Aku dan Rolfie kembali rebah di atas sofa kini. Kaki Rolfie ia letakkan di atas meja, dan aku pun begitu, dengan posisi kaki lurus yang aku silangkan. Kepalaku bersandar sedikit di bahu nyaman milik Rolfie, sembari mulutku terus bergerak mengunyah keripik kentang yang tadi dibeli.
Sementara Rolfie, nyaman bersandar pada sandaran sofa dan sesekali mencomot keripik kentang yang aku genggam. Tatapan mata kami fokus pada tontonan televisi. Kartun anak-anak di Minggu pagi, bila kami bosan menonton itu, Rolfie akan menggonta-ganti channel televisinya hingga menemukan acara yang pas. Dan bila tidak ada, akan kembali pada kartun anak-anak tersebut.
Ngungggg...
Rolfie mengambil handphonenya yang ia letakkan di atas meja dekat kakinya. Ia menatap layar persegi itu sejenak dan memastikan siapa yang menelponnya.
"Nomor siapa nih? Lo tau nggak?" tanyanya padaku sembari menunjukkan layar handphonenya.
Aku menggeleng.
Rolfie menghela napas dan meletakkan handphonenya kembali ke atas meja tanpa mempedulikan panggilan dari nomor tak dikenal itu. Aku meliriknya dan handphonenya bergantian, panggilan itu belum diputus, alhasil aku meraih handphonenya, menerima panggilan dan menekan ikon loudspeaker.
"Kelin, lo apa-apaan sih? Itu nomor nyasar paling, nggak usah diladenin," gerutu Rolfie.
"Ngomong sesuatu cepetan. Mumpung belum dimatiin, siapa tau penting."
"Nggak."
"Ngomong cepet ish."
Rolfie menatapku datar sejenak dan menghela napas sebelum ia berkata, "Rolfie here, who is that?"
"Oh my godness, Good morning Mr. Rolfie,"
Rolfie menatapku bingung.
"Who are you?"
Terdengar suara-suara tawa gadis-gadis. "I'm Claudia, I'm Cassie, I'm Amanda, I'm Emelie," suara itu terdengar berbeda-beda setiap penyebutan namanya.
"So who you are?"
"You are a cool guy, Mr. Rolfie."
"What? Who are you? Why you call me 'Mister'?"
"I hope i can tell you about who we are."
Tut... Tut... Tut...
Panggilan telepon langsung di putus dari sana. Rolfie terdiam bingung dan menatap layar handphonenya begitu saja. Tatapan mata itu menunjukkan ekspresi tidak tau apa-apa.
Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk. Dari nomor yang sama dengan nomor si penelpon tadi.
+44 XXX XXX
You are a cool guy ♥
Rolfie menatapku dan handphonenya bergantian. Ia nampak amat sangat bingung dengan apa yang barusan terjadi pada dirinya.
"Nomor salah sambung kali ya?" gumam dirinya.
"Enggak, nggak salah sambung. Itu cewek-cewek ABG di minimarket tadi."
Rolfie terbelalak menatapku. "Tau dari mana lo?"
Aku mengambil keripik kentang dan mengunyahnya. "Kan gue yang kasih nomor lo ke mereka," balasku sembari mengunyah sisa keripik di mulutku.
"Lo kasih?!"
Aku mengangguk.
"Lo apa-apaan sih? Gua nggak kenal mereka kan, nanti kalo mereka macem-macem gimana, terus kan... "
Aku menyumpal mulut Rolfie dengan keripik kentang. Alhasil ia langsung terdiam.
"Santai aja, paling satu-dua Minggu lagi mereka berhenti gangguin lo. Namanya anak muda, liat yang bening dikit langsung oleng."
"Ya tapi kan... "
"Udah nggak pa-pa. Siapa tau ada yang jodoh."
"Lo bener-bener ya."
Aku tak mempedulikan gerutunya padaku, aku fokus pada keripik kentang dan tontonanku di depan.
Aku yakin seratus persen, mereka yang menelpon Rolfie tadi pasti adalah keempat gadis remaja yang tadi kami temui di minimarket. Aku masih bisa mengingat suara-suara centil mereka. Tapi tidak usah terlalu dipikirkan, seperti aku semasa SMA, menyukai seseorang yang tidak kukenal, meneliti dirinya lebih dalam, lalu bosan, lantas mencari lelaki lain yang lebih wow. Dan kurasa, gadis-gadis pencari jati diri itu juga akan berlaku sama. Aku bisa menebak dan meyakinkannya karena aku telah berpengalaman, dan sudah lebih dulu melewati fase seperti itu.
Lagipula, besok paling-paling juga Rolfie sudah lupa. Ia tidak akan menyimpan nomor asing yang tidak jelas, dan akan selalu menghapus daftar panggilan atau pesan dari nomor tersebut. Mengingat kepribadian Rolfie yang cuek, beberapa menit lagi juga Rolfie tidak akan mempedulikan hal itu.
"Besok temenin gua jemput Mama sama Papa di bandara ya?" ajak Rolfie.
Aku hanya mengangguk dalam sandarannya.
"Menurut lo gua harus kasih kejutan nggak buat mereka?"
