Angan-angan berolahraga pagi ini langsung sirna. Sudah rapi-rapi dengan setelan olahragaku, malah akhirnya harus membantu Rolfie merapikan kamarnya.
Kamar yang lumayan besar itu, butuh waktu lebih dari setengah jam untuk merapikannya, belum lagi untuk menyapu sisa sisa makanan di lantai, mengepel, dan yang paling sulit tadi adalah mencari-cari pasangan kaus kaki dan sepatu yang terletak sembarangan.
Kini, aku dan Rolfie sudah bebas dari p********n kamar itu. Kini kami berdua tengah rebah di atas sofa di ruang tamu sembari menonton kartun pagi yang ditampilkan di televisi.
Meski aktifitas berolahragaku hari ini gagal, namun sepertinya tidak untuk aktifitas bermalas-malasan di rumah.
"Nyemil, terus minumnya pake soda kayaknya enak ya?" gumam Rolfie di sebelahku.
"Roti selai kacang juga enak, minumnya s**u cokelat yang banyak," balasku.
Rolfie menoleh padaku dan menatapku sesaat. Ia tak berucap apa-apa, dan setelahnya beranjak berdiri begitu saja. Aku juga tau apa maksudnya kali ini, ia mengajakku untuk membeli menu-menu yang tadi kami sebut-sebut.
Ini salah satu sikap yang aku suka darinya. Ia tak banyak bicara, namun selalu merealisasikan apa yang ia katakan dan inginkan. Ia juga tak pernah membiarkan aku terus berangan-angan, sekalipun itu hanya untuk selembar roti selai kacang dan segelas s**u cokelat.
Aku lantas ikut berdiri, dan membuntuti dirinya keluar rumah. Setelah keluar dan menutup pintu, kupikir Rolfie akan menggunakan mobilnya yang sudah terparkir rapi di depan rumah. Namun, nyatanya justru ia mengacuhkan mobilnya itu, dan berjalan pergi ke belakang. Sementara aku terdiam sembari menunggu dirinya melakukan entah apa di belakang sana.
Dan tanpa perlu berlama-lama, Rolfie kembali dari belakang rumahnya dengan mengendarai sepeda miliknya dari sana.
Ia berhenti tepat di depanku dengan sepedanya itu, kami berdua sama-sama terdiam setelahnya. Namun tiga detik kemudian, Rolfie tersenyum.
"Want to stand behind me?"
Aku tertawa kecil kala ia bertanya seperti itu. Pertanyaan yang selalu ia utarakan padaku ketika dirinya bersepeda. Itu bermaksud, apakah aku mau berdiri dan dibonceng di belakangnya. Dan aku selalu mengangguk menjawab iya.
Ini bukan sepeda dengan jok belakang untuk boncengan, tak ada tempat duduk untukku, namun aku selalu senang menapakkan kedua kakiku pada alat yang terpasang di sisi roda belakang sepeda itu yang memang diperuntukkan sebagai penopang kaki bagi seseorang yang dibonceng. Aku berdiri dan memegang kedua bahu Rolfie. Lalu setelahnya, kami melaju.
Semilir angin pagi dan cahaya matahari yang hangat menyapa kami perlahan. Aku yang berdiri di belakang Rolfie bisa melihat jelas pemandangan apa yang ada di depan. Jalanan kompleks yang lumayan ramai, dengan berbagai orang yang beraktifitas, bahkan hewan-hewan peliharaan mereka pun turut ikut serta menikmati hari libur ini. Sesekali dari mereka tersenyum menyapa, dan kami hanya membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan, sembari Rolfie terus menggowes sepedanya.
"Ngebut, Fie!" perintahku.
Rolfie sedikit mendongak menatapku yang kini lebih tinggi darinya, ia tersenyum kecil dan beberapa saat kemudian, laju sepeda semakin kencang.
Kekesalanku pada Rolfie karena dirinya telah menggagalkan niat olahragaku pagi ini seketika langsung hilang kala bersepeda kini. Nyatanya, bersepeda jauh lebih asik daripada jogging keliling kompleks yang tiba-tiba kurasa membosankan.
Kesenangan ini masih terasa sama seperti beberapa puluh tahun silam. Dengan cara yang sama, Rolfie kembali membuatku bahagia dan kembali mengingatkanku pada masa lalu yang bukan masa lalu buruk.
