Ellena menelungkupkan wajahnya di atas meja, sekarang ia berada di ruang penyidikan untuk kasus yang tidak sengaja melibatkannya sore hari tadi. Ia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi saat pintu yang berada di sudut ruangan itu kembali terbuka. Gerakannya sangat terbatas akibat borgol yang melilit pergelangan tangan disandingkan dengan meja depannya.
Ellena memperhatikan laki-laki yang memakai seragam polisi berdiri di ujung meja. Setengah badannya membungkuk dengan tangan bertumpu pada meja tersebut. Wajahnya dingin tak tersentuh, berusaha mengintimidasi Ellena yang hanya mendengus remeh.
"Jadi bisa kamu jelaskan kenapa kamu bisa di tempat kejadian, Nona?" Tanya polisi tersebut. Wajahnya dingin berbeda dengan penyidik sebelumnya yang masih terlihat lebih ramah.
"Aku sudah bilang sebelumnya jika aku hanya mengantarkan kue."
"Lalu bagaimana kamu bisa masuk?"
"Karena pintu gerbang dan pintu utamanya tidak di kunci. Aku sudah berteriak berkali-kali tapi tak ada jawaban."
Petugas tersebut mengangguk-anggukkan kepala seakan dia memahami berbeda dengan tampilan wajahnya yang justru meremehkan, tak mempercayai.
"Kenapa kamu tidak pergi saja?"
"Aku hidup dari hasil penjualan kue itu, sir. Jadi jika pelanggan tidak mengambil barangnya, aku akan rugi, sir. Lalu dari mana aku dapat uang untuk makan? Aku benar-benar tidak melakukan apapun. Anda harus memeriksa CCTV yang terpasang di atas pintu." Ellena sudah bosan untuk menjelaskan hal yang sama.
"Kamu tahu CCTV itu rusak."
Rusak? Sungguh sebelum aku masuk CCTV itu masih hidup. Batin Ellena. "Lalu Anda bisa memeriksa ponselku. Untuk memastikan keberadaanku sebelum aku sampai di sana, sir. Jejak di map tidak berubah."
Seorang petugas lainnya masuk membawa sebuah map. Kemudian membisikkan sesuatu kepada petugas bernama Simon Barrack di name tag seragam yang ia laki-laki itu kenakan. Simon mengangguk, sedangkan petugas menghilang di balik pintu. Laki-laki itu melihat map di tangannya dan Ellena secara bergantian. Laki-laki tersebut melihat ke arah kaca hitam di sana dan menggeleng.
Berbagai pertanyaan lain menyusul dan Ellena sudah bosan dengan pertanyaan yang sama yang coba menyudutkannya. Kenyataannya ia tak melakukan apapun yang salah. Takdirnya saja yang sedang tidak beruntung hari ini. Mungkinkah ini adalah pembalasan karena aku sudah mengerjai Anne siang tadi? Siapapun tolong ingatkan dia untuk melayangkan protes kepada Anne. Bisa saja Anne berdo'a agar hari ini ia tidak beruntung.
"Baiklah, Nona Cox. Untuk saat ini Anda bisa kembali ke rumah Anda. Jika nanti kami meminta keterangan lebih lanjut, kami mohon kerjasama Anda." Kata Simon sambil melepas borgol yang membelenggu tangan gadis tersebut.
"Kalian bahkan tak memberiku minum." Sungut Serena karena tenggorokannya kering akibat ia terus berteriak mempertahankan pendapatnya sejak tiga jam lalu. Tanpa ada yang menyadari Simon menarik kedua sudut bibirnya. "Aku permisi tuan, jaga kesehatan kalian baik-baik agar kejadian seperti ini tidak terulang." Ucap Serena. Kemudian gadis tersebut menunjuk dengan dua jarinya, jari tengah dan telunjuk ke arah kaca lalu ke arah kedua matanya yang dapat dipastikan bahwa ada orang yang berdiri di balik sana memantau jalannya penyidikan.
