Hari yang kami tunggu akhirnya datang juga. Sejak subuh rumah kami sudah ramai. Tenda putih berdiri di halaman depan, meja panjang dijejer di teras, dan aroma gulai serta sate kambing sudah tercium dari dapur belakang sejak pukul enam pagi.
Mas Harun dan Mas Galih datang sehari sebelumnya bersama istri mereka, sementara Bude Tita datang pagi – pagi sekali dengan wajah yang langsung berbinar begitu melihat Nabila.
“Ya Allah, cah ayu. Irunge kaya ibune” Ucap Bude Tita sembari mengangkat cucu keponakannya itu tinggi – tinggi.
“Bude, jangan diangkat – angkat, nanti gumoh” Ucapku panik, dan semua orang di ruangan itu tertawa.
Mas Pras hari itu terlihat sangat bahagia. Ia mondar mandir dari halaman ke dapur, mengurusi tamu, menyalami satu per satu orang yang datang, dan setiap kali ada yang bertanya mana anaknya, ia akan langsung mengambil Nabila dari gendonganku dan menunjukkannya dengan bangga seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu.
Acara dimulai pukul sembilan. Ustadz yang memimpin adalah ustadz musholla komplek kami, orangnya sudah cukup tua tapi suaranya masih bagus sekali. Beliau membuka dengan tausiyah singkat tentang anak sebagai titipan, lalu memimpin pembacaan doa dan sholawat.
Aku duduk di samping suamiku dengan kebaya sederhana berwarna krem, menggendong anakku yang berkali – kali bangun lalu tidur lagi karena suara orang – orang.
Saat prosesi potong rambut, Nabila digilir dari satu tangan ke tangan yang lain. Mas Galih memotong helai pertama dengan tangan gemetar sampai istrinya menegur, Mas Harun memotong sambil tertawa karena Nabila menarik jenggotnya, dan bapak mertuaku memotong sambil berbisik entah apa di telinga cucunya.
Ketika giliran Mas Pras, suamiku itu justru diam cukup lama sambil memegang gunting kecil di tangannya.
“Mas, kok bengong?” Bisikku.
“Nggak apa – apa” Jawabnya, tapi ketika ia menunduk untuk memotong rambut anak kami, aku melihat ada yang jatuh dari matanya ke kain yang dipangku Nabila.
Setelah itu ustadz memimpin doa penutup, dan seluruh tamu mengaminkan bersama – sama. Bunyi amin dari puluhan orang di halaman rumah kami pagi itu adalah salah satu suara yang paling aku ingat sampai sekarang.
Di tengah acara, aku melihat sesuatu yang membuat tanganku sempat kaku. Di antara para tamu yang baru datang, ada Mbak Erin, dan di sebelahnya berdiri seorang laki – laki yang aku kenal sebagai Cahyo, teman SMA suamiku.
Mereka berjalan ke arah kami, dan Mbak Erin tersenyum lebar sembari mengulurkan kotak kado yang cukup besar.
“Selamat ya nan” Ucap Mbak Erin.
“Makasih banyak mbak, udah mau datang”
“Ini titipan buat Nabila. Aku beliin baju sama sepatu, semoga muat” Ucapnya, lalu ia menoleh ke arah laki – laki di sebelahnya. “Oh iya, ini Cahyo. Kita udah lamaran bulan lalu, insya Allah Desember nikah”
Aku sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum lebar. “Alhamdulillah mbak, selamat ya. Sehat – sehat sampai hari H”
Beberapa saat kemudian, ketika suamiku sedang sibuk melayani tamu yang lain, Mbak Erin mendekatiku dan berbicara dengan suara pelan.
“Nan, aku mau minta maaf ya”
“Buat apa mbak?”
“Buat yang dulu” Ucapnya sembari menunduk. “Aku waktu itu bener – bener nggak tau kalau Pras suami kamu. Aku cerita macem – macem ke kamu, aku minta kamu bantuin aku pula. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku udah nyiram muka aku sendiri pakai kopi”
Aku tertawa kecil. “Nggak sampai segitunya mbak”
“Aku malu banget, nan. Sampai berminggu – minggu aku nggak berani ngehubungin kamu” Ucapnya lagi. “Tapi aku juga mikir, kamu waktu itu kenapa nggak bilang aja sih?”
Aku diam sebentar, mencari jawaban yang paling jujur.
“Karena aku takut mbak” Jawabku akhirnya. “Takut kamu nangis di depanku, terus aku nggak tau harus ngapain”
Mbak Erin memandangku sebentar, lalu memelukku, dan pelukan itu adalah salah satu hal yang paling melegakan yang aku rasakan hari itu.
Caca dan Salsa datang bersama – sama, langsung menuju dapur tanpa disuruh, dan sepanjang acara merekalah yang mengatur piring dan mengarahkan tamu yang bingung harus duduk di mana.
“Nan, lo duduk aja. Jangan ngangkat apa – apa” Ucap Salsa sambil merebut nampan dari tanganku.
“Gue cuma bawa gelas kosong sal”
“Gue nggak nanya isinya apa” Jawabnya galak, dan aku menyerah.
Bude Tita duduk di sebelahku selama hampir satu jam sambil menggendong Nabila. Beliau memperhatikan wajah anakku lama sekali, lalu tiba – tiba berkata sesuatu yang membuat mataku panas.
