Pak Lintang tersenyum melihat Heidi, Ia melihat bagaimana Heidi tampil bersahaja sebagai pelindung adik adiknya dan selintas ia sudah mendengar tadi cerita bagaimana kehidupan ketiga beradik ini dan bagaimana Heidi melindungi adik dan lingkungan nya agar terlepas dari pengaruh jahat Ayah tirinya.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Para hadirin sekalian terima kasih atas waktu dan tempatnya untuk saya menuntaskan tugas saya yang sebelumnya telah dilimpahkan pada saya oleh Ibu Dewi Asih. Ibu dari Nak Heidi, Gito dan Gina.
Semoga kalian senantiasa sehat dan menjadi anak yang sholeh dapat mendoakan Ibu di alam kubur. Karena sejatinya doa kalian lah yang dapat menyelamatkan Ibu dari siksaan Api neraka di samping dua perkara yang pernah ia lakukan semasa hidupnya.
Disini saya tidak membicarakan keseluruhan aset keluarga ini tapi khusus untuk Sebidang tanah produktif seluas lebih kurang 3000 meter persegi termasuk tanaman tanaman produktif berusia lebih lima tahun yang akan dinilai di luar nilai tanah.
Selain dititipi surat wasiat saya juga dititipi surat kuasa untuk pengaturan tambahan jika terjadi sengketa atau selisih paham untuk kebijakan yang diambil Ibu Dewi sebelumnya. Disini Ibu Dewi memberi kuasa untuk itu kepada anak sulungnya yang bernama Heidina Darmawansyah yang saat ini sudah berumur Delapan belas tahun di anggap sudah memenuhi syarat umur kedewasaan untuk mengambil kebijakan.
Dan ahli waris yang akan terlibat di dalam wasiat ini ada empat orang yaitu
Bapak Guntoro Adi selaku suami beliau semasa akhir tutup usia. Heidina Darmanwansyah, Gino Ardiansyah dan Gina Suciati. Ketiganya adalah anak kandung dari Ibu Dewi Asih.
Saya juga diberi kepercayaan oleh Ibu Dewi untuk menjual objek wasiat sebelum wasiat ini dibacakan dengan ketentuan ketentuan yang telah disepakati dan ditandatangani Ibu Dewi Asih tertanggal yang tertera di berkas yang telah asisten saya bagikan tadi.
Karena tanah tersebut juga sudah laku, di mana sebelumnya saya dan Pak Gani sebagai orang yang mewakili di lapangan kami sudah mengukur dan menghitung tanaman yang memiliki nilai terlepas dari nilai tanah dengan harga yang telah disepakati dengan Bu Asih semua sudah terlampir.
Dan proses pencairan dana adalah Senin depan di dengan Heidi sebagai pemegang surat kuasa dari Bu Asih dengan pembeli nantinya dan tentu nya di dampingi saya sebagai Lawyer dari Ibu Dewi Asih”, Pak Lintang menjeda pembicaraannya sejenak.
“ Saya tidak setuju, mengapa saya tidak dilibatkan bahkan Gani di sini dapat peranan. Saya ini suaminya harusnya semua keputusan adalah sepersetujuan saya”, kata Guntoro yang berbicara dengan tidak ada Ilmu, sehingga membuat semua orang di sana menggeleng kan kepalanya.
“ Maaf Pak Guntoro dari semua berkas yang ada, jelas menunjukan bahwa Ibu Dewilah pemilik tunggal tanah tersebut karena tanah tersebut warisan dari orang tuanya. Dan keputusan yang ia tandatangani adalah semasa ia hidup jadi disini tidak berlaku hukum apapun dia berhak memberikan hak nya kepada siapa saja.
Jika Anda pemilik tanah tentu saja disana ada bagian istri yang menyertai anda tapi. Untuk harta istri itu adalah milik nya sendiri. Wasiat nya ini merupakan sedekah dari istri anda untuk orang orang terdekat nya jadi dia bebas menentukan berapa bagian yang akan diterima masing masing nya.
Rincian nilai yang akan dibagi sudah tertera di berkas yang diberikan yaitu nilai penjualan bersih dikurangi fee jasa penjualan tanah, jasa lawyer dan fee untuk pak Gani itu semua sudah disetujui oleh Ibu Dewi.
Nah sekarang kita masuk pada inti surat wasiat yaitu berapa bagian hak yang diterima oleh setiap ahli waris.
