“Di, nanti kita ngobrol lagi. Jam sebelasan Kak Alan telpon kamu”, kata Alan yang sudah mengambil orderan penumpang dari Aplikasi.
“ Iya, Kak. Ini Heidi juga udah ambil orderan. Hati hati”, kata Heidi mendongakkan kepalanya melambai ke Alan. Lalu kembali lagi menatap ke ponsel nya.
“ Duh, pasangan ojek dan ojekina mesra udah harus pisah”, terdengar suara sumbang mengomentari Heidi yang baru akan memasukkan ponsel di saku jaketnya.
“ Eh, Bang Hiro. Ayo Bang, Heidi juga udah dapet orderan. Duluan ya, Bang”,kata. Heidi permisi, tanpa menanggapi komentar pemuda yang baru bergabung menunggu di depan swalayan AA ini.
“ Huu, kalau sama aku, main lari aja. Kalau Alan bisa betah ngobrol. Dasar cewek belagu”, gerutu Hiro, berapa kali ia mendekati Heidi tapi ada saja kondisi nya yang membatasi mereka, sehingga ia tidak bisa mengobrol bersama.
Hip
Walau sangat tomboy dan sekarang pun kulitnya tidak lagi terlihat putih mulus. Namun wajah manis Heidi , cukup banyak menyita perhatian para pengendara ojek muda yang ikut nongkrong depan toko swalayan ini. Ada tiga orang sebenarnya cewek yang jadi ojek online di sekitaran daerah mereka ini.
Namun Heidi mempunyai tampilan yang tidak biasa dan paling muda dan baru sebulan ini ikut ngojek karena baru lulus SMA.
Karena memang Ibu sudah memberikannya Motor, Alan mengajaknya menjadi ojek online saja, namun karena belum punya SIM Heidi nggak bisa langsung beroperasional. Dengan meminjam tabungan Alan dan di temani Alan. Akhir nya Heidi memiliki SIM C dan langsung mendaftar di salah satu aplikasi ojek online yang sama dengan Alan.
Apa yang dilakukan Alan , sungguh mengisi kekosongan dan kekecewaan Heidi terhadap kepergian Ibu dan sikap Guntoro. Alan seperti seorang kakak yang dari awal Heidi bekerja sampingan memberi kan perhatian dan semangat padanya. Jadi wajar jika lama kelamaan rasa percaya dan dilindungi membuat Heidi secara tidak sadar sangat menyayangi Alan.
**
[“Ass dek, udah di mana? sudah hampir jam dua belas ini, kita istirahat makan dulu”.]
Chat dari Allan masuk ketika, Heidi baru saja menurunkan penumpang di sebuah perumahan. Heidi , langsung menelpon Alan. Ddan ketika tersambung.
“ Assalamualaikum, kak. Heidi masih di perumahan Permata ini. Kak, Heidi pengen makan Padang, pengen Ayam Pop. Ayo kak ke RM. padang di simpang samping Mall. Alhamdulillah Heidi ada uang biar Heidi yang traktir. Ayo kak, ini otw kita jumpa di sana”, kata nya panjang tanpa sempat memberikan kesempatan Alan mengucap salam dan membuat Alan terbengong aja. Akhirnya ia pun melajukan motor nya ke tempat yang di sebutkan Heidi tadi.
Sesampai di rumah makan tersebut , Alan melihat motor Heidi sudah terparkir di sana, tapi orang nya tidak kelihatan. Membuat Alan memilih musuk melihat ke dalam. Ternyata, Heidi sudah ada di sana mengambil tempat di sudut ruangan dan di mejanya sudah terhidang beberapa lauk pauk pilihan.
“ Maaf ya kak, ini makanannya dipilihin ikut selera Heidi”, katanya sambil tertawa kecil.
“ Ini mah, untuk Ojol seperti kita udah mantap. Kayak nya selera kakak dan Heidi ini sama, nih” ,, ujar Kak Alan yang orang nya emang selalu humble tidak pernah mau mengecewakan orang lain apalagi menyulitkan. Dan Heidi sangat menyenangi sikap nya itu.