"Lo bakal kasih kejutan ke mereka tanpa harus lo rencanain. Karena pasti kejutan itu udah lo lakuin tanpa lo sadar," balasku.
"Hah? Gua udah lakuin apa emangnya?"
"Berantakin kamar lo."
Lagi-lagi dirinya langsung memajang wajah datar. Sudah kubilang kan, pasti dia akan lupa dengan masalah gadis-gadis remaja tadi.
Aku kembali tak peduli dan lanjut fokus pada tontonanku. Namun, beberapa waktu kemudian, handphoneku berdering menandakan ada pesan masuk yang belum terbaca.
Aku mengambil handphone di atas meja dekat kakiku, lalu aku kembali bersandar di bahu Rolfie, dan setelahnya membaca pesan tersebut.
Tomy
I want to meet you
Aku tertegun sesaat. Mataku hampir tak berkedip membaca pesan dari lelaki itu. Sebuah perasaan yang menggebu keras tiba-tiba terasa di ruang dadaku. Jantungku layak berdebar keras hingga detakannya bisa terdengar dari telingaku.
Pertemuan sebelumnya hanya ia sampaikan lewat perantara Alicia. Dan ia berkata bahwa itu hanyalah pertemuan tentang pembicaraan pekerjaan, dan ia akan menghubungiku dengan sendirinya bila pertemuan yang dilakukan tidak menyangkut pekerjaan. Dan kini itu terjadi.
Oh Tuhan, kegirangan ini bahkan sulit dijelaskan.
"Cepetan sana ganti baju."
Aku yang masih bersandar pada bahu Rolfie langsung mendongak ke arahnya. Posisiku yang bersandar di bahunya pasti membuat dirinya bisa dengan jelas membaca pesan yang tertulis di layar handphone yang beberapa detik lalu sudah ku genggam di tanganku.
Aku tersenyum girang ke arah Rolfie yang masih menatap datar layar televisi di depannya. Aku merampas remot di atas meja dan mematikan televisi itu secepatnya. Lalu setelah itu, aku menarik tangan Rolfie dan membawa dirinya ke rumahku.
***
"Serius, gue udah keliatan cantik kan, Fie?" tanyaku.
Rolfie yang santai mengunyah keripik kentang bawaan dari rumahnya tersebut mengangguk-angguk.
Aku membawanya ke rumahku agar dia memilihkan baju yang cocok untuk ku kenakan. Seperti pertemuanku dengan Tomy beberapa hari lalu, namun kini karena tidak terpaut jarak, aku bisa bertanya hal itu langsung pada Rolfie.
Dan kini, aku dinilai sudah cantik dengan balutan dress putih selutut dengan ikat pinggang, juga blezzer motif sederhana yang senada.
Rolfie bilang, laki-laki akan jauh lebih tertarik pada wanita yang tampil sederhana namun tetap terlihat elegan. Ia bilang penampilanku kali ini nampak sungguh anggun dan manis, berbeda jauh dengan pendapatnya pada pilihan pakaian pertama yang aku pilih sendiri, yaitu blue jeans yang aku padukan dengan kemeja putih wanita, Rolfie bilang itu agak nampak seperti gaya lelaki, tidak anggun dan tidak elegan. Terlalu rapi kayak cewek karir katanya.
"Cakep udah. Si Tomy Tomy itu juga pasti suka penampilan lo. Cocok sama dia yang perfeksionis," ujar Rolfie lagi.
Aku menatap Rolfie lagi sejenak. "Serius nih? Gue nggak keliatan gendut kan? Betis gue nggak keliatan gede kan?"
Rolfie menghela napas. Ekspresi itu menunjukkan seakan-akan ia berkata dalam hati 'bawel banget'.
"Iya Kelin, lo udah can... "
Tin... Tin...
Belum sempat Rolfie menyudahi ucapannya, suara klakson mobil lebih dulu menjawab. Seketika aku langsung agak panik. Aku langsung berlari kecil menuju jendela dan membuka sedikit gorden yang menutupi kaca jendela itu. Dan dia di sana.
Tomy di sana. Aku bisa melihat jelas dari sini. Kini ia nampak keluar dari mobil mewah itu dengan gayanya yang keren. Ia berdiri di sana, di depan gerbang rumah yang memang masih aku tutup. Kini ia nampak berdiri bersandar pada mobilnya, dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan.
Ya Tuhan, dia nampak keren bagaimana pun juga.
"Cepetan sana udah ditungguin," perintah Rolfie yang berdiri dibelakangku.
Aku merapikan rambutku. "Gue udah oke nih?"
Rolfie mengangguk dan menunjukkan jari jempolnya padaku.
Perlahan, aku pun melangkah dan membuka pintu rumahku. Kakiku hampir saja menginjak teras luar halaman rumah, tapi itu urung ketika tiba-tiba sebuah tangan lebih dulu mencegahku. Aku lantas menoleh kearah pemilik tangan itu, Rolfie.
"Pulangnya beliin gua mie ayam," lalu tanpa perintah, ia nyengir.
Aku lantas hanya mengangguk-angguk. Dan setelahnya, aku keluar menghampiri Tomy.
***