Dahulu ketika kecil dan Rolfie sudah bisa naik sepeda, ia juga sering mengajakku keliling kompleks dengan cara seperti ini. Menghilangkan gelisah yang dahulu aku rasakan kala dirumah. Dahulu, ini salah satu cara yang mampu membuatku tertawa bahagia tanpa dibuat-buat, dan jelas saja, Rolfie tau itu.
"Sampe," ujar Rolfie sembari memberhentikan sepedanya.
Aku turun, dan Rolfie memarkirkan sepedanya di depan minimarket ini. Setelahnya, kami berdua masuk ke dalam. Tak terlalu ramai di minimarket ini, namun aku bisa melihat jelas empat gadis remaja kisaran enam belas sampai tujuh belas tahun yang langsung menoleh kala pintu terbuka oleh Rolfie.
Mereka berempat ada di lorong riasan dan perawatan wajah, aku yakin seratus persen pasti mereka ingin mempercantik wajah wajah putih itu. Tapi, bukan itu yang aku pedulikan, yang aku pedulikan adalah tatapan mata mereka pada Rolfie. Tatapan itu menunjukkan tatapan kagum dan senang. Ya, tak beda jauh seperti diriku semasa remaja ketika melihat lelaki tampan, sungguh antusias. Begitulah intinya.
"He is a cool guy."
"He's perfect."
"Look that eyes. Oh my God."
"So handsome."
Aku terkekeh mendengar bisikan bisikan mereka. Persis seperti dahulu ketika aku dan Melly melihat sosok lelaki tampan ketika kami berjalan-jalan. Aku lantas melirik ke arah Rolfie yang sepertinya tidak mendengar dan tidak sadar bahwa satu menit yang lalu empat gadis pubertas baru saja menjadi penggemarnya.
Rolfie berjalan menuju lorong makanan ringan, sementara aku terdiam di belakangnya dan pura-pura fokus pada produk-produk kecantikan di lorong yang sama dengan gadis-gadis itu. Tatapan mereka masih setia pada Rolfie, pesona Rolfie berhasil membuat gadis-gadis itu terpukau. Saking tampannya, gadis-gadis itu mungkin tidak akan sadar bahwa Rolfie belum mandi.
"Hey, girls," sapaku pada empat gadis itu.
Mereka menoleh, dan menatapku agak takut.
"So sorry, we are looking at your boyfriend, but we... "
"No no," potongku. "No problem," lanjutku. Lalu setelahnya aku agak menunduk menjajari mereka dan berbisik. "Do you like him?"
Mereka mengangguk antusias.
Aku tertawa kecil, dan mengintip ke lorong di mana Rolfie berada. Ia tak sadar akan diriku, lantas aku kembali melanjutkan perbincanganku dengan mereka.
"His name is Rolfie, did you want his phone number?" tanyaku.
Mata mereka terbelalak lebar seakan tak percaya, namun saat itu juga mereka girang dan segera mengangguk.
Aku mengeluarkan handphoneku dari saku celana, mencari kontak Rolfie dan setelahnya keempat gadis itu menyalin nomor telepon Rolfie di handphone mereka. Aku bisa melihat kesenangan khas anak remaja itu, kesenangan yang amat sangat membahagiakan hati kala nomor telepon pria idaman telah di dapatkan. Semua remaja mungkin akan bersikap sama kala mendapat kontak pujaan hati mereka seperti ini.
"Hey girls, i have to go. Just give him a message or call him as soon as you can," ujarku.
Keempat gadis itu mengangguk antusias, dan setelahnya mereka berbisik-bisik mengucap terima kasih berkali-kali.
Aku lantas menghampiri Rolfie dengan keranjang belanjaannya yang sudah terisi botol besar soda, satu bungkus roti tawar, stoples selai kacang, kotak besar jus buah, kotak besar s**u cokelat, dan tiga bungkus besar keripik kentang.
"Let's go home," ujarnya.
Ia lalu berjalan menuju kasir dan membayar belanjaannya. Setelahnya, kami berdua segera keluar. Sebelum benar-benar keluar, aku menoleh ke belakang dan kembali melihat gadis-gadis itu lagi, aku mengedipkan sebelah mataku pada mereka, kode semoga berhasil untuk mereka yang mencoba mendekati Rolfie.
Betapa jahilnya diriku. Memberikan nomor telepon Rolfie pada gadis-gadis pencari jati diri tersebut. Sungguh, yang aku harapkan kini hanyalah semoga gadis-gadis itu memberikan banyak pesan dan panggilan telepon pada Rolfie agar laki-laki malas ini risih.
***