Mereka makan dengan tenang, menikmati hidangan tanpa grasak grusuk. Selesai makan istirahat sejenak. Allan yang memang cuma terpaut dua tahun dari Heidi tidak merokok sehingga keduanya berbicara ringan sambil menenangkan perut sebelum melaksanakan sholat Zuhur.
“ Kak, ini uang yang Heiidi pinjam kemarin buat ngurus SIM Heidi, terima kasih banyak kak”, kata Heidi menyampaikan niat awalnya akan mengembalikan uang yang dipinjam dari Allan untuk mengurus SIM C nya bulan lalu.
“ Wah, janji nya mau di cicil, tapi nyatanya sebulan udah full di balikin, eh ini kok lebih ya Di”, kata Allan yang takut Heidi salah hitung. Nama nya ojek online mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Jadi jangan sampai salah hitung buat kita nanti nggak dapat beli minyak modal kerja para Ojol.
“ Gak kok, kak cuma mau berbagi dikit. Kan kakak juga yang ngajarin aku dari dulu. Bayangin aja dulu kalau jemput Heidi waktu nguli. Pasti Heidi dapat traktiran minuman. Padahal kakak dapetin uang nya dengan susah payah”, kata Heidi menatap Kak Alan yang masih mempertanyakan uang amplop yang lebih.
“ Tapi, kakak ikhlas kok. Kakak juga bahagia lihat kamu segar kembali. Padahal cuma di beliin es sirop tiga ribuan. Ini kamu melebihkan uang kakak sampai dua ratus ribu”, kata Allan yang tidak begitu senang, pemberiannya dahulu dianggap seperti hutang yang harus dibayar.
“ Kak Allan jangan prasangka jelek dahulu. Kakak itu dulu memberikan sesuatu yang memang saat itu Heidi sangat butuhkan, dan nilainya jadi tak terkira kak. Bayangin habis kerja kasar di beri minuman dingin segar. Dan itu rutin karena memang uang Heidi sulit untuk disisakan untuk jajan.
Kakak tau gak Heidi pengen suatu saat bisa seperti kakak. Memberikan sesuatu yang dibutuhkan tapi apa boleh buat. Uang nya gak pernah nyisa. Sampai untuk SIM pun kakak ada unuk Heidi. Ini nih gak ada seberapa nya di banding yang kakak perbuat untuk Heidi. Makasih ya Kak. Kakak itu seperti Abang, teman yang melindungi Heidi dan memberi semangat saat Heidi terpuruk”, kata Heidi lagi.
“ Ya, memang karena Kakak sayang dengan Heidi.. Kakak nggak sanggup lihat Heidi bekerja seperti itu. Tapi untuk berbuat lebih kakak belum mampu. Maaf ya, Di. Kakak betul betul menyayangi Heidi”, kata Allan dengan suara lirih tapi cukup jelas didengar Heidi.
Sebenarnya Heidi tentu saja senang dengan hal tersebut. Tapi menganggap hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Heidi merasa belum waktunya. Ia takut menyusahkan Allan yang juga tidak lebih beruntung dari nya. Hubungan seperti saat ini sudah sangat nyaman bagi dirinya. Biarlah waktu yang merubahnya nanti, pikir Heidi.
“Kak sudah mau jam setengah dua, kita belum Dzuhur. Ayo ke Musholla”, kata Heidi menepis kecanggungan antara mereka.
Heidi memilih pulang setelah Sholat, sedang Allan melanjutkan pekerjaannya. Nanti malam adalah waktu kedatangan pengacara Ibu nya. Untuk membacakan wasiat Ibu untuk mereka.
Setiba di rumah Heidi meminta adik nya Gito menghandle konsumsi yang nanti di antar dari rumah makan Bu Saedah. Tadi ia juga membungkuskan adik adiknya nasi Padang.. Dan Heidi pun menyempatkan untuk tidur sejenak agar nanti bisa Fresh karena nanti menurut surat kuasa ibu. Walau umur nya masih delapan belas tahun, Ibu ingin ia menjaga hak hak adik nya agar memang dapat dimanfaatkan sampai mereka dewasa dan memiliki kehidupan masing masing yang mereka pertanggung jawabkan sendiri.