Simon tak habis pikir dari mana gadis absurd itu berasal hingga ia bahkan tak takut dengan petugas yang masuk. Benar, ia sudah memantau sejak gadis itu dipaksa masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ellena memasang kupluk hoodie yang pakainya. Angin musim dingin menusuk hingga ke tulang bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di luar sana. Usai mengambil semua barang yang sebelumnya ditahan ia memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Anne pasti menunggu dengan cemas, apalagi ia sengaja tak mengaktifkan nomornya walaupun benda tersebut masih hidup. Senyum di bibirnya terbit ketika membayangkan Anne merajuk saat usianya jauh dari kata muda. Dibandingkan dengan Ellena, Anne lebih manja kepada gadis tersebut. Jika kemauannya tidak dituruti sesuai keinginan, maka Ellena harus menyiapkan strategi untuk meluluh hati Anne.
Ellena mengusap-usap telapak tangannya karena dingin yang semakin membekukan, ia sengaja meniup udara dari mulutnya untuk melihat uap putih pertanda ia kedinginan. Matanya memindai sekeliling, mencari keberadaan motornya di antara barisan mobil. Seulas senyum terbit di bibirnya saat matanya menangkap keberadaan motor tersebut. Malam ini, kantor polisi cukup ramai. Ada yang baru datang atau hendak pergi seperti dirinya. Menjadi tahanan beberapa jam sungguh sangat membosankan. Ia tak bisa melakukan olahraga jari yang sejak tadi sudah gatal karena tak digerakkan seperti biasa.
"Ok! Let's do it!" Serunya mengepalkan tangannya seraya meninju angin dengan semangat membumbung tinggi. Tak ada yang mengerti maksudnya, beberapa orang yang berada di sekitarnya melihatnya dengan pandangan penuh tanya dan beberapa tak bisa ia artikan. mungkin saja mereka menganggapnya gila. Elly meringis menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya. Ia pun segera melesat dari tempat itu dengan skuter hingga tawa itu begitu mebahana di tengah jalan raya.
Sesampainya di depan toko kue yang merangkap menjadi tempat tinggalnya, gadis tersebut langsung memarkirkan kendaraannya dalam garasi yang hanya memuat satu mobil dan satu skuternya itu. Pelan-pelan ia membuka pintu garasi, ia mengendap perlahan sdi samping mobil antik yang entah keluaran kapan. Akan tetapi kenyataannya tetap saja orang yang tak ingin ia ganggu itu muncul dengan berkacak pinggang menatapnya nyalang, penuh permusuhan.
Dasarnya Ellena yang terlampau santai menghadapi hidup, sehingga ia hanya menggaruk belakang kepalanya mengusir aura tidak baik yang mungkin sebentar lagi akan terjadi. Bulu kuduknya meremang di bawah tatapan Anne yang kian menakutkan.
"Kamu masih mengingat jalan pulang, sweety?" Jangan kira nada suara halus tanpa duri. Pertanyaan sarkas itu justru membuat Ellena bergidik ngeri. Ada banyak makna yang tersembunyi dibalik pertanyaan tersebut. Kekhawatiran, kemarahan, semua ada di sana. Orang mungkin akan menganggapnya berlebihan, Ellena baru keluar sore tadi, namun pertanyaan itu seolah ia tidak pulang bertahun-tahun.
"Anne, aku merindukanmu." Balasnya tak tahu apa yang harus ia lakukan dan memeluk wanita tersebut. Ini pertama kalinya ia pulang terlambat sampai berjam-jam seperti ini. Seharusnya ia sampai di rumah sebelum matahari benar-benar kembali ke peraduan.
"Aku akan mati jika malam ini kamu tidak pulang, Elly." Anne menarik nafas sambil membalas pelukan itu. "Cepat, masuklah. Bersihkan dirimu dan kita makan bersama." Emosi yang tadi memenuhi diri langsung menguap entah kemana saat ia melihat netra bersih Ellena sedikit lelah.
"Anne, kau selalu berlebihan. Memangnya aku akan kemana, jika aku tidak pulang ke sini? Kamu adalah rumahku, kau tahu itu. Ayolah jangan buat malam ini berurai air mata. Kau tahu aku tidak suka itu." Kata Ellena menyuarakan hatinya. Satu hal yang paling dibenci Ellena di dunia ini, itu adalah air mata Anne. Cukup sekali ia membuat Anne meneteskan air bening yang berasal dari matanya, itu saat dia tidak sengaja melukai dirinya sendiri ketika merakit komputer yang ia dapat dari tempat pembuangan barang-barang elektronik sebelum di daur ulang.