Di surat ini Bu dewi membagi nilai tersebut menjadi lima bagian dengan detil pembagian sebagai berikut.
Satu bagian untuk suaminya, Guntoro Adi. Satu bagian untuk anaknya Heidina Darmawansyah, dua bagian untuk anak laki laki nya Gito Ardiansyah dan satu bagian untuk anak bungsunya Gina Suciati.
Dengan pemikiran sesuai dengan hak waris dimana nanti anak laki laki nya diharapkan dapat melindungi hak kakak dan adik perempuanya. Walau untuk saat ini ia memberikan kuasa pengelolaan pada anak sulung nya Heidi, mengingat kedua adiknya masih dibawah umur.
Dan untuk Suami nya ia berharap untuk tidak mengganggu hak anak anaknya karena ia sudah memberikan bagian cukup besar dan bisa menaungi kehidupan di masa akan datang. Tapi bila Pak Guntoro tidak puas maka semua keputusan ia serah kan kepada anaknya Heidi sebagai pemegang kuasa atas pengelolaan akhir asetnya.
Ibu Dewi menerima semua keputusan Heidi bila terjadi tindakan yang tidak diinginkan yang timbul dari di baca nya surat wasiat ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Demikian isi wasiat dari Ibu Dewi Asih”, Pak Lintang pun memberikan copy wasiat tersebut pada keempat ahli waris.
“ Saya tidak terima dengan wasiat ini, saya seharusnya mendapat minimum setengah dari nilai penjualan tanah”, kata Guntoro yang tidak tahu malu.
“ Pak Guntoro jangan mencari keributan, bukankah tadi. Sudah dikatakan Pak Lintang jika dengan wasiat ini ada salah satu dari ahli waris justru berbuat yang mengganggu pihak lainnya saya diberi kuasa untuk bertindak.
Lagi pula bagian siapa yang tidak sesuai menurut mu. Bagian ku, bagian Gito, bagian Gina? Kami bertiga adalah darah daging Ibu. Dan kau siapa yang menjadi suami ketika akad nikah saja.
Katakan kapan kau menafkahi Ibu kami? Kamu tidak pernah memberikan ibu ku nafkah, oh pernah beberapa bulan awal pernikahan, kau tidak pernah memberi tempat tinggal untuk Ibu. Karena ini rumah ku sudah sejak sebelum ibu menikah denganmu rumah ini milikku.
Yang paling menyakitkan kau tidak menghargai Ibuku. Kau bisa menafkahi seorang Jalang tapi dengan harta ibuku, dengan merampok hak kami ketika ibu ingin menafkahi kami. Kau mengagungkan wanita jalang di depan Ibu ku.
Tapi mengapa Ibu masih mau membagi mu harta apa karena Ibu cinta mati kepada mu, bukan pak Guntoro, Ibu hanya menjaga kami, kai dibagi supaya tidak mengambil hak adik adik ku.
Dengar baik baik, ketika kau membawa wanita kerumah dulu, masih Ingat lalu kakian lari ketika ku bawa ibu ibu kampung ke rumah. Saat itu Ibuku sudah akan menuntut cerai padamu. Tapi ibu berpikir, sudah lah umurku sudah tidak lama lagi kata ibu padaku.
Apa salah nya jika Ibu berbuat baik pada mu lalu kau akan terbuka hatinya dan tidak akan mengganggu anak anak nya. Tapi sekarang sudah dikasih harta banyak kau malah bertingkah menyalah kan wasiat Ibu, coba ingat dulu apa yang pernah kau berikan ke Ibu? Cincin nikah saja di jual lagi dan uangnya untuk mu.
Maaf Pak Lintang bukankah saya mempunyai kuasa mengambil kebijakan bila ada yang tidak setuju dengan keputusan Ibu. Yaitu saya akan membatalkan bagian dia dan mengeluarkan dulu pembayaran huttang hutang nya pada pekerja kebun. Dan kemudian mungin saya dan adik adiik akan membuat wakaf untuk Ibu. Itu lebih baik.
Orang seperti ini akan menghabis kan uang ratusan juta di meja judi paling dia akan menyisihkan pada wanita nya itu lalu lari ke Judi. Dan mungkin juga setelah itu datang meneror adik adikku . Sebaiknya Saya tahan saja dulu. saya akan memilih jalan sedekah Ibu yang lebih baik. Bukankah niat Ibu sudah kita jalankan dan ternyata Uang segitu besar tak berarti untuk dia dan Dia tetap akan mengganggu adik adik ku.