Jadi dia harus fit nanti jika menghadapi ayah tirinya yang yang mengklaim semua peninggalan istrinya adalah hak dirinya. Ia berharap bila berbuat yang terbaik bagi semua orang termasuk janjinya memotong bagian ayah tiri nya tersebut untuk hutang nya pada pekerja di kebun Ibu yang ia gunakan uang nya.
Jam empat sore Heidi mendapat chat dari Pak Lintang yang mengatakan ia dan supirnya akan datang setelah waktu Isya. Dan meminta yang bersangkutan semuanya hadir termasuk pak RT yang nanti dibutuhkan untuk menjadi saksi agar semua yang diwasiatkan dapat berjalan dengan semestinya dan juga masalah penjualan kebun yang sudah disepakati dengan penjual.
Kesepakatan jual beli kebun memang dikuasakan oleh Ibu ke Pak Lintang dan nilai penjualan akan dikurangi dengan biaya biaya notaris dan jasa konsultan yang sudah disepakati sebelumnya baru di bagi menurut wasiat yang akan dibawakan nanti.
Pak Lintang juga sudah di kenalkan pada Wak Gani ketika Ibu masih ada. Sehingga sebenarnya Wak Gani sudah mengetahui semuanya tapi memang tutup mulut mengenai semua tahap jual beli yang telah di lakukan agar Guntoro tidak menghalangi proses penjualan tersebut.
Dan bagian Wak Gani yang sudah disepakati Ibu diambil sebelum dibagikan sesuai wasiat. Itu keterangan yang diberikan pada Heidi sewaktu di ruangan pak Lintang pada Heidi. Sebagai pemegang surat kuasa atas pembagian nilai penjualan bersih berdasarkan wasiat dan kondisi yang nanti jadi pertimbangan.
Gito dan Gina menjadi penyaji konsumsi dan Heidi adalah kepala rumah tangga fari ketiganya. Kali ini Heidi memakai gamis Ibunya dan kerudung membuat dirinya bersahaja dan di dampingi Gito adik nya menyambut pak Lintang, Pak RT dan Pak Imam.
Sedang Guntoro hadir belakangan. Iya membawa Suryani tapi berjalan agak berjauhan. Sebenarnya Guntoro ingin pergi sendiri tapi Suryani ngotot ingin ikut. Dia mengatakan jangan ada harta yang disembunyikan dari nya. Tapi memasuki memasuki desa mereka jadi bahan bahan gunjingan mengakibatkan Guntoro berjalan mendahului Suryani bahkan dia tertinggal jauh.
“ Assalamualaikum”, ucap Guntoro, ia melihat di ruangan sudah ada Pak Pengacara dan Asistennya merangkap supir pada saat itu. Pak RT dan Pak Imam. Serta ketiga anak kandung dan tirinya.
“ Waalaikumsalam, akhir nya datang juga dan kita dapat memulai acara ini, nak Heidi”, kata Pak Lintang melihat jam sudah setengah delapan malam.
“ Baik Pak, “ Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya saya berterima kasih pada Bapak Rt dan Pak Imam yang telah bersedia mendampingi saya dan adik adik di sini serta Pak Guntoro suami dari Ibu saya dan Pak Lintang yang menjadi perpanjangan tangan Ibu kami yang sudah berpulang ke Rahmatullah.
Karena hari sudah semakin malam saya rasa langsung saja ke acara inti yaitu pembacaan wasiat ibu. Jadi sekarang saya persilahkan pak Lintang saja untuk menyampaikan apa yang sudah menjadi kecepatan dengan Ibu”, kata Heidi dengan terbata bata namun ia berhasil menyampaikan sambutannya sebagai tuan rumah walau di usia yang sangat labil dan penuh gejolak emosi. Karena terkait masalah Ibu dan berhadapan lagi dengan Guntoro yang sangat dibencinya.