Anne kembali memberenggut dan menarik diri dari pelukan Ellena. Ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa ia khawatir. Namun gadis itu meremehkannya dan apa tadi dia bilang? Berlebihan? Tak pernah ada yang berlebihan jika itu menyangkut Ellena. Perkataan Ellena sedikit melukai egonya.
O o oww. Ellena melipat bibirnya ke dalam, tahu bahwa ia telah salah bicara. Dengan cepat Ellena menyamakan langkahnya, bergelayut manja lengan Anne. Tinggal menghitung mundur saja kalau wanita di sampingnya ini akan segera luluh. Anne tak pernah bisa benar-benar marah apalagi mendiamkannya lebih ddari sepuluh menit, wanita itu tidak akan sanggup.
"Cepat bersihkan dirimu. Aku menunggu di meja makan." See! Anne tak akan tahan mendiamkannya lama-lama, meskipun wajahnya tetap saja datar dan kelihatan kesal.
"Baiklah, My Aunty." Ellena mencium pipi kanan wanita tersebut dan langsung pergi menuju kamarnya untuk berbenah. Ia bersyukur Anne tak menanyakan apapun tentang kejadian hari ini. Jika wanita itu tahu maka Ellena yakin Anne tak akan pernah lagi mengijikannya untuk menjadi tukang antar kue ataupun keluar saat malam.
***
Jari-jari lentik Ellena menari di atas keyboad, sementara matanya fokus pada layar yang menampilkan beberapa video beberapa titik jalan yang ia lalui sore hari tadi. Walau diserang kantuk, namun rasa penasarannya lebih besar tentang pembunuhan yang terjadi dan melibatkannya. Video yang berasal dari CCTV yang terpasang di sana hanya menampilkan beberapa pejalan kaki dan tiga motor. Pelan-pelan ia menyorot pengguna jalan sempit tersebut dan menampilkan informasi tentang siapa mereka. Dan sebagian adalah penduduk di sekitar. Selebihnya tak ada yang mencurigakan dari mereka.
Ketika makan malam tadi ia baru tahu jika korban merupakan kakak sepupu dari pengusaha berlian. Dari berita yang menyorot tentang kejadian tersebut, kedua orang tua dari korban sudah lama meninggal dunia. Kemungkinan bahwa ia akan dipanggil lagi oleh polisi masih ada, mengingat ia merupakan satu-satunya orang yang berada di tempat kejadian.
Dering ponselnya mengalihkan perhatiannya dari layar datar di depannya. "Bagaimana, Tres?" Berondongnya tanpa sapaan.
"Di sini benar-benar bersih, El. Tak ada satu jejak pun yang tertinggal."
"Kamu yakin?"
"Iya. Sepertinya rumah ini jarang dipakai. Tak banyak barang berharga di dalamnya. Hanya ada beberapa bingkai lukisan dan foto keluarga mereka. Tapi di sini ada komputer, El. Aku mencoba menyalakannya tapi tidak bisa. Ini komputer zaman dulu, sepertinya tidak terpakai lagi." Laki-laki itu mendeskripsikan dengan detai setiap sesuatu yang di lihatnya di seberang sana. Motif pembunuhan itu bukan karena perampokan ataupun pencurian, Tres bisa menyimpulkan hal tersebut melihat sama sekali barang-barang yang ada di rumah tersebut tersusun rapi pada tempatnya.
"Komputer? Apa benar-benar tidak bisa menyala sama sekali."
"Tidak, El."
"Aku akan ke sana sekarang."
"Tidak. Sekarang bukan waktu yang tepat untukmu ke sini. Masih banyak petugas yang menjaga tempat ini. Beberapa orang sepertinya keluarga korban masih di sini." Cegar Tresna. Ia sendiri masih dalam persembunyiannya, itu terdengar jelas dari suaranya yang hampir berbisik.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Aku tidak menerima jika hanya namamu yang kembali." Kelakar Ellena membuat sang lawan bicara memberenggut tak jelas.
***
Tbc