“Nduk, ngerti ora, alise Nabila ki podo karo ibumu”
“Masa sih bude?”
“Podo. Sing kaya arep nyambung ning tengah kuwi” Ucap beliau sambil tertawa kecil. “Mbiyen ibumu nate ngomong karo bude, nek Kinan duwe anak, bude sing kudu nggendong sik. Wis, saiki bude wis nglakoni”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menyandarkan kepalaku ke bahu bude ku itu selama beberapa detik, dan beliau tidak protes sama sekali.
Acara berjalan lancar dari pagi sampai siang. Semua orang makan, semua orang mendoakan anakku, semua orang pulang dengan senyum. Bapak mertuaku pun datang, membawa satu kardus buah dari kampung, dan menggendong cucunya cukup lama sampai matanya berair.
“Ibumu ndak bisa datang, mas” Ucap bapak mertuaku kepada Mas Pras. “Wis bapak paksa, tetep ndak gelem”
“Ibu kenapa pak? Sakit?” Tanya Mas Pras.
“Ora sakit. Cuma yo ngono kuwi. Wis, engko bapak omongi maneh” Jawab beliau, dan sejak jawaban itu aku bisa melihat wajah suamiku berubah walaupun ia berusaha keras menutupinya di depan para tamu.
Menjelang siang, ada beberapa ibu – ibu komplek yang duduk mengelilingiku sambil menggendong Nabila bergantian, dan seperti biasa, pertanyaan mereka melompat ke tempat yang sama sekali tidak aku duga.
“Bu Kinan, kapan nih adiknya?” Tanya salah satu dari mereka.
“Bu, ini anaknya baru dua bulan” Jawabku sambil tertawa.
“Ya nggak apa – apa, biar sekalian repotnya” Ucap yang lain, dan semua ibu di lingkaran itu tertawa sementara aku hanya bisa tersenyum sambil melirik suamiku minta tolong, yang tentu saja pura – pura tidak melihat.
Sebelum acara ditutup, Mas Harun berdiri dan meminta izin berbicara sebentar mewakili keluarga dari pihak istri. Kakakku yang biasanya galak itu tiba – tiba jadi kaku sekali kalau berbicara di depan orang banyak.
“Saya cuma mau bilang terima kasih sama semua yang sudah datang” Ucapnya. “Adik saya ini dari kecil hidupnya susah. Bapak kami pergi, ibu kami sakit – sakitan sampai meninggal. Waktu ibu kami minta dia menikah sama mas Pras, dia sempat marah sama ibu. Saya tahu, karena saya yang dengar dia nangis waktu itu”
Aku menunduk. Aku tidak menyangka kakakku akan mengatakan hal itu di depan puluhan orang.
“Tapi hari ini saya lihat dia gendong anaknya, di rumahnya sendiri, sama suami yang jelas sayang sama dia” Lanjut Mas Harun. “Jadi kalau ibu kami masih ada, mungkin ibu bakal bilang, tuh kan, ibu ndak salah pilih. Sudah, itu aja. Silakan dilanjut makannya”
Semua orang tertawa dan bertepuk tangan, dan aku menangis di depan puluhan tamu sambil menggendong bayi yang tidur.
Tamu terakhir pulang sekitar pukul tiga sore. Tenda mulai dibongkar, piring – piring diangkut, dan rumah kami perlahan kembali sepi. Aku duduk di kursi teras sembari menggendong Nabila yang akhirnya tertidur pulas, dan untuk pertama kalinya sejak pagi aku merasa bisa bernapas.
Lalu tiba – tiba pandanganku menghitam.
Aku ingat aku sempat mendengar suara Mbak Sri berteriak, dan aku ingat aku sempat merasa ada tangan yang menahan tubuhku dari belakang. Setelah itu aku tidak ingat apa – apa lagi.
Saat aku membuka mata, aku sudah berbaring di kamarku sendiri. Di sebelahku duduk suamiku dengan wajah yang pucat pasi, sementara di pintu kamar berdiri Bude Tita dan Mbak Sri.
“Non” Ucap Mas Pras begitu melihat mataku terbuka. “Ya Allah non, kamu bikin mas hampir mati berdiri tadi”
“Nabila mana mas?” Itu pertanyaan pertamaku.
“Nabila aman, dipangku bude. Kamu tuh yang tadi hampir jatuh sama anaknya sekalian” Ucapnya, dan suaranya bergetar di kalimat terakhir.
Dokter langganan kami datang setengah jam kemudian. Beliau memeriksa tekanan darahku, melihat mataku, bertanya beberapa hal tentang pola makanku dan pola tidurku, lalu menutup buku catatannya sambil menghela napas.
“Ini kelelahan pak, bu. Tekanan darahnya rendah, kurang tidur, kurang makan” Ucap dokter itu. “Ibu menyusui itu kalau kurang tidur terus – terusan bahaya. Bapak sebagai suami harus bantu atur jamnya. Bukan cuma bantu gendong, tapi bantu supaya istrinya bisa tidur”
Aku melihat suamiku menunduk mendengar kalimat itu, dan sejak detik itu aku tahu bahwa malam ini akan ada pembicaraan panjang di antara kami berdua.