Gito dan Gina, jangan pernah mau di minta bagian kamu untuknya kecuali untuk makan dan keperluan primer. Ingat kalian berdosa kalau ikut membiayai cara hidupnya yang bergelimang maksiat sedangkan uang yang kalian punya itu adalah dari Ibu.
Ok, pulang lah Pak Gun, hutang mu ke warga dan pekerja, akan kami bayar”,
Pak Lintang melihat Guntoro menunduk. Tidak tahu karena amarah atau karena kata kata Heidi tadi sangat membekas.
“ Pak RT, boleh saya minta rincian hutang yang dituntut warga”, kata Heidi dengan nada datar. Hati nya benar benar benci dengan melihat tingkah Guntoro.
Pak Lintang bergabung dengan Pak RT dan pak Imam, dia ingin menyampaikan pesan dari pembeli yang akan datang meninjau kebun dan berbicara dengan pak Gani dan pekerja lainnya.
Pak Lintang juga bertanya ada tanah yang berdampingan dengan kebun Heidi yang akan dijual karena sang pembeli sedang meninjau prospek untuk agribisnis dan tentu paling tidak diperlukan setidaknya satu atau dua hektar.
“ Heidi, apa tadi bicaramu tidak terlalu keras pada pak Guntoro”, kata Pak Imam yang melihat Guntoro masih tertunduk.
“ Apa Bapak pikir bicara saya tadi jahat, justru saya akan menyelamat kan niat sedekah Ibu saya. Bapak pikir uang senilai itu besar sekali dan mungkin hidup ku akan terjamin walau bukan untuk hidup mewah, lalu dia meremehkan pemberian Ibu saya.
Bapak pikir kemana uang itu akan digunakannya. Seumur hidup saya belum pernah dengar dia bekerja.
Maaf Pak saya memang tidak rela, uang Ibu mengalir padanya lagi. Tapi wasiat harus dijalankan, mungkin sudah jalan Allah dia bertingkah sehingga saya punya alasan untuk menahannya.
Sekitar enam bulan lalu, ketika saya akan berangkat sekolah. Dia membawa wanita pel*c**r ke rumah ini Pak. Saya langsung membolos sekolah. Bapak tahu ternyata wanita itu sudah biasa di rumah saya, dia meletak tas nya langsung di kamar tamu dan keluar dengan pakaian tipis. Lalu suami Ibu saya itu berteriak agar Ibu membuat minuman untuk mereka. Saya menahan Ibu.
Dan dari situ saya tahu, hal seperti ini sudah beberapa kali berlangsung ketika kami semua sekolah. Apa Bapak bisa tahu bagaimana perasaan Ibu saya saat itu. Sedang istri pak RT dan Ibu ibu begitu marah mendengar cerita saya dan datang ke rumah.
Apalagi Ibu saya, pak. Ibu saya sakit saat itu, dan dia makan, hidup dan berfoya foya dengan uang Ibu, hasil kebun Ibu. Sekarang ibu saya memberikan uang tunai yang besar sekali, dia berteriak ini tidak adil. Walau kesal saya bersyukur dia bertingkah sehingga saya tidak perlu memikirkan uang Ibu digunakannya lagi untuk maksiat nya”, Pak Imam terdiam tentu saja ia setuju uang tersebut tidak digunakan untuk maksiat . Hanya saja jiwa laki laki nya tersentuh ketika melihat Pak Guntoro yang tiba tiba tertunduk dan diam tidak membalas perkataan Heidi.
“ Mudah mudahan Pak Gun, sadar akan kesalahannya selama ini “, kata Pak Lintang dengan lirih.
“ Mudah mudahan saja, tapi saya tidak terpesona dengan gaya sesaat, karena saya hidup dengan prilaku b***t nya bukan setahun dua tahun. Semua yang di perintah ibu saya akan saya laksanakan termasuk menjual rumah ini dan pindah. Karena di samping rumah ini akan memudah kan ia datang lagi membuat masalah.
Mengingat semua kejadian di rumah ini membuat saya gila dan emosional. Padahal ini adalah peninggalan Ayah kandung saya. Tapi benar anjuran Ibu untuk segera meninggalkan rumah ini. Demi kewarasan kami semua.