masalah sepele. Karena aku menemukan kejanggalan tentang informasi yang mereka berikan. Barang yang mereka claim palsu bukan satu atau dua barang saja melainkan melebihi setengah dari yang kita supply."
Raymond menginjak rem mobilnya mendadak, tahu jika George sudah menyebut namanya maka itu adalah masalah serius, "Kamu bilang lebih dari setengah? menurutmu siapa yang berpotensi, Georg?"
"Aku belum yakin. Kita sudah menjalani kerja sama dengan mereka lebih dari sepuluh tahun, dan ini pertama kalinya mereka mengajukan komplain seperti ini." Jelas George panjang lebar. "Perlu kuingatkan Ray, mereka adalah salah satu pasar kita yang memberikan kontribusi besar untuk keuntungan kita."
"Dan mndengarmu bicara dengan santai seperti ini apa kau sudah dengar kabar tentang Miranda Ray?" George ragu jika Raymond sudah mendengar mengenai kabar yang baru saja ia sampaikan.
"Memangnya Miranda kenapa, Georg? Aku akan menjemputnya nanti setelah dinner dengan Avelyn." Raymond mengerutkan dahinya.
George terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Kamu harus pulang sekarang, Ray. Relakan ratusan miliarmu kali ini. Aku serius, Miranda sedang tidak baik-baik saja. Biar aku yang berangkat ke Paris."
"Jangan bercanda George. Baru tadi malam Miranda beranjak dari mension Mom." Tidak terima jika saudara sepupu kesayangannya dijadikan bahan candaan seperti ini.
"Apa aku terdengar bercanda, Raymond Montgomery?" Desis George. Darimana pula laki-laki itu belajar berdesis ketika bicara kepadanya. Ingatkan Raymond untuk memberinya pelajaran ketika ia bertemu dengan asistennya tersebut nanti.
Ada nada putus ada dalam suara George sebelumnya yang entah kenapa mengusik perasaan Raymon terkait dengan Miranda, kakak sepupunya dan masuk dalam salah satu wanita yang menjadi prioritasnya untuk ia jaga selain Ibunya. Seolah tersadar, hari ini Raymond juga tak menerima kabar apapun dari Miranda setelah kepulangannya semalam dari mension. Raymond mengeraskan rahangnya, ia mencengkram stir mobil hingga buku-buku tangannya memutih. Ia memejamkan mata siapa yang berani mengusik ketenangannya saat ini. Miranda bahkan masih tersenyum jahil sekaligus manis sampai tadi malam ia mengantarnya ke rumah perempuan itu sampai depan pintu.
"Ray, kau masih di sana? Beri aku perintah Ray."
"Berangkatlah ke Paris, Georg. Aku harus memastikan keadaan Miranda. Jika ini hanya leluconmu, percayalah jika nanti kau pulang dari Paris hanya tinggal nama, Georg." Ucapnya.
"Relakan malam panasmu malam ini dan segera ke kantor polisi atau ke mensionmu." Kalimat itu menjadi penutup sambungan telepon dari George.
Raymond segera justru memutar balik arahnya. Tujuannya hanya satu, yaitu rumah Miranda. Satu tangannya menekan layar yang melekat dashboar di depannya. Ia mendial angka tiga hingga memunculkan nama Jennifer. Pada dering kedua tergantikan oleh suara Jennifer di seberang sana.
“Halo, Sir.” Sapa suara dari seberang sana.
"Jen, gantikan aku bertemu dengan Avelyn."
Seakan paham dengan situasi yang dihadapi oleh bosnya tersebut, Jennifer langsung menyetujuinya tanpa berpikir ulang. "Baik, sir." Sebenarnya perempuan tersebut tidak terlalu suka berinteraksi dengan Avely yang selalu membuatnya darah tinggi dengan tingkah laku yang menyebalkan. Avelyn adalah wanita keras kepala luar biasa, selama Avelyn bekerjasama dengan Raymond, ia hanya pernah bertemu sekali untuk pertemuan formal dan itu berkahir tidak baik hingga ia harus menggunakan otot untuk menghadapinya kala itu. Semoga saja pertemuan keduanya ini berjalan dengan semestinya. Karena kalau tidak, ia harus mempersiapkan diri untuk dipecat secara tidak terhormat oleh atasannya.
Raymond akhirnya menginjak pedal gas hingga mobil tersebut melaju dengan kecepatan di atas rata-rata membelah jalanan kota yang padat tapi masih lancar.
***
Tbc